Saturday, October 12, 2019

Goa Jepang di Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Gua Misteri di Bawah Lereng Merapi

Kabupaten Sleman yang menjadi salah satu Kabupaten di dalam Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah Sleman memiliki luas 574,82 km2.   Kabupaten ini berdekatan dengan pusat kota Yogyakarta, yang banyak mendapat berkah dari pesatnya kemajuan pariwisata Yogyakarta.

Wilayah Sleman dibagian selatan memiliki kontur tanah yang relatif datar kecuali daerah perbukitan dibagian tenggara Kecamatan Prambanan dan sebagian di Kecamatan Gamping. Pada sisi utara wilayah Sleman semakin ke utara relatif semakin miring dan dibagian utara sekitar Lereng Gunung Merapi relatif terjal serta terdapat sekitar 100 sumber mata air.

Gua Jepang di Kaliurang, Kabupaetn Sleman. Photo: sleman.unimus.ac.id

Banyak destinasi wisata di Kabupaten Sleman mendapat kunjungan dari wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. menjadi salah satu daerah yang banyak  menerima wisatawan yang berasal dari Kota Yogyakarta. Berbagai macam wisata di Kabupaten Sleman seperti wisata alam, wisata candi dan juga wisata musium. Kabupaten ini juga memiliki potensi wisata seni budaya dan juga wisata even festival.  Salah satu destinasi wisata yang akan dibahas kali ini adalah Gua Jepang yang ada di Kaliurang, Kabupaten Sleman.

Sejarahnya Jepang masuk ke Yogyakarta dimulai sejak tanggal 5 Maret 1942. Pada saat Jepang menduduki Yogyakarta banyak membangun daerah pertahanan. Seperti lokasi yang tinggi di pegunungan (Kaliurang), daerah pesisir sperti di Parangtritis, dan juga daerah lainnya yang dianggap strategis.  Gua-gua ini dibangun dengan bahan dasar beton bertulang yang tebal dan kuat, dengan pintu dan gerbang dari kayu. Pada umumnya pelestarian gua-gua bersejarah itu di kelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Goa Jepang sebenarnya adalah bagian dari lereng Gunung Merapi yang tepatnya berada di lokasi Kawasan Wisata Alam Nirmolo di Kaliurang,  Hargobingun, Pakem,  Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta.  Iklim udaranya karena berada di ketinggian sangatlah sejuk, malah terkadang agak kedinginan. Jadi kalau kesini jangan lupa membawa jaket.

Gua ini adalah satu diantara goa peninggalan masa Jepang. Goa ini dibuat Jepang dari  tahun 1942 sampai dengan tahun1945.  Gua ini terlihat belum benar-benar selesai mungkin terhenti setelah Indonesia memroklamasikan kemerdekaannya.

Penampakan gua yang penuh misteri, tetapi juga terlihat sangat eksotis. Gua ini oleh Jepang difungsikan sebagai tempat tinggal dan perlindungan tentara Jepang. Gua ini juga menjadi gudang untuk tempat penyimpanan  berbagai peralatan milik Jepang. Memang pada masa Jepang banyak membuat berbagai macam gua yang telah menjadi salah satu basis  pertahanan mereka.

Goa buatan ini tepatnya berada di Bukit Plawangan.  Di dalamnya ada terdapat 25 ruangan-ruangan yang masing-masing ruangan memiliki lorong-lorong yang saling berhubungan.  Gerbang pertama untuk masuk ke dalam gua ini melalui pintu masuk Nirmolo.

Dari gerbang  utama gua ini para wisatawan harus melalui jalan setapak yang jauhnya kalau dengan jalan kaki sekitar 45 menit.  Jalur yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki ini sangat berliku dan juga menanjak. membutuhkan stamina yang cukup baik untuk melalui jalur ini. Di sela-sela kelokkan itu sering terlihat  pemandangan yang indah dari ketinggian.

Pada saat masuk ke dalam gua pengunjung harus berhati-hati karena bebatuan dalam gua yang lembab ini terkadang sangat licin. Di dalam ruangan  gua Nippon ini pengunjung akan dipandu oleh para guide wisata yang akan menjelaskan sisi sejarah dalam setiap ruangan dan lorong yang akan kita lalui.  Penjelasan para pemandu ini akan banyak memberikan kita pencerahan dari sisi sejarah tentang keberadaan gua ini, selain juga menikmati wisata adventure di dalam gua bersejarah.

Di dalam ruangan cukup gelap sehingga ada baiknya pengunjung mempersiapkan lampu senter atau menggunakan senter handphone juga bisa, asal tidak kehabisan batrai. Disini juga ada penyewaan penerangan lampu yang bisa kita gunakan dari pada menggunakan lampu handphone.

Pada ujung lubang gua Jepang ini nanti ada akses untuk menuju Puncak Bukit Plawangan yang memiliki pemandangan yang indah dari ketinggian di puncak bukit.  Kita juga dapat melihat lanskape dari gunung Merapi yang terlihat jelas dan hamparan lembah hijau dan hutan disekitarnya.

Gunung Merapi. Photo by Pixabay.

Jika stamina Anda masih kuat Anda bisa sekalian berwisata ke Taman Nasional Gunung Merapi yang tidak jauh dari Kaliurang. Taman Nasional ini sudah masuk di perbatasan  DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Taman Nasional Gunung Merapi difungsikan sebagai perlindungan bagi flora, fauna dan sumber-sumber air beserta sungai yang menjadi penyangga ekosistem alam.

Lanscape Pemandangan Gunung Merapi. Photo by Pixabay.

Pemda Kabupaten Sleman juga sering mengadakan even-even untuk meningkatkan pariwisata daerah. Salah satunya adalah mengadakan Jelajah Wisata yang pada tahun 2019 diselenggarakan di Desa Wisata Tunggul Arum, dengan tema "Ngadem sik."


