Monday, October 12, 2020

Ibu Kota Jakarta, Perjalanan Sejarah yang Panjang Menjadi Nama Jakarta

 

Ibu Kota Republik Indonesia, Jakarta yang usianya hampir setengah abad itu adalah pusat pemerintahan dan juga perekonomian yang paling sibuk. Semua orang Indonesia pasti tahu dengan Jakarta sebagai ibu kota, tetapi kalau ditanya mengapa nama Ibu Kota Indonesia di utara Pulau Jawa itu 'Jakarta', mungkin tidak semua orang Indonesia tahu asal usulnya.

Tugu Monas yang menjadi Ikon Kota Jakarta.

Sebenarnya bagaimana sejarah nama Jakarta sehingga begitu lekat di hati kita. Munculnya nama Jakarta setelah sebelumnya ada beberapa nama yang disematkan pada kota yang sangat sibuk tersebut. Wilayah ini sudah beberapa kali berganti nama dan perubahan nama itu sangat terkait dengan sejarah Jakarta yang cukup.panjang. 

Awalnya wilayah yang memiliki populasi yang padat ini mulai menjadi wilayah perdagangan yang ramai sejak abad ke-4 Masehi. Pada masa itu merupakan sebuah permukiman dan pelabuhan nelayan yang mandiri  bernama Kalapa. Nama Kalapa ini diperkirakan pada saat itu wilayah pantai tersebut banyak pohon nyiur atau kelapa. Orang Sunda menyebut pohon kelapa dengan istilah ‘kalapa’.

 

Salah satu pantai di utara Jakarta, terlihat aktifitas nelayan.

Di wilayah Kalapa ini selain sebagai tempat nelayan juga sudah mulai ada aktifitas perdagangan.  Lambat laun wilayah ini sudah mulai banyak pedagang dari berbagai daerah datang kesini menggunakan perahu.  Melihat perkembangan Pantai Kalapa yang strategis dan bisa menjadi ladang penghasilan yang potensial, akhirnya wilayah ini diambil alih oleh Kerajaan Tarumanegara yang berpusat di dekat Sungai Chandrabhaga (sekitar Bekasi saat ini) untuk dikembangkan menjadi pelabuhan yang lebih baik dan terorganisir.  

Akhirnya Pelabuhan Kelapa sudah mulai terkenal  banyak didatangi oleh para pedagang dan pelaut dari Selat Malaka, Pasai, Timur Tengah, Tumasik, India, Tanjung Harapan dan Madagaskar (Afrika), Jepang dan juga dari Tiongkok.

Di bawah administrasi Tarumanegara pelabuhan ini berhasil menjadi perhatian banyak pedagang dan pelaut dunia sehingga menjadi pelabuhan perdagangan internasional penting di utara Jawa terutama pada masa Pemerintahan Raja Purnawarman. Komoditas perdagangan terbesar kerajaan ini melalui pelabuhan ini adalah tanaman Tarum yang banyak tumbuh di Sungai Citarum untuk pewarna dan pengawet benang pakaian.

Pada masa Raja Tarumanegara yang bernama Sudawarman kerajaan Hindu tertua di Jawa ini melemah selain karena tekanan dari Kerajaan Sriwijaya yang memiliki kekuatan yang lebih  besar. Menurut  Ir. J.L. Moens dari Prasasti Kota Kapur ± 686 M di Pulau Bangka, runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada akhir abad tersebut disebabkan serangan dari Sriwijaya.

Faktor lainnya Kerajaan Tarumanegara kehilangan kepemimpinan dari  garis keturunan asli Tarumanegara. Raja ke-12 Linggawarman, tidak memiliki anak laki-laki sehingga seorang putri sulungnya yang bernama Manasih menikah dengan Raja Tarusbawa dari Kerajaan Sundapura yang pada saat itu Kerajaan Sundapura  adalah bagian dari kerajaan mandala Tarumanegara.

Setelah tahta Tarumanegara dipegang Sri Maharaja Tarusbawah, pusat kerajaan di pindahkan ke  sekitar tepi Sungai Cisadane, di tepi hilir Sungai Gomanti.  Bukan hanya itu Raja Tarusbawa  juga menolak untuk meneruskan Kerajaan Tarumanegara dan lebih menginginkan tetap sebagai Raja Sunda.  Ia lebih berhasrat untuk meneruskan kerajaan leluhurnya Sundapura.  

Pemerintahannya berpindah ke hilir Sungai Gomanti.  Di masa kekuasaan Raja Tarusbawah ini Pelabuhan Kalapa menjadi bagian dari Kerajaan Sunda (Sundapura) sehingga namanya  pada masa itu lebih sering disebut menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa.

