Thursday, September 17, 2020

Yogyakarta Batik Cloth, Art and Cultural Heritage in Javanese Philosopy

Batik is one of the fabrics that has a long history and is an important part of the culture of Indonesian society. One of the famous types of batik is batik which comes from the city of Yogyakarta which is a city of culture and arts.

Yogyakarta batik is one of the icons of the city of Yogyakarta. It's a shame if you go to Yogya but don't buy batik. Moreover, family and friends at home want souvenirs. Yogya batik souvenirs taste just right. In addition to souvenirs, batik is also for personal needs, because now batik is widely used for work clothes, not just for parties. Batik cloth has become one of the characteristics of an important community and region. This traditional identity has been around for a long time.

Batik, Batik Yogya
A Batik Craftsman who is writing traditional batik

In Javanese culture, the term batik comes from the tik syllable. The word tik refers to the points during the process of making traditional batik with delicate, soft, and detailed hands. The word drip is certainly a work that must use a tool that can drip. The tool is called a "canting" which contains dye ink on the inside. After the ingredients run out, the canting is dipped again in a kind of bowl containing batik dye which is continuously heated on a small stove.

Batik, Batik Yogya
Yogyakarta Batik Monument on Malioboro Street

Making batik requires perseverance and patience to give a pattern to the entire surface of the fabric. Making batik is not only an art but also an expression of the feelings of the batik artists. All scratches and dots or coloring are very affected by a "taste" from the Batik maker.

Batik, Batik Yogya
The Yogya Batik Monument is in the middle of the Malioboro street square

Batik makers usually sit on a short stool or what is called “dingklik” and sit for a very long time to complete a complete batik art production. The specialty of making batik is that many mothers are old enough but very productive to produce batik art.

Yogyakarta City is one of the centers of Javanese batik culture. Actually, there are many cities in Java that have their own hues and colors of their batik, but it can be said that Yogyakarta is the center of Yogyakarta's batik trade. The main factor that makes it easier for the people of Yogya to sell their batik is because Yogyakarta is a very attractive tourist destination.

Batik, Batik Yogya
Tempat penjualan batik Yogya di Malioboro

 

 

   

Although Yogyakarta batik has its own uniqueness, it also has quite a wide variety of variations. If we come to various batik sales centers, we will feel the many variations. This shows the dynamics that exist in the city of Gudeg, but the dynamics still have quite prominent characteristics and peculiarities, namely: the dominant use of black, white and brown residents, but sometimes there is also a mixture of a little dark blue. Another prominent feature is the use of reliefs from plant forms.

Yogyakarta batik is also a type of batik whose work is still traditionally handwritten with a canting tool. Batik hunters are still looking for batik that is done in a traditional way. Besides looking more original as an art of batik, handwritten original batik also looks authentic and classy.

Batik, Batik Yogya
Pasar Bringharjo yang menjadi pusat penjualan batik Yogya


What batik seekers are looking for from Yogya batik is also that the price is relatively cheaper than batik from other cities in Java. The markets in Yogya City, both traditional and modern markets, in the form of malls, are not devoid of the batik trade. Batik for the people of Yogyakarta is not just an icon but a spirit to improve the economy and standard of living.

In general, the motifs and styles of Yogya batik are divided into several groups, namely:

Kawung Motif

The kawung motif includes the motifs common to Yogya batik. Mitif takes the form of consistent spheres like Kawung fruits. Kawung fruit is a type of coconut fruit which is usually used to make kolang kaling material. Kawung motif is usually a long cloth that is widely used for scarves or headscarves.

Parang Motif

There are two kinds of parang motifs, namely the damaged parang and the barong machete. Broken machetes means human resistance by controlling evil, so that evil can turn into a form of glory and wisdom.

For the barong machete motif which means that a leader will guard his heart and become an honest, fair and wise ruler. A leader must be compassionate and full of responsibility towards his people.