Tag. : Kabupaten Sleman, Gua Jepang di Kaliurang, Goa Kaliurang, Goa Jepang, Lereng Merapi, Gunung Merapi, Wisata Sleman, Goa Bersejarah

Saturday, October 5, 2019

Istana Maimun Kesultanan Deli nan Indah dan Megah

Istana Maimun Kesultanan Deli di Medan. Kota Medan di Sumatara Utara  termasuk dalam tiga besar kota di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Megapolitan di Sumatara ini banyak menyimpan sejarah panjang tentang kehidupan orang-orang Melayu, khususnya Melayu Deli yang memiliki  Kesultanan Deli yang berpusat di Kota Medan yang bercorak Islam.

Kesultanan Deli berdiri sejak tahun 1632  yang dirintis oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan dengan gelar Laksamana Khoja Bintan yang awalnya adalah seorang Panglima dari Kesultanan Darussalam Aceh. Pendirian Kesultanan Deli atas pengaruh dari Kesultanan Aceh Darussalam untuk memperluas wilayahnya sampai ke Sumatra Utara pada 1612 ke wilayah Sumatera Utara pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kemudain hari setelah Sultan Iskandar Muda wafat, Kesultanan Deli menyatakan lepas dari pengaruh Kesultanan Aceh Darussalam.
Istana Maimun di Kota Medan
Istana Maimun di Kota Medan
Wilayah dan kekuasaan kesultanan ini berada di daerah Melayu Deli.  Kesultanan Deli masih tetap ada dan eksis sampai saat ini walaupun secara kekuasaan politik sudah tidak berperan, tetapi masih memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat Medan.

Sejarah berdirinya Kota Medan sangat berkaitan erat dengan perkembangan Kesultanan Melayu Deli dari sejak abad ke-17.  Dalam sebuah buku yang berjudul:  "In Woord en Beeld", karya N. ten Cate menuliskan bahwa dulunya Kota Medan berasal dari sebuah Kampung yang bernama Medan yang berada di Tanah Deli, kemudian semakin meluas dan semakin banyak penduduknya. Pada saat itu kondisi lahannya adalah rawa-rawa. Tanah Deli ini pada masa lalunya terhubung dengan Selat Malaka dengan beberapa sungai.

Salah satu ikon Kota Medan adalah Istana Maimun (Maimoon Palace) yang merupakan istana Kesultanan Deli yang didirikan oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Istana indah ini dibangun sejak tahun  1888 dan selesai pada pembangunannya pada tahun 1891 dengan arsitek dari Italia yang bernama Theodoor van Erp.

Kesultanan Deli adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di wilayah bernama Tanah Deli. Kesultanan Deli masih tetap eksis hingga kini meski tidak lagi mempunyai kekuatan politik

Istana ini memiliki luas 2.772 m2  dengan berbagai ruangan dan fasilitas sebagaimana umumnya sebuah istana yang tergolong luas dan megah. Jumlah ruangannya saja sampai 30 ruangan. Secara  umum bangunan ini terbagi dalam tiga bagian. Bentuknya yang terpusat ditengah yang ada ruangan singgasana, dan ada ruangan untuk bagian sayap kiri dan ruangan untuk bagian dari sayap kanan.

Istana ini berada di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Posisi bangunan Istana Maimun menghadap ke utara. Didepan Istana Maimun ada masjid yang bernama Masjid Al-Mashun, tetapi masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan, karena sudah menyatu dengan sejarah dari Kota Medan.

Istana Maimun memiliki bentuk yang cantik dan unik. Ada banyak perpaduan budaya dalam arsitektur istana nan megah ini, yaitu ciri khas bangunan Timur Tengah dengan bentuk atap yang melengkung seperti kubah masjid, tetapi tidak terlalu bulat. Bentuk atapnya seperti setengah oval.

Ciri arsitekturnya juga dipengaruhi oleh budaya India dengan pintu-pintu yang lebar dan besar. Arsitektur istana ini juga dipengaruhi oleh gaya Eropa yang menganut art deco dengan bentuk dinding dan tiang-tiang beton yang besar dengan hiasan profilenya semen betonnya.

Kemudian sentuhan yang sangat menonjol dari seni bangunan ini adalah budaya Melayu. Sentuhan melayu yang sangat mencolok adalah dominasi warna kuning keemasan sebagai simbol kemegahan. Kemudian relief-relief pada dinding dan langit-langit yang menggambarkan tumbuhan. Detail dari relief-relief itu sangat indah. Tidak akan bosan kita memandangnya dengan paduan warna kuning keemasan dan juga campuran warna kehijauan.

Ruangan utama istana ini adalah bagian yang paling indah dan megah. Ruangan ini luasnya 412 m2 yang paling banyak dilihat di photo oleh banyak pengunjung. Bahkan mereka sudah berphoto dengan menggunakan baju-baju khas Melayu. Kita juga bisa menyewa baju dan memakainya sehingga terlihat seperti Raja Deli. Apalagi berphoto didepan singgasana nan megah itu. Wahh keren..

Singgasana Raja Deli di Istana Maimun
Singgasana Raja Deli di Istana Maimun Kota Medan
Di ruangan ini juga ada singgasana Raja Deli yang terlihat megah keemasan. Ada tempat duduk raja, tetapi pengunjung tidak diperbolehkan masuk dan duduk di kursi itu. Ada pemisah agar aset istana Deli ini tetap terjaga dan tidak cepat rusak. Kursi singgasana itu ada di dalam pokade yang ditutupi oleh hordeng berwarna kuning.

Di halaman depannya adalah lapangan luas dari rumput hijau yang sering dijadikan sebagai tempat berkumpul dan bermain bagi warga Medan.  Banyak terlihat anak-anak sedang bermain bola   Di saat libur tempat wisata ini sangat ramai sehingga menjadi tempat berkumpul para wisatawan yang akan melihat-lihat Istana Maimun.

Saat kita datang Istana Maimun, jika ingin mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Tidak sekedar mengambil photo saja.  Kita bisa meminta Pemandu Wisata yang ada disana. Mereka biasanya akan mejelaskan sejarah dan asal mula dari berdirinya bangunan itu. Berbagai pernak-pernik dari isi istana  juga mereka tahu, sehingga kunjungan kita akan lebih bermakna, lebih menarik dan dapat melihat sisi sejarah secara mendalam tentang bangunan yang menjadi ikon Kota Medan itu.

