Monday, December 9, 2019

Becak di Yogya, Keberadaannya Menjadi Ciri Wisata Yogyakarta

 
Kota Yogyakarta Istimewa telah menjadi tag line wisata yang menguat dalam beberapa tahun terakhir. Istimewa karena Kota Yogyakarta termasuk daerah istimewa secara nomenklatur pemerintah daerah, tetapi juga istimewa secara budaya dan tradisinya. Salah satu keistimewaan Yogya adalah keberadaan becak disana.
Salah satu pengayuh becak di Yogya

Provinsi yang mendapat penghargaan dengan katagori sebagai daerah yang kondisi penduduknya paling bahagia ini memberikan keistimewaan pada moda transportasi becak, karena keberadaan becak yang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat juga memberikan daya tarik sendiri bagi pariwisata Yogyakarta.
Becak sedang mangkal di jalan Malioboro Yogyakarta
Salah satu lokasi mangkal para Mas-Mas Pengayuh Becak adalah di jalan Malioboro. Destinasi wisata favorit ini mempertahankan keberadaan becak dan telah menjadi satu dalam ragam pariwisata kota Yogyakarta. Para wisatawan sangat menikmati becak untuk berkeliling kota Yogya dengan santai dan dapat melongok ke area-area  padat  kota Yogya dengan harga relatif murah.

Keberadaan becak-becak di kota wisata Yogya ini telah menjadi fenomenal sebagai moda transportasi  tradisional  yang melayani masyrakat Yogya dan wisatawan. Kota Yogyakarta yang memiliki luas 30,5  Km2 ini sebagian besarnya adalah areal  heritage, yang terdiri dari  Kraton,  Kotagede,  Pakualaman,
Kota baru dan  Banteng Fort Vredeburg adalah lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh becak-becak.

Turis berfoto diatas becak

Becak salah satu mode transportasi yang dikayuh oleh manusia. Seorang pengemudi becak harus memiliki fisik dan tenaga yang kuat untuk mengayuh dengan berat yang jauh lebih tinggi dibandingkan mengayuh sepeda.  Mengayuh becak sangat berbeda dengan mengayuh sepeda yang lebih ringan.

Bagi seorang pengemudi becak bertemu dengan jalan menurun tentu sangat senang, karena Sang Pengemudi Becak  tidak terbebani  untuk mengayuh . Pengemudi tinggal mengarahkan kemana becak akan berjalan, tetapi jika bertemu jalan tanjakan maka perjuangan mengayuh membutuhkan energi yang luar biasa. Kalau tukang becak sudah tidak sanggup untuk mengayuh maka terpaksa becak di dorong. Inilah romantika para pengayuh becak dalam perjuangannya untuk menafkahi keluarganya.
Becak dan Wisatawan Yogya telah menjadi satu
Setelah selesai mengantar wisatawan ke tempat yang dituju biasanya para pengayuh becah mangkal ditempat yang telah menjadi komunitasnya berkumpul. Jalan Malioboro adalah tempat yang nyaman untuk menunggu penumpang sambil beristirahat. Mereka saling bercengkrama antara para pengayuh becak lainnya. Menikmati kebersamaan dengan ceritanya hari itu masing-masing.
Para Pengayuh becak sedang mangkal di jalan Malioboro menunggu penumpang

Wajarlah kalau keberadaan becak akan lebih cocok berada di kota-kota berpenduduk ramai dengan kontur rata dan datar seperti Kota Yogyakarta. Apalagi Sultan Yogya juga memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengakses seluruh jalan Yogya. Hal ini berbeda dengan kota lain di Indonesia yang beradaan becak justru dilarang, dan dianggap sebagai biang kemacetan kota.

Di Yogyakarta becak telah menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakatnya dan juga menjadi daya tarik wisatawan khususnya wisatawan mancanegara. Bagi para turis, becak adalah sesuatu yang jarang dan tidak pernah ditemui dinegaranya. Turis asing ingin mendapatkan sesuatu yang baru baginya dilokasi wisata. Bagi wisatawam terutama mancanegara keberadaan becak di lokasi wisata merupakan hal yang istimewa dan unik.

Sejarah Becak di Yogyakarta

Becak telah menjadi bagian penting dalam napas kehidupan masyarakat Yogya yang memiliki tag line Yogyakarta Istimewa ini.  Becak telah lama ada semenjak penjajahan Jepang di Indonesia.   Orang-orang Jepang membawa becak-becak tanpa kayuhan untuk membawa barang-barang yang berat-berat.

Di cerita lain onthel telah menjadi kendaraan yang sangat umum disaat itu, sehingga ada keinginan untuk menjadikan becak tanpa kayuhan itu digabungkan dengan onthel agar dapat membawa barang berat dengan cukup mengayuh bukan mendorong seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jepang.

Akhirnya muncullah rancangan seperti halnya becak yang kita lihat sekarang. Tentang siapa yang menciptakan becak dan siapa yang mendesain becak sehingga ada kayuhannya tentu ini hanya anonym karena  tidak ada yang mengetahuinya.

Pada masa Orde Lama tahun 1950 becak di Yogyakarta sangat buming karena aktifitas ekonomi masyarakat meningkat setelah memasuki  masa  kemerdekaan. Kebutuhan dasar untuk transportasi dan membawa barang pada aktifitas ekonominya telah menumbuhkan becak-becaj baru diseluruh pelosok Yogyakarta.
Becak-becak mangkal di stasiun kereta Yogyakarta
Keberadaan becak semakin menjamur lagi setelah ekonomi semakin membaik di masa Orde Baru. Pada saat ini kota Yogya juga telah menjadi kota wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan karena Yogyakarta menjadi pusat pendidikan. Para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya sekolah disini tentu menjadi wisatawan yang potensial.  Adanya candi Borobudur dan candi Prambanan juga telah mendongkrang wisata Yogya,  sehingga kebutuhan becak-becak pengantar wisatawan untuk berkeliling tetap tinggi. 

Keberadaan becak-becak itu sampai saat ini masih terus dipertahankan dan telah menjadi bagian daya tarik wisata Yogyakarta Istimewa. Becak masa kini telah banyak modifikasi yaitu dengan menambah mesin motor dan bodi motor kedalam struktur becak, sehingga para Mas-Mas Pengemudi becak tidak lagi repot-repot mengayuh becak yang sangat menguras tenaga. Akan lebih baik lagi kalau ada yang memodifikasi becak dengan tenaga listrik sehingga tidak menimbulkan polusi.

Sumber Infografik :
- jogjaprov.go.id

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Sunday, November 10, 2019

Hari Pahlawan, Perjuangan Raden Intan II dibalik Kisah Tugu Raden Intan II Bandar Lampung

Tugu Raden Intan II terlihat gagah

Lampung sebagai daerah transit yang strategis dan menjadi bandar dari lalulintas transportasi darat dan laut antara Pulau Sumatra - Pulau Jawa dan Pulau Sumatra - Pulau Kalimantan dan juga paulau lainnya disekitar yang terkoneksi dengan Selat Sunda dan Teluk Lampung.

Bagi yang sudah pernah menggunakan moda transportasi darat dari dan menuju Lampung tentu akan melalui Tugu Raden Intan II di bundaran jalan Lintas By Pass yang menghubungkan Jalan Lintas Sumtra menuju provinsi lain. Tugu Raden  Intan II ini juga akan dilalui bagi yang akan menuju Pulau Jawa sebelum masuk tol di Kota Baru Lampung Selatan yang mendapat akses langsung ke Kalianda.

Demikian juga bagi yang naik pesawat dan mendarat di Bandara Beranti untuk  menuju Bandar Lampung, tentu akan melalui Tugu Raden  Intan II juga.

Untuk masuk ke Kota Bandar Lampung melalui Gerbang Selamat Datang ke Bandar Lampung juga akan melalui Tugu Raden Intan II yang tepat berada disentral dari bundaran dari tempat yang sangat strategis tersebut.

Itulah penghargaan dari masyarakat Lampung terhadap perjuangan dari Raden Intan I (Kakek Raden Intan II), Raden Imba atau juga disebut Radin Inten Kesuma II (Ayah Raden Intan II) dan Raden Intan II yang secara ulat dan teguh berjuang melawan penjajahan Belanda yang berusaha mencengkramkan kukunya di wilayah Nusantara.

Tugu Raden Intan II di Bundaran Raja Basa
Raden Intan I masih keturunan dari Fatahillah (Sultan Syarif Hidayatullah yang adalah seorang raja Mataram Islam, biasa juga dipanggil Sunan Gunung Jati) yang menikah dengan Putri Sinar Alam yang merupakan anak dari Minak Raja Jalan Ratu (Bangsawan Keratuan Pugung – Lampung Tumur sekarang). Dari perkawinan itu lahirlah Muhammad Aji Saka putra (Glr. Ratu Darah Putih) dan mendirikan Keratuan Darah Putih.

