Tuesday, September 17, 2019

Batik Yogyakarta dalam Bingkai Filosofis Budaya Jawa

 

Batik Yogyakarta merupakan salah satu ikon dari Kota Yogyakarta. Sayang rasanya kalau ke Yogya tetapi tidak beli batik.  Apalagi keluarga dan teman di rumah mau oleh-oleh.  Oleh-oleh batik Yogya tepat rasanya. Selain untuk oleh-oleh batik juga untuk keperluan sendiri, karena sekarang batik banyak digunakan untuk pakaian kerja, bukan sekedar untuk pesta saja. Kain batik telah menjadi salah satu cirri dari komunitas dan daerah yang penting.  Identitas tradisional ini telah lama ada.

Batik, Batik Yogya
Seorang Pengrajin Batik yang sedang menulis batik secara tradisional
Dalam budaya Jawa istilah batik berasal  dari suku kata tik. Kata tik merujuk pada titik-titik yang pada saat proses pembuatan batik tradisional dengan tangan yang halus, lembut, dan detil.  Kata menitikkan ini juga tentu sebuah kerja yang harus menggunakan sebuah alat yang bisa menitikkan. Alat itu disebut canting yang dibagian dalamnya ada bahan tinta  pewarna. Setelah bahan tersebut habis maka canting dicelupkan lagi ke sebuah sejenis mangkuk yang berisi pewarna batik yang terus dipanaskan dengan kompor kecil.
Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogyakarta di jalan Malioboro
Membatik memerlukan sebuah ketekunan dan kesabaran untuk memberikan corak pada seluruh permukaan kain. Membatik bukan hanya sekedar seni tetapi juga sebuah pengungkapan perasaan dari rasa para seniman pembatik. Semua goresan dan titik-titik atau pewarnaan itu sangat terpengaruh oleh sebuah “rasa” yang dari Si Pembatik.

Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogya berada ditengah alun-alun jalan Malioboro
Pembatik biasanya duduk di sebuah bangku pendek atau yang disebut “dingklik” dan duduk sangat lama untuk menyelesaikan sebuah produksi seni batik purna rupa.

Keistimewaan membatik adalah banyak para ibu yang berusia yang sudah cukup tua tetapi sangat produktif untuk menghasilkan seni batik.

Kota Yogyakarta adalah satu satu dari pusat kebudayaan batik  Jawa. Sebenarnya ada banyak kota di Jawa yang memiliki corak dan warna sendiri dari batiknya, tetapi bisa dikatakan Yogyakarta adalah pusat perdagangan batik Yogyakarta. Faktor utama yang memudahkan masyarakat Yogya menjual batiknya adalah karena Yogyakarta termasuk destinasi wisata yang sangat  menarik.

Batik, Batik Yogya
Tempat penjualan batik Yogya di Malioboro
Batik Yogyakarta walau memiliki kekhasan tetapi juga cukup  memiliki variasi yang sangat meragam.  Kalau kita datang ke berbagai pusat penjualan batik maka akan terasa banyaknya variasi itu. Hal ini menunjukkan dinamika yang ada di kota Gudeg ini, tetapi dinamika itu tetap masih memiliki ciri dan kekhasan yang cukup menonjol, yaitu: penggunaan warga hitam, putih dan coklat yang dominan, tetapi kadang-kadang juga ada campuran sedikit biru tua.  Ciri lain yang menonjol adalah penggunaan relief dari bentuk-bentuk tumbuhan.

Batik Yogyakarta juga termasuk batik yang pengerjaannya masih tradisional tulis tangan dengan alat canting. Para pemburu batik justru masih mencari batik yang pengerjaannya dengan cara yang tradisional. Selain terlihat lebih original sebagai sebuah seni membatik, batik asli tulis tangan juga terlihat otentik dan berkelas.
Batik, Batik Yogya
Pasar Bringharjo yang menjadi pusat penjualan batik Yogya

Hal yang dicari para pencari batik dari batik Yogya juga adalah harganya yang relative lebih murah dibandingkan dengan batik dari kota lain di Jawa.  Pasar-pasar di Kota Yogya  baik pasar tradisional maupun pasar modern berupa mall tidak ada yang sepi dari perdagangan batik.  Batik bagi m asyarakat Yogyakarta tidak sekedar ikon tetapi sebuah semangat untuk meningkatkan  perekonomian dan taraf hidup.
Secara umum motif dan gaya dari batik Yogya terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:

Motif Kawung

Motif kawung termsuk motif yang umum pada batik Yogya, Mitif berbentuk bulatan-bulatan yang konsisten seperti  buah-buah  Kawung.  Buah kawung  adalah buah sejenis buah kelapa yang biasanya digunakan  untuk membuat bahan kolang kaling.  Motif kawung biasanya berupa kain panjang yang banyak digunakan untuk selendang atau kerudung.

Motif Parang

Motif parang ada dua macam yaitu motif parang rusak dan parang barong.  Parang rusak maksudnya perlawanan manusia dengan  cara mengendalikan kejahatan, sehingga kejahatan bisa berubah menjadi bentuk kemuliaan dan juga kebijaksanaan.

Untuk motif parang barong yang memiliki arti agar seorang pemimpin menjaga hatinya dan menjadi penguasa yang jujur, adil dan bijaksana. Seorang pemimpin harus welas asih dan penuh tanggungjawab terhadap rakyatnya.

Motif Batik Tambal

Motif batik tambal terkait dengan kepercayaan akan kekuatan magis batik. Kata tambal artinya menyembuhkan  dan atau memperbaiki (recovery).  Dalam budaya Jawa ada kepercayaan  dan harapan orang yang menggunakan batik tambal akan sembuh penyakitnya.  Tentu ini kaitannya dengan filosofis untuk menjaga semangat dan harapan untuk sembuh dan  tetap hidup optimis.

Motif Truntum

Motif batik truntum maksudnya adalah sejenis batik kasik  yang tergolong langka yang sampai sekarang masih terus dilestarikan.  Motif batik truntum biasa digunakan dalam acara-acara  pernikahan.  Batik motif truntum melambangkan harapan agar cinta dan kasih sayang  kedua  mempelai  yang sedang menikah dapat terjaga dan terus berbahagia bersama.

Sebenarnya ada banyak lagi jenis motif lainnya seperti  motif parang rusak gendreh, parang rusak klitik, semen gede swat gurda, semen gede swat lar, udan liris, rujak sente, dan parang-parangan.  Ada beberapa motif yang secara aturan tidak boleh digunakan untuk umum tetapi bersifat khusus dan spesial digunakan oleh Sultan dan keluarga keraton Yogyakarta. Tetapi untuk saat ini aturan itu sudah semakin luwes dan hanya dilingkungan Keraton Yogya saja dan tidak diberlakukan untuk masyarakat umum.

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdvanture.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Key. : Batik, Batik Yogya, batik yogyakarta, yogyakarta

Terima kasih sudah membaca: Batik Yogyakarta dalam Bingkai Filosofis Budaya Jawa
Share ke :
No comments:
Write comments

Translate