Jangan lupa kalau sudah berada di Sumatara Utara untuk berkunjung ke destinasi yang sangat manarik di Danau Toba dan Pulau Samosir. Destinasi lain yang juga menarik di Sumatra Utara adalah Air Terjun Telaga Sibolangit yang ada di Deli Serdang. Lokasi wisata lain yang juga cukup favorit di Sumut adalah Pulau Nias yang memiliki keelokan alam dan budaya yang unik.

Photografer : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Wrriter

Tag. : Istana Maimun, Istana Kesultanan Deli, Melayu Deli, Medan, Kota Medan, Istana Maimun Medan

Friday, September 27, 2019

Candi Prambanan, Sejarah Proses Pemugaran yang Panjang


Salah satu candi terbesar di Indonesia adalah Candi Prambanan selain Candi Borobudur.  Komplek Candi Hindu Perambanan atau disebut  juga sebagai Candi Roro Jonggrang  di bangun pada tahun 850 Masehi  oleh Raja Balitung Maha Sambu dari Wangsa Sanjaya.  Nama asli Candi Prambanan adalah Candi  Siwagrha, berdasarkan Prasasti Siwagrha. Pembangunan Candi Prambanan ini setelah seabad pembangunan Candi Borobudur oleh Samaratungga, Raja Mataram Kuno.

Sejatinya belum dapat dipastikan kapan pembangunan Candi Prambanann dilakukan bisa jadi pembangunan yang dilakukan lebih tua dari 850 Masehi. Perkiraan ini berdasarkan adanya Prasasti Siwagrha yang  tersimpan di Musium Nasional di Jakarta. Di dalam Prasasti Siwagrha ada tulisan angka tahun 778 Saka atau  856 Masehi yang diklaim para sejarawan sebagai tahun penulisannya. Pembuatan prasasti tersebut atas perintah Rakai Pikatan, salah satu Raja Medang Mataram.

Candi Prambanan
Puncak Candi Siwa di Komplek Candi Prambanan
Rakai Pikatan dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku  yang menjadi raja ke-6 dari Kerajaan Medang periode Jawa Tengah. Raja ini bertahta dari tahun  840 masehi  sampai tahun 856 masehi. 
Demikian panjangnya masa pembangunan Candi Prambanan sehingga pembangunan itu diteruskan oleh anak Rakai Pikatan yang kemudian menjadi raja selanjutnya dari Medang Mataram, yaiut Balitung Maha Sambu yang menjadi raja ke-7 dari Kerajaan Medang dan sekaligus raja ke-2 dari Kerajaan gabungan Medang Mataram.

Candi Prambanan
Seorang turis sedang turun dari Candi Siwa di Komplek Candi Prambanan

Rakai Pikatan memperistri seorang Ratu dari kerajaan yang  Mataram Kuni yang bernama Pramodhawardhani yang saat itu sebagai putri Mahkota karena tidak mempunyai seudara lelaki kandung keturunan dari  Raja Mataram Kuno, Samaratungga dari dinasti Syailendra.  Wangsa Sailandra inilah yang membangun Candi Borobudur.

Posisi kompleks candi ini terletak di tengah-tengah antara  DI  Yogyakarta  dan Jawa Tengah, yaitu antara Kabupaten Sleman,  Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Provinsi  Jawa Tengah.  Letak Candi Prambanan berada di dua kecamatan dengan nama yang sama yaitu Kecamatan Prambanan  Provinsi Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan yang  masuk nomenklatur Jawa Tengah.

Candi Prambanan
Area spot photo  terbaik untuk mendapatkan gambar keseluruhan Candi Prambanan

Secara administrasi Komplek Prambanan berada di dua desa  yaitu;  Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman dan Desa Tiogo, Kecamatan Prambanan, Kabupten Klaten.  Komplek Candi Prambanan berjarak sekitar 17 Km dari Kota Yogyakarta yang berada di timur, dan  berjarak 120 km ke arah Kota Semarang yang berada di selatan.

Candi Prambanan
Gerbang Candi Siwa
Di salah satu komplek Candi Prambanan ada Candi yang paling besar yaitu Candi Siwa, kemudian ada candi yang berdiri disekitarnya yang lebih kecil dari Candi Siwa, yaitu  Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Wahana, Candi Apit, Candi Kelir dan Candi Patok. Masing-masing candi tentu ada riwayat etimologis dan filosopisnya. Semua candi yang ditengah dilingkari oleh Candi Perwara yang mengelilingi seluruh penjuru mata angin. Sayangnya sampai saat ini baru 2 buah saja yang selesai dipugar dari sejumlah 224 candi.

Bahan utama pembuatan Candi Prambanan adalah batu andesit untuk bagian luar, atas dan dinding. Batu andesit didapatkan dari gunung atau perbukitan. Batu andesit berwarna hitam dan sangat keras, kuat dan tahan terhadap perubahan iklim. Batu andesit juga digunakan di Candi Borobudur.

Sedangkan untuk fondasi dan struktur tulang utama menggunakan batu putih. Proses  penyatuan struktur candi dengan menggunakan kunci-kunci dari batu itu sendiri yang saling mengait. Proses penyatuan sama sekali tidak menggunakan sejenis semen atau tanah, semua ikan atas kekuatan interlock.

Candi Prambanan di Bangun dengan Teknologi Tinggi

Candi Prambanan
Candi Prambanan memiliki konstruksi yang detail dan sulit. Petunjuk penggunaan teknologi yang sudah tinggi.

Melihat dari konstruksi dan arsitekturnya candi yang terindah di Asia Tenggara itu demikian rumit dan canggih.  Jelas pembangunan Candi Prambanan dilakukan oleh orang-orang yang sangat ahli pada masa itu. Kecil kemungkinan hanya dilakukan oleh rakyat biasa.

Candi Prambanan
Relief pada dinding-dinding candi yang rumit seakan dicetak dengan teknologi 3D

Dilihat dari presisi bentuk-bentuk bangunan yang tepat, hitungan matematis arsitektur, relief yang detail dan berdasarkan kisah-kisah sejarah, dan banyaknya jumlah candi-candi yang mengitari candi utamanya, yaitu Candi Siwa. Bisa diperkirakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pengembangan konstruksi candi saat itu sudah memiliki teknologi yang mumpuni. Ini bukti bahwa budaya kita pada masa lalu sudah sangat tinggi.