Perjuangan yang konsisten dan terus menerus itu telah mamantapkan Lampung sebagai daerah merdeka dari penjajahan Belanda sejak tahun 1751 - 1856. Dua abad lamanya Keratuan Lampung diakui dan ditakuti dan disegani oleh Gubernur Jenderal Belanda, H.W. Daendels. Keseganan Daendels untuk tidak buru-buru mengurus Lampung karena sejak perjuangan Raden Intan I, Keratuan Lampung telah membangun benteng-benteng di Raja Gepeh, Pari, Bedulu, Huwi Perak, Merambung, Katimbang, Sakti, Galah Tanah, Pematang Sentok, Kahuripan, dan Salaitahunan dengan kekuatan yang besar yang kemungkinan mampu mengalahkan kapal-kapal Belanda dan prajurit-prajurit  Belanda.  Ketakutan Daendels disampaikan dari surat yang ditulisnya di Batavia untuk disampaikan ke dilaporkan langsung ke pemerintah di Nederland.  

Tugu Raden Intan II dari samping
Ketakutan Daendels ini menyebabkan Keratuan Lampung menjadi prioritas ke tiga yang akan dijatuhkan Belanda setelah, prioritas pertama yaitu Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung yang berencana merebut Batavia dan prioritas kedua melumpuhkan perjungan Pangeran Diponegoro.

Pada tahap awal pergerakan perjuangan rakyat di Lampung dimulai dengan Gubernur Jenderal Daendels  mengirimkan sebuah misi perdagangan ke Lampung untuk memastikan bahwa apakah wilayah Lampung benar-benar masih berada pada kekuasaan Sultan Haji dari Kesultanan Banten ataukah penyerahan VOC pada Kesultanan Banten sesuai dengan Piagam Perjanjian tertanggal 27 Agustus 1682 yang intinya pengawasan perdagangan rempah-rempah wilayah Lampung diserahkan ke VOC dari Kesultanan Banten. Penyerahan ini sebagai konsensi Belanda yang sudah mendukung perubahan kepemimpinan Kesultanan Banten yang berhasil melengserkan Sultan Agung Tirtayasa.

Raden Intan II dijadikan nama bandara
Hasil dari Ekspedisi Vander Schuur tersebut menggambarkan bahwa wilayah Lampung bersifat mandiri pasca lengsernya Sultan Agung Tirtayasa. Para saudagar di wilayah Lampung tidak tunduk kepada Sultan Haji  yang koperatif terhadap Belanda, tetapi masih tetap setiap kepada Sultan Agung Tirtayasa yang anti terhadap kolonialisme Belanda. Hasil misi itu juga menyampaikan bahwa kekuasaan berada pada beberapa kekuasan daerah, salah satunya adalah Keratuan Lampung yang pada saat itu dipimpin oleh Raden Intan I.

Belanda melalui VOC ingin mengokohkan kekuasaannya di wilayah Lampung. Rencana penyerangan besar itu terjadi pada beberapa gelombang di masa Keratuan Lampung berdiri.

Invansi pertama terjadi pada bulan Desember 1825 yang mengirim Kapten Gezaghebber Lelievre dan Letnan Misonius  yang mendarat di Telukbetung dengan membawa 35 tentara utama Belanda  dan 7 opas.  Tentara dengan kekuatan kecil ini bergerak menuju Negara Ratu. Serangan dengan kekuatan kecil ini sangat mudah dipatahkan karena waktu itu Gubernur Jenderal Daendels di Batavia tidak mengetahui kekuatan sebenarnya dari Keratuan  Lampung yang waktu itu di Pimpin oleh Raden Intan I (Kakeknya Raden Intan II).
Pesawat Garuda di Bandara Raden Intan II
Pada masa periode ini Belanda tidak fokus untuk melakukan serangan ke Keratuan Lampung karena pada masa itu Pemerintah Hindia Belanda sedang repot-repotnya berhadapan dengan Pangeran Diponegoro  (1825 - 1830), sehingga Keratuan Lampung sangat kondusif dan sempat membangun beberapa benteng yang kuat.

Gelombang serangan berikutnya terjadi pada 8 Agustus 1832 dengan kekuatan sebanyak lima kapal setype Kapal Alexander dan Kapal Dourga. Dengan 300 tentara regular Belanda, 100 tentara bayaran yang dipimpin oleh Kapten Hoffman dan Letda Kobold. Pada saat itu Keratuan Lampung di pimpin oleh Raden Imba (Raden Intan Kesume II).

Mereka mendarat di Kalianda. Serangan ini adalah respon dari serangan Raden Imba yang menyerang kapal dagang Belanda dan kantor Keresidenan Pertama di Teluk Betung (Gudang Lelang Teluk Betung sekarang) yang dipimpin oleh Asisten Residen Belanda untuk Lampung yaitu J.A. Dubois. Atas serangan ini J.A. Dubois mengirimkan surat ke Gubernur Jenderal Daendels di Batavia.

Pertempuran pertama terjadi pada 9 September 1832 di wilayah sekitar Gunung Tanggamus, tepatnya di Teluk Semangka (Kabupaten Tanggamus sekarang). Pasukan Raden Imba mampu untuk menghadang pasukan Belanda yang dikomandoi oleh Kapten Hoffman. Akhirnya Kapten Hoofman sendiri mengalami luka parah sehingga dipulangkan ke Kaliana. Pada kesempatan pemulangan ini Raden Imba memberikan kesempatan Belanda untuk mundur.  Raden Imba memerintahkan Tentara Keratuan Lampung untuk tidak menyerang dan pasukan diperintahkan bertahan ditempat.

Kekalahan pertempuran pertama ini tidak menyebabkan Belanda merasa kalah. Pada tahap berikutnya mereka kembali melakukan penyerangan dengan pimpinan kembali dipegang oleh Kapten Hoofman dengan pasukan segar baru dari Batavia sebanyak 600 serdadu. Pasukan ini adalah pasukan regular berpengalaman masa pergolakan perlawanan Pangeran Diponegoro.

Pada peretempuran kali ini Hoofman tidak manyertakan pasukan bayaran tetapi mendapat tambahan bantuan dari para perwira regular yaitu; Letnan Neuenborger, Letnan Vicq De Cumtick, dan Letnan Huisemen. Semuanya adalah prajurit berpengalaman masa perlawanan Pangeran Diponegoro.

Misi tahap kedua Kapten Hoofman  ini kembali terjadi di Benteng Raja Gepeh disekitar Gunung Tanggamus. Dalam pertempuran ini Raden Imba berhasil mempertahanakn Benteng Raja Gepeh tetapi kehilangan 100 prajurit terbaiknya gugur. Disisi pihak Belanda 65 orang tewas  termasuk serdadu berpengalaman petempur pada masa Diponegoro, yaitu Letnan Huiseman  dan Letnan Neuenborger juga tewas.

Dari laporan kekalahan pasukan Kapten Hoofman ke Kalianda. Kembali pasukan Kapten Hoofman mendapatkan tambahan pasukan segar baru yang dipimpin oleh Kapten Beldhouder dan Kapten Pouwer.  Ternyata tambahan bantuan ini pun tidak berguna dan Belanda tetap mengalami kekalahan dan kembali mundur ke Kalianda.  Pemimpin pasukan bantuan Kapten Pouwer.dan Kapten Beldhouder juga terluka parah dan akhirnya tewas.

Dalam surat Kapten Hoofman yang dikirimkan ke Kalianda dan juga ditembuskan ke Gubernur Belanda di Batavia, ada banyak benteng yang harus ditembus Belanda, yaitu; Raja Gepeh, Pari, Bedulu, Huwi Perak, Merambung, Katimbang, Sakti, Galah Tanah, Pematang Sentok, Kahuripan, dan Salaitahunan.  Ternyata baru satu benteng Raja Gepeh saja Belanda sudah banyak mengalamai kerugian, sehingga meminta Gubernur Jenderal H.W. Daendels untuk mendapatkan perhatian.

Tidak patah arang Belanda kembali melakukan gelombang serangan berikutnya yaitu dimulai pada tanggal 23 September 1834. Kali ini serangan mendapatkan perhatian langsung dari Gubernur Jenderal Daendels dengan jumlah personil baru yang didatangkan dari Batavia. Pasukan yang semula berada di Kalianda ditarik pulang ke Batavia termasuk Kapten Hoofman. Jumlah pasukan yang baru ini sebanyak 800 pasukan serdadu regular Belanda yang dipimpin oleh 21 opsir Belanda. Peralatan juga diperbaharui dengan memperbanyak peralatan canggih.

Dalam Laporan Hoofman pasukan Belanda sulit menembus Benteng Raja Gepeh karena sudah mengadopsi cara pertempuran yang lebih profesional  bantuan Kesultanan Banten. Salah satu perwira Banten yaitu  Arya Natabraja (Mertua dari Raden Imba sendiri) seorang ahli strategi ikut berada dalam perjuangan perlawanan melawan Belanda dari sejak Raden Intan I.

