Advertisement

Saturday, October 24, 2020

Ingin Berwisata Air Terjun di Way Kanan? Silahkan ke Curup Gangsa

Kabupaten Way Kanan merupakan daerah di Lampung yang berada di paling utara dan bersebelahan dengan Kabupaten Oku Timur yang masuk ke Provinsi Sumatra Selatan.  Daerah yang banyak dijuluki sebagai daerah 1001 air terjun ini banyak menyimpan pesona yang belum banyak tersingkap.

 

Ada beberapa destinasi di Kabupaten Way Kanan yang sudah banyak dikenal luas oleh masyarakat Lampung, seperti  air terjun Curup Gangsa dan Curup Kereta yang berada di Kecamatan Kasui, juga Putri Malu yang ada di Banjit. Tiga destinasi ini sudah banyak dikenal luas dan photonya juga banyak di media sosial, seperti di Instagram.

Curup Gangsa di Kabupaten Way Kanan di lihat dari atas.

Sebenarnya Kabupaten Way Kanan tidak hanya memiliki tiga destinasi itu saja tetapi banyak lagi destinaswi wisata air lainnnya, tetapi benar-benar masih alami dan belum banyak dikenal oleh masyarakat.  Selain air terjun Kabupaten ini juga memiliki potensi wisata air berupa sungai dan alam perbukitan yang indah. Kabupaten Way Kanan juga tidak jauh dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang melalui Lampung Barat yang bersebelahan dengan Kecamatan Banjit.


Dinding bebatuan Curup Gangsa terlihat kokoh dan terdiri dari bebatuan yang tua.

Keunikan lainnya selain alamnya yang indah Kabupaten Way Kanan  juga memiliki kampung-kampung tua yang unik dan memiliki sejarah yang panjang pada masa lalu. Kampung-kampung tua tersebut terdapat rumah-rumah adat Lampung dengan model panggung terbuat dari kayu-kayu yang kokoh dan kuat. Berbagai model rumah adat Lampung itu sangat instagramable. Salah satunya ada di Kampung Wisata Gedung Batin yang ada di Kecamatan Blambangan Umpu. Untuk kali ini kita fokus saja dulu ke destinasi Curup Gangsa yang sudah sangat terkenal di masyarakat Lampung.  

 

Banyak pengunjung yang mengabadikan moment dengan berphoto.
 

Kontur pegunungan dan berbukitan merupakan ciri khas di Kecamatan Kasui dan Kecamatan Banjit di Way Kanan, sehingga wajarlah banyak curahan air yang mengalir melalui perbukitan akan membentuk air terjun dan sungai yang indah.   

Asal  mula Air terjun Curup Gangsa berasal dari patahan sungai Way Tangkas  yang bersumber dari Bukit Punggur di Kecamatan Rebang Tangkas mengalir melalui beberapa desa di  Rebang Tangkas dan Kasui seperti Tanjung Kurung dan Lebak Peniangan.  Salah satu tebing yang tinggi tempat jatuhnya air mengalir berada di bawah kaki bukit  Desa Tanjung Raya. Curahan air terjun ini oleh masyarakat setempat di sebut Curup Gangsa. Curup itu berasal dari istilah lokal yang artinya air terjun.
 

Pemandangan Curup Gangsa dari air mengalir di sungai

Untuk menuju ke Desa Tanjung Raya ini kalau dari Bandar Lampung terlebih dahulu kita menuju Kecamatan Baradatu Way Kanan. Jarak tempuhnya memang lumayan jauh 160 km yang ditempuh selama kurang lebih 4 jam perjalanan  melalui tol, kalau tidak melalui tol masa tempuhnya bisa lebih lama.
 

Sesampai di Kecamatan Baradatu bisa istirahat sejenak karena pusat pasar dan keramaian ada disini, bisa membeli makanan atau sekedar berhenti sejenak sambil menikmati suasana di Kabupaten way Kanan. Dari sini perjalanan dilanjutkan lagi ke Kecamatan Kasui melalui jalan lintas tengah sampai ke Simpang Empat di Kecamatan Blambangan Umpu. 


Air sungai Gangsa yang segar dari pegunungan di Bukit Punggur.

Dari Simpang Empat ini belok kiri menuju arah Kecamatan Kasui. Ikuti jalur jalan ini sampai dengan Pasar Kasui dengan jarak tempuh sekitar 12 km. Dari Pasar Kasui ini perjalanan dilanjutkan terus ke arah barat, akan banyak ditemui petunjuk jalan untuk menuju Curup Gangsa berupa plang yang dipasang dijalan. Perjalanan kurang lebih 15 km untuk sampai ke destinasi yang kita tuju, sebelum kita disambut dengan gerbang yang kita lalui dengan tulisan “Selamat Datang ke Curup Gangsa” di Kampung Kota Way.

Banyak pemandangan indah yang akan kita lalui di Kecamatan Kasui.

 

Selama perjalanan kita akan banyak melihat perbukitan yang indah.

 

Kampung Kota Way berada sejauh 15 km dari Pasar Kasui yang merupakan pusat Kecamatan Kasui. Oh iya sebenarnya kalau kita mau ke Curup Kereta yang merupakan salah satu destinasi yang terkenal juga cukup hanya 2 km saja, tapi kali ini kita akan ke Curup Gangsa lanjut walau jaraknya lebih jauh.
 

Setelah sampai di Kampung Kota Way kita akan melalui gerbang diperjalanan dilanjutkan lagi sekitar 500 meter untuk menuju lokasi parker kendaraan. Mobil dan motor diparkir diatas, karena akses untuk menuju Curup Gangsa sangat terjal dan tinggi untuk dituruni.  
 

Di lokasi ini kita mulai merasakan hawa yang sejuk dan udara segar.  Selain itu kita juga akan menemukan loket untuk pembelian tiket masuk seharga Rp. 5000 per orang, sangat murah sekali ya?  Destinasi ini dikelola oleh Kampung dan warga sekitar.
 

Selanjutnya kita akan turun kebawah melalui tangga yang sudah disemen permanen sehingga mudah untuk dilalui. Suara gemuruh air terjun sudah terdengar dengan jelas dan kita juga sudah dapat melihat keindahan Curup Gangsa yang memukau dari tangga ini.  Tangga ini cukup panjang dan tinggi, sehingga bagi orang tua atau anak-anak sebaiknya diawasi takut jatuh atau kelelahan. 

 

Fasilitas jembatan untuk menyeberangi sungai Curup Gangsa

Sesampai dibawah kita akan melihat pesona Curup Gangsa dengan embun dari air terjun yang jatuh dari tempat ketinggian. Sesampai di lokasi ini kita bisa memilih tempat menaruh barang ada yang diatas dan juga dibagian bawah.  Di bagian bawah ada fasilitas pondok-pondok yang sudah disediakan untuk wisatawan. Ada juga pondokan yang untuk lesehan, apalagi kalau dari rumah sudah membawa alas sendiri. Untuk yang diatas hanya berupa pondokan dengan atap bulat dan tempat duduk dari kayu, tetapi pondokan ini sangat dekat dengan air terjun sehingga bisa menikmati pemandangan dengan lebih baik.   

 

Sungai dari aliran curup ini sangat deras dengan bebatuan hitam yang besar-besar. Hati-hati untuk berpindah-pindah disini karena ada batuan yang basah dan licin. Untuk duduk dan berjalan ke tempat lain pilih batuan yang kering saja. Di bebatuan ini saja sudah cukup asik untuk duduk atau selfie bersama teman atau keluarga.

 

Jembatan gantung Curup Gangsa yang terbuat dari bambu.

Di area sungai Gangsa ini juga ada fasilitas jembatan yang bisa kita gunakan untuk menyeberang sungai dan juga untuk berphoto. Jembatan ini berupa jembatan gantung dengan maksimal yang menyeberang secara bersamaan 3 orang saja, jadi harus bergantian dengan pengunjung lain.  

 

Suasana Curup Gangsa yang masih alami dengan pephonan yang hijau.

Kalau sudah berada di seberang sungai kita bisa mendekati lokasi jatuhnya air secara lebih dekat. Di sini pemandangan air terlihat lebih memukau, kelembaban air sangat tinggi dari embun-embun yang berasal dari air yang  jatuh. Kita bisa melihat riaknya air yang jatuh bersama dengan suara gemuruh air. Tempat yang sangat nyaman untuk mendapatkan inspirasi bagi seorang penyair. 

