Friday, October 25, 2019

Relief Candi Prambanan yang Masih Menyimpan Misteri

Salah satu kekayaan budaya dan warisan sejarah Nusantara adalah keberadaan banyak candi-candi yang tersebar diberbagai pulau di Indonesia. Salah candi yang memiliki ukuran dan arsitektur yang sangat besar dan indah adalah Candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Relief burung Candi Prambanan
Relief burung di Candi Prambanan yang sangat hidup.

Candi yang bernama asli Siwagrha sesuai dengan Prasasti Siwagrha. Candi Prambanan dibangun pada tahun 850 Masehi  oleh Raja Balitung Maha Sambu dari Wangsa Sanjaya.  Sebenarnya bisa jadi dibangunnya Candi Prambanan lebih tua dari tahun 850 M. Perkiraan ini berdasarkan adanya Prasasti Siwagrha yang  tersimpan di Musium Nasional di Jakarta. Bisa juga prasasti itu adalah masa peresmiannya saja pada tahun 778 Saka atau  856 Masehi.

relief fauna Candi Prambanan
Berbagai macam relief fauna di Candi Prambanan.

Sang pembangun candi Rakai Pikatan dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku  yang beristri seorang ratu yang bernama Pramodhawardhani dari Kerajaan Mataram Kuno, merupakan raja ke-6 dari Kerajaan Medang yang berpusat di Jawa Tengah. Masa tahtanya dimulai dari tahun  840 masehi dan berakhir tahun 856 masehi. Masa pembangunan Candi Prambanan yang sangat panjang sehingga proyek ini diteruskan oleh anak Rakai Pikatan Balitung Maha Sambu yang menjadi raja ke-7 dari Kerajaan Medang.


Misteri Rilief Candi Prambanan

Relief burung candi Prambanan
Relief dua burung kuntul yang sedang makan dari pohon. Terlihat gerak dari burung sangat hidup walau relief terbuat dari pahatan batu yang keras.

Salah satu yang mempesona dari Candi Prambanan adalah arsitektur yang indah dan berbagai relief yang menghiasi dinding-dinding batu candi ini.  Relief-relief ini ada pada berbagai dinding Candi Prambanan baik Candi-candi Trimurti  candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Juga candi-candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa. Juga candi-candi Apip, Kelir, Patok dan Perwara.

Relief burung Candi Prambanan
Relief burung di Candi Prambanan. Burung-burung terlihat hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Keindahan Arsitektur candi Prambanan banyak diakui dunia. Bentuk dari arsitektur seperti ini adalah tradisi arsitektur dalam filosofi Hindu yang mengacu kepada kitab Wastu Sastra. Tata letak dan pola candi mengikuti bentuk mandala menggambarkan filosofi perisai atau pertahanan.  Candi mengerucut menyerupai menara dengan stupa-stupa kecil yang melingkari dari bawah sampai ke paling atas mengacu kepada bentuk mandala tersebut.

Sebagian besar relief menggambarkan kehidupan sehari-hari pada masa Kerajaan Medang atau sering disebut juga dengan Mataram Kuno yang berkuasa dari Abad ke-8 sampai dengan Abad ke-11.  Penggambaran relief juga berupa diaorama visual semi tiga dimensi cerita Ramayana dan Krisnayana.

Obyek-obyek yang digambarkan berbentuk manusia, binatang, berbagai tumbuhan dan  juga objek benda-benda yang umum digunakan pada saat itu. Visualisasi manusia menyerupai tokoh dan figur yang ada dalam berbagai cerita Ramayana dan Krisnayana, tetapi ada fanel-fanel relief yang menggambarkan cerita-cerita lain yang belum dapat diidentifikasi secara jelas mengenai latar belakang adegan-adegan tersebut.

Penemuan ini sangat menarik karena pembuatan relief tidak abstrak tetapi sangat natural dan nyata. Walaupun ada  juga mahluk-mahluk mitos yang digambarkan secara campuran antara manusia atau binatang, tetapi sebagian besar objek yang ditampilkan adalah mahluk nyata baik manusia, binatang atau tumbuhan.