Pada serangan kali ini Benteng Raja Gepeh jatuh dan dapat dihancurkan Belanda. Pasukan Raden Imba (Raden Intan Kesuma II) bersama pasukannya mundur dan meminta perlindungan ke Kesultanan Lingga (Linggau, Riau sekarang), tetapi Raja Lingga mendapatkan tekanan dan ancaman dari Belanda. Raja Lingga akhirnya terpaksa menyerahkan Raden Imba. Belanda menyingkirkan Raden Imba ke Pulau Timor sampai akhirnya meninggal disana.

Semantara Arya Natabraja berhasil keluar diam-diam tanpa sepengetahuan Raja Lingga dan Belanda. Kedepan Arya Natabraja masih akan terus membantu perjuangan Raden Intan II yang merupakan anak dari Raden Imba (Raden Intan Kesuma II).

Pada tahun 1834 pasca kekalahan Raden Imba, pola kepemimpinan wilayah Keresidenan Hindia Belanda di Lampung yang berpusat di Onder Afdeling Telokbetong (Teluk Betung sekarang)  dirubah dari sipil ke militer. Kebijakan ini dilakukan setelah terjadi perjuangan yang keras dari Raden Intan I dan Raden Imba. Dari keresidenan ini juga hasil perkebunan di Lampung berupa rempah-rempah, karet, sawit di kirim melalui Telokbetong. Perdagangan di Telokbetong kembali marak pasca pergerakan perlawanan rakyat di Lampung melawan penjajah. Selain itu juga banyak berdatangan juga para saudagar Tionghoa dari Batavia dan Pelembang yang ikut terlibat perdagangan VOC dan akhirnya banyak  menetap disana.

Setelah Raden Imba meninggal di Pulau Timor, Istrinya Ratu Mas yang masih hamil dipulangkan ke Lampung dan  kembali ke Kahuripan, Negeri Ratu. Di Kahuripan ini Ratu Mas melahirnkan Raden Intan II pada tahun 1834.  Raden Intan II dibesarkan Ratu Mas, Sepirit perjuangan Raden Intan I dan Raden Imba selalu disampaikan Ratu Mas  ke Raden Intan II.

Raden Intan II pada tahun 1850 masih sangat muda, usianya baru 15 tahun, tetapi sudah menjadi pemimpin Keratuan Darah Putih yang berpusat di Kahuripan (Lampung Selatan sekarang). Benteng-benteng yang dulu pernah dibangun ayahnya diperbaiki dan dibangun kembali yaitu di pusatnya sendiri yaitu di Kahuripan, Pematang Sentok, Salaitahunan dan Galah Tanah. Sementara Benteng Rajah Gapeh sudah jatuh ke tangan Belanda. Termasuk benteng-benteng lain yang terlalu jauh dari akses juga dibiarkan dan ditinggalkan.

Pada masa Raden Imba benteng dan kekuasaan lebih diperkuat di area pantai dan laut tetapi pada masa Raden Intan II pertahanan diperkuat di area pegunungan dan perbukitan yang sulit dicapai oleh Belanda. Kali  ini Raden Intan II memusatkan pertahanan di Gunung Rajabasa yang sudah memiliki benteng alam dan benteng-benteng militer. Ada 4 benteng yang mengelilingi Gunung Rajabasa yaitu Benteng Galah Tanah, Benteng Katimbang, Benteng Merabung, Benteng Salai Tabuhan dan Benteng Katimbang,

Raden Intan II memperluas hubungan dengan wilayah sekitarnya dan juga memperkuat kerjasama dengan masyarakat lokal di lampung seperti dengan Marga Ratu, Dataran dan Singabranta,.

Dari bantuan kakeknya Raden Intan II, Kyai Arya Natabraja, dan para pembantunya Wak Maas, dan Haji Wakhia, Raden Intan II mendapatkan akses persenjataan yang dikirim dari Kesulltanan Banten dari para pengikut Sultan Agung Tirtayasa. Peralatan juga didapat dari Inggris melalui jual beli rempah-rempah dengan Inggris yang tidak menginginkan Belanda memasuki pulau Andalas (Sumatra).

Setelah beberapa lama Belanda mengabaikan Lampung, sepak terjang Raden Intan II sudah mulai dianggap membahayakan kolonisasi Belanda khususnya di Lampung. Awalnya Belanda hanya melakukan diplomasi ke Raden Intan II agar tidak melakukan gangguan terhadap aktivitas dagang Pemerintah Hindia Belanda di Lampung. Pemerintah Hindia Belanda bahkan memberikan tawaran bantuan dan kerjasama, tetapi semuanya ditolak oleh Raden Intan II.

Serangan pertama pada masa Raden Intan II terjadi pada tahun 1851 dengan mengirimkan 400 serdadu regular dibawah komando Kapten Tuch. Dengan kekuatan ini pasukan Belanda menyerang Benteng Merambung yang berada di sebelah barat utara di bawah kaki Gunung Rajabasa. Serangan ini sanga mudah dipatahkan Raden Intan II.  Rupanya Kapten Tuch tidak menerima pelajaran dari Kapten Hoofman yang kalah di Lampung. Kapten Tuch seperti pada umumnya para perwira muda Hindia Belanda yang selalu merendahkan kemampuan militer para pejuang pribumi.

Melihat dari potensi besar  perlawanan dari Raden Intan II, Belanda merubah siasat Belanda mengusulkan perdamaian dengan Raden Intan II syaratnya Raden Intan II tidak melakukan serangan  terhadap kepentingan dan asset Belanda di Lampung.

Awalnya ide perdamaian ini diterima oleh Raden Intan II, tetapi pada tahun 1955 Raden Intan II merasa ditipu dan kembali melakukan penyerangan terhadap objek kepentingan Belanda di Telokbetong dan sekitarnya. Adminitrasi Keresidenan dan perdagangan di Telokbetung terhenti, para pejabat Belanda di ungsikan.

Kemudian pada tahun 1856  bantuan besar-besaran dari Batavia ke Lampung dikirim. Pasukan Belanda tidak langsung ke daratan, berkaca pada serangan awal yang dengan mudah dipatahkan, tetapi memilih untuk menguasai dulu sebuah Pulau Sikepal di Teluk Tanjung Tua (Bakauheni, Kalinda, Lampung Selatan sekarang).

Kepemimpinan invasi ini dikepalai oleh Kolonel Walleson, dibantu oleh beberapa perwira penting Belanda yaitu Mayor Nauta, Mayor Van Oostade, dan Mayor AWP Weitzel. Terlihat dari ukuran kepangkatan para perwira yang masuk ke Lampung ini menunjukkan Belanda tidak menganggap lagi main-main atas perjuangan kemerdekaan di Lampung yang dipimpin oleh Raden Intan II ini.  Serdadu yang didatangkan dari Batavia juga semakin banyak yaitu sejumlah seribu serdadu regular dengan kepemimpinan dibawah 350 perwira. 

Serangan besar ini melibatkan 9 buah kapal-kapal besar setype Kapal Alexander dengan dukungan 3  kapal angkut peralatan militer. Ditambah dengan puluhan perahu jung dan  mayung.  Dibantu juga dengan dukungan 30 satuan zeni. Kekuatan ini sudah hampir sama dengan kekuatan militer Belanda melawan Pangeran Diponegoro.

Sementara jumlah pasukan dibawah Raden Intan II diperkirakan lebih dari 20 ribu pasukan dengan bantuan dari berbagai daerah dan juga. Raden Intan II dann Arya Natabraja mertua Raden Intan II sendiri juga ikut menjadi komandan lapangan.  Kepemimpinan pasukan juga dibantu oleh Kiai Wakhia, Singabranta dan Wak Maas yang tetap setia mendampingi Raden Intan II dari sejak Raden Imba.

Setelah penguasaan Pulau Sikepal dan perairan di sekitar Teluk Tanjung Tua, Belanda memberikan ultimatum kepada rakyat dan Kepemimpinan Keratuan Lampung untuk menyerah paling lambat dengan tempo lima hari. Ancaman  ini tidak direspon oleh Raden Intan II.

Belanda akhirnya mulai melakukan serangan terhadap Keratuan Lampung. Serangan pertama dilancarkan ke Benteng Bendulu pada tanggal 16 Agustus 1856 karena paling berdekatan dengan laut. 

Pasukan Belanda dengan kekuatan penuh konvoi melalui Ujau (Lampung Selatan) dan Kenali (Lampung Selatan). Penyerangan pertama ini berhasil menguasai Benteng Bendulu sepanjang malam. Pasukan Raden Intan II mundur ke benteng yang lain dibawah kaki Gunung Rajabasa.