 

Airnya demikian jernih dan bersih. Sangat segar dan dingin kalau kita sentuh atau  atau kalau sudah menyiapkan pakaian ganti bisa berendam dan menikmati segarnya air gunung yang masih alami. Apalagi kalau kita berada langsung dibawah limpahan air yang jatuh dari atas dan langsung terkena badan kita, rasanya seperti di pijit-pijit dengan air nan segar. 

 

Selamat menikmati wisata! Jarak yang jauh kalau sudah sampai disini dijamin tidak akan menyesal. Apalagi kalau perjalanannya itupun sebagai sesuatu yang kita nikmati.  

 

The Indonesia Adventure Team Writter

Tag : Curup Gangsa, Wisata Air, air terjun gangsa, Way Kanan, kasui, wisata air terjun, Wisata Way Kanan

Friday, October 16, 2020

Wisata ke Ranu Kumbolo Di Lereng Gunung Semeru

 

Wisata ke alam yang masih alami semakin banyak diminati banyak orang.  Kalau ingin lebih dekat ke alam mungkin bisa dicoba liburan ke Ranu Kumbolo yang terkenal masih sangat alami dan terjaga.  Apalagi kalau untuk menunju danau itu penuh dengan  pendakian yang menantang. Yah itung-itung olah raga dan wisata dalam satu paket kegiatan.  Jangan khawatir karena dijamin selama perjalanan pendakian untuk menuju danau itu penuh dengan pemandangan yang indah. Jadi jangan lupa membawa kamera.  

Ranu Kumbolo yang dikelilingi oleh perbukitan yang hijau.


Ranu Kumbolo berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tepatnya di lereng Gunung Semeru. Sebenarnya Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau air tawar yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tepatnya diantara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Kalian mungkin masih ingat dengan film 50 cm yang pernah menjadi film yang digandrungi, bahkan setelah film ini tayang peminat pendakian ke Gunung Semeru membludak. Film 50 cm telah menularkan wabah mendaki ke puncak Gunung Semeru di Mahameru. Dari sekian orang yang terkena wabah virus pendakian itu justru jadi pencinta alam sejati, tetapi ada juga yang sekedar dadakan saja.

Para pendaki sedang mempersiapkan tenda untuk bermalam.

Yah mungkin tidak harus ke puncak Mahameru yang ada di Gunung Semeru.  Puncak Mahameru  adalah puncak tertinggi di pulau Jawa. Bagi para pendaki pendakian ke Gunung Semeru seakan destinasi wajib untuk di capai, tetapi untuk wisatawan yang hanya sekedar untuk menikmatii pemandangan danau, ke Ranu Kumbolo saja sudah cukup memuaskan. Dijamin puas apalagi dengan menginap semalam menggunakan tenda di sisi danau itu.

Ranu Kumbolo terlihat dari atas lereng pendakian.

Telaga ini menjadi tempat favorit yang menjadi tempat transit dan tempat berkumpulnya para pendaki menuju puncak Gunung Semeru, tepatnya setelah pos keempat.  Setelah lelah berjalan selama 4-5 jam melewati medan yang cukup melelahkan dan ketinggian yang lumayan kita akan sampai ke Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo ini bukan danau biasa jadi begitu melihat beningnya air disana jangan buru-buru membenamkan diri di danau.  Pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Sahabat Relawan Semeru tidak memperbolehkan pendaki untuk mandi di telaga tersebut.  Ingat keselamatan adalah nomor satu.

Luasnya mencapai 15 hektar. Danau Ranu Kumbolo juga menjadi sumber air bersih bagi para pendaki gunung Semeru. Danau ini berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Jadi sangat cocok untuk transit dan istirahat dengan mendirikan tenda.

Sambil istirahat, Anda bisa memasak untuk makan atau sekedar minum kopi hangat di iklim yang sangat sejuk. Sambil menikmati keindahan Danau Ranu Kumbolo. Selain itu di lokasi ini Anda bisa melihat kemegahan sunrise yang muncul dari balik bukit.

Saat malam tiba, hamparan langit dimalam bener-bener membuat surprise. Para pendaki akan melihat gugusan bintang dari galaksi Bima Sakti yang lebih terlihat jelas, apalagi pada saat cuaca cerah tanpa awan. Hal ini sulit kita saksikan pada saat kita ada di kota, karena lampu-lampu dari permukaan bumi mengalahkan sinar dari bintang-bintang di langit.

Untuk mencapai lokasi ini bisa menggunakan jalur udara menuju Malang melalui Bandara Abdurrahman Saleh. Anda juga bisa naik kereta ke stasiun kota baru. Setelah sampai di Malang, Anda bisa mencari angkutan umum dengan jurusan Desa Tumpang. Dari sini kita bisa menyewa mobil SUV untuk bisa sampai ke sana dan memulai pendakian, tentunya dengan guide yang sudah menjadi satu dengan penyewaan SUV.

Sebelum mencapai Ranu Kumbolo kita akan mencapai sebuah desa yang bernama Desa Ranu Pane. Di desa ini adalah desa terakhir yang ada penduduk pada ketinggian 2100 mdpl. Di sini terdapat Pos Perizinan dan Pengecekan bagi semua pengunjung yang akan ke Ranu Kumbolo atau  juga ke puncak Mahameru. Di sini kita akan mengurus surat izin sejenak agar pengunjung yang masuk ke wilayah pendakian dapat di data, untuk kewaspadaan kalau ada hal yang tidak diinginkan. Di pos ini juga terdapat petugas untuk pertolongan dan bantuan kalau ada sesuatu musibah yang tidak diharapkan.

Sebelum masuk ke Ranu Kumbolo saat pendakian 5 km (perkiraan masa tempuh 90 menit dengan berjalan normal) sebelum sampai ke Ranu Kumbolo akan ada panorama dinding batu yang indah setinggi 100 meter.

Untuk memasuki kawasan Ranu Kombolo dikenakan tiket sebesar  Rp. 17,500 rupiah per hari dan Rp. 22,500 rupiah per hari untuk hari libur,  sedangkan wisatawan asing biayanya sebesar  Rp. 207,500 rupiah per hari, jika hari libur seharga 307,500 rupiah per hari.

Pagi hari menjelang munculnya pajar di Ranu Kumbolo yang sangat berkabut.
 

Oh kalau ingin ke Ranu Kumbolo harus membawa baju jaket karena suhunya cukup dingin.  Perkiraan suhu udara dilokasi Ranu Kumbolo saat siang hari adalah 15 -21  derajat celcius, sedangkan pada malam  hari suhu udara berkisar 3-8 derajat celcius.  Pada saat agak ektrim bisa mencapai -5 derajat celcius.

Oh ya ada hal menarik lainnya di Ranu Kumbolo yaitu adanya sebuah prasasi masa lalu. Dalam prasasti itu tersebutlah sebuah nama "Mpu Kameswara Tirtayasa". Prasasti ini diperkirakan dari masa Kerajaan Kediri yang berkuasa pada 1117 M - 1130 M. Prasasti ini berisi bahwa air yang ada di Ranu Kumbolo adalah air suci.

Oke selamat berwisata!

The Indonesia Adventure Team Writter

 Tag. : Gunung Semeru, Semeru, Ranu Kumbolo, Danau, spesial, wisata alam, Mahameru, Jatim, Lumajang, Jawa Timur, Wisata Jawa Timur, mendaki, pendakian Semeru, gunung, Tengger

Wednesday, October 14, 2020

Dinosaur Skeletons at the Bandung Geological Museum

 

For those of you who like to see things that are historical in nature, usually like to come to museums. Looking at pictures, sketches, documents or whatever in the form of physical evidence of the past is very thrilling, because what will you imagine the past like? Entering a museum is as if entering a hallway of past time.

Close-up of the Dinasaurus Skeleton

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One of the museums that we recommend is the Bandung Geological Museum which is located on Jalan Diponegoro No. 57 near the Gasibu field and almost opposite Gedung Sate in Bandung.

So if you take a city tour to Gedung Sate, you might as well visit the Bandung Geological Museum, guaranteed to be very satisfied. Because the historical content it presents is truly extraordinary. You can find dinosaurs and their brothers there.