Hal yang belum dapat dijelaskan juga mengenai bagaimana para pembuat candi menyusun batu-batu itu sehingga terkait dan interlock antar satu dan lainnya, seperti menyusun sebuah puzzle yang sulit. Ini bahkan lebih sulit dari puzzle karena melibatkan jumlah batu yang sangat banyak. Satu lagi pertanyaan kita mengenai bagaimana memindahkan batu-batu berat pada posisi-posisi tinggi dipuncak-puncak candi.

Sebagai gambaran  arca Agastya atau yang disebut juga Syiwa Mahaguru adalah batu tunggal yang tingginya 5 meter. Bagaimana menempatkan batu besar ini pada puncaknya pada masa lalu?  Sedangkan pada masa pemugaran saja harus menggunakan alat berat sejenis eskapator untuk mengangkatnya. Ini tentu dilakukan bukan oleh rakyat biasa tetapi para ahli bangunan yang sudah canggih pada masa itu.


Candi Prambanan Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Candi Prambanan masuk sebagai  Situs Warisan Dunia UNESCO dan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.  Arsitektur bangunan candi Prambanan yang luar biasa sulit dan artistic menunjukkan kemajuan ilmu arsitek pada masa itu.  Candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter  yang menjadi sentral dari candi-candi lainnya yang berada di sekitarnya.  Candi termegah di Asia Tenggara menjadi  daya tarik wisatawan  dari manca Negara.

Candi Prambanan
Gerbang keluar komplek Prambanan dphoto dari taman hijau

Penemuan Awal Candi Prambanan

Penemuan dan mulai dipugarnya memang tidak terlepas dari peran bangsa Belanda  dan Inggris yang pada waktu masa itu menjadi penguasa di Nusantara. Awal  penemuannya pada tahun 1733  oleh CA. Lons seorang pegawai VOC Belanda saat menjalankan tugas dari Gubernur Coyet untuk menjadi asisten dalam perjalanan dari Semarang ke Kartasura untuk melakukan pertemuan di Keraton Mataram.

Kondisi awal penemuan candi masih sulit untuk melihat secara jelas karena banyak tertutup oleh tanah, abu gunung, pasir dan semak-semak belukar yang sangat lebat.  Tetapi posisi batuan-batuan yang terlihat berbentuk dan sistematis menunjukkan bahwa itu adalah sebuah bangunan candi.

Penemuan ini sangat menarik perhatian dunai dan jadi perhatian banyak pihak setelah Inggris Raya menguasai beberapa wilayah Jawa yang dipercayakan oleh Ratu Inggris ke Thomas Stamford Raffles  sebagai  Gubernur Jenderal Inggris untuk Pulau Jawa pada tahun 1811.

Informasi mengenai  penemuan runtuhan candi Prambanan  membuat  Thomas Stamford Raffles  penasaran dan ingin mendapatkan informasi mengenai keberadaan penemuan candi-candi yang sangat bersejarah itu.  Raffles  mengirimkan surveyor yang bernama Colin Mackenzie untuk melihat komplek penemuan candi secara langsung. Serta Raffles juga meminta untuk segera melakukan berbagai tahapan penelitian dan eskavasi.

Banyak Batu-Batu Candi Prambanan yang Hilang

Sayangnya masa Inggris tidak lama dan kembali ke Hindia Belanda, sehingga berpuluh-puluh tahun belum ada  penyelidikan dan eskapasi, tepatnya bahkan sampai tahun 1864. Apalagi sampai pada tahap restorasi candi. Pada masa penjajahan Belanda ini juga terjadi praktek penjarahan batu candi, ukiran. relief dan araca-arca.

Batu-batu asli runtuhan candi itu juga diletakkan sembarangan bahkan yang paling parah pada masa  Isaäc Groneman yang meletakkan batu-batu itu secara sembarangan di Kali Opak yang berada di wilayah selatan dari reruntuhan candi.

Pada masa  ini banyak sekali arca-arca yang hilang diambil oleh bangsa Belanda untuk dibawa ke Nederland atau hanya sekedar hiasan untuk dipajang ditaman. Warga-warga sekitar juga ada yang menjadikan batu candi ini sebagai fondasi rumah atau keperluan lainnya.

Permulaan Ekskavasi dan Pemugaran Candi  Prambanan

Saat kondisi runtuhan batu candi semakin memprihatinkan N.W. Hoepermans melaporkan beberapa kejadian terkait hilang dan semakin berkurangnya batu-batu di komplek candi Prambanan. Bahkan ada temuan penggunaan batu-batu itu untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan ekskavasi. Laporan ini disambut oleh Gubernur Jendral di Batavia untuk membentuk nomenklatur jawatan arkeologi.

Akhirnya pada tahun 1918 jawatan yangt bernama Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) dibentuk yang operasionalnya di percayakan kepada  P.J. Perquin. Barulah pemugaran dalam usaha untuk mengembalikan ujudnya kembali seperti semula baru mulai dilakukan, tetapi belum menggunakan metode yang sistematis pada umumnya pemugaran dilakukan.

Candi Prambanan
Runtuhan candi Prambanan yang belum sempat di pugar

Pemugaran yang serius dan sistematis dimulai pada tahun 1926 oleh De Haan. Sayang tahun 1930 De Han meninggal sehingga pemugaran sempat terhenti sejenak yang kemudian dilanjutkan oleh Ir. V.R. van Romondt   pada tahun 1931 sampai dengan 1942.

Candi Prambanan
Pemugaran sebagian Komplek Candi Prambanan masih belum selesai

Setelah Jepang masuk dan berkuasa di Tanah Air, kondisi pemugaran berubah total. Untungnya Nippon masih mendukung pemugaran tersebut yang dilakukan oleh kalangan putra Indonesia sendiri. Sampai akhirnya pada tahun 1945 Jepang keluar.

