Saturday, October 3, 2020

Tari Sigeh Pengunten dari Salah Satu Kekayaan Seni Budaya Lampung

Lampung memiliki kekayaan budaya yang beragam, sebagai bagian dari rumpun Melayu yang ada di Selatan Sumatra. Suku Lampung sendiri terdiri dari banyak rumpun (marga) yang tersebar di wilayah  ujung paling selatan Pulau Sumatra itu. Secara garis besar suku Lampung terbagi dalam dua adat, yaitu Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.

Penari Sigeh Pengunten dalam salah satu pose penutupan.

Keberagaman adat Lampung ini juga terlihat dari kekayaan seni dan budayanya, seperti pada seni tari, pakaian, kuliner, bahasa dan juga tata adat perkawinan yang masing-masing marga Lampung memiliki ciri-ciri sendiri yang khas.

Seni tari di daerah ini termasuk juga beragam yang terus dilestarikan dan diajarkan secara turun-temurun dalam marganya dan kemudian juga banyak sentuhan kreasi dari seniman dari daerah yang terkenal dengan kuliner seruit ini.

Salah satu tarian dari budaya Lampung adalah Tarian Sigeh Pengunten yang sangat populer di Lampung, karena banyak digelar dalam berbagai even budaya dan juga di Provinsi Lampung. Even pariwisata dan budaya di provinsi ini yang paling terkenal adalah Festival Krakatau yang selalu menampilkan gelaran tari Siger Pengunten.

Belum lagi berbagai even yang dilakukan di pemda-pemda kabupaten, seperti  Festival Sekala Bekhak di Lampung Barat, Festival Teluk Semangka di Tenggamus, Festival Teluk Stabas di Pesisir Barat, Festival Radin Jambat di Way Kanan juga selalu menampilkan aksi tarian ini.

Berbagai acara budaya biasanya menjadi tempat untuk menampilkan tarian tersebut. Tarian Sigeh Pengunten merupakan salah satu tarian yang sangat populer di Lampung.

Tarian ini paling sering digelar pada saat menyambut tamu dan saat resepsi pernikahan. Gerakan dan keceriaan para penari memberikan nuansa keceriaan karena kedatangan tamu yang sangat dihormati. Selain biasanya digelar pada saat upacara penyambutan, tarian ini juga dibawakan sebagai bukti rasa syukur telah hadir dalam acara tersebut.

Salah satu keunikan dari penari Sigeh Pengunten adalah penari perempuan menggunakan penutup kepala berupa siger yang berwarna kuning emas. Warna kuning emas ini adalah warna dominan dari tutup kepala dan juga pakaian yang digunakan. Warna ini melambangkan kemakmuran, perdamaian, persaudaraan dan kejayaan, bahwa kejayaan tidak akan pernah ada tanpa adanya kemakmuran, perdamaian dan persaudaraan.

Tarian ini dibawakan oleh penari dalam jumlah ganjil, dengan satu orang di tengah membawakan tepak. Tepak adalah kotak kuning keemasan berisi daun sirih yang akan diberikan kepada tamu. Tarian ini diiringi dengan lantunan alat musik tradisional dari Lampung.

Nuansa keceriaan itu semakin nyata dengan iringan tabuhan Gamolan Lampung yang memiliki instrumen seperti gong, kolintang yaitu berupa barisan gong-gong kecil yang berbeda ukuran, derep (sejenis kendang) dan xilapon berupa deretan bambu dengan nada berbeda dalam satu oktaf.  

Suara gamolan sangat khas dalam alunan melodi yang mendayu-dayu dan terkadang semarak tabuhan derap/kendang tetapi sahdu. Ritme tabuhan gendang dengan iringan melodi dari kolintang dan juga xilapon ini menjadi acuan bagi para penari untuk melakukan gerakan tariannya.

Gerakan tarian-tarian Sigeh Pengunten sangat dinamis, karena banyak unsur dominan yang bergerak seperti berupa gerakan tangan dan jari, gerakan badan dan juga perubahan tempat dan komposisi dari penari.

Inilah yang menyebabkan suguhan penampilan penari Sigeh Pengunten selalu menjadi daya tarik tersendiri dari berbagai acara yang banyak digelar dan menjadi tarian paling populer di Provinsi Lampung.

The Indonesian Adventure Team Writter

Tag : Lampung, adat Lampung, tari Lampung, budaya Lampung, tari Sigeh Pengunten, tarian, budaya, pariwisata, wisata Lampung, wisata budaya, musik lampung, kulintang, gamolan, Tarian Lampung


Monday, December 9, 2019

Becak di Yogya, Keberadaannya Menjadi Ciri Wisata Yogyakarta

 
Kota Yogyakarta Istimewa telah menjadi tag line wisata yang menguat dalam beberapa tahun terakhir. Istimewa karena Kota Yogyakarta termasuk daerah istimewa secara nomenklatur pemerintah daerah, tetapi juga istimewa secara budaya dan tradisinya. Salah satu keistimewaan Yogya adalah keberadaan becak disana.
Salah satu pengayuh becak di Yogya

Provinsi yang mendapat penghargaan dengan katagori sebagai daerah yang kondisi penduduknya paling bahagia ini memberikan keistimewaan pada moda transportasi becak, karena keberadaan becak yang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat juga memberikan daya tarik sendiri bagi pariwisata Yogyakarta.
Becak sedang mangkal di jalan Malioboro Yogyakarta
Salah satu lokasi mangkal para Mas-Mas Pengayuh Becak adalah di jalan Malioboro. Destinasi wisata favorit ini mempertahankan keberadaan becak dan telah menjadi satu dalam ragam pariwisata kota Yogyakarta. Para wisatawan sangat menikmati becak untuk berkeliling kota Yogya dengan santai dan dapat melongok ke area-area  padat  kota Yogya dengan harga relatif murah.

Keberadaan becak-becak di kota wisata Yogya ini telah menjadi fenomenal sebagai moda transportasi  tradisional  yang melayani masyrakat Yogya dan wisatawan. Kota Yogyakarta yang memiliki luas 30,5  Km2 ini sebagian besarnya adalah areal  heritage, yang terdiri dari  Kraton,  Kotagede,  Pakualaman,
Kota baru dan  Banteng Fort Vredeburg adalah lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh becak-becak.

Turis berfoto diatas becak

Becak salah satu mode transportasi yang dikayuh oleh manusia. Seorang pengemudi becak harus memiliki fisik dan tenaga yang kuat untuk mengayuh dengan berat yang jauh lebih tinggi dibandingkan mengayuh sepeda.  Mengayuh becak sangat berbeda dengan mengayuh sepeda yang lebih ringan.

Bagi seorang pengemudi becak bertemu dengan jalan menurun tentu sangat senang, karena Sang Pengemudi Becak  tidak terbebani  untuk mengayuh . Pengemudi tinggal mengarahkan kemana becak akan berjalan, tetapi jika bertemu jalan tanjakan maka perjuangan mengayuh membutuhkan energi yang luar biasa. Kalau tukang becak sudah tidak sanggup untuk mengayuh maka terpaksa becak di dorong. Inilah romantika para pengayuh becak dalam perjuangannya untuk menafkahi keluarganya.
Becak dan Wisatawan Yogya telah menjadi satu
Setelah selesai mengantar wisatawan ke tempat yang dituju biasanya para pengayuh becah mangkal ditempat yang telah menjadi komunitasnya berkumpul. Jalan Malioboro adalah tempat yang nyaman untuk menunggu penumpang sambil beristirahat. Mereka saling bercengkrama antara para pengayuh becak lainnya. Menikmati kebersamaan dengan ceritanya hari itu masing-masing.
Para Pengayuh becak sedang mangkal di jalan Malioboro menunggu penumpang

Wajarlah kalau keberadaan becak akan lebih cocok berada di kota-kota berpenduduk ramai dengan kontur rata dan datar seperti Kota Yogyakarta. Apalagi Sultan Yogya juga memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengakses seluruh jalan Yogya. Hal ini berbeda dengan kota lain di Indonesia yang beradaan becak justru dilarang, dan dianggap sebagai biang kemacetan kota.