The Bandung Geological Museum is very old. It was founded on May 16, 1928. Yes, it is still the Dutch colonial era. The building has changed a lot since its establishment, because renovations have been done almost frequently. One of the renovations of the museum building was through a grant from JICA (Japan International Cooperation Agency).

The museum is an important means of recalling historical moments, therefore it is under the protection of the government and is a national heritage. In this museum, abundant geological materials are stored and managed, such as fossils, rocks, minerals. All of this was collected during fieldwork in Indonesia since 1850.

Dinasaurus Skeleton Bones

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 The history of the Bandung geological museum dates back to the Dutch colonial era, the Geology Museum is closely related to the history of geological research and mining in the archipelago which began in the mid-17th century by European experts.

After Europe experienced an industrial revolution in the mid-18th century, Europe really needed mining materials as an industrial base material.

What is unique about the Bandung Geological Museum? The most interesting thing here is that there is a fairly large dinosourus skeleton.

The dinasaurus skeleton is just a reflection but it is made in great detail and almost resembles the original. If the skeleton were filled with flesh and life how scary it would be.

This museum also displays various types of rocks, human history such as the discovery of ancient humans in Trinil who came from Central Java. Various petrified animals and plants are all very interesting, especially for those who are in the field of problems.

Ancient Elephant Skeleton Model

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Dutch government is aware of the importance of controlling minerals in the archipelago. Therefore this museum is considered very important to them. Here are many documents where the location of the mineral wealth of the archipelago.

Through mastery of the geology of the archipelago, they will get abundant resources to encourage industrial development in the Netherlands. So, in 1850, Dienst van het Mijnwezen was formed. This institution changed its name to Dienst van den Mijnbouw in 1922, which was tasked with conducting geological and mineral resource investigations.

Geological research in the archipelago which obtained important examples of rocks, minerals, fossils, reports and maps needed a place for analysis and storage, so in 1928 Dienst van den Mijnbouw built a building in Rembrandt Straat Bandung. The building was originally named Geologisch Laboratorium which was later also called Geologisch Museum.

Mammoth Skeleton Model

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

The Geologisch Laboratory building was designed in the Art Deco style by the architect Ir. Menalda van Schouwenburg, and was built for 11 months with 300 workers and spent 400 guilders. Construction began in mid-1928 and was inaugurated on May 16, 1929.

The inauguration coincided with the implementation of the Fourth Pacific Science Congress which was held in Bandung on 18-24 May 1929.

Main Building of Bandung Geological Museum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

After Indonesia's independence in 1945, the management of the Geology Museum was under the Center for Mining and Geology Service (PDTG / 1945-1950). At that time, the Indonesian Army, Division III Siliwangi, established a Mining Section, which was drawn from PDTG.

Now the management of the Center for Mining and Geology (PDTG) has changed its name to: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Djawatan Geology Center (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Directorate of Geology (1963-1978), Center for Geological Research and Development (1978 - 2005), Center for Geological Survey (since the end of 2005 until now).

There are also many foreign visitors

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

With this new arrangement, the Geology Museum display is divided into 3 rooms which include Life History, Indonesian Geology, and Geology and Human Life. As for the documentation collection, there is a more adequate collection storage facility. It is hoped that the management of sample collections at the Geology Museum will be more easily accessible to users, both researchers and industrial groups.

Since 2002 the Geology Museum, whose status is the Geology Museum Section, has been elevated to the UPT Geology Museum. To carry out its duties and functions properly, 2 sections and 1 Sub-section were formed, namely the Demonstration Section, the Documentation Section, and the Administration Sub-Section. In order to further optimize its role as an institution that promotes geology, the Geology Museum also holds activities including counseling, exhibitions, seminars and research survey activities for the development of collection demonstrations and documentation.

The first floor is divided into 3 main rooms: the orientation room in the middle, the West Wing Room and the East Wing Room. The Orientation Room contains a geographic map of Indonesia in the form of a wide-screen relief showing geological and museum activities in the form of animation, museum information service booths and education and research service booths.

Another room is the West Wing, known as the Indonesian Geological Room, which consists of several rooms that provide information about; hypothesis of the occurrence of the earth in the solar system; regional tectonic arrangements that shape Indonesia's geology; manifested in the form of a model of the active movement of the earth's crustal plates; the geological conditions of Sumatra, Java, Sulawesi, Maluku and Nusa Tenggara as well as Irian Jaya and fossil fossils and human history according to Darwinian evolution are also present here.

The end of the west wing room is a volcanic space, which shows the condition of several active volcanoes in Indonesia such as: Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi and Batu. In addition to the information panels, this room is equipped with a mock-up of the Bromo-Kelut-Semeru Volcano complex. Several examples of volcanic rock are arranged in a glass cabinet.

East Wing Space The room depicting the history of growth and development of living things, from primitive to modern, inhabiting planet Earth is known as the history of life space.

The picture panels that adorn the walls of the room begin with information about the state of the earth which was formed about 4.5 billion years ago, when even the most primitive living things have not been found.

Several billion years later, when the earth has begun to calm down, the environment supports the development of several species of single-celled plants, whose existence is recorded in the form of fossils of large vertebrates that lived in the Middle to Late Mesozoic Period (210-65 million years ago) in the form of a fossil replica of Tyrannosaurus Rex Osborn (a type of wild flesh-eating lizard) which reaches 19 m in length, 6.5 m in height and 8 tons in weight.

Early life on earth, which began about 3 billion years ago, then developed and evolved until now. The traces of the evolution of mammals that lived in the Tertiary (6.5-1.7 million years ago) and Quaternary (1.7 million years ago to present) in Indonesia are well recorded through fossils of mammals (elephant, rhino, buffalo, horse). nil) and hominids found in the soil layers in several places, especially in Java.

Collection of ancient human skull fossils found in Indonesia (Homo erectus P. VIII) and several other places in the world are collected in the form of replicas. Likewise with the artifacts used, which characterize the development of ancient cultures from time to time. The stratigraphic sections of the Quaternary sediments of the Sangiran (Solo, Central Java), Trinil and Mojokerto (East Java) areas which are very meaningful in revealing the history and evolution of early humans are displayed in the form of panels and models.

The history of the formation of the legendary Bandung Lake is displayed in a panel at the end of the room. Snake and fish fossils found in the soil layer of the former Bandung Lake and artifacts are exhibited in their original form. Artifacts collected from several places on the outskirts of Lake Bandung show that around 6000 years ago the lake was once inhabited by prehistoric humans. Complete information about fossils and remains of past life is placed in a separate room in the Life History Room. The information conveyed includes the formation process of fossils, including coal and petroleum, in addition to ancient environmental conditions.

The second floor is divided into 3 main rooms: west room, living room and east room. West room (used by museum staff). Meanwhile, the middle room and the east room on the second floor which are used for demonstrations are known as geological spaces for human life. The Middle Room contains the largest gold mining model in the world, which is located in the Tengan Irian Jaya Mountains. The Gransberg open pit mine which has reserves of around 1.186 billion tonnes; with a copper content of 1.02%, gold 1.19 grams / tonne and silver 3 grams / tonne.

The combination of several open pit mines and active underground mines in the vicinity provides 2.5 billion tonnes of ore reserves. The former Ertsberg Mine (Mount Ore) southeast of Grasberg which was closed in 1988 is a geological and mining site that can be exploited and developed into interesting geotourism objects. Several examples of rocks from Irian Jaya (Papua) are arranged and displayed in a glass cabinet around the model. A miniature oil and gas drilling tower is also displayed here.

This is so diverse and the amount of content on display in the Bandung Geological Museum, hopefully it will be maintained so that it can be used as a source of geological knowledge, especially for the very rich nature of the archipelago.

The Indonesia Adventure Team Writter

Tag. : Geology, Early Humans, Museum, Tringil Man, Bandung Tourism, Bandung Geological Museum, Bandung

History of Kites in the Nusantara Archipelago

 

Kites are a very popular game around the world. Basically, a kite is in the form of bamboo or a type of strong frame covered with a wide paper or cloth and can accommodate wind gusts so that it can fly and go up into the air with the control of a thread. Bamboo is an important component as a framework to hold the kite structure that interacts by wind currents and also the kite player's control.