Sebagai contoh dalam banyak fanel terlihat relief-relief yang menggambarkan binatang-binatang dengan bentuk yang sangat jelas. Bahkan demikian jelasnya penggambaran binatang tersebut maka banyak ahli fauna yang dapat mengidentifikasi klasifikasi binatang sampai tingkat genus atau famili secara ilmiah. Salah satu binatang yang banyak tergambar di fanel-fanel dinding candi itu adalah burung.

Demikian naturalnya visualisasi dalam diarama relief Candi Prambanan maka para ahli sudah dapat mengelompokkan berbagai jenis fauna yang ada di fanel-fanel tersebut. Contoh klasifikasi fauna yang paling banyak adalah dari golongan aves (burung).  Klasifikasi burung jika diamati secara cermat seperti; burung merak (Pavo sp.), cangak (Ardea sp.), ayam hutan (Gallus sp.),  gemak (Turnix sp.),  kuntul (Egretta sp.), Kakatua (Caccatua sp. ), Cekakak (Halcyonidae), Buceros sp., Merpati (Columbidae) dan  Gagak (Cervus sp.).  Mengapa penggambaran binatang-binatang ini demikian jelas?

Selain bentuk fisik burung yang sangat halus dan jelas. Burung-burung itu juga digambarkan dengan segala prilakunya. Dalam diorama relief burung-burung itu juga seakan memiliki sifat-sifat yang lucu, jinak atau juga ada yang terlihat liar seperti halnya burung-burung dihutan.

Setiap visualisasi memiliki arti dan makna sebagai deskripsi atas maksud diarama yang ingin disampikan oleh pembuat relief candi.  Seperti seekor burung merak yang sedang menari dan bercumbu dengan pasangan merak. Burung-burung berpasangan diantara sebuah pohon kalpataru dengan gerak-gerik burung yang seakan hidup dan berinteraksi.

Relief Candi Prambanan
Relief Prambanan tidak hanya di bagian bawah di bagian puncak juga ada berbagaimacam relief.

Penggambaran burung tidak sekedar bentuk mati tetapi seakan hidup dan berinteraksi dengan sekitarnya. Ini artinya visualisasi tidak sekedar mengejar bentuk dasar burung dimana ada tubuh, kepala dan kaki tetapi lebih dari pada itu. Burung digambarkan sangat detail sampai dengan watak dan sifat burung sangat terlihat jika diperhatikan secara cermat.

Candi Prambanan dilihat dari pintu gerbang masuk komplek

Bagaimana relief ini dibuat atau dipahat?  Bagaimana membuatnya sehingga demikian hidup?  Apalagi penggambaran relief dibuat dibatu andesit yang cukup keras. Apa teknologi yang digunakan pada masa itu? Ini semua tentu belum dapat dijawab dan masih menjadi misteri sampai sekarang.

Turis mancanegara yang berkunjung ke Candi Prambanan.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Tag. : Prambanan, Candi Prambanan, Relief Candi Prambanan, Misteri Relief Candi Prambanan, Misteri Relief Candi, Candi, Wisata Candi, Wisata Prambanan,

Friday, September 27, 2019

Candi Prambanan, Sejarah Proses Pemugaran yang Panjang


Salah satu candi terbesar di Indonesia adalah Candi Prambanan selain Candi Borobudur.  Komplek Candi Hindu Perambanan atau disebut  juga sebagai Candi Roro Jonggrang  di bangun pada tahun 850 Masehi  oleh Raja Balitung Maha Sambu dari Wangsa Sanjaya.  Nama asli Candi Prambanan adalah Candi  Siwagrha, berdasarkan Prasasti Siwagrha. Pembangunan Candi Prambanan ini setelah seabad pembangunan Candi Borobudur oleh Samaratungga, Raja Mataram Kuno.