Di Yogyakarta becak telah menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakatnya dan juga menjadi daya tarik wisatawan khususnya wisatawan mancanegara. Bagi para turis, becak adalah sesuatu yang jarang dan tidak pernah ditemui dinegaranya. Turis asing ingin mendapatkan sesuatu yang baru baginya dilokasi wisata. Bagi wisatawam terutama mancanegara keberadaan becak di lokasi wisata merupakan hal yang istimewa dan unik.

Sejarah Becak di Yogyakarta

Becak telah menjadi bagian penting dalam napas kehidupan masyarakat Yogya yang memiliki tag line Yogyakarta Istimewa ini.  Becak telah lama ada semenjak penjajahan Jepang di Indonesia.   Orang-orang Jepang membawa becak-becak tanpa kayuhan untuk membawa barang-barang yang berat-berat.

Di cerita lain onthel telah menjadi kendaraan yang sangat umum disaat itu, sehingga ada keinginan untuk menjadikan becak tanpa kayuhan itu digabungkan dengan onthel agar dapat membawa barang berat dengan cukup mengayuh bukan mendorong seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jepang.

Akhirnya muncullah rancangan seperti halnya becak yang kita lihat sekarang. Tentang siapa yang menciptakan becak dan siapa yang mendesain becak sehingga ada kayuhannya tentu ini hanya anonym karena  tidak ada yang mengetahuinya.

Pada masa Orde Lama tahun 1950 becak di Yogyakarta sangat buming karena aktifitas ekonomi masyarakat meningkat setelah memasuki  masa  kemerdekaan. Kebutuhan dasar untuk transportasi dan membawa barang pada aktifitas ekonominya telah menumbuhkan becak-becaj baru diseluruh pelosok Yogyakarta.
Becak-becak mangkal di stasiun kereta Yogyakarta
Keberadaan becak semakin menjamur lagi setelah ekonomi semakin membaik di masa Orde Baru. Pada saat ini kota Yogya juga telah menjadi kota wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan karena Yogyakarta menjadi pusat pendidikan. Para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya sekolah disini tentu menjadi wisatawan yang potensial.  Adanya candi Borobudur dan candi Prambanan juga telah mendongkrang wisata Yogya,  sehingga kebutuhan becak-becak pengantar wisatawan untuk berkeliling tetap tinggi. 

Keberadaan becak-becak itu sampai saat ini masih terus dipertahankan dan telah menjadi bagian daya tarik wisata Yogyakarta Istimewa. Becak masa kini telah banyak modifikasi yaitu dengan menambah mesin motor dan bodi motor kedalam struktur becak, sehingga para Mas-Mas Pengemudi becak tidak lagi repot-repot mengayuh becak yang sangat menguras tenaga. Akan lebih baik lagi kalau ada yang memodifikasi becak dengan tenaga listrik sehingga tidak menimbulkan polusi.

Sumber Infografik :
- jogjaprov.go.id

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Saturday, November 9, 2019

Alat Musik Gamelan Adalah Budaya Asli Nusantara Sejak Masa Mataram Kuno

 
Citra rasa seni di Nusantara sudah ada sejak masa lalu, bahkan mungkin sudah ada sejak zaman pra sejarah, walaupun pembuktiannya semakin sulit.  Tetapi jejak sejarah masa lalu telah mencatat bahwa alat musik gamelan memang sudah ada pada masa lalu di Nusantara kita ini. Rasa cipta dan karsa  manusia dalam bentuk suara musik hasil dari perpaduan alat musik gamelan mengiringi perjalanan hidup sebagai sarana pemenuhan keperluan sakral dan seni pada tradisi dan budaya Nusantara pada masa lalu.

Gamelan merupakan alat musik Jawa yang menonjolkan demung, saron, peking, gambang, kendang, dan gong. Alunan instrumen gamelan merupakan satu kesatuan nada dan ritme yang menyatu dalam irama bersama. Suara musik dari gamelan menjadi pengirim dari tarian, pagelaran, atau menjadi pengiring dari nyanyian sinden. Sindhén adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan. Gamelan juga biasa untuk mengiringi pagelaran wayang kulit yang biasa diadakan di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Juga daerah lain di Nusantara yang banyak komunitas adat Jawa.

Alat Musik Gamelan
Gamelan Jawa di Komplek Wisata Candii Borobudur.
Gamelan sejatinya memiliki sejarah yang panjang sepanjang sejarah dari budaya dan tradisii masyarakat Jawa. Berbagai bukti menunjukkan budaya musik Jawa berupa gamelan sudah banyak bukti-bukti yang dapat dilihat dalam berbagai relief candi-candi dan prasasti. Seperti relief-relief yang ada di Candi Borobudur yang menampilkan beberapa pertenjukkan yang menggunakan alat musik, termasuk bentuk pertunjukkannya, alat musik yang digunakan bahkan latar belakang dari pertunjukkannya pun ada dalam penggambaran relief-relief itu.

Contoh perkembangan budaya musik dan alat musik di Nusantara di Pulau Jawa sudah sangat tua. Masyarakat Jawa sudah mengenal musik dan alat musik sejak lama. Budaya dengan penggunaan alat musik  didukung oleh masa klasik zaman Hindu dan Buddha di Jawa. Budaya alat musik pada masa lalu bisa ditelusuri lewat artefak-artefak yang bisa kita jumpai sekarang.

Gamelan
Seperangkat alat musik Gemelan Jawa.

Bukti-bukti arkeologi menunjukkan budaya musik pada zaman klasik khususnya di era peradaban Mataram Kuno bisa dilihat dari relief yang tertera di dinding candi Prambanan dan arca dewa-dewi.  Ragam artefak  menyajikan berbagai bukti bahwa alat musik sudah ada sejak lama.

Salah satu bukti seperti arca Dewi Kesenian yang asli terbuat dari perunggu, berukuran kecil, dan ditemukan di Desa Surocolo, Pundong, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kini, arca-arca tersebut disimpan di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bukti lain dari banyak bukti tentang tradisi gamelan di Nusantara yaitu berupa ditemukannya naskah rontal asli terbuat dari daun-daun tal.  Naskah ini ditulis pada sekitar abad 14 Masehi.  Text naskah ditulis dalam 127 lembar daun dan berisi 33 pupuh.  Bentuk simbol tulisan berupa huruf Jawa Pertengahan. Naskah itu berisi cerita Panji yaitu kisah roman antara Raden Panji Asmarabangun dari kerajaan Kuripan dengan Dewi Sekartaji dari kerajaan Daha. Naskah tek menceritakan pertemuan yang romantis itu diiringi lagu dan musik sejenis gamelan.

Beberapa bukti itu contohnya alat musik gamelan Jawa yang merupakan budaya asli masyarakat Jawa masa lalu. Sampai sekarang ini terbukti tidak ada gamelan yang persis sama seperti gamelan Jawa di negara-negara lain.

Alat musik gong
Alat musik gong, salah satu pendukung dari Gamelan Jawa.
Perangkat musik gamelan yang lengkap terdiri dari beberapa gabungan alat musik, seperti;   kendang,    bonang, bonang penerus, demung. saron, peking, saron, kenong dan ketuk, slenthem dan gender. Alat musik ini  menonjolkan gambang, metalofon, gendang, dan gong.

Irama musik gamelanlembut dan khas. Demikian juga alat musik angklung, gamelan harus dimainkan bersama dalam sebuah komposisi musik. Kebersamaan dalam bermain merupakan cerminan dari keselarasan, keharmonisan, dan kerja sama untuk mendapatkan irama yang dinamis dan menarik.

gamelan milik Kesultanan Yogyakarta
Seperangkat alat musik gamelan milik Kesultanan Yogyakarta.

Alat musik gamelan asli tradisi masyarakat Jawa di masa Mataram Kuno yang sudah memiliki citra rasa seni yang tinggi. Beberapa candi dari Mataram Kuno telah menjadi bukti otentik tentang asal usul gamelan Jawa. Walaupun Hindu berasal dari India, tetapi tidak ada bukti otentik tentang gamelan di India. Masyarakat di India tidak pernah mengenal gamelan baik dari masa lalu, juga sampai masa kini. Walaupun berbagai Dewa-Dewi Hindu di kaitkan dengan alat musik gamelan, tetapi ini sifatnya hanya budaya lokal di Jawa.

Seperangkat alat musik gamelan milik Kesultanan Yogyakarta yang disimpan dalam keraton.