Layang-layang yang umumnya di mainkan pada sore hari dengan angin yang lebih deras

Holidays or weekends are the most enjoyable times for children and even adults to play kites. Especially when the dry season with strong winds is the perfect time to play kites.

The development of this kite features a unique looking wing structure influenced by the famous sails from the archipelago that existed before the Christian era. These model kite structures apparently migrated to Malaysia and formed the basis of their exquisite wau kites, starting with the wau peacock from the province of Johor.

This tradition continues to this day because the craft of kite making is also an arena for art and creativity that reflects the depth of art and craftsmanship that characterize this unique country.

Seorang anak bermain layangan yang menggunakan buntut sebagai stabilisator


If you explore the history of kites in the archipelago, namely from a painting in a mesolithic cave in the form of a kaghati kite image. The age of the paintings on rock caves in Southeast Sulawesi has existed since 9500-9000 years BC.

The discovery of the image in Goa Kobari occurred in 1996, by a man named La Hada who is currently the caretaker of the Kobori Cave Complex. The discovery of these paintings amounted to 18 paintings on the cave walls made of rock. The position of the painting is in the Sugi Patani niche, which is 700 meters from the Kobori Complex and 250 meters above sea level. Kobari Cave administratively is located in Liangkobari Village, Lohia District, Muna Regency, Southeast Sulawesi.

Several models of kites played in Indonesia.


The painting on the flapon wall of the cave niche is reddish brown in the form of a human figure playing with a kite. The shape of the human and the kite is very clear, but the facial image of the kite player is not very clear and mysterious. From the scratches of the painting, it is estimated that the results of the finger quenching.

The discovery of a kite painting in the cave was also published in the research and analysis of a German named Wolfgong Bick. He is the Consultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography related to the oldest type of kite in the world in 1997. In his writing, Wolfgong explains that people on Muna Island, Southeast Sulawesi already have a culture to fly a kite called Kaghati Kolope. since thousands of years ago.

The findings were then published in an article entitled "The First Kiteman" which was published in a magazine in Germany in 2003.

Perhaps these ancient drawings depict kites used in their earliest earliest activities, such as fishing and religious spirituality. The Muna people also use kaghati kites when welcoming the main harvest to celebrate their gratitude for the blessings given by the Creator.

Gaung echo kites that can emit sound that comes from ribbons placed crosswise.

Apart from Muna in South Sulawesi, kite games have also become a tradition in Mandar, West Sulawesi. The name of the kite here is called the lake kite which is also commonly played after the harvest is over. Currently this game tradition has become a routine agenda in the form of the Lake Kite Festival which is usually held in August.

The Mandar tribe also includes strong maritime souls and is well known in the archipelago for their ability to build ships and sail to many countries. The culture of playing kites cannot be separated from the existing maritime capabilities. This lake-type kite from Mandar is flown while there is an east monsoon that blows from the continent of Australia which is cold to the continent of Asia which is hot and dry. The existence of this wind is also used to sail northward in the direction of the wind using a sailing ship.

In Sumatra, the history of the kite is closely related to the history of Malay in the archipelago. Writing about kite games in a Kite Festival recorded in Malay History (Sulalatus Salatin) in the 17th century. The participants in the event were royal officials.

In Sumatra, the kite game also developed in Malay culture parallel to the maritime culture that existed at the time when many trades took place in the Pasai Aceh region, the Malacca Strait, Riau Islands, Jambi, South Sumatra and Lampung. From this area also then spread to the Melaya Peninsula and Tumasik (Singapore) brought by traders from the Malacca Strait to various parts of the archipelago. From the Strait of Malacca, Portuguese and Spanish explorers took him to the Continent of Europe and America.

In West Sumatra, the kite game is done by young people who want to captivate a girl's heart, they make the most beautiful kites and can also make sounds using a rope of rapia that is spread between the two curved sides of the bamboo. The string will vibrate while in the air and produce a buzzing sound.

In Bali, playing kites is not only a game, but also very full of rituals and beliefs, for example, a kite is given offerings before being flown and the ritualized kite becomes a sacred object. The tradition of flying a kite in Bali is called the Rare Angon. Rare Angon is a puppet character and is the form of the son of Lord Shiva.

There are many kinds of kites in Bali that are made with various artistic creativities, we can see this at the Kite Festival in Bali. Some are in the form of ordinary, but also in the form of animals, mythical beasts, in three dimensions and shapes with beautiful colorful patterns made by mutual cooperation. This passion for togetherness causes the Kite Festival in Bali to be the most eagerly awaited time for Balinese citizens and tourists.

There are several types of kites in Bali, such as fish-shaped bebean kites, dragon-like kites with long tails, tail-less kites, namely dragon kites without tails and crescent-shaped kites whose edges point downward. . Kites usually use an echo sound because they are added with a stretch of a rope or thin bamboo blade that can vibrate and make a sound when exposed to the wind.


Sumber Referensi:

- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/kaghati/
- https://id.wikipedia.org/wiki/Layang-layang
- http://en.gocelebes.com/kaghati-worlds-first-kite/
- http://www.asahi-net.or.jp/~ET3M-TKKW/scrap-11.html



Tag : Kites, games, playing kites, kaghati, Muna South Sulawesi, Muna kites, South Sulawesi, South Sulawesi kites, history of kites


Monday, October 12, 2020

Ibu Kota Jakarta, Perjalanan Sejarah yang Panjang Menjadi Nama Jakarta

Ibu Kota Republik Indonesia, Jakarta yang usianya hampir setengah abad itu adalah pusat pemerintahan dan juga perekonomian yang paling sibuk. Semua orang Indonesia pasti tahu dengan Jakarta sebagai ibu kota, tetapi kalau ditanya mengapa nama Ibu Kota Indonesia di utara Pulau Jawa itu 'Jakarta', mungkin tidak semua orang Indonesia tahu asal usulnya.

Tugu Monas yang menjadi Ikon Kota Jakarta.

Sebenarnya bagaimana sejarah nama Jakarta sehingga begitu lekat di hati kita. Munculnya nama Jakarta setelah sebelumnya ada beberapa nama yang disematkan pada kota yang sangat sibuk tersebut. Wilayah ini sudah beberapa kali berganti nama dan perubahan nama itu sangat terkait dengan sejarah Jakarta yang cukup.panjang. 

Awalnya wilayah yang memiliki populasi yang padat ini mulai menjadi wilayah perdagangan yang ramai sejak abad ke-4 Masehi. Pada masa itu merupakan sebuah permukiman dan pelabuhan nelayan yang mandiri  bernama Kalapa. Nama Kalapa ini diperkirakan pada saat itu wilayah pantai tersebut banyak pohon nyiur atau kelapa. Orang Sunda menyebut pohon kelapa dengan istilah ‘kalapa’.

 

Salah satu pantai di utara Jakarta, terlihat aktifitas nelayan.

Di wilayah Kalapa ini selain sebagai tempat nelayan juga sudah mulai ada aktifitas perdagangan.  Lambat laun wilayah ini sudah mulai banyak pedagang dari berbagai daerah datang kesini menggunakan perahu.  Melihat perkembangan Pantai Kalapa yang strategis dan bisa menjadi ladang penghasilan yang potensial, akhirnya wilayah ini diambil alih oleh Kerajaan Tarumanegara yang berpusat di dekat Sungai Chandrabhaga (sekitar Bekasi saat ini) untuk dikembangkan menjadi pelabuhan yang lebih baik dan terorganisir.  

Akhirnya Pelabuhan Kelapa sudah mulai terkenal  banyak didatangi oleh para pedagang dan pelaut dari Selat Malaka, Pasai, Timur Tengah, Tumasik, India, Tanjung Harapan dan Madagaskar (Afrika), Jepang dan juga dari Tiongkok.

Di bawah administrasi Tarumanegara pelabuhan ini berhasil menjadi perhatian banyak pedagang dan pelaut dunia sehingga menjadi pelabuhan perdagangan internasional penting di utara Jawa terutama pada masa Pemerintahan Raja Purnawarman. Komoditas perdagangan terbesar kerajaan ini melalui pelabuhan ini adalah tanaman Tarum yang banyak tumbuh di Sungai Citarum untuk pewarna dan pengawet benang pakaian.