Penyerangan Belanda berlanjut ke Benteng Hawi Perak yang berada pada sebelah barat dari Benteng Bendulu yang sudah dikuasai. Pergerakan mulai dilakukan pada jam 8.00 pagi pada tanggal 18 Agustus 1856.

Raden Intan II membuat siasat dengan menyebarkan informasi seakan Benteng Bendulu kembali dikuasai oleh Pasukan Raden Intan II, sehingga Kolonel Walleson dan pasukan terkecoh dan  kembali ditarik ke Benteng Bendulu. Untuk sementara waktu  Kolonel Walleson menjadikan bent eng tersebut markas bagi pasukannya dan memperkuat koordiansi agar tidak salah menerima informasi.

Kolonel Walleson merubah rencananya yang tadinya ingin menyerang Benteng Hawi Perak dibagian barat Benteng Bendulu tetapi dirubah untuk menyerang dulu Benteng Katimbang. Melihat kondisi alam yang menguntungkan Raden  Intan II dan pasukannya, Kapten Walleson memutar otak dan menemukan ide untuk membagi pasukannya menjadi tiga kekuatan pasukan. Masing-masing kekuatan pasukan bergerak kearah yang berbeda.

Kolonel Walleson memimpin pasukan pertama yang bergerak melalui pesisir selatan menuju timur Gunung Rajabasa. Setalah itu menuju utara.  Sedangkan  kelompok yang kedua  dibawah Mayor van Costade melalui pesisir selatan Pulau Palubu di Kalianda, kemudian menuju Way Urung kemudiian menuju lerang sebelah barat dan menunggu di Kelau dan Kunyaian untuk merebut Benteng Merambung. Dari sini pasukan dua ini melanjutkan menyerang Benteng Merambung. Kelompok pasukan yang  terakhir dikomandoi Mayor Nauta bergerak memasuki hutan untuk mencapai Benteng Salaitahunan, setelah itu target berikutnya benteng Katimbang.

Pada tanggal 19 Agustus 1856 terpaksa Pasukan Raden Intan II mundur dari Benteng Hawi Perak, karena banyak para prajurit yang gugur, sebagian berpindah ke benteng terdekat yang masih dikuasai.  Tetapi cuaca buruk terjadi hujan lebat dan angin yang dahsyat menyebabkan Kolonel Walleson kembali mundur ke Benteng Bendulu. Sebelum kembali Benteng Hawi Perak dibakar.

Dari Benteng Bendulu pasukan Kolonel Walleson  langsung bergabung dengan pasukan kedua dibawah Mayor van Costade yang sedang bergerak di barat lereng Gunung Rajabasa.

Pada tanggal 27 Agustus 1856 Benteng Merambung dan Pematang Sentok  jatuh ketangan Belanda di bawah Kolonel Walleson dan Van Costade.  Pertempuran paling keras terjadi di  Benteng Galah Tanah.
Pasukan Raden Intan II mempertahankan dengan gigih. Persenjataan disini juga lebih baik dengan peralatan yang lebih canggih, tetapi pada pagi hari jam 9.00 akhirnya benteng ini pun jatuh ketangan Belanda.  Tidak lama setelah itu Benteng Pematang Sentok juga ikut jatuh ketangan Belanda.

Di hari yang sama pada tanggal 27 Agustus 1856 itu juga pasukan Belanda menyerang Benteng Katimbang yang memiliki persediaan paling banyak.  Pertahanan gigih diperlihatkan pasukan Raden Intan tetapi karena kekuatan tidak seimbang terpaksan benteng ini juga akhirnya dikuasai oleh Belanda.

Setelah semua benteng jatuh ketangan Belanda, sisa-sisa pasukan Raden Intan meneruskan perlawanan gerilya dari hutan.  Bersama Haji Makhia, Singa Branta, dan Wak Maas,  Raden Intan II berjuang masuk dan keluar hutan untuk menghindari kejaran Belanda.

Kolonel Walleson  melakukan penangkapan besar-besaran terhadap rakyat dan para pejuang di Lampung. Operasi ini dilakukan disekitar Kalianda dan wilayah sekitar Gunung Rajabasa. Anak dan istri dari para prajurit Raden Intan II di penjara dan juga dibunuh.

Perjuangan  gerilya Raden Intan mampu berjalan hampir dua tahun dalam kondisi yang sangat sulit.  Selama itu juga Belanda terus melakukan pencarian. Akhirnya pada 5 Oktober 1858 Belanda melalui cara licik menipu Raden Intan melalui kerabatnya yang mengundang Raden Ngarupat makan malam.  Pada malam itu  juga Belanda langsung menyerang dan Raden Intan II bersama sisa-sisa pasukannya yang masih setia.

Raden Intan II tetap tidak mau menyerah dan terus melakukan perlawanan sampai titik penghabisan. Perkelahian yang tidak seimbang pun terjadi, tetapi seorang sosok gagah berani Raden Intan II akhirnya gugur. Pada malam yang tragis itu tubuh Raden Intan II yang sudah gugur diusung dan dipertunjukkan langsung ke Kolonel Welson.

Di hari  itu juga Raden Intan Ii gugur sebagai bukti kecintaanya pada Ibu Pertiwi pada umurnya yang masih muda. Walaupun raga sudah tiada tetapi semangat mengabdi untuk negeri tidak pernah mati. Itulah semangat yang ada pada Tugu Raden Intan II yang berdiri gagah dijantung gerbang menuju Bandar Lampung.

Jenazah Raden Intan II dimakamkan di dalam Benteng Cempaka yang dibangun bersama pengikutnya. Benteng Cempaka itu berada di Kampung Gedungharta, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Tabik Pun!

Photograger : Azzahra R.
#TheIndonesiaAventure
The Indonesia Adventure Team Writter

Sumber  Pustaka :
-    http://suaraindonesiakini.blogspot.com
-    id.wikipedia.org/
-    Ensiklopedi Indonesia, Van Hoeve, PT. Ichtiar Baru, 1991.
-    Pahlawan Nasional Radin Intan II, Leaflet, Pemerintah Propinsi Lampung, Dinas Pendidikan, tahun 2004
-    Dr. R. Broersma, De Lampongsche Districten.

Tag: Raden Intan, Raden Intan II, Pahlawan Lampung Raden Intan

Wednesday, November 6, 2019

Sejarah Gedung Merdeka Tempat Konferensi Asia Afrika

Gedung Merdeka yang berada dijalan Asia Afrika No.65, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat adalah gedung bersejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Gedung ini adalah tempat diselenggarakannya sebuah acara berkelas dunia yaitu Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang menyuarakan perdamaian dan kemerdekaan. 

Gedung Merdeka di Bandung, Jawa Barat
Gedung Merdeka di Bandung, Jawa Barat

Gudang tua itu seolah telah menjadi saksi atas perjalanan sejarah dari  masa kemasa.  Gedung bergaya indah art deco dari arsitek Belanda yang menjadi trend pada masa tetapi juga tetap indah sampai masa kini. Gedung yang sekelilingnya adalah hotel terkenal ini telah menjadi objek wisata sejarah yang menarik.

Gedung Merdeka adalah bagian dari Musium Asia Afrika yang mencatat peristiwa, problem masa lalu, dan dampaknya bagi perjalanan sejarah dunia yang diabadikan dalam sebuah museum di tempat konferensi itu berlangsung, yaitu di Gedung Merdeka di Kota Bandung.

Pembangunan Gedung Merdeka

Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika Bandung, Jawa Barat
Gedung Merdeka dibangun pertama kali pada tahun 1895 sebagai tempat berkumpulnya orang-orang Eropa, terutama Belanda, yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Perkumpulan itu diberi nama Societeit Concordia tahun 1979. Para anggota yang masuk dalam perkumpulan itu adalah para pengusaha kebun teh dan pejabat opsir Belanda.

Tujuannya  pembangunan gedung merdeka untuk tempat pertemuan, sebelumnya mereka biasa berkumpul, duduk-duduk sambil minum teh, di Warung De Vries.  Selanjutnya pada tahun 1895 perkumpulan itu  pindah ke gedung yang berada di seberang Gedung Merdeka sekarang yang disebut sebagai Warung De Vries, yang diberi nama Concordia, dengan luas tanah 7.983 meter persegi.

Awalnya bangunan bersejarah ini hanya bangunan sederhana saja. Bahkan sebagian dindingnya terbuat dari papan yang penerangannya menggunakan lampu lentera dengan bahan bakar minyak tanah. Bangunan ini posisinya persis berada di pojok jalan Asia Afrika sekarang. Dulunya jalan itu diberi nama Groote Postweg sedangkan jalan satunya bernama  "Bragaweg"  yang sekarang berubah nama menjadi Jalan Braga.