Perkembangan budaya alat musik gamelan semakin pesat pada masa Kerajaan Majapahit mencapai kejayaan di masa Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada berkuasa. Masa ini mendukung perkembangna budaya gamelan tersebar ke berbagai tempat di seluruh wilayah Majapahit. Perkembangan dan tradisi gamelan masih terus terjaga sampai ke Kesultanan Mataram yang berpusat di Di Yogyakarta hingga kini.

Karena ketenaran gamelan, Pemerintah berencana untuk mengajukan gamelan sebagai warisan budaya dunia ke PBB dan UNESCO. Ada beberapa bukti bahwa budaya gamelan berasal dari asli  budaya Jawa.

Tag. : Gamelan, seni gamelan, budaya gamelan, tradisi gamelan, budaya gamelan, alat musik gamelan, gamelan di yogyakarta, gamelan di jawa, gamelan jawa, wayang dan gamelan, pengirim tarian jawa, wisata seni, budaya, Wisata Budaya


Sunday, October 13, 2019

Kain Tapis Budaya Lampung yang Memiliki Sejarah Panjang

Kain Tapis Lampung adalah kain khas masyarakat adat Lampung, tetapi sekarang kain tapis telah menjadi ikonnya masyarakat Lampung. Hampir dalam setiap ajang atau festival di Provinsi Lampung, kain ini dipastikan digunakan sebagai bagian dari gaun para wanita-wanita Lampung. Bahkan kain tradisional ini sekarang telah menjelma menjadi bagian dari fashion modern dalam ajang-ajang fashion busana di tingkat nasional.

Kain Tapis Lampung
Kain Tapis Lampung yang disimpan di Musium Lampung

Pemakaian kain ini yang digunakan dalam banyak acara adat Lampung menempatkan posisi pemakainya dan penanda status dalam adat.  Adat istiadat Lampung yang beragam dari setiap ranting dari masyarakat adat Lampung yang ramik ragom artinya Lampung yang beraneka suku dan adatnya, tercermin dalam motif-motif tapis Lampung yang sangat dinamis.

Tapis Lampung
Para penari menggunakan kain Tapis Lampung dalam even Festival Krakatau.

Proses Pembuatan Kain Tapis Lampung

Pembuatan kain tapis telah menjadi tradisi masyarakat Lampung. Para pengrajin tapis pada umumnya muli-muli Lampung untuk mengisi waktu senggang. Saat sang suami pergi ke ladang, maka para ibu dan muli mengisi waktunya dengan menenun kain tapis.  Selain dapat mengisi waktu dengan produktif, pembuatan kain tenun juga terkait dengan identitas dan status sosial dalam adat Lampung.

Bahan dasar kain tapis adalah kepompong ulat sutera  untuk mendapatkan benang sutra yang halus dan berkualitas untuk membentuk motif. Bahan kapas untukmendapatkan  benang biasa sebagai  bahan  untuk menenun dasar kain.  Pemintalan benang ini diistilah dengan “khambak” artinya memintal kapas/kepongpong untuk mendapatkan benang.

Alat pintal Kain Tapis Lampung
Alat tradisional pemintal benang kain tapis Lampung

Khusus untuk bahan kepongpong ulat sutra proses pemintalan sering dilakukan berbeda karena bahan kepongpong ulat sutra yang sangat mahal.  Demi kehati-hatian dan menjamin benang yang dihasilkan benar-benar bagus maka sering dibuat benang sutra dengan cara manual yang disebut teknik “plintir”. Teknik ini bisa juga dibantu dengan alat plintir. Hasil benang sutra plinter lebih bagus.

Untuk saat ini teknik plinter sudah jarang dilakukan karena banyak memakan waktu.  Proses seperti ini pada saat ini sering terlihat esklusif dan mahal.  Ada kalanya konsumen yang menginginkan sebuah kain tapis yang proses pembuatan benar-benar asli  manual dan tentu harga kain tapis seperti ini juga akan spesial. Proses seperti ini terkadang dilandasi sebagai spirit untuk mempertahankan tradisi originalitas dari identitas sebuah maha karya.

Inilah perbedean  kain tapis dengan hasil kain lainnya sebuah harga tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan apakah  benang emas,  benang Kristal (sugi)  atau benang tembaga, tetapi juga tradisi leluhur dalam proses pembuatan telah menjadi ritual tersendiri  yang akan menempatkan sebuah kain akan memiliki nilai yang berbeda.  Bahkan pada masa lalu ada juga yang masih melibatkan sakral dalam proses pembuatannya ini, tetapi hal semacam itu sudah tidak ada lagi.

Setelah benang jadi maka diberi pewarna yang juga berfungsi sebagai pengawet benang agar tidak cepat rapuh dan mudah putus. Benang yang baik terpintal rapi rata setiap lajurnya dengan ukuran yang sama rata. Memiliki kekuatan yang rata pada setiap bagiannya.  Benang yang terpintal buruk jika terpintal tidak rata ada bagian yang kurus ada bagian yang gemuk, mudah putus pada bagian yang kurus dan terlalu kuat untuk bagian yang gemuk.

Bahan untuk pengawet benang pada tapis asli  terbuat dari bahan alami yang memang sudah lama turun temurun digunakan yaitu; akar serai wangi yang dicampur dengan air. Bahan untuk proses pewarnaannya juga dari bahan yang alami dan sudah digunakan secara turun temurun yaitu; untuk warna coklat digunakan kulit kayu mahoni, kulit kayu durian, daun sirih dan bahan alami lainnya. Penggunaan daun sirih bukan sebagai perwarna tetapi digunakan sebagai bahan penguat warna agar tidak mudah luntur.

Kain Tapis Lampung
Alat tenun tradisional kain tapis Lampung

Tahap berikutnya  setelah proses pembuatan benang selesai  adalah proses penenunan untuk  mendapatkan kain dasar, bahan dasar kain yang akan disulam menjadi tapis.   Benang ditenun  bisa dengan alat tradisional tenun atau juga dengan susunan teknik papan-papan yang biasa dilakukan secara tradisonal secara sangat manual, untuk hal ini ada istilah dalam bahasa Lampung,  "mattakh" yaitu sebuah alat yang cukup sederhana untuk menenun benang menjadi kain.

Proses penenunan tapis dengan alat tenun tradisional.

Ada juga yang menggunakan alat yang umum digunakan untuk menenun masih tergolong sederhana tetapi masih digunakan oleh banyak pengrajin  yang masuk dalam katagori ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).  Peralatan tenun dengan katagori  ATBM sudah termasuk mudah dan lebih cepat walaupun tidak digerakan oleh mesin. Masih manual dengan tangan tetapi proses penenunnya sudah lebih efektif.

Setelah dihasilkan bahan dasar kain sebagai media untuk melakukan proses sulam yang menjadi klimak dari proses produksi kerajinan kain tapis. Proses sulam ini banyak sekali macamnya dalam pembuatan kain tapis.  Seperti pada Lampung Abung atau Krui dikenal dengan istilah “cucuk andak” yang merupakan suatu teknik untuk mendapatkan sulaman benang emas ke dalam bahan dasar kain.  Dari teknis ini bisa menghasilkan berbagai motif. 


Kain Tapis Lampung Kaya Motif

Suku Lampung terbagi-bagi dalam banyak adat istiadat, yang dalam kelompok besarnya terbagi menjadi dua yaitu Saibatin dan Pepadun. Masing-masing baik Saibatin dan Pepadun sendiri terbagi lagi dalam banyak adat istiadat yang berbeda. Seperti Saibatin terdiri dari; Kepaksian Sekala Brak, Keratuan Melinting, Keratuan Balau, Keratuan Darah Putih (Keratuan Pahlawan Raden  Intan II), Keratuan Semaka, Keratuan Komering dan Cikoneng Pak Pekon. Kepaksian dan Keratun memiliki penggelaran yang berdasarkan keturunan.

Pepadun terdiri dari adat istiadat, marga dan kebuayan; Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga), Mego Pak Tulang Bawang (Tulang Bawang Empat Marga),  Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku), Buay Lima Way Kanan (Way Kanan Lima Kebuayan) dan Sungkay Bunga Mayang. Dari berbagai marga ini akan terbagi lagi dalam klasifikasi kebuayan yang lebih spesifik.