Pada masa Raja Tarumanegara yang bernama Sudawarman kerajaan Hindu tertua di Jawa ini melemah selain karena tekanan dari Kerajaan Sriwijaya yang memiliki kekuatan yang lebih  besar. Menurut  Ir. J.L. Moens dari Prasasti Kota Kapur ± 686 M di Pulau Bangka, runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada akhir abad tersebut disebabkan serangan dari Sriwijaya.

Faktor lainnya Kerajaan Tarumanegara kehilangan kepemimpinan dari  garis keturunan asli Tarumanegara. Raja ke-12 Linggawarman, tidak memiliki anak laki-laki sehingga seorang putri sulungnya yang bernama Manasih menikah dengan Raja Tarusbawa dari Kerajaan Sundapura yang pada saat itu Kerajaan Sundapura  adalah bagian dari kerajaan mandala Tarumanegara.

Setelah tahta Tarumanegara dipegang Sri Maharaja Tarusbawah, pusat kerajaan di pindahkan ke  sekitar tepi Sungai Cisadane, di tepi hilir Sungai Gomanti.  Bukan hanya itu Raja Tarusbawa  juga menolak untuk meneruskan Kerajaan Tarumanegara dan lebih menginginkan tetap sebagai Raja Sunda.  Ia lebih berhasrat untuk meneruskan kerajaan leluhurnya Sundapura.  

Pemerintahannya berpindah ke hilir Sungai Gomanti.  Di masa kekuasaan Raja Tarusbawah ini Pelabuhan Kalapa menjadi bagian dari Kerajaan Sunda (Sundapura) sehingga namanya  pada masa itu lebih sering disebut menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa.

Sisa dari kerajaan Tarumanegara yang tidak setuju dengan keputusan Raja Tarusbawah lebih mengikuti Kerajaan Kendan yang merupakan kerajaan dibawah Kerajaan Tarumanegara.  Kedepannya Kerajaan Kendan ini berubah menjadi Kerajaan Galuh di sebagian bekas kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Galuh dipimpin oleh Wretikandayun (yang mulai berkuasa dari tahun 612).

Akhirnya pada tahun 1482 kedua kerajaan  Sundapura dan Galuh yang pada masa Tarumanegara adalah kerajaan mandalanya  yang masih terikat persaudaraan itu menyatukan diri menjadi Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (Bogor)  dengan menunjuk raja baru yang bernama Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja yang tidak lain adalah Prabu Siliwangi.

Pada masa Kerajaan Pajajaran di era Sri Baduga Maharaja kerajaan berkembang sangat pesat seperti pembangunan jalan dari Pakuan ( Kota Bogor sekarang) sampai ke Wanagiri dan juga pembangunan waduk Talaga Maharena Wajaya.  

Pengembangan infrastruktur juga dilakukan untuk pelabuhan, tidak hanya Pelabuhan Sunda Kalapa yang berfungsi sebagai pelabuhan internasional, tetapi juga pengembangan pelabuhan baru di Cimanuk (sekarang Pemanukan), Pontang, Cigede, Banten dan Tamgara.

Seorang penjelajah Portugis Tome Pires pernah mendatangai Pelabuhan Sunda Kalapa pada tahun 1512 dan juga 1515.  Ia banyak membuat catatan kondisi pelabuhan ini dimasa Kerajaan Pajajaran. Ia mengambarkan pelabuhan Sunda Kelapa sangat ramai dikunjungi pelaut dan pedagang dari wilayah lain seperti dari Malaka, Sumatra, Sulawesi, Jawa dan Madura. Tome Pires juga menjelaskan komoditas perdagangan di Sunda Kelapa, seperti rempah-rempah lada dan pala, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan.

Laporan lainnya pelaut ini bahwa Sunda Kelapa terbujur sepanjang satu atau dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit yang dibersihkan di kedua tepi sungai Ciliwung. Tempat ini ada di dekat muaranya yang terletak di teluk yang terlindung oleh beberapa buah pulau. Sungainya memungkinkan untuk dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing memiliki kapasitas sekitar 100 ton. Kapal-kapal tersebut umumnya dimiliki oleh orang-orang Melayu, Jepang, Portugis dan Tionghoa.

Pelabuhan lain di Nusantara berkembang pesat seperti di Pelabuhan Pasai, Pelabuhan Malaka, Pelabuhan Bonang, Pelabuhan Tumasik (Singapura sekarang) dan selain itu di timur Jawa seperti Tuban, Gresik dan Surabaya juga memiliko pelabuhan yang berkembang.

Pada saat itu Sungai Brantas yang berpusat di Canggu juga sudah lama ada yaitu pelabuhan yang berbasis sungai. Prasasti Canggu 1280 Saka (1358 M) menjelaskan pada jalur Sungai Brantas terdapat 34 pelabuhan sungai.

Saat masa keruntuhan Majapahit semua pelabuhan ini akhirnya dikuasai Kerajaan Demak. Kerajaan Demak berkembang pesat pada mada dibawah Patih Unus dengan membangun kekuatan marinir yang kuat dengan kapal-kapal Jung Jawa yang kuat dan handal.

Di luar wilayah kerajaan Sunda Pajajaran berdiri Kesultanan Cirebon yang berpusat di Cirebon. Kerajaan ini membangun Pelabuhan Cirebon yang juga berkembang pesat. Sama seperti Demak, kerajaan Cirebon juga membangun armada marinir yang kuat. Dibidang ekonomi pertanian berkembangan baik dan juga perekonomian berbasis laut juga berkembang.

Kesultanan Demak dan Cirebon memiliki ikatan yang kuat baik secara keturunan maupun secara kerjasama ekonomi dan militer. Keduanya merupakan bagian dari keturunan para Wali Songo.

Pada tahun 1511 Portugis mulai masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa seperti yang diberitakan oleh Penjelajah Portugis, Tome Pires. Awal kedatangannya hanyalah dalam tujuan perdagangan dan pencarian komoditas pala, lada, cengkeh dan lainnya yang banyak berdatangan dari wilayah Nusantara lainnya.

Kerajaan Pajajaran yang melihat Kerajaan Banten dan Kesultanan Cirebon di barat Jawa dan Kesultanan Demak di timur sebagai pesaing dalam bisnis pelabuhan yang semakin lama menjadi andalan perekonomian Kerajaan Pajajaran.

Beda sikap antara anak dan ayah. Ayahnya Sri Baduga lebih menginginkan mandiri, sedangkan anaknya, Prabu Surawisesa lebih menginginkan melibatkan Portugis untuk mengamankan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kondisi ini menyebabkan Prabu Surawisesa ingin melakukan kerjasama dengan Portugis yang pada saat itu juga menguasai Pelabuhan Malaka. Bahkan Prabu Surawisesa menganggap ini sangat penting sehingga putra mahkota itu yang pergi mengunjungi Malaka dan menyampaikan maksudnya ke pihak Portugis pada tahun 1512.

Bagai gayung bersambut Portugis menjadikan isu ini sebagai bahan penting untuk meloby Raja Pajajaran untuk meningkatkan kerjasama perdagangan. Akhirnya Portugis mengirimkan utusan balasan dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme.

Demi memuluskan misinya Enrique membawa barang-barang untuk "Raja Samian" (maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, Raja Pajajaran. Ternyata Sang Raja tertarik dan menjadikan pertemuan ini kedalam perjanjian penting Pajajaran -Pirtugis yang dicatat dalam sebuah Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis atau disebut pihak Portugis sebagai Padrao Sunda Kelapa yang disepakati sejak tanggal 21 Agustus 1522.

Salah satu poin yang dalam masa depan akan merugikan Pajajaran adalah Portugis diberi tanah yang luas di dekat wilayah pelabuhan yang awalnya untuk membangun gudang barang Portugis, tetapi pada tahap berikutnya dilahan itu juga akan dibangun benteng oleh Portugis dengan alasan untuk keamanan gudang dan kepentingan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa.  Untuk pembangunan benteng tersebut  Kerajaan Pajajaran membantu pembiayaannya sebesar  1000 keranjang lada seperti yang tertulis dalam perjanjian Pedroa Sunda Kelapa.  

Photo Prasasti Padrao antara Kerajaan Pajajaran dan Portugis di Musium Sribaduga


Portugis juga menunjukkan sikap kurang bersahabat terhadap kapal-kapal dari Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon. Sikap arogansi dalam penguasaan pelabuhan Sunda Kelapa ini semakin memicu persaingan tidak sehat dan kemarahan Kesultanan Demak dan Cirebon.   

