Saturday, October 3, 2020

Tour to Pine Forest in Sumber Jaya, West Lampung

West Lampung is arguably a paradise for natural tourism, mountains, rivers, forests, beaches with high sea waves, hot springs, historical sites and so on. Physically, the regency with its capital in Liwa does have a very different land contour from other districts in Lampung. West Lampung is also the largest area included as part of the Bukit Barisan National Park which has a very large protected forest.

Hutan Pinus Lampung Barat
The umbrellas hanging between pine trees are very instagrammable

One of the locations for eco-tourism in West Lampung is Sumber Jaya Pine Forest in West Lampung. The trip to Sumber Jaya Pine Forest from Bukit Kemuning Subdistrict, North Lampung, takes about 40 minutes by winding uphill roads. The scenery during the trip is very exciting because along the way we will be presented with views of the mountains and hills from a height.

Arriving there, we will see a pine forest which to people in general will feel foreign because pine forests are rather rare on the island of Sumatra. This different view will make us even more curious after breathing the fresh air and green scenery.

The pine trees in the Sumber Jaya pine forest belong to the Pinaceae family and the Pinopsida class. Pine or also known as Sumatran tusam tree. Sumatran Tusam is a pine tree that lives and grows on the island of Sumatra. Pines that grow in needle-leaved Sumatra are conifers (Pinophyta).
Betuk tall pine tree towering by forming a cone up the cone.

Hutan Pinus Lampung Barat
Pine Forest a cool place to relax

 

The roots of this tree are very strong and can withstand wind or storms. Pine forests are included in tropical forests in the mountains and hills of Indonesia. Pine trees prefer to grow where the altitude is above 600m above sea level to about 1500m above sea level. Pines also have the characteristic of being a cylindrical main stem, straight and upright. The branches form a regular loop, the free height of the branches can reach 10-25 meters.

This pine tree sap can be tapped to produce turpentine and gondorukem raw materials. Perum Perhutani conducts nursery and cultivation in Java and Sumatra, in addition to planting industrial pine forests to meet the needs of turpentine and gondorukem.

It turns out that the pine forests that we often see in the forests of Europe or the Americas are also in West Lampung. If you like old Coboy films, we can see the existing forests in the form of pine and spruce forests.

a tree threaded like a snake

 

 


    

Entering this forest area has begun to feel cold and cool. There is a distinctive pine forest aroma, this could be an aromatherapy for stress relief or a result of being cut off by a boyfriend. The dense shade of pine trees makes us cool to sit around and chat about the future. The aroma of stress relieving pine forest therapy will be even more pronounced if there is a gentle breeze blowing the pine trees and leaves.

The Pine Forest Ecotourism in Sumber Jaya is cultivated in collaboration with KPHL II Liwa, KPA Green, HPPHL and the HKM Group which formed a consortium called West Land. This collaboration was formed for the management of this pine forest. Apart from the aim of preserving pine forests, it is also to increase tourism in West Lampung. 


Close to the Bukit Barisan National Park

In this pine forest area, various tree houses, huts, gardens and comfortable seats have been made for hanging out with family or friends. We can also rent a swing cloth that is stretched between two trees to lie down while swinging. Obviously if we swing over time on this swinging cloth we can fall asleep because of the cool air, the breeze and the smell of pine which makes our nerves loose and relax.

Hutan Pinus Lampung Barat
One of the tallest pine trees


For those of you who like to take photo actions in the Sumber Jaya pine forest, interesting photo spots and Instagram photos have also been made with natural and natural backgrounds.

For copyists, "copy pay". Drink coffee in a cold place with fresh air. There is also a place to order black coffee, brewed coffee, moca coffee or cappuccino. Just select. It's a shame if the atmosphere is very comfortable but not coffee. It feels incomplete.

The journey home while enjoying the sunset



#TheIndonesiaAdventure
The Indonesia Adventure Team Writter

Tag : West Lampung, Pinus Debt, West Lampung Tourism, Bukit Barisan National Park, Forest

Friday, November 1, 2019

Harimau Sumatra, Raja Hutan yang Terancam Kepunahan

 
Salah satu hewan liar hutan Sumatra yang sangat dilindungi adalah Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae).  Harimau Sumatra merupakan  kucing besar  yang tinggal di habitat aslinya di pulau Sumatra yang adalah satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini.

Asal harimau Sumatra berasal dari keturunan hewan pemangsa zaman purba yang dikenal sebagai Miacids  yang hidup pada akhir zaman Cretaceous pada kisaran masa 70-65 juta tahun lalu semasa zaman dinosaurus di Asia Barat seperti yang ditulis Andrew Kitchener dalam bukunya; “The Natural History of Wild Cats”.