Sejatinya belum dapat dipastikan kapan pembangunan Candi Prambanann dilakukan bisa jadi pembangunan yang dilakukan lebih tua dari 850 Masehi. Perkiraan ini berdasarkan adanya Prasasti Siwagrha yang  tersimpan di Musium Nasional di Jakarta. Di dalam Prasasti Siwagrha ada tulisan angka tahun 778 Saka atau  856 Masehi yang diklaim para sejarawan sebagai tahun penulisannya. Pembuatan prasasti tersebut atas perintah Rakai Pikatan, salah satu Raja Medang Mataram.

Candi Prambanan
Puncak Candi Siwa di Komplek Candi Prambanan
Rakai Pikatan dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku  yang menjadi raja ke-6 dari Kerajaan Medang periode Jawa Tengah. Raja ini bertahta dari tahun  840 masehi  sampai tahun 856 masehi. 
Demikian panjangnya masa pembangunan Candi Prambanan sehingga pembangunan itu diteruskan oleh anak Rakai Pikatan yang kemudian menjadi raja selanjutnya dari Medang Mataram, yaiut Balitung Maha Sambu yang menjadi raja ke-7 dari Kerajaan Medang dan sekaligus raja ke-2 dari Kerajaan gabungan Medang Mataram.

Candi Prambanan
Seorang turis sedang turun dari Candi Siwa di Komplek Candi Prambanan

Rakai Pikatan memperistri seorang Ratu dari kerajaan yang  Mataram Kuni yang bernama Pramodhawardhani yang saat itu sebagai putri Mahkota karena tidak mempunyai seudara lelaki kandung keturunan dari  Raja Mataram Kuno, Samaratungga dari dinasti Syailendra.  Wangsa Sailandra inilah yang membangun Candi Borobudur.

Posisi kompleks candi ini terletak di tengah-tengah antara  DI  Yogyakarta  dan Jawa Tengah, yaitu antara Kabupaten Sleman,  Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Provinsi  Jawa Tengah.  Letak Candi Prambanan berada di dua kecamatan dengan nama yang sama yaitu Kecamatan Prambanan  Provinsi Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan yang  masuk nomenklatur Jawa Tengah.

Candi Prambanan
Area spot photo  terbaik untuk mendapatkan gambar keseluruhan Candi Prambanan

Secara administrasi Komplek Prambanan berada di dua desa  yaitu;  Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman dan Desa Tiogo, Kecamatan Prambanan, Kabupten Klaten.  Komplek Candi Prambanan berjarak sekitar 17 Km dari Kota Yogyakarta yang berada di timur, dan  berjarak 120 km ke arah Kota Semarang yang berada di selatan.

Candi Prambanan
Gerbang Candi Siwa
Di salah satu komplek Candi Prambanan ada Candi yang paling besar yaitu Candi Siwa, kemudian ada candi yang berdiri disekitarnya yang lebih kecil dari Candi Siwa, yaitu  Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Wahana, Candi Apit, Candi Kelir dan Candi Patok. Masing-masing candi tentu ada riwayat etimologis dan filosopisnya. Semua candi yang ditengah dilingkari oleh Candi Perwara yang mengelilingi seluruh penjuru mata angin. Sayangnya sampai saat ini baru 2 buah saja yang selesai dipugar dari sejumlah 224 candi.

Bahan utama pembuatan Candi Prambanan adalah batu andesit untuk bagian luar, atas dan dinding. Batu andesit didapatkan dari gunung atau perbukitan. Batu andesit berwarna hitam dan sangat keras, kuat dan tahan terhadap perubahan iklim. Batu andesit juga digunakan di Candi Borobudur.

Sedangkan untuk fondasi dan struktur tulang utama menggunakan batu putih. Proses  penyatuan struktur candi dengan menggunakan kunci-kunci dari batu itu sendiri yang saling mengait. Proses penyatuan sama sekali tidak menggunakan sejenis semen atau tanah, semua ikan atas kekuatan interlock.

Candi Prambanan di Bangun dengan Teknologi Tinggi

Candi Prambanan
Candi Prambanan memiliki konstruksi yang detail dan sulit. Petunjuk penggunaan teknologi yang sudah tinggi.