Konflik Portugis dan Demak sudah t erjadi sejak  Patih Unus dari Demak menyerang Portugis di Malaka. Portugis memang sudah menguasai Malaka. Melalui Malaka, Portugis bisa  menguasai perdagangan rempah-rempah.  Pada saat itu Pelabuhan Malaka merupakan pelabuhan perdagangan internasional teramai di Asia yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia.

Musium Sri Baduga di Bandung yang banyak memberikan informasi Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran

Di sisi lain konflik di internal Pajajaran juga semakin memperlemah kekuasaan Pajajaran. Dari sisi kepemimpinan di Pakuan para penerus tahta Pajajaran tidak ada yang bisa menyamakan dengan Sri Baduga Maharaja yang merupakan raja pertama.  Setelah era Sri Baduga Maharaja pelan dan pasti kekuasaan Pajajaran pada semua lini semakin tergerus, apalagi setelah pihak Portugis juga ikut intervensi atas masalah di istana Pajajaran.

Kondisi ini memperkuat keinginan Kerajaan Demak, Banten dan Cirebon untuk menangkal kolonisasi Portugis di Jawa. Apalagi letak Pelabuhan Sunda Kelapa berada di tengan jantung Jawa yang sangat berdekatan dengan Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Cirebon.

Sebagai langkah awal Kerajaan Demak mulai melemahkan Pajajaran dengan merebut wilayah Banten Girang (Serang sekarang ini) tanpa adanya peperangan karena wilayah ini sebagian besar penduduknya sudah mulai memeluk agama Islam dan besarnya pera Wali Songo di sini.

Demikian juga Pelabuhan Banten diambilalih oleh Kerajaan Demak yang kemudian untuk mengurus wilayah barat utara Jawa tersebut didirikanlah kerajan mandala Demak, yaitu Kesultanan Banten dan  menunjuk seorang putra Sunan Gunung Jati  yaitu Maulana Hasanuddin  sebagai raja pertamanya di Banten sejak tahun 1526.

Di sisi Portugis sudah melihat gelagat dari kerajaan-kerajaan di sekitar Pajajaran sehingga Portugis melalui Alfonso d'Albuquerque mengirim enam kapal perang dibawah pimpinan Francisco de Sa menuju Sunda Kelapa. Portugis mengirim kapal-kapal utama yang bertype galleon yang memiliki berat sampai 800 ton. Bersama kapal- kapal itu didalamnya disertakan 600 prajurit.

Sebelum Portugis datang ke Pelabuhan Sunda Kalapa apalagi membangun benteng di kawasan pelabuhan itu pada tahun 1526 pasukan  Demak, Banten  dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah sudah datang terlebih dahulu.  Kerajaan Demak dan Cirebon mengirimkan 20 kapal perang dengan prajurit  sebanyak  1.500. Kerajaan Pajajaran yang pada waktu itu sudah sangat lemah tidak memberikan perlawanan, sehingga Kerajaan Demak praktis sudah dapat mengendalikan sisi keamanan di Pelabuhan Sunda Kelapa.


Salah satu sudut Kota Tua yang dulunya menjadi pusat Batavia dengan gedung atr deco.


Pada 22 Juni tahun 1527 pasukan Kerajaan Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Saa baru tiba di Sunda Kalapa, tetapi dia kaget karena Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikuasai oleh Kerajaan Demak. Ketika ia tiba di sana, Sunda Kalapa telah sepenuhnya dikuasai oleh Kerajaan Islam.  Pasukan Portugis akhirnya mundur pada hari itu juga kembali ke Malaka dengan banyak menderita kerugian.

Kemenangan telak itu menjadikan sebagai hari yang bersejarah dan Kota Pelabuhan Sunda Kalapa di ubah namanya menjadi Jaya Karta yang berarti kemenangan besar. Kemenangan itu sudah dapat membalas kekalahan Demak  terhadap Portugis pada saat Pati Unus tidak berhasil mendapatkan Malaka.


Musium Fatahillah d5 Kota Tua, Jakarta yang selalu ramai di malam Minggu.


Sayangnya pada 30 Mei 1621, pasukan Belanda VOC tahun berhasil mengalahkan Kesultanan Banten dan merebut Jayakarta.  Jayakarta dirombak total bangunan asli dan pelabuhan yang ada sebelumnya dirubuhkan  dan selanjutnya dibangun kembali sebuah kota baru bernama Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen. 


Salah satu kafe di Kota Tua, Jakarta.


Tidak lama setelah itu berdasarkan kesepakatan De Heeren Zeventien dari VOC pada 4 Maret 1621 dibentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia yang berarti Kota Batavia. Aslinya nama Batavia berasal dari Bataf yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda. Di masa itu ada juga sebuah kapal besar milik Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1628 yang disebut dengan nama Batavia.  


Pusat pemerintahan Batavia yang sekarang berada di area Kota Tua, Jakarta

Penguasan Belanda terhadap Jayakarta  ini berjalan selama 350 tahun menjadi rujukan bahwa Belanda menjajah di Indonesia selama tiga setengah abad, sebagaimana klaim Gubernur Jendral Hindia Belanda, Bonifacius Cornelis de Jonge di tahun 1936.  Pada masa perang dunia II di tahun 1943 Jepang masuk ke Indonesia, nama Batavia diganti menjadi Jakarta sampai dengan Indonesia merdeka.

The Indonesia Adventure Team Writter

Sumber Referensi :

- indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/kronik-sejarah-kota-pelabuhan-sunda-kelapa
- id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran#Raja-raja_yang_memerintah_di_Pakuan_Pajajaran
- id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banten
- id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Jakarta
- jakarta.go.id/artikel/konten/4797/tarumanegara-kerajaan
- jakarta.go.id/artikel/konten/1124/distrik-di-batavia
- Adolf Heuken SJ dan Grace Pamungkas, 2000, Galangan Kapal Batavia selama tiga ratus tahun. Jakarta:Cipta Loka Caraka/Sunda Kelapa Lestari
- Supratikno Rahardjo et al., 1996, Sunda Kelapa sebagai Bandar di Jalur Sutra. Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
- Thomas B. Ataladjar dan Sudiyono, 1991, 'Sunda Kelapa' di Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
- Heuken, A. (2002). The Earliest Portuguese Sources for the History of Jakarta - Including All Other Historical Documents from the 5th to the 16th Centuries. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
- Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, Over 1000 Years of Propsperity and Glory. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
 

 

Tag : Jakarta, Jayakarta, Batavia, Sunda Kelapa, Pelabuhan, Portugis, Pajajaran, Tarumanegara, Sunda, Galuh, Wisata Jakarta, Jayakarta, Fatahillah, Demak, Banten, Cirebon,  Pelabuhan Sunda Kelapa

Saturday, October 10, 2020

Misteri Relief Kapal Jung Jawa di Candi Borobudur

Ini adalah relief Kapal Jung di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-7. Kapal ini merupakan kapal yang banyak digunakan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Medang, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit dan juga pada masa Kerajaan Demak. Kapal ini bahkan telah digunakan sejak ribuan tahun sebelum masehi.

Relief Candi Borobudur dengan visualisasi pelabuhan kapal jung masa lalu dengan kondisi pelabuhan permanen yang sudah terorganisir. Terlihat pelabuhan juga memiliki taman dan petugas pelabuhan.


Apakah ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa wilayah Indonesia begitu luas dengan perairan dan pulau-pulau?

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan besar di pulau Sumatera pada masa lalu. Asal muasal kerajaan ini dari Dinasti Syailendra yang tersebar di Sumatera dan Jawa melahirkan dua kerajaan besar, yaitu di Sumatera yang berpusat di Palembang membangun Kerajaan Sriwijaya melalui salah satu dinasti yaitu Balaputradewa. Di Jawa Tengah yang berpusat di Magelang dibangun Kerajaan Mataram Kuno dan Jawa Timur dibangun Kerajaan Medang.