Demikian banyak ragamnya itu maka semboyan masyarakat Lampung adalah Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai", artinya satu bumi dua aliran adat budaya, yaitu Saibatin dan Pepadun.  Kata sang bumi berasal dari sanga bumi, artinya se-bumi (satu tempat). Semboyan lain masyarakat Lampung adalah “ramik ragom” yang artinya banyak ragamnya.

Bentuk dan kekhasan kain tapis ini pada akhirnya juga akan berbeda-beda dari setiap keratuan/kemargaan/kebuayan yang ada di Provinsi Lampung. Khasanah dari keberagaman kebudayaan dan adat istiadat Lampung menjadi kelebihan kain tapis yang penuh dengan corak dinamika dan kaya motif.

Selain dipengaruhi oleh rumpun adat yang sangat banyak corak ragam kain juga dipengaruhi oleh kondisi geografis tempat tinggal dari masyarakat adat Lampung. Seperti kain yang dibuat dari Krui, Pesisir Lampung motif-motifnya banyak menampilkan motif bintang laut dan gambar kapal atau perahu. Motif seperti ini juga ada pada kain tapis yang berasal dari Menggala dan Teladas di Tulang Bawang, demikian juga di Lampung Selatan yang menampilkan berbagai gambar yang berasal dari pantai atau laut.

Masing-masing  motif memiliki keunikan dan kekhasan sendiri dengan tingkat kerumitan pembuatan yang berbeda-beda.  Kekayaan kahasanah motif-motif yang bersumber dari alam, flora, dan fauna merupakan motif yang selalu dikreasi  oleh para pengrajin Lampung sehingga wajar motif-motif itu pada akhirnya sangat bervariasi.  Dalam proses penyulaman ini akan bertemu dengan ribuan motif yang sangat banyak, tetapi dalam garis besarnya ada beberapa ciri dari motif-motif itu.

Kain tapis
Kain tapis untuk sepasang pengantin Lampung

Motif manusia menunggang kerbau dan tunas bambu misalnya melambangkan kemakmuran dan kedudukan manusia yang lebih tinggi dari hewan. Kain tapis Muara Dua dengan ragam hias cucuk andak serta kayu biasanya hanya diperbolehkan dikenakan oleh anak atau istri dari pemimpin adat

Dari sisi Penggunanya tapis dibagi dalam berbagai macam, yaitu; Motif Tapis Jung Sarat. Maksudnya adalah kain tapis ini dipakai oleh  seorang pengantin wanita pada saat seremoni  perkawinan adat.  Boleh  juga digunakan  para isteri  dari keluarga  yang dianggap dituakan yang menghadiri  acara penganugrahan gelar adat (nama adat) yang disebut dengan adok. Bisa juga dipakai oleh pengantin serta muli cangget (gadis penari)  saat upacara cangget.

Motif kain tapis Jung Syarat yang biasa digunakan dalam Upacara Adat Cangget

Motif Kain Tapis Raja Tunggal biasa dipakai oleh seorang  isteri keluarga yang paling tua atau yang dituakan  (tuho penyimbang)  pada acara kawin adat,  pengambilan gelar sutan dan pangeran. Pada daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh para muli  (gadis-gadis)  saat upacara  adat.

Motif Tapis Laut Andak dipakai oleh para gadis atau muli  saat melakukan cangget (menari) pada acara adat cangget.  Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada acara pengambilan gelar sutan. Kain ini juga dipakai oleh pihak menantu perempuan pada saat acara pengambilan gelar sutan.

Motif Kain Tapis Raja Medal biasa dipakai para isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti:  mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran dan sutan.  Di daerah Abung Lampung Utara  motif kain tapis Raja Medal  dipakai  pengantin  wanita pada  saat acara perkawinan adat.

Motif Kain Tapis Balak digunakan  para adik perempuan (benulung) dan kelompok isteri anak seorang yang sedang  begawi  untuk mendapatkan gelar pangeran atau pada upacara mengawinkan anak.  Motif tapis  ini juga digunakan oleh muli yang melakukan tari cangget  pada  acara adat.

Motif Kain Tapis Laut Linau dipakai kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh saat menghadiri  upacara adat.  Dipakai juga oleh  muli-muli pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran. Juga dipakai oleh  gadis penari (muli cangget).

Tapis Pucuk Rebung Tapis ini dikenakan para  ibu-ibu/para isteri untuk saat menghadiri upacara adat. Di  Menggala tapis  sejenis ini disebut dengan istilah tapis balak yang digunakan  oleh wanita pada saat menghadiri  acara adat.

Motif Tapis Silung dikenakan  para orang tua yang tergolong kerabat dekat pada  acara  adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan juga acara adat lainnya.  Kain ini juga digunakan saat pengarakan pengantin.

Tapis digunakan dalam berbagai even festival di Provinsi Lampung
Motif Tapis Cucuk Andak dikenakan  para isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah mendapat gelar sutan saat menghadiri upacara perkawinan,  pengambilan gelar adat.  Di  Lampung Utara  motif kain tapis ini dipakai pengantin wanita saat upacara perkawinan adat.  Di daerah Abung Lampung Utara  motif kain tapis cucuk andak dipakai para ibu pengiring pengantin saat upacara adat perkawinan.

Para Istri Penyimbang Marga menggunakan kain tapis dalam Upacara Begawi Cakak Pepadun di Lampung.

Motif Kain Tapis Agheng/Areng dikenakan  para isteri yang suaminya sudah mendapatkan gelar sutan pada upacara begawi saat pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar. Selain itu motif ini dikenakan juga oleh pengantin sebagai pakaian sehari-hari.

Motif Kain Tapis Inuh Kain biasa dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis ini berasal dari daerah Krui, Lampung Barat.

Tapis Bintang Perak adalah kain tapis yang dapat digunakan pada acara-acara adat dan berasal dari daerah Menggala dan wilayah Lampung Utara.

Sepasang pengantin Lampung menggunakan kain tapis dalam acara adat.

Berbagai motif kain tapis lain yang belum dibahas seperti Tapis Limar Sekebar,  Tapis Bidak Cukkil,  Tapis Bintang, Motif Tapis Kaca, Tapis Dewasano, Tapis Tuho, Tapis Cucuk Pinggir dan sebagainya. Sebenarnya masih banyak lagi model dan motif dari kain tapi tetapi yang sering dibuat oleh pengrajin pada umumnya adalah seperti yang diatas tadi.


Kain Tapis Kontemporer dan Kekinian

Kain tapis sama dengan kain tenun lainnya dinusantara mengalami masa perkembangan kontemporer dan kekinian.  Perubahan motif, variasi, warna, dan ragam lainnya. Saat ini teknik pembuatan kain tapis juga semakin modern dengan menggunakan mesin bordir untuk produksi massal.

Peserta Festival Krakatau menggunakan kain tapis Lampung.

Perubahan ini meningkatkan produksi kain tapis yang sekarang juga penggunaannya sudah merambah pada berbagai kalangan di Indonesia. Kain tapi saat sudah semakin menasional karena para penggunanya sudah semakin banyak dari berbagai kalangan. Kalangan designer profesional juga sudah melirik kain tapis sebagai bagian dari bahan fashion yang sangat banyak penggemarnya.


Sejarah Kain Tapis Lampung

Menurut seorang sejarawan Belanda, Van der Hoop, masyarakat Lampung sudah sejak 200 tahun sebelum masehi biasa membuat kerajinan kain tapis. Sehingga bisa dikatakan budaya pembuatan kain tapis adalah budaya tua yang asli dari wilayah Lampung, tetapi tentu cara dan teknik dalam proses pembuatannya itu akan berubah dan meningkat sesuai dengan tingkat kebudayaan suatu kaum.

Van der Hoop  juga menjelaskan  motif kain ini ialah kait dan kunci (key and rhomboid shape). Bentuk dari relief yang tergambar dalam kain itu berupa pohon hayat,  motif binatang,  motif matahari, motif bulan serta motif bunga melati.  Dalam proses pembuatannya  dengan teknik tenun kain tapis yang bertingkat.   Bahan yang digunakan bahkan sudah menggunakan benang sutera putih. Kain tapis yang dihasilkan disebu juga  dengan istilah tapis inuh.

Salah satu petunjuk mengenai betapa tua kemampuan kerajinan masyarakat Lampung untuk membuat tapis dapat dilihat juga dari pengenalan masyarakat Lampung terhadap tenun pelepai dan juga tenun nampan yang diperkirakan sudah ada pada abad ke-2 SM seperti yang disampaikan oleh Van der Hoop.