Melihat dari konstruksi dan arsitekturnya candi yang terindah di Asia Tenggara itu demikian rumit dan canggih.  Jelas pembangunan Candi Prambanan dilakukan oleh orang-orang yang sangat ahli pada masa itu. Kecil kemungkinan hanya dilakukan oleh rakyat biasa.

Candi Prambanan
Relief pada dinding-dinding candi yang rumit seakan dicetak dengan teknologi 3D

Dilihat dari presisi bentuk-bentuk bangunan yang tepat, hitungan matematis arsitektur, relief yang detail dan berdasarkan kisah-kisah sejarah, dan banyaknya jumlah candi-candi yang mengitari candi utamanya, yaitu Candi Siwa. Bisa diperkirakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pengembangan konstruksi candi saat itu sudah memiliki teknologi yang mumpuni. Ini bukti bahwa budaya kita pada masa lalu sudah sangat tinggi.

Hal yang belum dapat dijelaskan juga mengenai bagaimana para pembuat candi menyusun batu-batu itu sehingga terkait dan interlock antar satu dan lainnya, seperti menyusun sebuah puzzle yang sulit. Ini bahkan lebih sulit dari puzzle karena melibatkan jumlah batu yang sangat banyak. Satu lagi pertanyaan kita mengenai bagaimana memindahkan batu-batu berat pada posisi-posisi tinggi dipuncak-puncak candi.

Sebagai gambaran  arca Agastya atau yang disebut juga Syiwa Mahaguru adalah batu tunggal yang tingginya 5 meter. Bagaimana menempatkan batu besar ini pada puncaknya pada masa lalu?  Sedangkan pada masa pemugaran saja harus menggunakan alat berat sejenis eskapator untuk mengangkatnya. Ini tentu dilakukan bukan oleh rakyat biasa tetapi para ahli bangunan yang sudah canggih pada masa itu.


Candi Prambanan Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Candi Prambanan masuk sebagai  Situs Warisan Dunia UNESCO dan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.  Arsitektur bangunan candi Prambanan yang luar biasa sulit dan artistic menunjukkan kemajuan ilmu arsitek pada masa itu.  Candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter  yang menjadi sentral dari candi-candi lainnya yang berada di sekitarnya.  Candi termegah di Asia Tenggara menjadi  daya tarik wisatawan  dari manca Negara.

Candi Prambanan
Gerbang keluar komplek Prambanan dphoto dari taman hijau

Penemuan Awal Candi Prambanan

Penemuan dan mulai dipugarnya memang tidak terlepas dari peran bangsa Belanda  dan Inggris yang pada waktu masa itu menjadi penguasa di Nusantara. Awal  penemuannya pada tahun 1733  oleh CA. Lons seorang pegawai VOC Belanda saat menjalankan tugas dari Gubernur Coyet untuk menjadi asisten dalam perjalanan dari Semarang ke Kartasura untuk melakukan pertemuan di Keraton Mataram.

Kondisi awal penemuan candi masih sulit untuk melihat secara jelas karena banyak tertutup oleh tanah, abu gunung, pasir dan semak-semak belukar yang sangat lebat.  Tetapi posisi batuan-batuan yang terlihat berbentuk dan sistematis menunjukkan bahwa itu adalah sebuah bangunan candi.

Penemuan ini sangat menarik perhatian dunai dan jadi perhatian banyak pihak setelah Inggris Raya menguasai beberapa wilayah Jawa yang dipercayakan oleh Ratu Inggris ke Thomas Stamford Raffles  sebagai  Gubernur Jenderal Inggris untuk Pulau Jawa pada tahun 1811.

Informasi mengenai  penemuan runtuhan candi Prambanan  membuat  Thomas Stamford Raffles  penasaran dan ingin mendapatkan informasi mengenai keberadaan penemuan candi-candi yang sangat bersejarah itu.  Raffles  mengirimkan surveyor yang bernama Colin Mackenzie untuk melihat komplek penemuan candi secara langsung. Serta Raffles juga meminta untuk segera melakukan berbagai tahapan penelitian dan eskavasi.