Kerajaan Majapahit

Sebelum Indonesia berdiri penyatuan pulau-pulau dalam batas imajiner yang membentang dari barat di Aceh sampai dengan Papua di timur sudah terbentuk sejak lama. Sejak Sriwijaya dan juga sejak Majapahit. Pada masa Kejayaan Majapahit di Zaman Raja Hayam Wuruk yang bergelar  Rajasanegara (1350-1389).  Di padu dengan patih yang terkenal gagah perkasa Patih Gajah Mada yang bergelar Mahapatih Amangkubhumi Majapahit telah menyatukan gagasan persatuan yang dibingkai dalam kata “Nusantara”.


Untuk menelaah sejarah Majapahit banyak para ahli menggunakan  tafsir sejarah dari  Kitab Nagarakretagama  yang biasa disebut juga sebagai Kitab Kakawin Desawarnana (Deśawarṇana) yang menjadi rujukan dan  referensi  penting. Selain itu juga menelaah dari isi Kitab Pararaton yang berisi Sumpah Palapa oleh Gajah Mada yang fenomenal.

Kata Nusantara tetap ada dalam pemahaman para Raja-Raja dan para Penata Pemerintahan pada masa lalu. Berganti zaman dan berganti kerajaan di tanah ini, kata nusantara tetap ada, dan di uter hidup sampai sekarang. Penyatuan pertama dimasa Kerajaan Sriwijaya dan kemudian dilanjutkan dengan masa Majapahit yang diperkuat gagasannya oleh Patih Gajah Mada.

Untuk memperkuat cita-cita Gajah Mada itu, maka kerajaan Majapahit banyak membangun kapal-kapal untuk kekuatan maritime di laut. Kapal Jung adalah kapal yang banyak digunakan sebagai kapal perang dan juga sebagai kapal angkut.

Kapal Majapahit ini menguasai jalur rempah-rempah vital antara Maluku, Jawa dan Malaka. Saat itu kota pelabuhan Malaka bisa dibilang kota Jawa. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang pelayaran juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ketujuh.


Kerajaan Mataram Kuno dan Medang

Pada tahap selanjutnya, dari keturunan Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Medang, inilah cikal bakal kerajaan lain yang muncul kemudian di Nusantara dan di Asia Tenggara di kemudian hari.

Mengapa dinasti Syailendra benar-benar menyebar dan keturunannya menjadi tokoh di kerajaan lain yang muncul belakangan? Termasuk menyebar ke kerajaan dinasti di Malaya, Indo Cina, Champa. Juga menyebar ke Kerajaan di Kamboja dan India.

Simbol penting lainnya dari dinasti Syailendra juga ada di Nalada, India. Keluarga Sailendra membangun sebuah prasasti yang merupakan petunjuk penting saat ini, prasasti Nalada.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak simbol-simbol pada relief salah satu ikon penting Dinasti Syailendra yang keturunannya dibangun, yaitu Samaratungga yang merupakan istri Dewi Tara yang berasal dari Sumatera.

Ikon tersebut masih ada dan merupakan salah satu keajaiban dunia yaitu Borobudur. Adakah makna dan makna dari relief yang diukir di atas bebatuan Candi Borobudur yang berjumlah jutaan keping batu tersebut?

Dinasti Syailendra yang benar-benar luas wilayahnya, terbentang hingga ke wilayah nusantara, hingga ke wilayah Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Sri Lanka dan India. Bisa dibayangkan sejauh mana kekuatan Sailendra Wangsa yang melahirkan Kerajaan Sriwijaya di Swarnadwipa (Sumatera) serta Kerajaan Mataram dan Medang Kuno di Jawa.

Besarnya pengaruh dan kekuatan dinasti Syailendra menggambarkan kebesaran kerajaan pada masanya. Dijelaskan kekuatan armada kapal yang pelayarannya biasa ke China, Afrika, Rusia dan Amerika. Jika kita melihat besarnya kekuatannya, maka tidak heran bila candi borobudur dengan arsitektur yang kompleks dibangun dan dapat kita saksikan hingga sekarang.

Kerajaan Demak

Setelah kekuatan Majapahit mampu diruntuhkan Kesultanan Demak. Raden Fatah segera melakukan penataan pemerintahan yang lebih baik dan membangun kekuatan militer yang berbasis maritim yang kuat dan disegani. Upaya itu diteruskan oleh Pati Unus. Praktis kekuatan Demak menjadi kekuatan militer dengan kekuatan maritim yang terkenal.
 
Kekuatan armada maritim Demak ini menjadi dayatarik bagi tempat lain untuk menjalin kerjasama. Salah satunya adalah kerjasama dengan Kerajaan Malaka di utara barat Sumatra. Kerjasama ini terbukti bermanfaat saat terjadi serangan armada Portugis ke Malaka.
 
Kesultanan Demak telah mempersiapkan kapal canggih dan besar seperti kapal induk saat ini, yaitu kapal super besar Jung Jawa untuk mengangkut pasukan yang besar pada tahun 1513.  Kekuatan armada ini sebanyak 35 kapal jung besar yang masing-masing  mampu menampung beban 500 ton.
 
Penggambaran kapal Jung Jawa dapat dibaca dari surat Fernao Peres de Andrade yang menjadi Komandan Armada Portugis di Malaka. Surat tersebut ditulis ditahun 1513 kepada Afonso de Albuquerque.
 
Isi surat  Fernao Peres de Andrade sebagai berikut ini:
“Kapal Jung adalah suatu yang menakjubkan. Kapal Anunciada yang dekat dengannya sama sekali tak terlihat sebagai kapal karena ukurannya amat kecil jika dibandingkan dengan Jung itu. Kami menyerangnya dengan meriam besar, tetapi tembakan tersebut tak dapat melubanginya di bawah garis air, dan tembakan espera juga tidak dapat tembus; pada jung itu terdapat tiga susunan, semuanya lebih tebal daripada satu cruzado. Kapal Jung itu pasti begitu besar dan dahsyat, dan untuk membangun kapal itu perlu tiga tahun.”

Kapal Anunciada seperti dalam penjelasan dalam surat Fernao Peres de Andrade adalah kapal terbesar yang dimiliki oleh Portugis.  Kemudian ada istilah espera yang maksudnya berupa meriam yang paling canggih yang dimiliki oleh Armada Portugis di Malaka. Ukuran satu cruzado maksudnya adalah ukuran dari uang koin Portugis yang berdiameter 3,8 cm.

Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M atau abad ke-7. Borobudur dibangun oleh penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Kuil ini dibangun pada puncak dinasti dinasti. Pendiri Candi Borobudur, Raja Samaratungga yang berasal dari Dinasti atau Dinasti.

Dinding-dinding Candi Borobudur dengan batu yang berrelief.

Kemungkinan candi ini dibangun sekitar 824 M dan selesai sekitar tahun 900 M pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang merupakan putri Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut cerita turun-temurun bernama Gunadharma.

Candi Borobudur berada di sekitar 40 km dari barat laut Yogyakarta dan dari 86 km  barat Surakarta. Posisi Candri Borobudur juga terletak di daerah tinggi antara dua gunung berapi kembar, Sundoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, dan dua sungai, Progo dan Elo. Tanah tempat candi ini terkenal sebagai tanah yang subur dan menjadi lokasi yang sangat baik  untuk kawasan pertanian yang menjadi sumber penghasilan penduduk pada masa itu.

Stupa-stupa Candi Borobudur dengan arsitektur yang sangat rumit.

Selama pemugaran pada awal abad ke-20, ditemukan bahwa tiga candi Budha di wilayah tersebut, Borobudur, Pawon dan Mendut, diposisikan di sepanjang garis lurus. Hubungan ritual antara ketiga candi itu pasti ada, meski proses ritual pastinya belum diketahui.

Kata Borobudur sendiri didasarkan pada bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang memberi nama pada Candi Borobudur ini. Hanya satu dokumen tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di dalam kitab tersebut tertulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi umat Buddha.

Arti nama Borobudur adalah "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "batu bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (bukit atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Oleh karena itu sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini dahulu kala digunakan sebagai tempat pemujaan umat Budha.

Kuil ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung berapi, sebagian besar bangunan Borobudur tertutup tanah vulkanik. Selain itu, bangunan tersebut juga ditumbuhi berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai dilupakan pada saat Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.

Pada tahun 1814 ketika Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar tentang penemuan benda purbakala di desa Bumisegoro berukuran raksasa di Magelang. Karena minat yang besar terhadap sejarah Jawa, Raffles segera memerintahkan HC Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuannya yang merupakan bukit yang ditumbuhi semak belukar.

