Friday, July 26, 2019

Menengok Laskar Pelangi di Pulau Belitung

Photo berbingkai dalam Bangunan Laskar Pelangi
Sejak viralnya buku novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang Pustaka pada tahun 2005, banyak yang ingin menjadikan cerita dalam novel Laskar Pelangi ke dalam sebuah film layar lebar. Cerita yang menarik dan menginspirasi ini memberikan banyak pelajaran terutama bagi generasi muda di Indonesia bahwa untuk maju itu tidak harus dengan fasilitas yang mewah.

Semangat yang ada pada novel Laskar Pelangi akhirnya diteruskan ke dalam sebuah film layar lebar yang disutradarai oleh Riri Reza dan Benni Setiawan dengan rumah produksi Miles Films. Film layar lebar ini sangat berhasil dan sampai sekarang juga masih fenomenal.

Bangunan bekas syuting film Laskar Pelangi
Bangunan  tempat syuting Laskar Pelangi itu sampai sekarang masih ada. Bangunan yang dijadikan sebagai  SD Muhammadiah Gantong itu kondisinya memang masih sama dengan film Laskar Pelang yang kita tonton. Bahkan plang nama sekolah masih berdiri yang terbuat dari papan dan cat hijau.

Kondisi bangunan reot, atap dari seng seadanya. Ada dua lokal kelas. Keduanya sama-sama sangat sederhana. Bangunan ini menjadi inspirasi banyak orang tentang kondisi pendidikan di daerah pedalaman yang  memang fasilitasnya masih sangat terbatas. Inspirasi yang mendalam dari semangat novel dan film itu tetap menjadikan keterbatasan ini sebagai kekuatan untuk tetap maju. Yah mungkin begitulah kira-kira ide yang disampaikan Andrea Hirata dalam novel itu.

Salah satu photo yang inspiratif
Sampai sekarang ini yang diberi nama SD Muhammadiah Gantong yang berada di Belitung tetap terjaga, Bahkan bekas tempat syuting Laskar Pelangi ini dijadikan sebuah musium. Lokasi ini sebenarnya juga  berada di Obyek wisata Pantai Tanjung Tinggi.

Objek wisata Pantai Tanjung Tinggi sangat indah dan menarik plus pernah dijadikan tempat syuting Laskar Pelangi menjadikan tempat ini sekarang cukup terkenal. Destinasi ini juga berdekatan dengan sebuah objek wisata lain yaitu sebuah mercusuar lama yang berada dipulau Lengkuas. Mercusuar tersebut merupakan sebuah tower/menara setinggi 70 meter. Menara yang cukup tua itu dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1882.

Sunday, April 8, 2012

Rumah Adat Suku Komering, Ogan Komring Ulu, Sumatera Selatan

Masyarakat Komering yaitu masyarakat yang berasal dari Sumatra Selatan, tepatnya disekitar Danau Ranau, Gunung Seminung dan di sepanjang Sunga Komering yang memanjang dari  Batu Raja Bungin sampai dengan Gunung Batu.  Sebagain wilayah dari Sungai Komering berada di  Kabupaten Oku Timur merupakan kabupaten yang  paling selatan dari Sumatra Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Way Kanan, Lampung.

Rumah Adat Komering,  H. Leo Budi Rachmadi, SE (Batin Tumunggung).

Berdasarkan sejarahnya pada abad ke IX, daerah di sekitar Sumatra Selatan khususnya di wilayah sekitar Danau Ranau dan sepanjang Sungai Komering menjadi tempat sumber komoditas pinang dan bahan rempah-rempah lainnya. Komoditas ini bahkan diperdagangkan sampai ke negeri India.

Rumah Adat Suku Komering. Relief ukiran yang banyak berbentuk flora, bunga dan daun-daunan.
Daerah pinang itu tepatnya beradai di antara Sungai Waisaka dan sungai Selabung yang sekarang ini menjadi daerah Muara Dua. Disebut Muara Dua karena tempat bermuaranya dua sungai.

Pada masa perintahan kolonial Belanda, wilayah dari masyarakat Komering dibagi dua kewedanaan, yaitu Kewedanaan Muara Dua dan Kewedanaan Komering yang administrasi pemerintahannya berada di Martapura. 

Rumah Adat Komring, bagian depannya dengan profile yang khas.

Orang Komering juga bagian dari Suku Palembang dan banyak disebut sebagai Uwong Palembang, walaupun bahasa adat Komering sendiri hampir sama dengan bahasa Lampung, khususnya bahasa Lampung yang digunakan di Blambangan Umpu, Way Kanan.  Karena secara geografis masyarakat yang berada di sepanjang Sungai Komering berbatasan langsung dengan Lampung.

Tidak semua orang Komering menggunakan bahasa Komering  yang sama, ada juga yang menggunakan bahasa Kayu Agung yang pada umumnya berasal dari daerah Kayu Agung yang letaknya di selatan Kota Palembang, Sumatra Selatan. Orang Komering ada juga yang berbahasa Komering Ilir dan juga bahasa Komering Ulu. Dua bahasa ini dialegnya ada perbedaan. Kalau mereka semua bertemu menggunakan bahasa Palembang.

Rumah Adar Komering di Oku Timur, Sumatra Selatan.

Pada umumnya semua suku di Sumatra adalah bagian dari suku beragam yang menjadi bagian dari masyarakat Melayu Sumatra yang terlihat dari bahasa, baju adat, adat istiadat, sastra, pantun, relief ukiran, tarian dan adat perkawinan. Demikian juga adat dari suku Komering, tetapi ada perbedaan sedikit-sedikit antara suku-suku Melayu yang berada di Sumatra tersebut.

Pagar bagian atas Rumah Adat Komering.

Ciri umum pada Rumah Adat Komering adalah pada rumah yang berstruktur panggung.  Ini adalah ciri dari masyarakat yang tinggal disepanjang sungai. Selain itu relief dan motif yang ada pada ukiran-ukiran kayu dirumah adat Komering itu menggambarkan relief dari bunga atau tanaman.

Photo Rumah Adat Komering diatas adalah rumah dari Bapak H. Leo Budi Rachmadi, SE (Batin Tumunggung) Ketua dari Jaringan Masyarakat Adat Komering (JAMAK) yang tinggal di Kabupaten Oku Timur.




Bagian beranda depan rumah yang menjadi tempat berkumpul tamu atau keluarga.


Rumah Adat Komering, bagian pagar depan dengan pahatan relief yang khas Komering.

Photografer :  Azzahra R.

#TheIndonesiaAdventure
The Indonesia Adventure Team Writter

Tag. : Komring, komering, rumah adat komering, suku komering, rumah adat suku komering, komering oku timur, komering sumsel, sumatra selatan, Wisata Sumatra Selatan, rumah adat, oku, rumah panggung

Translate