TAHUN 1921

Bangunan Societeit Concordia kemudian direnovasi dan dikembangkan dengan gaya yang sudah seperti sekarang pada tahun 1921 dengan gaya klasik yang pada masa lalu sedang trandy yaitu gaya Art Deco  strukturnya sangat menonjol dalam penampilan gedung. Perancang arsitekturnya seorang insinyur Belanda bernama C.P. Wolff Schoemaker.

Setelah pembangunan gedung ini menjadi lebih mewah, sehingga menjadi tempat berkumpul yang istimewa dan bergengsi pada masa lalu.  Para elit pengusaha dan pejabat Belanda menyebut perkumpulan itu sebagai pertemuan "super club"  yang memiliki fasilitas sangat mewah, eksklusif, dan modern di Nusantara. Lantainya terbuat dari marmer buatan Italia.

Ruangan-ruangan tempat minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout. Penerangannya menggunakan lampu-lampu hias kristal. Ruangan-ruangan dalam gedung cukup memadai untuk menampung kegiatan-kegiatan pertunjukan kesenian. Luas seluruh tanahnya 7.500 m².

TAHUN 1940

Kemudian pada tahun 1940 gedung Societeit Concordia direnovasi kembali dengan gaya sentuhan seni bangunan baru yaitu arsitektur International Style yang didesain oleh arsitek A.F. Aalbers. Bangunan gaya arsitektur ini bercirikan dinding tembok plesteran dengan atap mendatar, tampak depan bangunan terdiri dari garis dan elemen horizontal, sedangkan bagian gedung bercorak kubistis. Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942 – 1945), Gedung Societeit Concordia berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan dan difungsikan sebagai pusat kebudayaan.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, gedung tersebut dijadikan markas para pemuda Indonesia di Bandung guna menghadapi tentara Jepang yang tidak bersedia menyerahkan kekuasaannya. Sekitar tahun 1949, sejak pemerintahan pendudukan, Gedung Societeit Concordia diperbaiki dan difungsikan kembali sebagai Societeit Concordia, tempat pertemuan orang-orang Eropa (termasuk juga beberapa orang Indonesia). Di gedung ini kembali seperti biasa diselenggarakan lagi pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya.

TAHUN 1945

Pada era kemerdekaan tahun 1945 gedung indah ini dijadikan pusat kegiatan para pemuda Indonesia dan juga kegiatan dari  Pemerintah Kota Bandung. Ketika pemerintahan pendudukan (1946 – 1950), fungsi gedung dikembalikan menjadi tempat rekreasi yang banyak dikunjungi orang karena keunikan dan keindahannya.

TAHUN 1955

Sehubungan dengan keputusan pemerintah Indonesia (1954) yang menetapkan Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Societeit Concordia terpilih sebagai tempat berlangsungnya konferensi. Hal ini disebabkan gedung tersebut adalah gedung tempat pertemuan umum yang paling besar dan paling megah di Bandung. Selain itu lokasinya berada di tengah-tengah kota dan berdekatan dengan hotel terbaik, yaitu Hotel Savoy Homann dan Preanger.

Kemudiaan pada tahun 1955, Gedung Societeit Concordia mulai dipugar untuk disesuaikan kegunaannya sebagai tempat penyelenggaraan konferensi bertaraf internasional. Pemugaran gedung ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat yang dipimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso. Menjelang konferensi (7 April 1955), gedung ini diganti namanya oleh Presiden Soekarno menjadi Gedung Merdeka. Untuk informasi lebih lajut, silakan kunjungi website resmi Museum Konferensi Asia Afrika.

PASCA 1955

Gedung Merdeka terus menorehkan sejarah dan semangat dari KAA, karena sejak 1955 sampai sekarang ini gedung ini banyak digunakan untuk berbagai even nasional dan global. Pertemuan-pertemuan itu diantaranya sebagai berikut ini;
    1956, Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika
    1961, Sidang Dewan Setiakawan Rakyat Asia-Afrika
    1965, Konferensi Islam Asia-Afrika
    1970, Kongres Pertama Organisasi Islam Afrika-Asia (The Afro-Asian Islamic Organization)
    1980, Peringatan ke-25 Konferensi Asia-Afrika, sekaligus pembukaan Sidang Komite Ahli Hukum Asia-Afrika ke-21(Asian-African Legal Consulative Commite/AALCC) dan peresmian Museum Konferensi Asia-Afrika.
    1983, Peresmian Pusat Studi dan Pengkajian Masalah Asia-Afrika dan Negara-Negara Berkembang
    1984, Kunjungan peserta Konferensi Menteri Penerangan Negara-Negara Nonblok (The Conference of the Minister of information of non-Aligned Countries/COMINAC)
    1985, Peringatan yang ke-30 Konferensi Asia-Afrika, sekaligus membacakan “Pesan Bandung” (“Bandung Message”)
    1990, Peringatan ke-35 Konferensi Asia-Afrika
    1991, Kunjungan peserta Konferensi Menteri Pariwisata Asia(Pasifik Asian Tourism Association/PATA)
    1991, Kunjungan Peserta Organisasai Konferensi Islam (The Organization Islamic Conference)
    1992, Kunjungan Peserta KTT ke-10 gerakan Nonblok sekaligus napak tilas Konferensi asia-Afrika 1955
    1995, Kunjungan peserta Sidang Konferensi IX Organisasi Islam (The Organization Islam Conference)
    1995, Peringatan ke-40 Konferensi Asia-Afrika
    2000, Peringatan ke-45 Konferensi Asia-Afrika oleh “Bandung Spirit”
    2005, Peringatan ke-50 Konferensi Asia-Afrika, sekaligus penandatanganan Deklarasi “Nawasila”hasil Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika
    2008, Seminar Regional Pasific

Sumber dan referensi :
- wikipedia
- www.kemlu.go.id
- mkaa.or.id
- asianafricanmuseum.org

Wednesday, October 30, 2019

Monumen Pers Perjuangan Surabaya, Saksi Sepenggal Kisah Hari Pahlawan

Perjuangan terbesar bangsa Indonesia pada massa mempertahankan kemerdekaan RI yang telah di proklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah pada saat peristiwa di Surabaya dimana rakyat berhadapan dengan Sekutu yang puncaknya terjadi tanggal 10 November 1945. Umur Republik Indonesia baru seumur jagung, tetapi cobaan berat harus dihadapi oleh Bangsa Indonesia.

Monumen Pers Perjuangan Surabya

Semangat dan kekuatan pemuda juga di bakar dengan pidato-pidato Bung Tomo yang menggelegar melalui Radio Pemberontakan memompa semangat para pemuda di desa-desa, di kampung=kampung di berbagai tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Jakarta, Jawa Barat bahkan Sumatra untuk datang ke Surabaya dan menjadi martir demi Ibu  Pertiwi.

Itulah sepenggal kisah dari perjuangan berat Bangsa Indonesia di Surabaya. Kisah itu masih sangat melekat dan terasa jika kita melihat bangunan tua di Surabaya yang menggambarkan perjuangan Bung Tomo dan kawan-kawan untuk membakar semangat para pemuda. Bung Tomo dan kawan-kawannya bekerja melalui pers untuk membangun image di luar negeri bahwa bangsa Indonesia akan terus ada.

Gedung Pers Perjuangan Surabaya dari kejauhan.

Bangunan itu sekarang menjadi Monumen Pers Perjuangan Surabaya yang berada di Jalan Tunjungan No. 100, Genteng, Kota Surabaya. Pada waktu malam bangunan itu  terlihat dengan cahaya kuning temaram di sela-sela Kota Surabaya. Di sekitarnya ada taman kota yang hijau dan kekuning-kuningan yang diterpa lampu kuning yang juga temaran.

Para Tukang Beca sedang beristirahat di sekitar gedung Monumen Pers
Gedung Monumen Pers tersebut tidak jauh dari tempat pergolakan para pemuda yang tidak ingin ada bendera di luar Merah Putih berkibar. Mereka dengan berani merobek warna biru dari sebuah bendera Belanda yang di pasang tentara Belanda. Pertengkaran pun  terjadi antara para Pemuda dan tentara Belanda yang dibonceng oleh Sekutu. Pertempuran tidak dapat dihindari.

Tidak disangka pergolakan yang semula masih kecil ini menyebabkan seorang Jenderal Inggris, Malaby tewas. Inilah bibit dari konflik di Surabaya 1945 terjadi.  Ya semuanya terjadi disekitar Hotel Orange yang sekarang ini menjadi Hotel Majapahit yang tidak jauh dari Gedung Pers Perjuangan Surabaya.

Sekutu menyebarkan pamflet-pamflet yang berisi seruan kepada bangsa Indonesia untuk menyerahkan peralatan rampasan dari Jepang. Sekutu  juga mengancam akan melakukan serangan besar-besaran. Dalam pamflet itu Inggris meminta rakyat Indonesia datang dengan mengangkat tangan dan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah. Tindakan sekutu ini sangat menyinggung para pemuda Surabaya yang hatinya mendidih dan bukan menyerah, tetapi melakukan perlawanan besar-besaran.