Batik Tambal Motif

The patched batik motif is related to the belief in the magical power of batik. The word patch means to heal and or repair (recovery). In Javanese culture there is a belief and hope that people who use patched batik will recover their illness. Of course this has to do with philosophy to maintain enthusiasm and hope to recover and live optimistically.

Truntum Motif

Truntum batik motif means a type of kasik batik which is classified as rare which is still preserved until now. Truntum batik motif is commonly used in weddings. Truntum motif batik symbolizes the hope that the love and affection of the two married brides can be maintained and continue to be happy together.

In fact, there are many other types of motifs such as the motif of the parang damaged gendreh, the parang damaged klitik, the big cement swat gurda, the big cement swat lar, the udan liris, the rujak sente, and the parang-parangan. There are several motifs that are not allowed to be used by the public but are special and special for the Sultan and the Yogyakarta palace family. But for now, this regulation has become more flexible and only applies to the Yogyakarta Palace and does not apply to the general public.

TheIndonesiaAdvanture.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Key. : Yogyakarta, culture, batik art, batik clothes, cloth, batik, Yogyakarta batik

Tuesday, September 17, 2019

Batik Yogyakarta dalam Bingkai Filosofis Budaya Jawa

 
Batik Yogyakarta merupakan salah satu ikon dari Kota Yogyakarta. Sayang rasanya kalau ke Yogya tetapi tidak beli batik.  Apalagi keluarga dan teman di rumah mau oleh-oleh.  Oleh-oleh batik Yogya tepat rasanya. Selain untuk oleh-oleh batik juga untuk keperluan sendiri, karena sekarang batik banyak digunakan untuk pakaian kerja, bukan sekedar untuk pesta saja. Kain batik telah menjadi salah satu cirri dari komunitas dan daerah yang penting.  Identitas tradisional ini telah lama ada.

Batik, Batik Yogya
Seorang Pengrajin Batik yang sedang menulis batik secara tradisional
Dalam budaya Jawa istilah batik berasal  dari suku kata tik. Kata tik merujuk pada titik-titik yang pada saat proses pembuatan batik tradisional dengan tangan yang halus, lembut, dan detil.  Kata menitikkan ini juga tentu sebuah kerja yang harus menggunakan sebuah alat yang bisa menitikkan. Alat itu disebut canting yang dibagian dalamnya ada bahan tinta  pewarna. Setelah bahan tersebut habis maka canting dicelupkan lagi ke sebuah sejenis mangkuk yang berisi pewarna batik yang terus dipanaskan dengan kompor kecil.
Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogyakarta di jalan Malioboro
Membatik memerlukan sebuah ketekunan dan kesabaran untuk memberikan corak pada seluruh permukaan kain. Membatik bukan hanya sekedar seni tetapi juga sebuah pengungkapan perasaan dari rasa para seniman pembatik. Semua goresan dan titik-titik atau pewarnaan itu sangat terpengaruh oleh sebuah “rasa” yang dari Si Pembatik.

Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogya berada ditengah alun-alun jalan Malioboro
Pembatik biasanya duduk di sebuah bangku pendek atau yang disebut “dingklik” dan duduk sangat lama untuk menyelesaikan sebuah produksi seni batik purna rupa.

Keistimewaan membatik adalah banyak para ibu yang berusia yang sudah cukup tua tetapi sangat produktif untuk menghasilkan seni batik.

Kota Yogyakarta adalah satu satu dari pusat kebudayaan batik  Jawa. Sebenarnya ada banyak kota di Jawa yang memiliki corak dan warna sendiri dari batiknya, tetapi bisa dikatakan Yogyakarta adalah pusat perdagangan batik Yogyakarta. Faktor utama yang memudahkan masyarakat Yogya menjual batiknya adalah karena Yogyakarta termasuk destinasi wisata yang sangat  menarik.