Sisa dari kerajaan Tarumanegara yang tidak setuju dengan keputusan Raja Tarusbawah lebih mengikuti Kerajaan Kendan yang merupakan kerajaan dibawah Kerajaan Tarumanegara.  Kedepannya Kerajaan Kendan ini berubah menjadi Kerajaan Galuh di sebagian bekas kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Galuh dipimpin oleh Wretikandayun (yang mulai berkuasa dari tahun 612).

Akhirnya pada tahun 1482 kedua kerajaan  Sundapura dan Galuh yang pada masa Tarumanegara adalah kerajaan mandalanya  yang masih terikat persaudaraan itu menyatukan diri menjadi Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (Bogor)  dengan menunjuk raja baru yang bernama Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja yang tidak lain adalah Prabu Siliwangi.

Pada masa Kerajaan Pajajaran di era Sri Baduga Maharaja kerajaan berkembang sangat pesat seperti pembangunan jalan dari Pakuan ( Kota Bogor sekarang) sampai ke Wanagiri dan juga pembangunan waduk Talaga Maharena Wajaya.  

Pengembangan infrastruktur juga dilakukan untuk pelabuhan, tidak hanya Pelabuhan Sunda Kalapa yang berfungsi sebagai pelabuhan internasional, tetapi juga pengembangan pelabuhan baru di Cimanuk (sekarang Pemanukan), Pontang, Cigede, Banten dan Tamgara.

Seorang penjelajah Portugis Tome Pires pernah mendatangai Pelabuhan Sunda Kalapa pada tahun 1512 dan juga 1515.  Ia banyak membuat catatan kondisi pelabuhan ini dimasa Kerajaan Pajajaran. Ia mengambarkan pelabuhan Sunda Kelapa sangat ramai dikunjungi pelaut dan pedagang dari wilayah lain seperti dari Malaka, Sumatra, Sulawesi, Jawa dan Madura. Tome Pires juga menjelaskan komoditas perdagangan di Sunda Kelapa, seperti rempah-rempah lada dan pala, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan.

Laporan lainnya pelaut ini bahwa Sunda Kelapa terbujur sepanjang satu atau dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit yang dibersihkan di kedua tepi sungai Ciliwung. Tempat ini ada di dekat muaranya yang terletak di teluk yang terlindung oleh beberapa buah pulau. Sungainya memungkinkan untuk dimasuki 10 kapal dagang yang masing-masing memiliki kapasitas sekitar 100 ton. Kapal-kapal tersebut umumnya dimiliki oleh orang-orang Melayu, Jepang, Portugis dan Tionghoa.

Pelabuhan lain di Nusantara berkembang pesat seperti di Pelabuhan Pasai, Pelabuhan Malaka, Pelabuhan Bonang, Pelabuhan Tumasik (Singapura sekarang) dan selain itu di timur Jawa seperti Tuban, Gresik dan Surabaya juga memiliko pelabuhan yang berkembang.

Pada saat itu Sungai Brantas yang berpusat di Canggu juga sudah lama ada yaitu pelabuhan yang berbasis sungai. Prasasti Canggu 1280 Saka (1358 M) menjelaskan pada jalur Sungai Brantas terdapat 34 pelabuhan sungai.

Saat masa keruntuhan Majapahit semua pelabuhan ini akhirnya dikuasai Kerajaan Demak. Kerajaan Demak berkembang pesat pada mada dibawah Patih Unus dengan membangun kekuatan marinir yang kuat dengan kapal-kapal Jung Jawa yang kuat dan handal.

Di luar wilayah kerajaan Sunda Pajajaran berdiri Kesultanan Cirebon yang berpusat di Cirebon. Kerajaan ini membangun Pelabuhan Cirebon yang juga berkembang pesat. Sama seperti Demak, kerajaan Cirebon juga membangun armada marinir yang kuat. Dibidang ekonomi pertanian berkembangan baik dan juga perekonomian berbasis laut juga berkembang.

Kesultanan Demak dan Cirebon memiliki ikatan yang kuat baik secara keturunan maupun secara kerjasama ekonomi dan militer. Keduanya merupakan bagian dari keturunan para Wali Songo.

Pada tahun 1511 Portugis mulai masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa seperti yang diberitakan oleh Penjelajah Portugis, Tome Pires. Awal kedatangannya hanyalah dalam tujuan perdagangan dan pencarian komoditas pala, lada, cengkeh dan lainnya yang banyak berdatangan dari wilayah Nusantara lainnya.

Kerajaan Pajajaran yang melihat Kerajaan Banten dan Kesultanan Cirebon di barat Jawa dan Kesultanan Demak di timur sebagai pesaing dalam bisnis pelabuhan yang semakin lama menjadi andalan perekonomian Kerajaan Pajajaran.