Pemerintah Hindia Belanda melalui Dinas Kebudayaan Hindia-Belanda meneruskan proses pemugaran sampai tahun 1949.  Pada tahun 1950 proses  pemugaran kembali dilakukan oleh bangsa kita sendiri yang dilakukan secara bertahap sampai sekarang ini.  Saat ini Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta melakukan pemugaran Candi Perwara di kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta.

Kemampaun para ahli arkeolog Indonesia dalam proses pemugaran candi sudah diakui dunia, sebagai buktinya dalam proses pemugaran Angkor Wat di Kamboja dipercaya untuk ikut dalam  proses pemugaran tersebut. Teknik pemugaran manual yang biasa digunakan oleh ahli di Indonesia juga dianggap cukup aman dan tidak merusak situs bersejarah.

Candi Prambanan
Wisatawan Candi Prambanan tidak tergangu dengan proses pemugaran yang terus berjalan


Perluasan Area Cagar Sejarah Candi Prambanan

Pada masa Presiden Soeharto keluar kebijakan untuk memperluas area cagar sejarah agar kondisi situs dapat lebih terjaga dan menjadikan komplek Prambanan sebagai destinasi wisata yang menarik dan rapi. Pelaksanaan perluasan dimulai tahun 1990 dengan memindahkan pemukiman, pasar dan kawasan persawahan ke tempat lain.  Sehingga luas komplek Candi Prambanan menjadi  39,8 ha. 

Untuk menjadikan area Komplek Candi Prabanan lebih menarik dan enak untuk menjadi kawasan wisata maka dibuat jug a taman-taman hijau.  Sekaligus untuk memberikan kesempatan berusaha kepada penduduk sekitarnya dengan menjual souvenir Pemerintah juga membangun  pusat penjualan l souvenir dan lain-lain di dalam Komplek Prambanan dengan penataan yang terpisah dari lokasi cagar.

Spot Wisata Dalam Komplek Prambanan

Salah satu fasilitas yang menarik untuk keliling komplek candi yang luas kita bisa menggunakan mobil yang sudah dimodifikasi seperti kereta wisata.  Dengan kereta wisata ini kita dapat melihat area dan candi-candi yang letaknya sangat jauh dari gerbang masuk dan juga dari area utama candi. Harga tiket untuk naiknya hanya Rp. 10.000,-.

Untuk berkeliling kita juga bisa menggunakan sepeda yang sudah tersedia sepeda sewaan di dalam komplek dengan biaya sewa Rp. 20.000,-.  Kalau kita ingin mengambil spot photo untuk melihat candi-candi lain maka paling cocok menggunakan sepeda ini karena lebih praktis dan fleksibel, berbeda dengan menggunakan kereta wisata yang hanya memambil photo dari dalam kendaraan saja.

Bagi yang suka mendalami sejarah dan ingin tahu lebih jauh mengenai sejarah Candi Prambanan, didalam komplek ini juga ada Musium Candi Prambanan. Di dalamnya banyak koleksi-koleksi peninggalan Candi Prambanan dan juga  Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. 

Kalau anda ingin mendapatkan wisata budaya berupa tari dan teatrikal maka nonton Sendratari Ramayana didalam komplek ini sangat menarik.  Pementasan dimulai pada pukul 20.00 – 22.00 WIB yang digelar pada panggung terbuka Trimurti.

Photografer : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Referensi :
- kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tag: Candi Prambanan, Sejarah Candi, Prambanan, wisata prambanan, pemugaran Candi Prambanan, pemugaran candi

Saturday, December 8, 2012

Pura Tirta Empul Dekat Istana Tampak Siring di Kabupaten Gianyar, Bali

 
Selain keindahan alam Bali yang mempesona, budaya dan adat istiadat juga memberikan ruang sendiri bagi pariwisata Bali. Salah satu objek wisata yang paling terkenal ada di Gianyar, yaitu Pura Tirta Empul yang berdekatan dengan istana Presiden, yaitu Istana Tampak Siring yang dulu sering di singgahi oleh Presiden Pertama Ir. Soekarno.

Pura Tirta Empul di Gianyar
Teman Pemandian Pura Tirta Empul di Gianyar Bali

Pura Tirta Empul ini salah satu unggulan dari wisata Gianyar. Letak Pura Tirta Empul berada di Desa Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali. Kondisi alam di sini masih hijau dan udara yang segar. Pada umumnya masyarakat disini mencari nafkah dengan cercocok tanam.

Pura ini memang menjadi tempat ritual masyarakat Hindu Bali. Mereka memiliki tgradisi melukat atau pensucian diri dengan air (tirta) yang memancur di kolom di Pura Tirta Empul ini. Air ini berasal dari mata air yang cukup banyak dan sudah lama mengalir.

Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali
Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali

Lokasi Pura Tirta Empul terbagi dalam tiga bagian yang merupakan Jabe Pura (halaman muka), Jabe Tengah (halaman tengah), dan Jeroan (bagian dalam). Pada Jabe Tengah terdapat dua buah kolam persegi empat panjang, dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari timur ke barat menghadap ke selatan. 

Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali
Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali

Keberadaan air ini diiringi dengan cerita rakyat Bali, yang dalam kisah ada seorang raja yang sangat jahat bernama  Mayadenawa Raja Batu Anyar (Bedahulu). Kesaktian Mayadenawa sangat tersohor, tetapi kejahatan, kesombongan dan keangkuhan Mayadenawa ini terdengar sampai ke telinga Bhatara Indra.

Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali

Suatu waktu Batara Indra mengutus pasukan untuk menghukum Mayadenawa, tetapi pasukan itu diracun oleh Mayadewana. Untuk menolong para prajurit Batara Indra, kemudian mereka dimandikan dengan melukat di Pura Tirta Empul ini. Sedangkan istilah Tampak Siring berasal dari Mayadenawa yang didiam-diam berlari di Tampak Siring dengan terlihat memiringkan telapak kaki. Istilah ini telapak miring berubah menjadi Tampak Siring.

Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali
Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali

Tirta Empul berarti air suci yang menyembul keluar dari tanah. Air tersebut kemudian mengalir ke sungai Pakerisan. Sumber air ini kerap digunakan untuk Upacara Melukat oleh ribuan penduduk Bali dengan makna sebagai perlambang pembersihan.

Air yang mengalir dari banyak pancoran ini sangat jernih dan segar. Kesegaran air ini membuat banyak wisatawan ikut mandi di taman petirtaan itu. Mereka diwajibkan menggunakan kain bagi yang pria dan dilarang menggunakan celana pendek bagi yang wanita. Hal ini dimaksudkan untuk menghargai dan sopan santun di lokasi cagar budaya.

Pedagang di Pura Tirta Empul Gianyar, Bali
Pedagang di Pura Tirta Empul Gianyar, Bali

Dibagian luar dari Pura Tirta Empul terdapat para pedagang yang menjual oleh-oleh untuk dibawa pulang kerumah dengan harga yang murah. Salah satu yang khas adalah jeruk Bali. Jeruk Bali ini tidak saja dijual sebagai buah tetapi juga sudah diolah menjadi berbagai macam makanan ringan yang berasal dari jeruk bali.

Photografer : Adli Irvanysah dan Yudie
TheIndonesiaAdventure Team Writter

Lokasi Pura Tirta Empul di Gianyar Bali oleh Google Maps:


View Larger Map

Thursday, December 6, 2012

Melihat Sejarah Bali dari Goa Gajah

 
Goa Gajah merupakan salah satu situs kepurbakalaan yang dilindungi yang berada di wilayah Banjar/Dusun Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Goa Gajah ini berjarak 6 Km dari Ubud.

Untuk memasuki Goa Gajah pengunjung akan melalui selatan goa. Pertama kali akan dilewati kolam petirtaan yang memancur 6 buah arca pancuran.

Bagian komplek yang lebih dikenal sebagai Goa Gajah terletak di sebelah utara petirtaan. Disini pengunjung dapat melihat pahatan dalam bagian tebing yang menjorok keluar goa. Kedalaman goa ini sepanjang 9 meter.

Sebanarnya goa ini berada dibawah jalan antara Desa Tegas dan Desa Bedulu yang membentang dari barat ke timur.

Goa Gajah diperkirakan dibangun pada abad ke-10 Masehi. Fungsi Goa Gajah pada awalnya untuk tempat bertapa bagi para pendeta-pendeta Hindu Bali pada masa lalu. Pada waktu-waktu tertentu tempat ini juga menjadi lokasi acara-acara keagamaan.

Ada sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya, tentang Goa Gajah ini karena tempat peribadatan Hindu ini juga ada patung Buddha. Terdapat sinkretisasi antara Hindu dan Budda pada masa lalu. Antara keturunan kerajaan Pajajaran Hindu dengan Kerajaan Majapahit Buddha. Kedua agama ini mempengaruhi budaya dan tradisi Bali. Sejarah purba tentang Bali sangat tergambar di Goa Gajah, kita bisa melihat bagaimana orang-orang Bali pada masa lalu melakukan ritual keagamaan yang kemudian diteruskan sampai generasi sekarang ini.

Dari Goa Gajah juga kita bisa melihat kedekatan hubungan sejarah dan darah antara masyarakat Bali dan sejarah Kerajaan Majapahit pada masa lalu. Masyarakat Hindu di Bali melestarikan pura bersejarah Goa Gajah memiliki falsafah Tri Kaya Parisudha. Ini berarti falsafah tersebut adalah menjaga pikiran, ucapan dan tindakan agar tetap bersih.

Kita bisa melihat bagaimana seni pahatan Bali yang dibangun pada masa purba. Ternyata Bali tidak hanya mempesona dari keindahan alamnya tetapi juga dari seni dan sejarah. Salah satu pahatan yang menarik adalah arca di kolom petirtaan. Ada 6 buah arca yang masing-masing membawa kendi yang diletakkan di bawah dada arca. Masing-masing kendi tersebut mengeluarkan air yang sampai sekarang ini masih memancar dengan lancar.

Hal yang manarik lainnya adalah mengenai arca yang paling sering mendapat perhatian wisatawan adalah arca Ganesha. Ganesha adalah lambang Dewa Kebijaksanaan dalam mitologi Hindu. Lambang Ganesha ini menjadi sombol salah satu perguruan tinggi terkenal di Indonesia, ITB.

Air pada kolom yang disebut sebagai tirta tersebut tergenang disebuah kolom yang luas. Kita bisa menyaksikan ikan-ikan hias pada kolom petirtaan ini. Ikan ini sangat dijaga dan bagi masyarakat setempat memiliki arti tersendiri tentang keberadaan ikan-ikan tersebut.

Photografer : Adli Irvansyah

Lokasi Goa Gajah di Ubud oleh Google Maps:


View Larger Map

Thursday, March 22, 2012

Candi Prambanan di Sleman Yogyakarta, Warisan Budaya Dunia

 
Kalau kita bosan dengan wisata alam dan ingin mendapatkan inspirasi dari budaya dan sejarah kita. Ayo kita wisata ke Candi Prambanan yang ada di antara Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Kita bisa menyaksikan sejarah masa lalu bangsa Indonesia dengan hasil karyanya yang masih dapat kita lihat sampai saat ini.

Candi Prambanan bisa menjadi bukti mahakarya kebudayaan bangsa kita pada masa abad ke-10. Arsitektur bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi. Candi ini terletak di Kabupaten Sleman, Jawa Tengah, dekat dengan DI Yogyakarta. Untuk mencapai kesana dari Yogyakarta hanya diperlukan waktu 20 menit saja.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Candi ini mempunyai nama lain yaitu Candi Rara Jonggrang. Kompleks Prambanan merupakan bagian dari candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa sansekerta yang bermakna: 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Candi ini terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia


Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia. Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling bersaing; yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu dan wangsa Sailendra penganut Buddha.

Pastinya, dengan dibangunnya candi ini menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendra cenderung lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia


Tahap awal pembangunan dimulai pada tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan dewa Siwa, dan nama asli bangunan ini dalam bahasa sansekerta adalah Siwagrha (sansekerta:Shiva-grha yang berarti: 'Rumah Siwa') atau Siwalaya (Sansekerta:Shiva-laya yang berarti: 'Ranah Siwa' atau 'Alam Siwa').

Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha tengah berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai di dekat candi ini.

Sungai yang dimaksud adalah sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat kompleks candi Prambanan. Sejarawan menduga bahwa aslinya aliran sungai ini berbelok melengkung ke arah timur, dan dianggap terlalu dekat dengan candi sehingga erosi sungai dapat membahayakan konstruksi candi.

Proyek tata air ini dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru yang memotong lengkung sungai dengan poros utara-selatan sepanjang dinding barat di luar kompleks candi. Bekas aliran sungai asli kemudian ditimbun untuk memberikan lahan yang lebih luas bagi pembangunan deretan candi perwara (candi pengawal atau candi pendamping).

Candi Prambanan
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Beberapa arkeolog berpendapat bahwa arca Siwa di garbhagriha (ruang utama) dalam candi Siwa sebagai candi utama merupakan arca perwujudan raja Balitung, sebagai arca pedharmaan anumerta beliau. Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari "Para Brahman", yang mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana.

Kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, seperti raja Daksa dan Tulodong, dan diperluas dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Karena kemegahan candi ini, candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram, tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Pada masa puncak kejayaannya, sejarawan menduga bahwa ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan upacara Hindu. Sementara pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram diduga terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.


Di dalam komplek Candi Prambanan ini dimulai dari pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:

3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68

Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan.[12] Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan. Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.

Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yan terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya. Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui; kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana dan murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan yang berdiri di halaman terluar ini terbuat dari bahan kayu, sehingga sudah lapuk dan musnah tak tersisa.

Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Tiga candi utama disebut Trimurti dan dipersembahkan kepadantiga dewa utama Trimurti: Siwa sang Penghancur, Wisnu sang Pemelihara dan Brahma sang Pencipta. Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter.

Dibalik kemegah seni bangunan Prabanan terdapat legenda yang melatarbelakanginya. Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam.


Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Tiket masuk ke komplek Prabanan ini dibedakan antara wisatawan lokal dengan mancanegara. Untuk wisatawan lokal tiket masuk sebesar Rp. 30.000,- untuk dewasa, dan Rp. 12.500,- untuk anak-anak. Sedangkan untuk mancanegara dikenakan tiket masuk US$10. Objek wisata ini dibuka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB.

Photografer : Azzahra R.

Saturday, March 3, 2012

Candi Gedong Songo di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah



Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi.

Candi Gedong Songo, yang berarti sembilan candi dengan lokasi yang paling tinggi adalah candi dengan angka paling besar.

Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).

Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C).

Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi yang terletak di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1200 – 1800 meter diatas permukaan laut ini memang sangat unik. Pada awalnya disebut Gedong Pitoe karena pertama kali ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh bangunan candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi walaupun dalam keadaan tidak utuh. Candi-candi yang terbuat dari batu andesit tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala, yaitu candi I & II dipugar tahun 1928 – 1929, sedangkan candi III, IV, V dipugar tahun 1977 – 1983.

Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.



Gunung Ungaran adalah gunung berapi dengan ketinggian 2.050 meter, gunung ini adalah gunung tinggi pertama yang dilihat pengendara dari Semarang ke arah selatan, di sisi kanan (barat). Menurut catatan-catatan sejarah, nama-nama lain gunung ini adalah Karundungan.



Untuk menempuhnya, diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam (rata-rata mencapai 40 derajat). Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Untuk menempun Candi Gedong Songo ini jarak yang ditempuh sekitar 25 km dari kota Ambarawa.




Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi yang terletak di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1200 – 1800 meter diatas permukaan laut ini memang sangat unik. Pada awalnya disebut Gedong Pitoe karena pertama kali ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh bangunan candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi walaupun dalam keadaan tidak utuh. Candi-candi yang terbuat dari batu andesit tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala, yaitu candi I & II dipugar tahun 1928 – 1929, sedangkan candi III, IV, V dipugar tahun 1977 – 1983.






Lokasi Candi Gedong Songo di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Friday, November 25, 2011

Bidik Photo dari Atas Menara Suar Pulau Kengkuas

 
Sayang kalau tidak memfoto fanorama sekitar menara Suar di Pulau Lengkuas, Belitong. Walaupun harus naik ke lantai 18 tetapi tetap diusahakan, setelah di atas luar biasa pemandangannya.

Tidak sia-sia menapaki 199 anak tangga yang melingkar untuk mencapai puncak sebuah menara setinggi 56 meter.

Mercusuar yang dibangun pada tahun 1882 oleh Belanda ini berguna untuk memandu navigasi kapal yang berada di selat Gaspar, perairan antara pulau Bangka dan Belitung ini cukup tinggi.

Menara ini dijaga oleh petugas menara suar Pulau Lengkuas, Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung. Keberadaan para petugas jaga berada di bawah naungan Distrik Navigasi Kelas 1 Tanjung Priok, Kementerian Perhubungan RI.

Menara Suar di Pantai Lengkuas, Pulau Laskar Pelangi, Belitong

 
Menara Suar di Pulau Lengkuas ini di bangun masa Belanda. Struktur menara ini sangat kokoh terbuat dari besar walaupun sudah tua. Ada 18 lantai di dalam mercu suar & semuanya dihubungkan dengan tangga besi yang melingkar. Tidak hanya tangganya yang terbuat dari besi, lantai tiap lantai pun terbuat dari besi.

Dari Pulau Kepayang menara Mercusuar ini sudah dapat dilihat. Keindahan alam di sekitar menara ini sangat menarik, jadi wajar kalau banyak wisatawan yang datang kesana. Pada umumnya mereka datang dari Singapura dan Malaysia. Entah mengapa mungkin disini terkenal dengan budaya melayunya.

Pulau Lengkuas tempat menara ini mungkin salah satu pulau yang cukup besar di seputaran Belitung.