Cornelius dibantu oleh sekitar 200 orang pria menebang pohon dan membuang semak yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena menganggap bangunan tersebut sudah rapuh dan bisa runtuh, maka laporan penemuan Raffles Cornelius tersebut menyertakan beberapa gambar. Sejak penemuan itu, Raffles juga dihormati sebagai orang yang memulai pemugaran Borobudur dan perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi telah digali. Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956 pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk memeriksa kerusakan Borobudur. Kemudian pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO.

Namun pemugaran ini baru benar-benar dimulai pada 10 Agustus 1973. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia atau Warisan Dunia oleh UNESCO.

Para turis di Borobudur

Kapal Jung Jawa

Kapal jung digunakan terutama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, mencapai Ghana atau bahkan Brasil di zaman kuno. Bobot beban dalam kisaran 85-700 ton. Bobot ini mampu mencukupi kebutuhan logistik untuk perjalanan jauh bahkan hingga Madagascar dan Ghana di Afrika.

Konstruksi perahu Nusantara sangat unik. Lambung perahu dibentuk untuk menempelkan papan-papan tersebut ke lambung kapal. Kemudian dipasang pada pasak kayu tanpa menggunakan kusen, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal runcing. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi yang disebut dayung, serta layar persegi panjang (layar tanja) atau layar lateen dengan sekat bambu.

Dalam bukunya Denys Lombard,  Nusajawa: Jaringan Asia yang diterbitkan tahun 2004 menyebut istilah "jung" berasal dari Asia Tenggara. Lombard juga menyebut “jung” sebagai kapal raksasa. Para Penjelajah Eropa menyebut wilayah perairan yang digunakan kapal Jung/Jong sebagai perairan “kun-kun” atau disebut sebagai Laut Selatan. Penyebutan Laut Selatan juga digunakan oleh para penulis dari Tiongkok.

Dalam catatan Tome Pires seorang penjelajah Portugis lainnya penggunaan kapal jung sebagai kapal armada pasukan laut Pati Unus yang tidak lain adalah seorang raja kerajaan Demak yang kedua. Tome Pires mencatat kapal Pati Unus memiliki kemampuan untuk menampung sekitar seribu penumpang.

Penulis lain yang masih semasa dengan Denys Lombard , yaitu Pierre-Yves Manguin juga pernah menulis khusus tentang "jung".  Menurut Manguin, kapal-kapa raksasa dari Jawa itu diproduksi dari galangan-galangan kapal yang dekat dengan kawasan hutan jati di Cirebon, Jepara, dan Tuban. 

Catatan lainnya mengenai kapal jung juga ada dari catatan Ptolemy yang jauh lebih tua. Dalam tulisan yang diperkirakan pada tahun 100 Masehi. Catatan itu berjudul:  “Periplus Marae Erythraensis (catatan laut bagian terluar)”.  Catatan dari Tiongkok berasal dari Wan Chen yang member judul tulisannya itu “Hal-Hal Aneh dari Selatan”.  Wan Chen mendiskripsikan kapal jung mampu membawa 700 orang penumpang, berikut dengan muatan kargo sampai dengan 10.000 kargo (250-1000 ton), panjangnya sampai 50 meter dan tingginya 4 hingga 7 meter. Wan Chen dalam tulisannya memastikan bahwa kapal itu bukan dari Tiongkok tetapi berasal dari “Kun-lun” (selatan).  

Dalam catatan hikayat dari Raja-raja Pasai menyebutkan, Kerajaan Majapahit menggunakan "jung" secara masif untuk kekuatan armada maritime. Mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar "jung" Majapahit mencapai 400 kapal, disertai jenis Malangbang dan Kelulus yang tak terhitung banyaknya.

Gaspar Correia, penulis sejarah abad 16 dari Portugis mencatat tentang pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa Majapahit yang terjadi di Selat Malaka. Pramoedya menyebut, nama kapten terkenal Portugis itu berdasarkan penamaan orang Jawa pesisir yakni "Kongso Dalbi". Catatan Gaspar itu menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa ditembus dari empat lapis papan kapal itu. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

Pelaut dari Portugis Alfonso Albuquerque sendiri juga memiliki catatan terkait kapal jung dari Jawa ini. Alfonso Albuquerque menggambarkan kapal jung memiliki empat tiang layar dan memilikii bobot sampai dengan 600 ton.  Kapal terbesar dalam catatannya dimiliki oleh Kerajaan Demak yang bobotnya mencapai 1.000 ton.

Penulis Portugis lain Fernao Pires de Andrade merangkum catatan dari Tome Pires, menjelaskan pembuatan kapal jung itu membutuhkan waktu sampai tiga tahun. Bahkan penjelajah Albuquerque juga ikut mempekerjakan 60 tukang kayu dari Jawa untuk merancang kapal. Para ahli kapal dari Jawa itu sebelumnya adalah bekerja di Malaka.

Penulis dan juga seorang pedagang Italia, Giovanni da Empoli, mendiskripsikan kapal jung dalam surat-suratnya bahwa kapal jung tidak berbeda dengan sebuah  benteng, karena memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri.

Relief Kapal Jung Jawa di Candi Borobudur

Terdapat 10 relief kapal yang lebih muda di sisi utara Candi Borobudur yang bernama asli Kamulan Bhumisambhara menurut prasasti Kahulunan yang berumur 842 tahun. Dari relief tersebut terdapat 6 kapal yang terlihat sebagai kapal besar, sedangkan 4 relief lainnya terlihat sebagai kapal kecil dan menengah. Inilah sinyal bahari bangsa yang membuat Candi Borobudur ini.


Kapal Jung Jawa yang sedang berlayar

Kapal kecil dan layar besar tergambar jelas dalam relief. Terdapat relief yang menggambarkan dua kapal layar dan satu kapal kecil dengan satu layar. Kapal sister adalah kapal dengan ciri khas orang Austronesia di Asia Tenggara.

Relief Candi Borobudur, kapal jung yang sedang berlayar di samudra dengan visualisasi berupa lautan berombak ombak besar dan adanya awan di langit.


Pada salah satu relief terdapat kapal di bagian depan kapal, lunasnya menajam ke depan dan naik. Bagian depan runcing dengan tambahan logam atau besi yang keras dan kuat. Inilah ciri khas kapal Sriwijaya. Ketajaman bagian depan digunakan untuk menanduk kapal musuh.

Relief Candi Borobudur, Kapal nelayan yang sedang mencari ikan di lautan

Seorang angkatan laut Inggris, Philip Beale melakukan penelitian tentang kehidupan laut di Borobudur. Ia takjub dengan detail relief batu andesit Candi Borobudur yang menggambarkan arsitektur kapal yang rumit. Ia meyakini bahwa patung itu berdasarkan arsitektur kapal yang sebenarnya ada saat itu.

Relief Candi Borobudur. Para petugas kapal yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu (mungkin makanan) untuk para penumpang.

Apakah ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa wilayah Indonesia begitu luas dengan perairan dan pulau-pulau? kunci jawabannya ada pada pahatan batu berupa relief di Candi Borobudur yang membuktikan bahwa kehidupan bahari memang sudah menjadi budaya pada masa lalu, yang tertatah begitu indah di Candi Borobudur.

Tentunya perlu penelitian yang mendalam tentang sejarah Nusantara, budaya maritime pada masa lalu di Nusantara dan kaitannya dengan Indonesia pada masa kini, sehingga semangat dan jiwa bahari itu bisa terus ada sampai generasi masa kini.

The Indonesia Team Writter

Sumber Referensi :

- indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/jong-sang-gargantua-dari-laut-jawa
- theindonesiaadventure.com/2020/09/catatan-sejarah-penjelajah-eropa-dan.html
- id.wikipedia.org/wiki/Pati_Unus
- Manguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11: 266–276 – via JSTOR. - www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/info/berita-khusus/Pages/Jung-Jawa-yang-Terlupakan.aspx.

Tag : Borobudur, Candi Borobudur, wisata candi, wisata jateng, wisata yogya,  mataram kuno, medang, relief candi Borobudur, sriwijaya, majapahit, medang, kapal jung, nusantara, jung jawa, Relief Kapal Bodobudur

Translate