Harimau ini kemudian menyebar ke kawasan timur Asia, yaitu ke China dan Siberia sebelum berpecah dua. Kemudian berdiaspora lagi ke kawasan Asia Tengah barat dan barat daya. Seterusnya ke Asia Tenggara  yang selanjutnya  ke  Indonesia dan akhirnya ke Pulau Sumatra, Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Ilustrasi Harimau Sumatra
Harimau termasuk langka dan masuk klasifikasi satwa kritis yang hampir punah. Harimau termasuk dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN.  Populasi harimau Sumatra berdasarkan data tahun 2004 yang dilansir wwf.or.idjumlah populasi Harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 individu saja.

Ilustrasi Harimau Sumatra

Saudara dari Harimau Sumatra seperti Harimau Bali telah lebih dahulu dinyatakan punah sejak tahun 1940-an. Demikian juga dengan Harimau Jawa dinyatakan punah tak terlihat lagi sejak tahun 1980-an. Pada akhir tahun 1970an, diyakini populasi Harimau Sumatra berkisar sekitar 1.000 ekor,  kemudian menurun lagi  menjadi sekitar 400-500an ekor pada awal 1990-an.

Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  pada tahun 2007 perkiraan jumlah populasi Harimau Sumatra dari delapan kawasan yang telah diidentifikasi  dari 18 kawasan yang ada hanya tersisa sekitar 250-an ekor saja. Ini tentu sangat memprihatinkan dan mengkhatirkan, karena Harimau Sumatra adalah kucing besar terakhir yang masih ada.

Oleh karena itu kita perlu mendukung  gerakan  dalam pertemuan tanggal 23 November 2010 di St. Petersburg, Rusia dalam pertemuan yang disebut sebagai  The St. Petersburg Declaration on Tiger Conservation dalam upaya pelestarian Harimau di dunia dengan penetapan 29 Juli sebagai Perayaan Hari Harimau Internasional.

Pertemuan itu menyepakati untuk upaya bersama dunia untuk meningkatkan populasi Harimau  menjadi dua kali lipat di tahun 2022.  Pertemuan itu juga menyepakati bahwa predator Raja Hutan adalah indikator penting ekosistem yang sehat. Rusaknya ekosistem tidak hanya berdampak pada kepunahan harimau, tetapi juga hilangnya keanekaragaman hayati.

Kondisi ancaman kepunahan harimau Sumatra karena akibat kucing besar ini mulai kehilangan habitat aslinya karena tingginya tingkat pembalakan hutan Sumatra untuk berbagai perkebunan, pemukiman dan proyek industry.  Harimau juga sangat dicara pemburu untuk perdagangan ilegal  yang menjual berbagai organ tubuh harimau dengan harga tinggi di pasar illegal untuk berbagai  keperluan, seperti obat-obatan tradisional, dekorasi, jimat,  perhiasan dan sebagainya.

Data tentang perburuan harimau dipublis dari hasil survei Profauna Indonesia yang didukung oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada bulan Juli - Oktober 2008. Selama 4 bulan tersebut Profauna mengunjungi 21 kota/lokasi yang ada di Sumatra dan Jakarta. Dari hasil survey tersebut ditemukan dari 21 kota yang dikunjungi Profauna, 10 kota diantaranya ditemukan adanya perdagangan bagian tubuh harimau (48%). Bagian tubuh itu berupa kulit, kumis, cakar, ataupun opsetan utuh.

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat dalam usaha konservasi Hutan Tropis  Sumatra melalui program Tropical Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatera) mendorong penguatan dukungan dan keterlibatan secara aktif masyarakat, pemerintah dan juga swasta agar harimau tetap terjaga keberadaannya di alam. Kegiatan ini juga di dukung oleh Yayasan KEHATI beserta mitra yang bekerja di lapangan mengidentifikasi paling tidak ada lima hal penting yang harus dilakukan untuk mencapai target peningkatan populasi Harimau Sumatra.

Photograger : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Tag. : harimau, harimau sumatra, kucing besar, raja hutan, populasi harimau, kepunahan harimau, harimau langka, perburuan harimau, konservasi harimau, kondisi harimau sumatra, hewan liar, hutan, hutan sumatra, alam, hutan sumatra

Saturday, January 21, 2012

Suku Baduy di Pedalaman Banten. Hutan adalah Rumah Kami

 






Photografer : Yogga Yerriandra

Translate