Sebuah catatan penting yang bisa menjadi dasar tentang keberadaan budaya pembuatan tapis juga ada pada prasasti Raja Balitung  yang berkuasa pada abad ke-9 M.  Dalam prasasti itu sebuah kain tapis sering digunakan sebagai barang yang dihadiahkan. Sehingga pada abad 9 M kain tapis sudah menjadi komoditi yang menarik dan berharga. Sebagai sebuah hadiah tentu adalah barang istimewa. Kain tapis bisa beriringan dengan kain songket yang berkembang di Sumatra Selatan pada masa Kerajaan Melayu yang mulai berkembang  pada Abad ke-5 dan Kerajaan Sriwijaya yang mulai berjaya pada Abad ke-7. 

Sebuah catatan dari pengembara Tiongkok yang bernama I Tsing yang pernah mengunjungi Nusantara pada Abad ke-7 mencatat bahwa di Lampung ada sebuah kerajaan yang bernama To-Lang P'o-Hwang ("Tulangbawang").  Lokasinya disekitar wilayah di hulu sungai Tulang Bawang  suatu kerajaan di pedalaman Chrqse (Pulau Sumatra).  I Tsing juga mencatat kerajaan itu sezaman dengan berkembangnya kerajaan Che-Li-P'o Chie (Sriwijaya) di Palembang. Raja To-Lang P'o-Hwang  mengirimkan utusannya ke Negeri Tiongkok pada Tahun 449 M, dengan membawa berbagai hadiah. Hadiah tersebut terdiri dari 41 jenis barang dari P'o-Huang yang diperdagangkan ke Tiongkok. Salah satu barang itu berupa kain yang bertenun emas.  (kitab Liu Sung Shu, 420-479 M.).

Ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat Kerajaan Tulang Bawang terletak di hulu Way Tulang Bawang (Menggala,   Kabupaten Tulang Bawang sekarang), tetapi masih menimbulkan perdebatan karena hulu Tulang Bawang bisa juga di Pagar Dewa (Kabupaten Tulang Bawang) atau Toto Wonodadi (Kabupaten Tulang Bawang atau bahkan bisa juga di Pagar Iman (Negeri Besar, Way Kanan).

Sejarah mencatat pula, bahwa Bangsa Lampung telah melakukan kontak dagang dengan Bangsa China sejak Abad ke-5 M, ketika Kerajaan P'o-Huang (dapat dieja "Bawang" yang berarti Rawa dalam Bahasa Lampung) mengirimkan utusannya ke Negeri China pada Tahun 449 M. dengan membawa Upeti dan 41 jenis barang dari P'o-Huang yang diperdagangkan ke China (kitab Liu Sung Shu, 420-479 M.). Bahkan berdasarkan temuan keramik China masa Dinasti Han (203-220 M), mengindikasikan bahwa perdagangan antara Bangsa Lampung Kuno dengan China telah berlangsung sejak awal Abad Ke-3 M.

Perkembangan awal motif kain tapis sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang ada di Nusantara dan juga kain tapis Lampung dipengaruhi oleh agama-agama yang pernah ada dan masih ada di Indonesia. Juga dipengaruhi budaya neolithikum  Unsur ragam hias neolithikum antara lain unsur alam yang dianggap mempunyai kekuatan magis seperti fauna, flora tertentu, gunung bintang dan sebagainya. Selain itu juga, ragam hias manusia yang dianggap memiliki kekuatan magis. Ragam hias garis-garis geomertris, berbentuk kait, garis lurus, meander, segitiga atau segiempat.

Bukti begitu tuanya warisan tenun kain tapis dapat juga dibuktikan dengan keberadaan penemuan nekara perunggu yang diperkirakan diproduksi  beberapa tahun sebelum masehi.  Dalam relief nekara perunggu  itu menggambarkan motif dan hiasan sejenis tapis lampung.  Ragam hias dari motif itu berupa motif spiral, meander,  garis-garis lurus, tumpal, lingkaran-lingkaran dan lain-lain.

Menurut Menurut Van Heekeren masa penggunaan besi dan perunggu melalui pengaruh Dongson maupun Chou tampak dalam ragam hias yang digunakan di Lampung.

Budaya adat pembuatan kain tapis sudah menjadi bagian dari adat Melayu tua yang sudah ada di Pulau Andalas (Sumatra) sejak kerajaan-kerajaan pertama hadir di pulau ini. Perkembangan ini sejalan dengan rumpun Melayu-Melayu lainnya yang ada di Pulau Sumatra. Pengaruh dari Kerajaan Sriwijaya juga ada dalam thema-thema motif kain tapis.

Perkembangan berikutnya terjadi setelah masuknya pengaruh Islam di Sumatra dan Lampung pada  abad ke 16. Pengaruh ini dapat dilihat dari ragam hias pada motif-motif kain tapis memiliki corak-corak baru.  Perkembangan ragam hias semakin mengarah kepada unsur flora (tumbuhan), seperti bunga-bungaan dan lekuk-lekuk daun. Disamping itu bentuk geometris tenunan semakin banyak menyerupai huruf Arab.

Kain Tapis Motif Pucuk Rebung yang banyak digunakan dalam berbagai acara adat Lampung.

Setelah pengaruh Islam masuk ke Nusantara, corak ragam hias motif kain tapis pun berangsur-angsur mulai berubah kearah yang lebih religius. Pemaknaan motif kain tapis pun berubah seiring waktu. Perubahan pemaknaan motif-motif kain tapis semakin memiliki makna yang semakin tinggi, seperti ragam hias pucuk rebung dan motif bunga sulur-sulur. Motif pucuk rebung dimaknai sebagai hubungan kekerabatan yang tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya, saling membantu, saling tolong menolong dalam kebaikan dan saling menjaga silaturahmi antara satu sama lain, mengurani pergesekan antar sesama dan meningkatkan rasa persatuan dan persaudaraan. 

Photografer by Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.Com Team Writter

Tag. : Tapis, Kain Tapis, Tapis Lampung, Kain Tapis Lampung, Sejarah Tapis Lampung, Motif Kain Tapis, Motif Tapis Lampung, Tapis Bahan Sutra, sejarah kain tapis lampung, tapis modern, cara membuat tapis

Saturday, October 5, 2019

Istana Maimun Kesultanan Deli nan Indah dan Megah

Istana Maimun Kesultanan Deli di Medan. Kota Medan di Sumatara Utara  termasuk dalam tiga besar kota di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Megapolitan di Sumatara ini banyak menyimpan sejarah panjang tentang kehidupan orang-orang Melayu, khususnya Melayu Deli yang memiliki  Kesultanan Deli yang berpusat di Kota Medan yang bercorak Islam.

Kesultanan Deli berdiri sejak tahun 1632  yang dirintis oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan dengan gelar Laksamana Khoja Bintan yang awalnya adalah seorang Panglima dari Kesultanan Darussalam Aceh. Pendirian Kesultanan Deli atas pengaruh dari Kesultanan Aceh Darussalam untuk memperluas wilayahnya sampai ke Sumatra Utara pada 1612 ke wilayah Sumatera Utara pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kemudain hari setelah Sultan Iskandar Muda wafat, Kesultanan Deli menyatakan lepas dari pengaruh Kesultanan Aceh Darussalam.
Istana Maimun di Kota Medan
Istana Maimun di Kota Medan
Wilayah dan kekuasaan kesultanan ini berada di daerah Melayu Deli.  Kesultanan Deli masih tetap ada dan eksis sampai saat ini walaupun secara kekuasaan politik sudah tidak berperan, tetapi masih memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat Medan.

Sejarah berdirinya Kota Medan sangat berkaitan erat dengan perkembangan Kesultanan Melayu Deli dari sejak abad ke-17.  Dalam sebuah buku yang berjudul:  "In Woord en Beeld", karya N. ten Cate menuliskan bahwa dulunya Kota Medan berasal dari sebuah Kampung yang bernama Medan yang berada di Tanah Deli, kemudian semakin meluas dan semakin banyak penduduknya. Pada saat itu kondisi lahannya adalah rawa-rawa. Tanah Deli ini pada masa lalunya terhubung dengan Selat Malaka dengan beberapa sungai.