Pertempuran besar tersebut telah banyak menimbulkan korban yang cukup besar.  Ribuan pemuda Indoensia gugur untuk mempertahankan harga diri Bangsa Indonesia, sehingga hari itu 10 November 1945 yang menjadi puncaknya pertempuran telah dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Beberapa hari sebelum 10 November 1945, yaitu pada tanggal 1 September 1945 di Gedung Pers Perjuangan Surabaya ini para Wartawan Pribumi yang sebelumnya bekerja untuk Kantor Berita Domei milik Jepang menjadikan pusat pers Jepang itu menjadi Kantor Berita Indonesia (Kantor Berita ANTARA sekarang).

Awalnya bangunan ini bernama Toko Nam, kemudian berubah menjadi Toko Kwang. Pada masa penjajahan Jepang bangunan ini diambil alih untuk dijadikan pusat pers Jepang (Domei).  Setelah Jepang kalah oleh Sekutu. Para Wartawan Pribumi menjadikan gedung ini sebagai pusat aktivitas pers di Surabaya.

Photografer :  Azzahra R.

Tag. : 10 november, 10 november 1945, 1945, antara, citytour,  pers perjuangan, Gedung Monumen Pers Perjuangan Surabaya, hotel mojopahit, hotel orange, jawa timur, kantor berita, perjuangan pemuda, pers, spesial, tunjungan, Wisata Kota Surabaya

Sunday, October 6, 2019

Jembatan Layang Pasupati Bandung, Sisi Lain yang Belum Banyak Diketahui Orang

Kota Bandung yang banyak mendapat julukan, ada yang mengatakan “Paris van Java” karena Kota Bandung yang dingin, nyaman dan indah serta gedung-gedung arsitektur art deco ala Eropa. Ada juga sebutan “Kota Kembang” mungkin makna ini mengaju kepada Kota Bandung yang banyak taman dengan tamanan hijau dan bunga-bunga.  Bisa juga disebut "Kota Artis" karena banyaknya artis dari sini, misalnya  artis dangdut Cita Citata, Niki Astria, Nike Ardila dan banyak lagi.

Ada satu hal lain lagi yang manarik di Kota Bandung, yaitu jembatan laying Pasupati.  Bukan saja fungsinya yang penting tetapi juga jembatan ini mmberikan warna warni yang manarik jika dipandang dari jauh dengan lampu led display  warna yang dibuat secara dinamis dengan modern.

Jembatan Layang Pasupati di Bandung
Jembatan Layang Pasupati di Bandung
Jembatan Layang Pasupati telah menjadi salah satu ikon dan landmark Kota Bandung dari sekian banyak ikon di kota tua ini.  Sumber dana anggaran untuk pembangunan belanja modal jembatan layan ini bersumber dari hibah dana  pemerintah Kuwait.  

Penampilan jembatan layang Pasupati akan terasa beda saat menjelang Magrib dimana lampu display tersebut sudah mulai dihidupkan.  Mungkin ada banyak orang yang belum memperhatikan karena sibuknya aktfitas sehari-hari yang padat. Tetapi silahkan perhatikan dari jauh jembatan ini akan berganti-ganti warna dalam hitungan menit.

Jembatan Layang Pasupati di Bandung
Jembatan Layang Pasupati di Bandung di pagi hari
Jembatan Pasupati yang memiliki fungsi yang penting dan strategis menghubungkan  bagian utara Bandung dan bagian timur Kota Bandung karena ada sebuah cekungan seperti lembah yang bernama Cikapundang.  Panjang jembatan layang Pasupati 2,8 meter, sedangkan lebarnya 30-60 m.  Lokasi tepatnya jembatan ini berada di Tamansari, Kec. Bandung Wetan.

Jembatan Pasupati yang cukup panjang ini juga melintasi jalan raya yaitu jalan Pasir Kaliki sampai ke jalan HOS Cokroaminoto, jalan Tamansari, Jalan juanda, jalan Cipaganti dan jalan Cihamplas. Jembatan ini menghubungkan jalan Pasteur ke jalan Surapati.  Sebagian badan jembatan layang Pasupati berada di atas jalan  Pasteur dan sebagainnya lagi diatas jalan Surapati.  Kedua jalan Pasteur dan Surapati ini disingkat menjadi Pasopati yang menjadi nama Jembatan Layang ini.

Jembatan Layang Pasupati di Bandung menjelang pagi hari

Jembatan layang Pasopati dibangun untuk mengurangi kemacetan di Kota Bandung yang semakin hari semakin parah.   Akhirnya jembatan ini mulai digunakan dengan terlebih dahulu uji coba pada tanggal 26 Juni 2005.

Konstruksi jembatan dibangun secara dua arah dan dibagian tengah dari dua jalur ini adalah penahan konstruksi dengan tiang tinggi menjulang dan terhubung dengan komponen yang fleksibel  berupa cable stayed  untuk penahan beban yang fleksibel dan toleran terhadap gerakan. Jembatan ini terbagi dalam segmen-segmen yang berjumlah 663 unit dengan ditopang oleh 46 tiang.

Jembatan ini memiliki teknologi konstruksi yang canggih karena jalan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi tahan gempa. Perangkat dalam konstruksi jembatan layan ini  bernama lock up device (LUD) yang hanya dibuat di Prancis.

Selain itu dilengkapi juga dengan cable stayed sepanjang 161 meter, yang artinya jembatan ini tidak menggunakan kaki  untuk menyeberangi lembah Cikapundung  tetapi dengan tiang yang kuat untuk menopang  Cable stayed pada badan jembatan yang melewati lembah Cikapundung. Pada bagian atas jembatan ini ada cable stayed penopang timur sebanyak 9 buah dan sisi barat berjumlah 10 buah. 

Hal yang uniknya dari pembangunan jembatan ini adalah perancangannya yang sudah dilakukan sejak zaman Belanda tahun 1920 oleh arsitek Herman Thomas Karsten yang memang terkenal pada masa itu membangun berbagai fasilitas umum di Zaman Hindia Belanda.  Karsten adalah seorang yang lahir di Cimahi, Hindia Belanda pada 22 April 1884.  Pendidikan arsitek diperolehnya dari Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Delft, Belanda, lulus tahun 1908.

Karsten  juga menjadi penasihat  dan sekaligus juga perencana dari banyak proyek pembangunan publik oleh Pemerintah Hindia Belanda seperti di gedung-gedung pemerintah di Batavia, Meester Cornelis yang sekarang adalah gedung Jatinegara di  Bandung,   Pasar Johar di Semarang,  gedung pemerintah di  Buitenzorg atau Bogor sekarang.  Hasil karya Karsten juga ada di Jawa Tengah yaitu  Stasiun Balapan Solo dan  Pasar Gede Harjonagoro  di Surakarta. 

Photografer : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Tag. : Jembatan Layang Pasupati, Pasupati, Kota Bandung, Bandung, Wisata Bandung, Landmark Bandung, Ikon Bandung, jembatan layang, hotel Bandung, Jawa Barat, Cita Citata

Tuesday, October 1, 2019

Simpang Lima Surganya Kuliner Kota Semarang

Kota Semarang  adalah ibu kota Jawa Tengah yang menjadi kota kelima terbesar di Indonesia.  Semarang yang sudah masuk sebagai kota metropolitan ini mempunyai penduduk yang relatif padat sebanyak 2 juta orang. Semarang termasuk kota industri dan jasa maka ikut menampung tenaga kerja pada siang hari untuk memutar roda perekonomian Provinsi Jawa Tengah.

Simpang Lima Kota Semarang
Simpang Lima Kota Semarang yang ramai di malam hari

Kota Semarang memiliki slogan  sebagai kota ATLAS maksudnya adalah akronim dari  aman, tertib, lancar, asri dan sehat.  Sebagai kota yang terintegrasi dengan kota-kota sekitarnya Kota Semarang  menjadi bagian dari urban multicity Kedungsepur  yang terdiri dari  Kabupaten Kendal,  Kabupaten Demak, Ungaran, Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan  Kota Salatiga. Kota ini memiliki 16 kecamatan dan 177 kelurahan.

Semarang sendiri terbagi-bagi dalam pemetaan wilayah pengembangan kota yaitu Semarang Tengah atau disebut juga sebagai  Semarang Pusat,  Semarang Selatan,  Semarang Utara Semarang Timur dan Semarang Barat.  Dari pembagian ini Semarang Tengah adalah wilayah yang paling padat.