Monday, November 21, 2011

Cagar Alam di Kawasan Pangandaran, Jawa Barat

Di Kawasan Pangandaran, tidak saja merupakan kawasan pantai, tapi juga terdapat kawasan cagar alam seluas 530 Hektar yang didalamnya terdapat Goa-Goa Alam yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Goa-goa ini adalah bagian dari kehidupan pada masa pra sejarah. Kawasan ini terletak di koordinat  7°42,366'S 108°39,332'E yang merupakan Kawasan Konservasi Pangandaran.

Batu-batu stelaktit di dalam gua Pangandaran, Jawa Barat.

Terdapat pula Goa Jepang sebagai tempat persembunyian tentara Nippon tatkala mendapat serangan tentara Sekutu pada saat Perang Dunia II.

Destinasi ini merupakan Taman Nasional yang dilindungi oleh Pemerintah. Banyak sekali flora dan fauna yang bergerak bebas disini. Seperti monyet-monyet yang terlihat selama  perjalanan di wilayah cagar alam ini. Selain itu ada lutung, kijang, kelelawar, landak dan masih banyak lagi. Tetapi sebenarnya berbagai binatang ini pada umumnya bukan habitat asli, tetapi kiriman dan dipelihara oleh Petugas Cagar. Pengunjung tidak diperkenankan untuk mengganggu apalagi mengambil atau memburunya.

Lokasi ini juga adalah areal bagi banyak penelitian, baik itu penelitian sejarah pra sejarah diwilayah ini, dan juga mengenai kekayaan biologis dari flora dan fauna yang ada di kawasan ini.  Beberapa yang menjadi objek penelitian sejarah seperti goa-goa alam dan buatan Jepang yang ada disini dan juga sebuah situs Batu Kalde yang merupakan warisan masa pra sejarah pada masa megalith.

Kondisi menuju gua masih sangat hijau dengan pepohonan yang rapat. Iklim di sekitar sini juga sejuk dan udara masih sangat segar. Bagi yang ingin melepas kepenatan ibu kota rasanya cocok untuk datang ke tempat wiata seperti ini, sambil memperbanyak koleksi photo-photo wisata.

Goa Alam yang terbentuk itu didalamnya terdapat bebatuan stalagtit (endapan berbentuk batuan keras) dan batu-batuan granit yang menggantung di langit-langit goa. Bantuan granit itu bila disorot dengan lampu senter, akan mengeluarkan cahaya yang indah.

Bebatuan stalatit yang usianya sudah ribuan tahun didalam gua Pangandaran, Jawa Barat.

Terdapat empat buah goa, yaitu meliputi : Goa Lanang, Goa Rengganis, Goa Sumur Mudal, dan Goa Miring.

Disbut Goa Lanang karena didalamnya terdapat bantuan endapan yang berbentuk seperti kemaluan laki-laki. Disebut goa Rengganis, karena disana terdapat sumber mata air jernih dan tawar yang konon dahulunya menjadi tempat Dewi Rengganis mandi ketika abad kerajaan Sunda yang berpusat di Ciawi Ciamis.

Disebut Goa Miring, karena kalau masuk kedalamnya harus memiringkan badan sejauh 30 meter dan bila tidak, maka tidak akan bisa masuk. Kemudian, disebut Goa Sumur Mudal, karena didalamnya terdapat sumber air yang terus-menerus menetes dan ketika ditampung dengan enber atau tempat lainnya akan “mudal”, airnya tumpah karena penuh.

Tag. :  alam, cagar alam, wisata pangandaran, gua pangandaran, pantai pangandaran, destination jabar, jabar, Jawa Barat, pangandaran, pantai, situs, Wisata Jabar, wisata pantai, Wisata Jawa Barat

Sunday, November 20, 2011

Mesjid Agung Demak Dilengkapi Museum

Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, miliki museum yang menyimpan puluhan koleksi benda-benda bersejarah zaman Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak.

Museum Masjid Agung Demak yang berdiri di atas lahan seluas 16 meter persegi yang berada di kompleks Masjid Agung Demak, diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Rabu.

Gubernur Jateng Bibit Waluyo berharap, keberadaan museum tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai daerah untuk melihat secara dekat saka tatal Masjid Agung Demak, karena pada 1980-an mengalami pemugaran dan saka tatal yang asli disimpan.

"Sekarang, masyarakat bisa melihat saka tatal yang sebelumnya digunakan untuk menyangga atap bangunan masjid, sehingga memiliki nilai sejarah yang tinggi," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bupati Demak Tafta Zani karena atas prakarsanya museum tersebut bisa berdiri.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Agung Demak M Asyiq mengungkapkan, jumlah koleksi benda-benda bersejarah di museum tersebut mencapai 60-an koleksi.

Di antaranya, soko guru Masjid Agung Demak dari Sunan Bonang yang sudah rusak yang memiliki ketinggian sekitar 1.630 centimeter sedangkan kerusakannya sekitar 725 centimeter, kentongan wali abad XV, bedug wali abad XV, daun pintu serambi Masjid Demak 1804 masehi yang merupakan peninggalan zaman Majapahit, kap lampu peninggalan Paku Buwono ke-1 pada 1710 Masehi.

Pengunjung juga bisa melihat kayu tiang tatal yang dibuat oleh Sunan Kalijaga, gentong Putri Campa, pintu bledeg ciptaan Ki Ageng Selo, serta koleksi lain zaman Majapahit hingga Sunan Demak.

"Hanya saja, untuk sementara museum tersebut belum bisa dibuka untuk umum karena masih menunggu pembentukan pengelola museum," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, dalam waktu dekat akan ada kajian tentan penataan benda-benda bersejarah yang ada di museum dengan menghadirkan ahli arkeologi, budaya dan sejarah Islam.

Berdirinya museum yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp1,1 miliar, yakni Rp600 juta dari APBD Demak dan sisanya dari Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Masjid Agung Demak, diharapkan masyarakat bisa menggali nilai-nilai sejarah lewat benda-benda bersejarah yang ada di museum.

"Generasi muda saat ini, dimungkinkan masih banyak yang belum mendapatkan informasi lengkap soal sejarah Masjid Agung Demak maupun zaman kerajaan Majapahit," ujarnya. (Ant)

Translate