Salah satu ikon Kota Medan adalah Istana Maimun (Maimoon Palace) yang merupakan istana Kesultanan Deli yang didirikan oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Istana indah ini dibangun sejak tahun  1888 dan selesai pada pembangunannya pada tahun 1891 dengan arsitek dari Italia yang bernama Theodoor van Erp.

Kesultanan Deli adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di wilayah bernama Tanah Deli. Kesultanan Deli masih tetap eksis hingga kini meski tidak lagi mempunyai kekuatan politik

Istana ini memiliki luas 2.772 m2  dengan berbagai ruangan dan fasilitas sebagaimana umumnya sebuah istana yang tergolong luas dan megah. Jumlah ruangannya saja sampai 30 ruangan. Secara  umum bangunan ini terbagi dalam tiga bagian. Bentuknya yang terpusat ditengah yang ada ruangan singgasana, dan ada ruangan untuk bagian sayap kiri dan ruangan untuk bagian dari sayap kanan.

Istana ini berada di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Posisi bangunan Istana Maimun menghadap ke utara. Didepan Istana Maimun ada masjid yang bernama Masjid Al-Mashun, tetapi masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan, karena sudah menyatu dengan sejarah dari Kota Medan.

Istana Maimun memiliki bentuk yang cantik dan unik. Ada banyak perpaduan budaya dalam arsitektur istana nan megah ini, yaitu ciri khas bangunan Timur Tengah dengan bentuk atap yang melengkung seperti kubah masjid, tetapi tidak terlalu bulat. Bentuk atapnya seperti setengah oval.

Ciri arsitekturnya juga dipengaruhi oleh budaya India dengan pintu-pintu yang lebar dan besar. Arsitektur istana ini juga dipengaruhi oleh gaya Eropa yang menganut art deco dengan bentuk dinding dan tiang-tiang beton yang besar dengan hiasan profilenya semen betonnya.

Kemudian sentuhan yang sangat menonjol dari seni bangunan ini adalah budaya Melayu. Sentuhan melayu yang sangat mencolok adalah dominasi warna kuning keemasan sebagai simbol kemegahan. Kemudian relief-relief pada dinding dan langit-langit yang menggambarkan tumbuhan. Detail dari relief-relief itu sangat indah. Tidak akan bosan kita memandangnya dengan paduan warna kuning keemasan dan juga campuran warna kehijauan.

Ruangan utama istana ini adalah bagian yang paling indah dan megah. Ruangan ini luasnya 412 m2 yang paling banyak dilihat di photo oleh banyak pengunjung. Bahkan mereka sudah berphoto dengan menggunakan baju-baju khas Melayu. Kita juga bisa menyewa baju dan memakainya sehingga terlihat seperti Raja Deli. Apalagi berphoto didepan singgasana nan megah itu. Wahh keren..

Singgasana Raja Deli di Istana Maimun
Singgasana Raja Deli di Istana Maimun Kota Medan
Di ruangan ini juga ada singgasana Raja Deli yang terlihat megah keemasan. Ada tempat duduk raja, tetapi pengunjung tidak diperbolehkan masuk dan duduk di kursi itu. Ada pemisah agar aset istana Deli ini tetap terjaga dan tidak cepat rusak. Kursi singgasana itu ada di dalam pokade yang ditutupi oleh hordeng berwarna kuning.

Di halaman depannya adalah lapangan luas dari rumput hijau yang sering dijadikan sebagai tempat berkumpul dan bermain bagi warga Medan.  Banyak terlihat anak-anak sedang bermain bola   Di saat libur tempat wisata ini sangat ramai sehingga menjadi tempat berkumpul para wisatawan yang akan melihat-lihat Istana Maimun.

Saat kita datang Istana Maimun, jika ingin mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Tidak sekedar mengambil photo saja.  Kita bisa meminta Pemandu Wisata yang ada disana. Mereka biasanya akan mejelaskan sejarah dan asal mula dari berdirinya bangunan itu. Berbagai pernak-pernik dari isi istana  juga mereka tahu, sehingga kunjungan kita akan lebih bermakna, lebih menarik dan dapat melihat sisi sejarah secara mendalam tentang bangunan yang menjadi ikon Kota Medan itu.

Jangan lupa kalau sudah berada di Sumatara Utara untuk berkunjung ke destinasi yang sangat manarik di Danau Toba dan Pulau Samosir. Destinasi lain yang juga menarik di Sumatra Utara adalah Air Terjun Telaga Sibolangit yang ada di Deli Serdang. Lokasi wisata lain yang juga cukup favorit di Sumut adalah Pulau Nias yang memiliki keelokan alam dan budaya yang unik.

Photografer : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Wrriter

Tag. : Istana Maimun, Istana Kesultanan Deli, Melayu Deli, Medan, Kota Medan, Istana Maimun Medan

Sunday, September 29, 2019

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) Destinasi Seni dan Budaya Bali

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana  (Garuda Wisnu Kencana Cultural Park)

Siapa yang tidak kenal dengan Bali, karena Bali termasuk destiansi popular dunia.  Wisatawan senang datang ke Bali karena  Bali kaya akan obyek wisata alam, budaya,  hibuaran dan even-even penting. Salah objek wisata budaya yang menarik  adalah Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang berada di Kuta. Lokasi ini memiliki ikon yang mendunia yaitu patung Dewa Wisnu setinggi 20 meter.

Garuda Wisnu Kencana
Penari Bali Taman Budaya Amphitheater GWK
Taman Budaya yang terkenal di Bali ini beralamat di Jalan Raya Uluwatu, Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung .  Tidak jauh dari Bandara Ngurah Rai karena jarak ke GWK sekitar 12,2 Km.  Kalau diperkirakan dengan waktu perjalanan menggunakan transportasi taxi ke GWK hanya membutuhkan waktu 20 – 28 menit saja tergantung arus yang sedang padat atau lancer.

Dengan luas taman 240 hektar banyak macam fasilitas yang ada disini.  Seperti;  Tempat pertunjukkan seni tari Amphitheatre,  Indraloka Garden,  tempat parade seni Street Theatre, Exhibition Hall, plaza dan mall,  restoran, boutique, dan juga toko-toko souvenir khas Bali.

Garuda Wisnu Kencana
Penari Bali Taman Budaya Amphitheater GWK

GWK  banyak menyelenggarakan berbagai pertunjukan seni dan budaya.  Salah satunya adalah pertunjutkan berbagai tari khas Bali.  Salah satu taman budaya  (cultural park ) yang ada di GWK  adalah  Amphitheater. Amphitheater digunakan  sebagai ajang pertunjukkan seni tari Bali dan  juga di saat lain Amphitheater GWK  melakukan pagelaran seni tari dari daerah lain di Nusantara..

Garuda Wisnu Kencana
Penari Bali Taman Budaya Amphitheater GWK

Amphitheater GWK dibuka setiap hari dengan pertunjukkan berjadwal.  Ada berbagai macam tari yang sering di pertunjukkan disini seperti  pagelaran seni Tari Barong, Kera, dan Rangda. Tari Barong menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Penggambaran kebaikan diperankan oleh Barong dan sebaliknya kejahatan oleh Rangda. Kedua tokoh sangat kontradiktif didalam sebuah seni peran dan tari yang manarik untuk ditonton. Tari Barong dan Rangda ini menjadi salah satu ikon tari Bali yang banyak disaksikan oleh wisatawan.

Tarian Barong yang selalu menarik wisatawan di Amphitheater GWK, Kuta
Garuda Wisnu Kencana
Seni Tari Barong di Amphitheater GWK, Kuta, Bali

Tarian lain yang menarik seperti  tari Kecak yang memiliki ritme-ritme yang menarik yang sebagian besar penarinya adalah pria yang dilakukan secara massal dengan menggunakan pakaian kain yang berwarna hitam putih kotak-kotak seperti papan catur.  Tari Kecak ini sebenarnya adalah sebuah drama teatrikal (seni peran) yang menggambarkan sebuah cerita. Umumnya cerita yang digambarkan adalah tentang Ramayana.