Banyak Batu-Batu Candi Prambanan yang Hilang

Sayangnya masa Inggris tidak lama dan kembali ke Hindia Belanda, sehingga berpuluh-puluh tahun belum ada  penyelidikan dan eskapasi, tepatnya bahkan sampai tahun 1864. Apalagi sampai pada tahap restorasi candi. Pada masa penjajahan Belanda ini juga terjadi praktek penjarahan batu candi, ukiran. relief dan araca-arca.

Batu-batu asli runtuhan candi itu juga diletakkan sembarangan bahkan yang paling parah pada masa  Isaäc Groneman yang meletakkan batu-batu itu secara sembarangan di Kali Opak yang berada di wilayah selatan dari reruntuhan candi.

Pada masa  ini banyak sekali arca-arca yang hilang diambil oleh bangsa Belanda untuk dibawa ke Nederland atau hanya sekedar hiasan untuk dipajang ditaman. Warga-warga sekitar juga ada yang menjadikan batu candi ini sebagai fondasi rumah atau keperluan lainnya.

Permulaan Ekskavasi dan Pemugaran Candi  Prambanan

Saat kondisi runtuhan batu candi semakin memprihatinkan N.W. Hoepermans melaporkan beberapa kejadian terkait hilang dan semakin berkurangnya batu-batu di komplek candi Prambanan. Bahkan ada temuan penggunaan batu-batu itu untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan ekskavasi. Laporan ini disambut oleh Gubernur Jendral di Batavia untuk membentuk nomenklatur jawatan arkeologi.

Akhirnya pada tahun 1918 jawatan yangt bernama Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) dibentuk yang operasionalnya di percayakan kepada  P.J. Perquin. Barulah pemugaran dalam usaha untuk mengembalikan ujudnya kembali seperti semula baru mulai dilakukan, tetapi belum menggunakan metode yang sistematis pada umumnya pemugaran dilakukan.

Candi Prambanan
Runtuhan candi Prambanan yang belum sempat di pugar

Pemugaran yang serius dan sistematis dimulai pada tahun 1926 oleh De Haan. Sayang tahun 1930 De Han meninggal sehingga pemugaran sempat terhenti sejenak yang kemudian dilanjutkan oleh Ir. V.R. van Romondt   pada tahun 1931 sampai dengan 1942.

Candi Prambanan
Pemugaran sebagian Komplek Candi Prambanan masih belum selesai

Setelah Jepang masuk dan berkuasa di Tanah Air, kondisi pemugaran berubah total. Untungnya Nippon masih mendukung pemugaran tersebut yang dilakukan oleh kalangan putra Indonesia sendiri. Sampai akhirnya pada tahun 1945 Jepang keluar.

Pemerintah Hindia Belanda melalui Dinas Kebudayaan Hindia-Belanda meneruskan proses pemugaran sampai tahun 1949.  Pada tahun 1950 proses  pemugaran kembali dilakukan oleh bangsa kita sendiri yang dilakukan secara bertahap sampai sekarang ini.  Saat ini Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta melakukan pemugaran Candi Perwara di kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta.

Kemampaun para ahli arkeolog Indonesia dalam proses pemugaran candi sudah diakui dunia, sebagai buktinya dalam proses pemugaran Angkor Wat di Kamboja dipercaya untuk ikut dalam  proses pemugaran tersebut. Teknik pemugaran manual yang biasa digunakan oleh ahli di Indonesia juga dianggap cukup aman dan tidak merusak situs bersejarah.