Beda sikap antara anak dan ayah. Ayahnya Sri Baduga lebih menginginkan mandiri, sedangkan anaknya, Prabu Surawisesa lebih menginginkan melibatkan Portugis untuk mengamankan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kondisi ini menyebabkan Prabu Surawisesa ingin melakukan kerjasama dengan Portugis yang pada saat itu juga menguasai Pelabuhan Malaka. Bahkan Prabu Surawisesa menganggap ini sangat penting sehingga putra mahkota itu yang pergi mengunjungi Malaka dan menyampaikan maksudnya ke pihak Portugis pada tahun 1512.

Bagai gayung bersambut Portugis menjadikan isu ini sebagai bahan penting untuk meloby Raja Pajajaran untuk meningkatkan kerjasama perdagangan. Akhirnya Portugis mengirimkan utusan balasan dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme.

Demi memuluskan misinya Enrique membawa barang-barang untuk "Raja Samian" (maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, Raja Pajajaran. Ternyata Sang Raja tertarik dan menjadikan pertemuan ini kedalam perjanjian penting Pajajaran -Pirtugis yang dicatat dalam sebuah Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis atau disebut pihak Portugis sebagai Padrao Sunda Kelapa yang disepakati sejak tanggal 21 Agustus 1522.

Salah satu poin yang dalam masa depan akan merugikan Pajajaran adalah Portugis diberi tanah yang luas di dekat wilayah pelabuhan yang awalnya untuk membangun gudang barang Portugis, tetapi pada tahap berikutnya dilahan itu juga akan dibangun benteng oleh Portugis dengan alasan untuk keamanan gudang dan kepentingan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa.  Untuk pembangunan benteng tersebut  Kerajaan Pajajaran membantu pembiayaannya sebesar  1000 keranjang lada seperti yang tertulis dalam perjanjian Pedroa Sunda Kelapa.  

Photo Prasasti Padrao antara Kerajaan Pajajaran dan Portugis di Musium Sribaduga


Portugis juga menunjukkan sikap kurang bersahabat terhadap kapal-kapal dari Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon. Sikap arogansi dalam penguasaan pelabuhan Sunda Kelapa ini semakin memicu persaingan tidak sehat dan kemarahan Kesultanan Demak dan Cirebon.   

Konflik Portugis dan Demak sudah t erjadi sejak  Patih Unus dari Demak menyerang Portugis di Malaka. Portugis memang sudah menguasai Malaka. Melalui Malaka, Portugis bisa  menguasai perdagangan rempah-rempah.  Pada saat itu Pelabuhan Malaka merupakan pelabuhan perdagangan internasional teramai di Asia yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia.

Musium Sri Baduga di Bandung yang banyak memberikan informasi Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran

Di sisi lain konflik di internal Pajajaran juga semakin memperlemah kekuasaan Pajajaran. Dari sisi kepemimpinan di Pakuan para penerus tahta Pajajaran tidak ada yang bisa menyamakan dengan Sri Baduga Maharaja yang merupakan raja pertama.  Setelah era Sri Baduga Maharaja pelan dan pasti kekuasaan Pajajaran pada semua lini semakin tergerus, apalagi setelah pihak Portugis juga ikut intervensi atas masalah di istana Pajajaran.

Kondisi ini memperkuat keinginan Kerajaan Demak, Banten dan Cirebon untuk menangkal kolonisasi Portugis di Jawa. Apalagi letak Pelabuhan Sunda Kelapa berada di tengan jantung Jawa yang sangat berdekatan dengan Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Cirebon.

Sebagai langkah awal Kerajaan Demak mulai melemahkan Pajajaran dengan merebut wilayah Banten Girang (Serang sekarang ini) tanpa adanya peperangan karena wilayah ini sebagian besar penduduknya sudah mulai memeluk agama Islam dan besarnya pera Wali Songo di sini.

Demikian juga Pelabuhan Banten diambilalih oleh Kerajaan Demak yang kemudian untuk mengurus wilayah barat utara Jawa tersebut didirikanlah kerajan mandala Demak, yaitu Kesultanan Banten dan  menunjuk seorang putra Sunan Gunung Jati  yaitu Maulana Hasanuddin  sebagai raja pertamanya di Banten sejak tahun 1526.

Di sisi Portugis sudah melihat gelagat dari kerajaan-kerajaan di sekitar Pajajaran sehingga Portugis melalui Alfonso d'Albuquerque mengirim enam kapal perang dibawah pimpinan Francisco de Sa menuju Sunda Kelapa. Portugis mengirim kapal-kapal utama yang bertype galleon yang memiliki berat sampai 800 ton. Bersama kapal- kapal itu didalamnya disertakan 600 prajurit.