Berbeda dengan jenis tarian lainnya Tari Cek tidak menggunakan musik pengiring, tetapi menggunakan suara-suara para pria yang mengelilingi para penari yang berada di tengah. Derap-derapan suara pria itu membentuk alunan-alunan yang mirip seperti suara musik pengalun. Ritme-ritme yang dialunkan membentuk semacam irama spiritual. Tarian Kecak menjadi pesona sendiri bagi wisatawan dan pada setiap pagelaran Tari Kecak mendapat perhatian dan memiliki magnit sendiri yang bagi wisatawan, terutama para wisatawan mancanegara. Sehingga Tari Kecak selalu menjadi ikon pariwisata Bali yang cukup berhasil.

Pagelaran lain yang sering dilakukan di Taman Budaya  Amphitheater GWK  yaitu Rindik. Rindik adalah adalah alat musik tradisional yang telah menjadi ciri khas seni  Bali.  Alat music ini dibuat  dari bamboo-bambu  dengan nada selendro saat dimainkan dengan dipukul-pukul.  Nada-nada dihasilkan dari beberapa orang yang bermain dalam satu tim Rindik, sekitar 2 sampai 5 orang pemain. Alat music rindik dipadu dengan gong dan seruling khas Bali.

Garuda Wisnu Kencana
Penari Bali Taman Budaya Amphitheater GWK

Kalau Anda datang sore hari antara jam   18.30 sampai dengan jam 19.30 WITA jangan disia-siakan untuk bisa menonton tari Kecak atau tari kreasi lainnya yang dipersembahkan secara gratis. Setelah selesai nonton pertunjukkan atau sebelum pertunjukkan Anda bisa menyempatkan diri berpoto dengan para penari.

Amphitheater GWK, Kuta
Penari Bali di di Amphitheater GWK, Kuta, Bali

Selain di Amphitheater GWK,  pertunjukkan tari  juga sering dilakukan di area outdoor bernama Street Theatre di Plaza Wisnu, Lotus Pond. Pertunjukkan yang dilakukan dijalan ini biasanya berupa parade budaya Bali dengan menampilkan  berbagai macam tarian, seperti Tari Joged Bumbung, Parade Penari Kecak, tari Barong dan sebagainya.   Pada Street Theatre itu juga dipertunjukkan berbagai  macam pakaian adat Bali.

Dari kita masuk maka biasanya yang akan terlihat duluan adalah Street Theater  yang menjadi menu pembuka dari wisata kita di sini.  Dari sini juga kita bisa mengisi perut dengan berbagai kuliner dari  restoran. Kalau ingin dilanjutkan dengan mencari pernak pernik souvenir maka disini juga banyak  tersedia  toko-toko souvenir,  seperti souvenir Bali dan merchandise GWK dan juga Bali Art Market.

Photografer : Adli
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Tag. :  Garuda Wisnu Kencana, GWK, Bali, Tari Bali, Barong, Kecak,  Amphitheater GWK, Kuta

Sunday, September 22, 2019

Musium Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua Jakarta Membuktikan Keramik Warisan Asli Nusantara

Jakarta sebagai pusat Pemerintah Republik Indonesia tentu banyak memiliki sejarah yang panjang. Keberadaan museum-musium di Jakarta menjadi bagian dari catatan sejarah Jakarta dan Indonesia pada umumnya.  Salah satu pusat museum di Jakarta adalah kawasan Kota Tua Jakarta yang dulunya disebut sebagai Batavia atau Batavieren yang maksudnya adalah sebuah nama leluhur bangsa Belanda.

Tembikar yang sudah dihias dengan tenunan
Ada banyak museum disini seperti  Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bahari, Museum Magic Art 3D. Semua museum tersebut dikelolan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua DKI Jakarta.

Sekarang ini museum-musium itu semakin memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dengan memundurkan jam tutup museum sejak 6 Juni 2019. Jam tutup sekarang menjadi jam 20.00 WIB.  Sedangkan jam buka tetap seperti biasa pada Jam 8.00 WIB.

Halaman depan gedung Musium Seni Rupa dan Keramik digunakan sebagai tempat berkumpul wisatawan

Kesempatan ini sangat penting karena justru keberadaan wisata Kota Tua selalu banyak dikunjungi pada saat malam dan sore hari. Selain tidak panas suasana juga akan lebih santai. Sehabis pulang kerja dan bisa mengajar keluarga jalan-jalan keliling Kota Tua.

Salah banyak museum yang ada di Jakarta, akan kita ulas salah satu museum yaitu Musium Seni Rupa dan Keramik (Museum of Fine Art and Ceramics )  yang berada disisi timur dari Musium Jakarta (Gedung Fatahillah) di  Kota Tua Jakarta.

Ruangan depan Musium Seni Rupda dan Keramik

Untuk mengakses alamatnya di Jl. Pos Kota, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, tetapi kalau Anda bingung untuk mengakses museum tersdebut diblok-blok Kota Tua Jakarta yang cukup luas caranya. bisa melalui jalan Kemukus atau jalan Ketumbar, bisa juga dari jalan Pintu Besar Utara kemudian melalui gang yang ramai menuju Gedung Fatahillah. Dari sini kita tinggal lihat disisi kiri jika kita menghadap Gedung Fatahillah, maka sudah terlihat gedung nan cantik dengan sentuhan Art Deco.

Bagian dalam Musium Seni Rupa dan Keramik

Gerbang utamanya terlihat banyak deretan tiang-tiang besar dan megah sebanyak delapan baris seperti style bangunan Parthenon di Yunani. Dari sinilah kita masuk melalui gerbang utama museum untuk membeli tiket dan mulai melihat-lihat koleksinya. Harga tikernya sangat murah hanya Rp. 5000,- saja.

Bangunan museum ini didirikan pada tahun  1870 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan untuk aktifitas Lembaga Peradilan ((Raad van Justitie)), sekaligus juga sebagai tempat berkantornya Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). 

Tumpukan keramik bersejarah dalam etalase di Musium Seni Rupa dan Keramik

Pada masa Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942,  gedung museum itu digunakan sebagai markas pasukan militer Nippon, kemudian pada masa setelah tahun 1949 gedung ini dimanfaatkan oleh TNI sebagai asrama para prajurit TNI.

Baru pada tahun 1968, asset bangunan bersejarah ini dipindahtangankan ke Pemda DKI Jakarta, yang kemudian digunakan sebagai pusat pengelolaan museum di Jakarta, dengan nomenklatur Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta yang tahap berikutnya nomenklaturnya menjadi UPK Kota Tua DKI Jakarta.

Bangunan tua itu ternyata juga banyak mencatat sejarah nusantara khususnya mengenai seni rupa dan keramik. Banyak koleksi-koleksi tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Ada koleksi pada zaman Belanda, ada juga mengenai kondisi rumah masyarakat Betawi pada masa lalu, ada juga keramik-keramik Tiongkok, ada harta karun kapal yang karam dan masih banyak lagi yang cukup menarik untuk dicermati.

Selain itu ada juga deretan photo dan video yang bisa kita lihat dan tonton mengenai sejarah perkembangan seni rupa dan keramik yang ada di Nusantara. Pada museum banyak juga keliping-kliping koran dan majalah yang sudah lama mengenai Seni Rupa Indonesia.

Khusus mengenai koleksi keramiknya ternyata sangat luar biasa, keramik tua dari sejak zaman era Kerajaan Majapahit abad ke-14 juga ada. Bagi para seniman keramik ini bisa menjadi inspirasi penting mengenai identitas keramik nusantara yang sudah ada sejak zaman dulu. Selama ini kita menganggap bahwa keramik selalu dari Tiongkok, tetapi dari sini bisa kita buktikan bahwa keramik nusantara  juga sangat banyak dengan seni dan teknik pembuatan yang sudah tinggi.

Keramik di Nusantara bahkan sudah dikenal sejak zaman Neolithikum yang berada diantara rentang waktu  2500 SM sampai dengan  1000 SM.  Ilmu dan cara olah kerajinan keramik diperkirakan berasal dari kreatifitas di Nusantara sendiri dan  juga dari pengaruh dari para imigran Asia Tenggara. Perkembangan budayanya parallel dengan berkembangnya pengetahuan tentang pertanain, perkebunan,  peternakan dan bahari.

Temuan seperti pecahan-pecahan periuk belanga di Bukit Kulit Kerang  di Sumatra sangat penting sebagai petunjuk sejarah awal keramik di Nusantara. Di pulau Jawa tepatnya diantara Yogyakarta dan Pacitan ditemukan juga pecahan keramik yang berupa tembikar yang sudah lebih modern karena tembikar tersebut sudah dihias dengan profile anyaman atau tenunan.