Candi Prambanan
Wisatawan Candi Prambanan tidak tergangu dengan proses pemugaran yang terus berjalan


Perluasan Area Cagar Sejarah Candi Prambanan

Pada masa Presiden Soeharto keluar kebijakan untuk memperluas area cagar sejarah agar kondisi situs dapat lebih terjaga dan menjadikan komplek Prambanan sebagai destinasi wisata yang menarik dan rapi. Pelaksanaan perluasan dimulai tahun 1990 dengan memindahkan pemukiman, pasar dan kawasan persawahan ke tempat lain.  Sehingga luas komplek Candi Prambanan menjadi  39,8 ha. 

Untuk menjadikan area Komplek Candi Prabanan lebih menarik dan enak untuk menjadi kawasan wisata maka dibuat jug a taman-taman hijau.  Sekaligus untuk memberikan kesempatan berusaha kepada penduduk sekitarnya dengan menjual souvenir Pemerintah juga membangun  pusat penjualan l souvenir dan lain-lain di dalam Komplek Prambanan dengan penataan yang terpisah dari lokasi cagar.

Spot Wisata Dalam Komplek Prambanan

Salah satu fasilitas yang menarik untuk keliling komplek candi yang luas kita bisa menggunakan mobil yang sudah dimodifikasi seperti kereta wisata.  Dengan kereta wisata ini kita dapat melihat area dan candi-candi yang letaknya sangat jauh dari gerbang masuk dan juga dari area utama candi. Harga tiket untuk naiknya hanya Rp. 10.000,-.

Untuk berkeliling kita juga bisa menggunakan sepeda yang sudah tersedia sepeda sewaan di dalam komplek dengan biaya sewa Rp. 20.000,-.  Kalau kita ingin mengambil spot photo untuk melihat candi-candi lain maka paling cocok menggunakan sepeda ini karena lebih praktis dan fleksibel, berbeda dengan menggunakan kereta wisata yang hanya memambil photo dari dalam kendaraan saja.

Bagi yang suka mendalami sejarah dan ingin tahu lebih jauh mengenai sejarah Candi Prambanan, didalam komplek ini juga ada Musium Candi Prambanan. Di dalamnya banyak koleksi-koleksi peninggalan Candi Prambanan dan juga  Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. 

Kalau anda ingin mendapatkan wisata budaya berupa tari dan teatrikal maka nonton Sendratari Ramayana didalam komplek ini sangat menarik.  Pementasan dimulai pada pukul 20.00 – 22.00 WIB yang digelar pada panggung terbuka Trimurti.

Photografer : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Referensi :
- kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tag: Candi Prambanan, Sejarah Candi, Prambanan, wisata prambanan, pemugaran Candi Prambanan, pemugaran candi

Thursday, March 22, 2012

Candi Prambanan di Sleman Yogyakarta, Warisan Budaya Dunia

 
Kalau kita bosan dengan wisata alam dan ingin mendapatkan inspirasi dari budaya dan sejarah kita. Ayo kita wisata ke Candi Prambanan yang ada di antara Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Kita bisa menyaksikan sejarah masa lalu bangsa Indonesia dengan hasil karyanya yang masih dapat kita lihat sampai saat ini.

Candi Prambanan bisa menjadi bukti mahakarya kebudayaan bangsa kita pada masa abad ke-10. Arsitektur bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi. Candi ini terletak di Kabupaten Sleman, Jawa Tengah, dekat dengan DI Yogyakarta. Untuk mencapai kesana dari Yogyakarta hanya diperlukan waktu 20 menit saja.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Candi ini mempunyai nama lain yaitu Candi Rara Jonggrang. Kompleks Prambanan merupakan bagian dari candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa sansekerta yang bermakna: 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Candi ini terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia


Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia. Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling bersaing; yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu dan wangsa Sailendra penganut Buddha.

Pastinya, dengan dibangunnya candi ini menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendra cenderung lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia


Tahap awal pembangunan dimulai pada tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan dewa Siwa, dan nama asli bangunan ini dalam bahasa sansekerta adalah Siwagrha (sansekerta:Shiva-grha yang berarti: 'Rumah Siwa') atau Siwalaya (Sansekerta:Shiva-laya yang berarti: 'Ranah Siwa' atau 'Alam Siwa').

Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha tengah berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai di dekat candi ini.

Sungai yang dimaksud adalah sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat kompleks candi Prambanan. Sejarawan menduga bahwa aslinya aliran sungai ini berbelok melengkung ke arah timur, dan dianggap terlalu dekat dengan candi sehingga erosi sungai dapat membahayakan konstruksi candi.

Proyek tata air ini dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru yang memotong lengkung sungai dengan poros utara-selatan sepanjang dinding barat di luar kompleks candi. Bekas aliran sungai asli kemudian ditimbun untuk memberikan lahan yang lebih luas bagi pembangunan deretan candi perwara (candi pengawal atau candi pendamping).

Candi Prambanan
Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Beberapa arkeolog berpendapat bahwa arca Siwa di garbhagriha (ruang utama) dalam candi Siwa sebagai candi utama merupakan arca perwujudan raja Balitung, sebagai arca pedharmaan anumerta beliau. Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari "Para Brahman", yang mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana.

Kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, seperti raja Daksa dan Tulodong, dan diperluas dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Karena kemegahan candi ini, candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram, tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan.

Candi Prambanan Warisan Budaya Dunia

Pada masa puncak kejayaannya, sejarawan menduga bahwa ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan upacara Hindu. Sementara pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram diduga terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.


Di dalam komplek Candi Prambanan ini dimulai dari pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:

3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68

Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan.[12] Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan. Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.

Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yan terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya. Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui; kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana dan murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan yang berdiri di halaman terluar ini terbuat dari bahan kayu, sehingga sudah lapuk dan musnah tak tersisa.

Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Tiga candi utama disebut Trimurti dan dipersembahkan kepadantiga dewa utama Trimurti: Siwa sang Penghancur, Wisnu sang Pemelihara dan Brahma sang Pencipta. Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter.

Dibalik kemegah seni bangunan Prabanan terdapat legenda yang melatarbelakanginya. Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam.


Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Tiket masuk ke komplek Prabanan ini dibedakan antara wisatawan lokal dengan mancanegara. Untuk wisatawan lokal tiket masuk sebesar Rp. 30.000,- untuk dewasa, dan Rp. 12.500,- untuk anak-anak. Sedangkan untuk mancanegara dikenakan tiket masuk US$10. Objek wisata ini dibuka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB.

Photografer : Azzahra R.

Saturday, March 3, 2012

Candi Gedong Songo di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah



Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi.

Candi Gedong Songo, yang berarti sembilan candi dengan lokasi yang paling tinggi adalah candi dengan angka paling besar.

Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).

Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C).

Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi yang terletak di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1200 – 1800 meter diatas permukaan laut ini memang sangat unik. Pada awalnya disebut Gedong Pitoe karena pertama kali ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh bangunan candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi walaupun dalam keadaan tidak utuh. Candi-candi yang terbuat dari batu andesit tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala, yaitu candi I & II dipugar tahun 1928 – 1929, sedangkan candi III, IV, V dipugar tahun 1977 – 1983.

Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.



Gunung Ungaran adalah gunung berapi dengan ketinggian 2.050 meter, gunung ini adalah gunung tinggi pertama yang dilihat pengendara dari Semarang ke arah selatan, di sisi kanan (barat). Menurut catatan-catatan sejarah, nama-nama lain gunung ini adalah Karundungan.



Untuk menempuhnya, diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam (rata-rata mencapai 40 derajat). Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Untuk menempun Candi Gedong Songo ini jarak yang ditempuh sekitar 25 km dari kota Ambarawa.




Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi yang terletak di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1200 – 1800 meter diatas permukaan laut ini memang sangat unik. Pada awalnya disebut Gedong Pitoe karena pertama kali ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh bangunan candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi walaupun dalam keadaan tidak utuh. Candi-candi yang terbuat dari batu andesit tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala, yaitu candi I & II dipugar tahun 1928 – 1929, sedangkan candi III, IV, V dipugar tahun 1977 – 1983.






Lokasi Candi Gedong Songo di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Translate