Sebelum Portugis datang ke Pelabuhan Sunda Kalapa apalagi membangun benteng di kawasan pelabuhan itu pada tahun 1526 pasukan  Demak, Banten  dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah sudah datang terlebih dahulu.  Kerajaan Demak dan Cirebon mengirimkan 20 kapal perang dengan prajurit  sebanyak  1.500. Kerajaan Pajajaran yang pada waktu itu sudah sangat lemah tidak memberikan perlawanan, sehingga Kerajaan Demak praktis sudah dapat mengendalikan sisi keamanan di Pelabuhan Sunda Kelapa.


Salah satu sudut Kota Tua yang dulunya menjadi pusat Batavia dengan gedung atr deco.


Pada 22 Juni tahun 1527 pasukan Kerajaan Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Saa baru tiba di Sunda Kalapa, tetapi dia kaget karena Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikuasai oleh Kerajaan Demak. Ketika ia tiba di sana, Sunda Kalapa telah sepenuhnya dikuasai oleh Kerajaan Islam.  Pasukan Portugis akhirnya mundur pada hari itu juga kembali ke Malaka dengan banyak menderita kerugian.

Kemenangan telak itu menjadikan sebagai hari yang bersejarah dan Kota Pelabuhan Sunda Kalapa di ubah namanya menjadi Jaya Karta yang berarti kemenangan besar. Kemenangan itu sudah dapat membalas kekalahan Demak  terhadap Portugis pada saat Pati Unus tidak berhasil mendapatkan Malaka.


Musium Fatahillah d5 Kota Tua, Jakarta yang selalu ramai di malam Minggu.


Sayangnya pada 30 Mei 1621, pasukan Belanda VOC tahun berhasil mengalahkan Kesultanan Banten dan merebut Jayakarta.  Jayakarta dirombak total bangunan asli dan pelabuhan yang ada sebelumnya dirubuhkan  dan selanjutnya dibangun kembali sebuah kota baru bernama Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen. 


Salah satu kafe di Kota Tua, Jakarta.


Tidak lama setelah itu berdasarkan kesepakatan De Heeren Zeventien dari VOC pada 4 Maret 1621 dibentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia yang berarti Kota Batavia. Aslinya nama Batavia berasal dari Bataf yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda. Di masa itu ada juga sebuah kapal besar milik Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1628 yang disebut dengan nama Batavia.  


Pusat pemerintahan Batavia yang sekarang berada di area Kota Tua, Jakarta

Penguasan Belanda terhadap Jayakarta  ini berjalan selama 350 tahun menjadi rujukan bahwa Belanda menjajah di Indonesia selama tiga setengah abad, sebagaimana klaim Gubernur Jendral Hindia Belanda, Bonifacius Cornelis de Jonge di tahun 1936.  Pada masa perang dunia II di tahun 1943 Jepang masuk ke Indonesia, nama Batavia diganti menjadi Jakarta sampai dengan Indonesia merdeka.

The Indonesia Adventure Team Writter

Sumber Referensi :

- indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/kronik-sejarah-kota-pelabuhan-sunda-kelapa
- id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran#Raja-raja_yang_memerintah_di_Pakuan_Pajajaran
- id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banten
- id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Jakarta
- jakarta.go.id/artikel/konten/4797/tarumanegara-kerajaan
- jakarta.go.id/artikel/konten/1124/distrik-di-batavia
- Adolf Heuken SJ dan Grace Pamungkas, 2000, Galangan Kapal Batavia selama tiga ratus tahun. Jakarta:Cipta Loka Caraka/Sunda Kelapa Lestari
- Supratikno Rahardjo et al., 1996, Sunda Kelapa sebagai Bandar di Jalur Sutra. Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
- Thomas B. Ataladjar dan Sudiyono, 1991, 'Sunda Kelapa' di Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
- Heuken, A. (2002). The Earliest Portuguese Sources for the History of Jakarta - Including All Other Historical Documents from the 5th to the 16th Centuries. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
- Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, Over 1000 Years of Propsperity and Glory. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
 

 

Tag : Jakarta, Jayakarta, Batavia, Sunda Kelapa, Pelabuhan, Portugis, Pajajaran, Tarumanegara, Sunda, Galuh, Wisata Jakarta, Jayakarta, Fatahillah, Demak, Banten, Cirebon,  Pelabuhan Sunda Kelapa

Terima kasih sudah membaca: Ibu Kota Jakarta, Perjalanan Sejarah yang Panjang Menjadi Nama Jakarta
Share ke :
No comments:
Write comments

Translate