Inilah bukti bahwa peradapan keramik di Nusantara juga adalah hasil murni dari kebudayaan asli yang ada dilokal kita, tetapi pengaruh dari cara pembuatan dan variasi dari keramik itulah yang akan banyak juga dari luar.

Kemampun pembuatan keramik ini berkembang terus sampai para pengembangan seni rupa seperti patung dan candi. Kita dapat membuktikan keberadaan candi-candi di Nusantara yang cukup banyak dan dengan arsitektur yang purna rupa dan sangat luar biasa, contohnya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut dan banyak lagi.

Inilah pentingnya keberadaan Musium Seni Rupa dan Keramik sebagai pencatat bukti dan koleksi-koleksi penting yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi.


Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Thursday, September 19, 2019

Yogya Festival Street Ferformance pada 22-23 September 2019

 
Siap-siap ikutan yuk Yogya Festival Street Ferformance 2019. Kereeen!


Jogja International Street Performance is back! Event tahunan dimana kamu bisa nonton berbagai pertunjukan seni dan musik dari negeri sendiri, Indonesia dan juga dari negara lain seperti  Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang dan Taipei.

Pertunjukan ini akan dilaksanakan di jalan Malioboro yang fenomenal itu Guys! Bukan hanya seniman dari negeri kita saja, tetapi juga akan banyak diikuti oleh seniman dari berbagai negara. Even ini diselenggarakan untuk mengapresiasi para seniman dunia!

Tuesday, September 17, 2019

Batik Yogyakarta dalam Bingkai Filosofis Budaya Jawa

 
Batik Yogyakarta merupakan salah satu ikon dari Kota Yogyakarta. Sayang rasanya kalau ke Yogya tetapi tidak beli batik.  Apalagi keluarga dan teman di rumah mau oleh-oleh.  Oleh-oleh batik Yogya tepat rasanya. Selain untuk oleh-oleh batik juga untuk keperluan sendiri, karena sekarang batik banyak digunakan untuk pakaian kerja, bukan sekedar untuk pesta saja. Kain batik telah menjadi salah satu cirri dari komunitas dan daerah yang penting.  Identitas tradisional ini telah lama ada.

Batik, Batik Yogya
Seorang Pengrajin Batik yang sedang menulis batik secara tradisional
Dalam budaya Jawa istilah batik berasal  dari suku kata tik. Kata tik merujuk pada titik-titik yang pada saat proses pembuatan batik tradisional dengan tangan yang halus, lembut, dan detil.  Kata menitikkan ini juga tentu sebuah kerja yang harus menggunakan sebuah alat yang bisa menitikkan. Alat itu disebut canting yang dibagian dalamnya ada bahan tinta  pewarna. Setelah bahan tersebut habis maka canting dicelupkan lagi ke sebuah sejenis mangkuk yang berisi pewarna batik yang terus dipanaskan dengan kompor kecil.
Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogyakarta di jalan Malioboro
Membatik memerlukan sebuah ketekunan dan kesabaran untuk memberikan corak pada seluruh permukaan kain. Membatik bukan hanya sekedar seni tetapi juga sebuah pengungkapan perasaan dari rasa para seniman pembatik. Semua goresan dan titik-titik atau pewarnaan itu sangat terpengaruh oleh sebuah “rasa” yang dari Si Pembatik.

Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogya berada ditengah alun-alun jalan Malioboro
Pembatik biasanya duduk di sebuah bangku pendek atau yang disebut “dingklik” dan duduk sangat lama untuk menyelesaikan sebuah produksi seni batik purna rupa.

Keistimewaan membatik adalah banyak para ibu yang berusia yang sudah cukup tua tetapi sangat produktif untuk menghasilkan seni batik.

Kota Yogyakarta adalah satu satu dari pusat kebudayaan batik  Jawa. Sebenarnya ada banyak kota di Jawa yang memiliki corak dan warna sendiri dari batiknya, tetapi bisa dikatakan Yogyakarta adalah pusat perdagangan batik Yogyakarta. Faktor utama yang memudahkan masyarakat Yogya menjual batiknya adalah karena Yogyakarta termasuk destinasi wisata yang sangat  menarik.

Batik, Batik Yogya
Tempat penjualan batik Yogya di Malioboro
Batik Yogyakarta walau memiliki kekhasan tetapi juga cukup  memiliki variasi yang sangat meragam.  Kalau kita datang ke berbagai pusat penjualan batik maka akan terasa banyaknya variasi itu. Hal ini menunjukkan dinamika yang ada di kota Gudeg ini, tetapi dinamika itu tetap masih memiliki ciri dan kekhasan yang cukup menonjol, yaitu: penggunaan warga hitam, putih dan coklat yang dominan, tetapi kadang-kadang juga ada campuran sedikit biru tua.  Ciri lain yang menonjol adalah penggunaan relief dari bentuk-bentuk tumbuhan.

Batik Yogyakarta juga termasuk batik yang pengerjaannya masih tradisional tulis tangan dengan alat canting. Para pemburu batik justru masih mencari batik yang pengerjaannya dengan cara yang tradisional. Selain terlihat lebih original sebagai sebuah seni membatik, batik asli tulis tangan juga terlihat otentik dan berkelas.
Batik, Batik Yogya
Pasar Bringharjo yang menjadi pusat penjualan batik Yogya

Hal yang dicari para pencari batik dari batik Yogya juga adalah harganya yang relative lebih murah dibandingkan dengan batik dari kota lain di Jawa.  Pasar-pasar di Kota Yogya  baik pasar tradisional maupun pasar modern berupa mall tidak ada yang sepi dari perdagangan batik.  Batik bagi m asyarakat Yogyakarta tidak sekedar ikon tetapi sebuah semangat untuk meningkatkan  perekonomian dan taraf hidup.
Secara umum motif dan gaya dari batik Yogya terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:

Motif Kawung

Motif kawung termsuk motif yang umum pada batik Yogya, Mitif berbentuk bulatan-bulatan yang konsisten seperti  buah-buah  Kawung.  Buah kawung  adalah buah sejenis buah kelapa yang biasanya digunakan  untuk membuat bahan kolang kaling.  Motif kawung biasanya berupa kain panjang yang banyak digunakan untuk selendang atau kerudung.

Motif Parang

Motif parang ada dua macam yaitu motif parang rusak dan parang barong.  Parang rusak maksudnya perlawanan manusia dengan  cara mengendalikan kejahatan, sehingga kejahatan bisa berubah menjadi bentuk kemuliaan dan juga kebijaksanaan.

Untuk motif parang barong yang memiliki arti agar seorang pemimpin menjaga hatinya dan menjadi penguasa yang jujur, adil dan bijaksana. Seorang pemimpin harus welas asih dan penuh tanggungjawab terhadap rakyatnya.

Motif Batik Tambal

Motif batik tambal terkait dengan kepercayaan akan kekuatan magis batik. Kata tambal artinya menyembuhkan  dan atau memperbaiki (recovery).  Dalam budaya Jawa ada kepercayaan  dan harapan orang yang menggunakan batik tambal akan sembuh penyakitnya.  Tentu ini kaitannya dengan filosofis untuk menjaga semangat dan harapan untuk sembuh dan  tetap hidup optimis.

Motif Truntum

Motif batik truntum maksudnya adalah sejenis batik kasik  yang tergolong langka yang sampai sekarang masih terus dilestarikan.  Motif batik truntum biasa digunakan dalam acara-acara  pernikahan.  Batik motif truntum melambangkan harapan agar cinta dan kasih sayang  kedua  mempelai  yang sedang menikah dapat terjaga dan terus berbahagia bersama.

Sebenarnya ada banyak lagi jenis motif lainnya seperti  motif parang rusak gendreh, parang rusak klitik, semen gede swat gurda, semen gede swat lar, udan liris, rujak sente, dan parang-parangan.  Ada beberapa motif yang secara aturan tidak boleh digunakan untuk umum tetapi bersifat khusus dan spesial digunakan oleh Sultan dan keluarga keraton Yogyakarta. Tetapi untuk saat ini aturan itu sudah semakin luwes dan hanya dilingkungan Keraton Yogya saja dan tidak diberlakukan untuk masyarakat umum.

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdvanture.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Key. : Batik, Batik Yogya, batik yogyakarta, yogyakarta

Translate