Simpang Lima Kota Semarang
Tempat membeli oleh-oleh di Simpang Lima Kota Semarang

Kota Semarang termasuk dilokasi yang rendah  berupa dataran  yang bersebelahan dengan perbukitan yang berbanjar dari barat hingga sisi timur. Di sisi selatan Kota Semarang banyak perbukitan  yang membentang dari Provinsi Banten hingga ke Jawa Timur. Wilayah Semarang Selatan yang berada diperbukitan ini disebut juga sebagai Kota Atas atau disebut penduduk sebagai Semarang Dhuwur.

Simpang Lima Kota Semarang
Simpang Lima Kota Semarang

Semarang termasuk kota yang manarik untuk dikunjungi, karena kota ini cukup nyaman dan aman. Sebagai kota besar banyak destinasi wisata di Kota Semarang. Selain wisata dalam bentuk citytour, kuliner, wisata taman kota, mal-mal, gedung-gedung bersejarah, musium dan sebagainya.

Simpang Lima Semarang
Salah satu jalan di Simpang Lima Semarang

Sejarah Kota Semarang

Sejarah panjang semarang sebagai kota sentral dari Pulau Jawa, tentu banyak menyimpang hal menarik yang bisa diceritakan.   Kota Semarang telah menjadi saksi bisu atas berbagai cerita dari sejak zaman prasejarah, zaman colonial Belanda sampai dengan masa kemerdekaan. Terutama sejarah tentang perjalanan riwayat Pulau Jawa.

Kota yang sudah dibentuk sejak 8 Masehi ini dulunya adalah bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Dulunya pada masa Mataram Kuno nama Semarang adalah Pragota. Sekarang ini berubah namanya menjadi Bergota, yang wilayahnya berada di selatan Semarang.

Nama Bergota tertutup oleh nama Asam Arang yang menjadi cikal bakal nama Semarang.  Bagaimana bisa ada nama Asam Arang? Pada masa berkuasa  Kesultanan Demak Abad 16 M seorang utusan Kesultanan  yang bernama Pangeran Made Pandan banyak menanam sebuah pohon asam yang buahnya agak kehitam-hitaman seperti arang, sehingga masyarakat pada waktu itu menyebu pohon asam  itu dengan nama Asam Arang. Penyebutan secara cepat  akan terdengar  Sem Arang yang akhirnya terbiasa menjadi Semarang.

 Pada masa Kesultanan Demak ini juga dibentuk Kabupaten Semarang yang pejabat pertamanya adalah Ki Ageng Pandan Arang yang diangkat oleh Sultan Demak pada tanggal 2 Mei 1547 yang dijadikan sebagai hari lahir Kota Semarang.

Setelah Ki Ageng Pandan Arang  yang juga adalah penyebar Islam di Jawa Tengah wafat, maka digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Mangkubumi   atau juga dipanggil  Sunan Bayat untuk meneruskan menjabat sebagai Bupati Semarang. Pangeran Mangkubumi adalah murid dari Sunan Gunung Jati.

Pada masa Belanda kota semarang dibentuk berdasarkan  stanblat nomor 120 tahun 1906. Dengan merubah status kabupaten menjadi kota Semarang yang administrasinya dijalankan oleh Pemerintah Gemeente.  Seorang pejabat penguasa kota tertingginya disebu sebagai Burgemeeste. Kondisi ini terus berjalan sampai akhir kekuasaan Belanda tahun 1942 setelah Jepang masuk ke Indonesia.

Wisata Kuliner di Simpang Lima Kota Semarang

Lokasi kuliner Simpang Lima Semarang
Lokasi kuliner Simpang Lima Semarang

Salah satu lokasi menarik dipusat kota Semarang yang dapat kita kunjungi adalah Simpang Lima Semarang.  Lokasi pusat kota yang menjadi lokasi berbagai  kegiatan dan even provinsi ini sangat menarik untuk dikunjungi pada malam hari. Menikmati suasana kota Semarang sambil mencari kuliner yang banyak tersedia disana.

Simpang Lima Kota Semarang berupa sebuah  alun-alun terbuka atau lapangan yang berada di pusat kota Semarang  di jalan raya Kota Semarang.  Lapangan  tersebut sering  juga disebut Lapangan Pancasila.  Disebut  Simpang Lima  karena ada jalan-jalan raya disekitarnya yang berjumlah lima, yaitu;  Jalan  Pandanaran,  Jalan Pahlawan,  Jalan Gajah Mada, Jalan  Ahmad Yani,  dan Jalan KH Ahmad  Dahlan.

kuliner di Simpang Lima, Semarang
Salah satu lokasi kuliner di Simpang Lima, Semarang

Paling cocok ke Simpang Lima pada malam hari, karena cuacanya tidak panas dan kuliner malam jauh lebih banyak dan bervariasi.  Di lokasi ini paling enak duduk dan kongkow bareng teman-teman sambil bercanda.  Minum kopi hangat atau  juga kopi jahe yang dijual dibanyak tempat disekitar Simpang Lima. Lokasi ini adalah tempat paling popular bagi para anak muda Semarang.

Setelah kongkow bareng teman dan perut sudah lapar maka wisata kuliner disini adalah tempatnya. Banyak pilihan warung tenda,  lesehan atau juga restoran.  Jenis masakannya juga bermacam-macam ada sea food, sate, pecel lele, ayam geprek, bebek bakar, dan banyak lagi tinggal pilih, karena banyak sekali pilihannya disini. Bisa dibilang Simpang Lima adalah surganya kuliner di Kota Semarang.

wisata kuliner di Simpang Lima, Semarang
Salah satu lokasi wisata kuliner di Simpang Lima, Semarang
Selain malam jam yang paling cocok datang kesini adalah pada sore hari atau pada pagi hari sambil jalan sehat dan berolah raga.  Taman yang hijau dan nyaman bisa menjadi tempat yang enak untuk sekedar jalan sehat dan menghidup udara segar. Kalau ada sepeda  atau sepatu roda ke lokasi juga cocok. Kemudin selesai olah raga bisa mencari sarapan yang banyak dijual di pagi hari seperti bubur ayam, bubur kacang hijau, uduk atau lainnya.

Kuliner Simpang Lima Semarang
Kuliner di Simpang Lima, Semarang
Ada banyak ragam rasa dimenu-menu masakan Kota Semarang, semarang yang sangat multi etnis telah masuk dalam citra rasa masakan Semarang yang penuh dengan rasa dan aroma. Walau ciri utama rasa manis yang masih dominan, tetapi masakan di Kota Semarang akan terasa lebih pedas dan gurih.

Kalau ingin mencoba rasa gurihnya masakan semarang bisa mencoba berbagai macam soto. Berbeda dengan daerah lain soto di Semarang ada banyak ragamnya. Ada soto ayam biasa yang sering kita temui pada umumnya. Banyak sekali kedai, tenda dan restoran di Simpang Lima yang menyediakan menu ini. Khusus untuk soto ayam ada yang rekomended yaitu Soto Pak Man yang ada di Jalan Pamularsih Raya, tetapi letaknya memang bukan di Simpang Lima lagi. Ada juga soto yang kuahnya seperti biasa tetapi dicampur dengan bumbu sate soto ini yang terkanal adalah Soto Bokoran.


Kota Semarang Mendapatkan Penghargaan Kementrian Pariwisata

Pada tahun 2015 Kementerian Pariwisata pernah menetapkan Kota Semarang sebagai destinasi yang memiliki keunggulan dalam hal kuliner. Ini sangat terbukti karena masakan Kota Semarang kaya akan citra rasa. Mungkin citra rasa ini adalah buah manis dari adanya keberagaman suku dan budaya di Semarang.

Beberapa Rekomendasi Kuliner Kota Semarang

Kalau sudah ada disekitaran Simpang Lima atau wilayah Kota Semarang lainnya ada beberapa referensi tempat makan yang asik dan enak. Seperti berikut ini, kalau ada yang belum masuk silahkan tambahkan di komentar. Nanti akan ditambahkan disini.

Super Penyet Gajah Mada Semarang
Menikmati kuliner di Super  Penyet yang merupakan  salah  satu  restaurant  di  Semarang  yang  menyediakan  berbagai menu penyet dengan keunggulan sambalnya  yang super pedas dan nikmat. Jika anda berada di  kota  semarang  anda  dapat  menemukan  Super  Penyet  ini  pada  beberapa  titik  di  kota semarang tepatnya pada daerah Jalan Gajah Mada, majapahit dan untuk semarang atas tersedia
di jalan setia budi banyumanik.
Alamat : Jl. Gajah Mada no.87, Semarang Tengah Buka Setiap hari (Senin –Minggu).