Batik, Batik Yogya
Tempat penjualan batik Yogya di Malioboro
Batik Yogyakarta walau memiliki kekhasan tetapi juga cukup  memiliki variasi yang sangat meragam.  Kalau kita datang ke berbagai pusat penjualan batik maka akan terasa banyaknya variasi itu. Hal ini menunjukkan dinamika yang ada di kota Gudeg ini, tetapi dinamika itu tetap masih memiliki ciri dan kekhasan yang cukup menonjol, yaitu: penggunaan warga hitam, putih dan coklat yang dominan, tetapi kadang-kadang juga ada campuran sedikit biru tua.  Ciri lain yang menonjol adalah penggunaan relief dari bentuk-bentuk tumbuhan.

Batik Yogyakarta juga termasuk batik yang pengerjaannya masih tradisional tulis tangan dengan alat canting. Para pemburu batik justru masih mencari batik yang pengerjaannya dengan cara yang tradisional. Selain terlihat lebih original sebagai sebuah seni membatik, batik asli tulis tangan juga terlihat otentik dan berkelas.
Batik, Batik Yogya
Pasar Bringharjo yang menjadi pusat penjualan batik Yogya

Hal yang dicari para pencari batik dari batik Yogya juga adalah harganya yang relative lebih murah dibandingkan dengan batik dari kota lain di Jawa.  Pasar-pasar di Kota Yogya  baik pasar tradisional maupun pasar modern berupa mall tidak ada yang sepi dari perdagangan batik.  Batik bagi m asyarakat Yogyakarta tidak sekedar ikon tetapi sebuah semangat untuk meningkatkan  perekonomian dan taraf hidup.
Secara umum motif dan gaya dari batik Yogya terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:

Motif Kawung

Motif kawung termsuk motif yang umum pada batik Yogya, Mitif berbentuk bulatan-bulatan yang konsisten seperti  buah-buah  Kawung.  Buah kawung  adalah buah sejenis buah kelapa yang biasanya digunakan  untuk membuat bahan kolang kaling.  Motif kawung biasanya berupa kain panjang yang banyak digunakan untuk selendang atau kerudung.

Motif Parang

Motif parang ada dua macam yaitu motif parang rusak dan parang barong.  Parang rusak maksudnya perlawanan manusia dengan  cara mengendalikan kejahatan, sehingga kejahatan bisa berubah menjadi bentuk kemuliaan dan juga kebijaksanaan.

Untuk motif parang barong yang memiliki arti agar seorang pemimpin menjaga hatinya dan menjadi penguasa yang jujur, adil dan bijaksana. Seorang pemimpin harus welas asih dan penuh tanggungjawab terhadap rakyatnya.

Motif Batik Tambal

Motif batik tambal terkait dengan kepercayaan akan kekuatan magis batik. Kata tambal artinya menyembuhkan  dan atau memperbaiki (recovery).  Dalam budaya Jawa ada kepercayaan  dan harapan orang yang menggunakan batik tambal akan sembuh penyakitnya.  Tentu ini kaitannya dengan filosofis untuk menjaga semangat dan harapan untuk sembuh dan  tetap hidup optimis.

Motif Truntum

Motif batik truntum maksudnya adalah sejenis batik kasik  yang tergolong langka yang sampai sekarang masih terus dilestarikan.  Motif batik truntum biasa digunakan dalam acara-acara  pernikahan.  Batik motif truntum melambangkan harapan agar cinta dan kasih sayang  kedua  mempelai  yang sedang menikah dapat terjaga dan terus berbahagia bersama.

Sebenarnya ada banyak lagi jenis motif lainnya seperti  motif parang rusak gendreh, parang rusak klitik, semen gede swat gurda, semen gede swat lar, udan liris, rujak sente, dan parang-parangan.  Ada beberapa motif yang secara aturan tidak boleh digunakan untuk umum tetapi bersifat khusus dan spesial digunakan oleh Sultan dan keluarga keraton Yogyakarta. Tetapi untuk saat ini aturan itu sudah semakin luwes dan hanya dilingkungan Keraton Yogya saja dan tidak diberlakukan untuk masyarakat umum.

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdvanture.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Key. : Batik, Batik Yogya, batik yogyakarta, yogyakarta

Translate