Gulai Kambing Gustaman Pak Sabar
Dari  namanya  saja,  penikmat  kuliner  olahan  daging  kambing  pasti  sudah  meneguk  air  liur membayangkan   kelezatannya.   Kuliner   daging   kambing   di   Semarang   memang   cukup beragam, salah satunya yang terbaik ada di warung ini. Gulai kambing Pak Sabar ini unik dan berbeda  dengan  olahan  gulai  kambing  lain  karena  tidak  menggunakan  santan  di  campuran kuahnya.
Alamat: Belakang Gereja Blenduk, kawasan Kota Tua, Semarang

Tahu Gimbal H. Edy
Tahu  gimbal  adalah  potongan  tahu  yang  dimakan  bareng  udang  goreng  tepung,  tauge,  kol mentah,  lontong,  dan  telur  goreng.  Kenikmatan  ini  ditambah  lagi  dengan  siraman  bumbu kacang dan kerupuk atau emping.
Alamat : Jln. Menteri Supeno, Taman Menteri Supeno, Semarang.

Mie Kopyor Pak Dhuwur
Rasa  yang  enak  dan  porsi  yang  ngenyangin  bikin  mie  kopyok  ini  cocok  banget  kita  makan pas siang-siang di tengah aktivitas kita. Mie kopyok yang super maknyus ini bisa kita cobain di Mie Kopyok Pak Dhuwur.
Alamat : Jln. Tanjung No. 18A, Sekayu

Bakmi Djowo Doel Noemani
Di  antara  banyak  penjual  bakmi  Jawa  lainnya  di  Semarang,  Bakmi  Djowo  "Doel  Noemani"  punya rasa yang bisa bikin kita jatuh cinta. Perpaduan rasa yang pas, bumbu yang enak, dan cita rasa khas bakmi Jawa yang dimasak pake arang bener-bener bikin ketagihan!
Alamat :
Jl. Thamrin No. 4 Semarang (depan Pertamina)
Jl. Pemuda No. 117 (depan Paragon Semarang)
Jl. Pemuda No. 145 (depan Balaikota Semarang).

Tahu Petis Prasojo
Selain  lumpia,  Semarang  juga  terkenal  sama  jajanan  tahu  petisnya.  Tahu  petis  adalah  tahu yang  digoreng  sampe  kering  atau  setengah  basah,  dibelah,  dan  diisi  sama  petis  yang  punya rasa manis gurih. Apalagi kalo ditambah sama cabe rawit, rasanya makin mantap.
Alamat : Pujasera Simpang Lima

Soto Kudus Mbak Lin
Bila  Anda  bertanya  mana  soto  paling  enak  di  Semarang,  jawabannya  adalah  Soto  Kudus Mbak Lin. Racikan soto ayam yang satu ini aslinya adalah khas kota Kudus. Perbedaan soto khas  Kudus  terletak  pada  kuahnya  yang  keruh  kekuningan  berkat  campuran  santan dan kunyit.
Alamat: Jl. Kimangunsarkoro No. 15, Semarang.

Soto Ayam Pak Man
Ada banyak pilihan wisata kuliner di Semarang, salah satunya adalah soto. Dan bicara soto sendiri ada banyak sekali penjaja soto di kota lumpia ini. Salah satu soto yang terkenal adalah Pak Man.
Alamat : Jl Veteran No 26 Semarang Jawa Tengah.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin
Nasi goreng di Semarang khas dengan olahan nasi goreng babat gongso. Babat gongso adalah menu  olahan  dari  jeroan  daging  sapi  dengan  citarasa manis  dan  gurih.  Di  nasi  goreng  babat Pak Karmin ini, Anda bisa memilih nasi goreng dengan aneka jenis babat sesuai selera.
Alamat: Jl. Pemuda (Samping Jembatan Mberok), Semarang

Pecel Bu Sumo
Warung  pecel  ini  udah  dijalanin  turun-temurun  dari  tahun  1965  lho,  nggak  heran  kenapa warung  pecel  ini  udah  melegenda  di  Semarang.  Dalam  satu  porsi  pecel,  ada  nasi  anget, rebusan bayem, kacang panjang dan tauge yang disiram bumbu kacang.
Alamat :
Jl. Pamularsih, Gombel Lama.
Jl. Diponegoro Ungaran.
Jl. Kyai Saleh No. 10A, Pujasera Maxell 2.

Gulai Kepala Ikan Pak Untung
Kuliner  khas  ini  dimasak  dalam  campuran  aneka  rempah yang  lezat  dan  segar  sehingga  tak ada  aroma  amis  ikan  yang  yang  terasa.  Gulai  ikan  di  warung  ini  disajikan  dengan  taburan daun  kemangi,  cabai  rawit  merah  dan  hijau  yang  utuh,  daun  jeruk  segar  dan  potongan  daun bawang.
Alamat:   Jl. Siwalan No. 1 (belakang Bank Mayapada, Bangkong), Semarang.

Pesta Keboen
Tren wisata kuliner di Indonesia sekarang adalah restoran dengan konsep desain tempo dulu. Tak  heran,  di  Semarang  pun  tema  ini  sedang  menjadi  tren  populer.  Pesta  Keboen  adalah sebuah  rumah  makan  yang  mengusung  konsep  tempo  dulu  dengan  desain  klasik.  Suasana vintage sangat kental terasa di bagian eksterior maupun interior rumah makan ini.
Alamat: Jalan Veteran No. 29, Semarang

Nasi Pecel Mbok Sador
Nah, bagi Anda yang sedang menjelajahi kawasan kuliner Simpang Lima Semarang, jangan lupa mampir mencicipi Nasi Pecel Mbok Sador. Kuliner kota Semarang yang satu ini cukup terkenal dikalangan warga Semarang dan wisatawan. Warung pecel Mok Sador terletak di Jalan Pahlawan, tepatnya di seberang Ramayana.

Kepala Manyung Khas Bu Fat
Mangut   dikenal   sebagai   makanan   khas   yang   mudah   ditemukan   di   jalur   Pantai   Utara
(Pantura).   Masakan   berkuah   santan dan   berbahan   ikan   asap   ini   memang   favorit. Di
Semarang,  ada  satu  kuliner  mangut  yang  cukup  legendaris,  yaitu  mangut  kepala  ikan manyung Warung Bu Fat. di Jalan Ariloka, Kelurahan Krobokan, Semarang Barat.

Photograger : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Tag. :  Simpang Lima, Simpang Lima Semarang, Kota Semarang, Kuliner Semarang

Sunday, September 22, 2019

Musium Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua Jakarta Membuktikan Keramik Warisan Asli Nusantara

Jakarta sebagai pusat Pemerintah Republik Indonesia tentu banyak memiliki sejarah yang panjang. Keberadaan museum-musium di Jakarta menjadi bagian dari catatan sejarah Jakarta dan Indonesia pada umumnya.  Salah satu pusat museum di Jakarta adalah kawasan Kota Tua Jakarta yang dulunya disebut sebagai Batavia atau Batavieren yang maksudnya adalah sebuah nama leluhur bangsa Belanda.

Tembikar yang sudah dihias dengan tenunan
Ada banyak museum disini seperti  Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bahari, Museum Magic Art 3D. Semua museum tersebut dikelolan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua DKI Jakarta.

Sekarang ini museum-musium itu semakin memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dengan memundurkan jam tutup museum sejak 6 Juni 2019. Jam tutup sekarang menjadi jam 20.00 WIB.  Sedangkan jam buka tetap seperti biasa pada Jam 8.00 WIB.

Halaman depan gedung Musium Seni Rupa dan Keramik digunakan sebagai tempat berkumpul wisatawan

Kesempatan ini sangat penting karena justru keberadaan wisata Kota Tua selalu banyak dikunjungi pada saat malam dan sore hari. Selain tidak panas suasana juga akan lebih santai. Sehabis pulang kerja dan bisa mengajar keluarga jalan-jalan keliling Kota Tua.

Salah banyak museum yang ada di Jakarta, akan kita ulas salah satu museum yaitu Musium Seni Rupa dan Keramik (Museum of Fine Art and Ceramics )  yang berada disisi timur dari Musium Jakarta (Gedung Fatahillah) di  Kota Tua Jakarta.

Ruangan depan Musium Seni Rupda dan Keramik

Untuk mengakses alamatnya di Jl. Pos Kota, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, tetapi kalau Anda bingung untuk mengakses museum tersdebut diblok-blok Kota Tua Jakarta yang cukup luas caranya. bisa melalui jalan Kemukus atau jalan Ketumbar, bisa juga dari jalan Pintu Besar Utara kemudian melalui gang yang ramai menuju Gedung Fatahillah. Dari sini kita tinggal lihat disisi kiri jika kita menghadap Gedung Fatahillah, maka sudah terlihat gedung nan cantik dengan sentuhan Art Deco.

Bagian dalam Musium Seni Rupa dan Keramik

Gerbang utamanya terlihat banyak deretan tiang-tiang besar dan megah sebanyak delapan baris seperti style bangunan Parthenon di Yunani. Dari sinilah kita masuk melalui gerbang utama museum untuk membeli tiket dan mulai melihat-lihat koleksinya. Harga tikernya sangat murah hanya Rp. 5000,- saja.

Bangunan museum ini didirikan pada tahun  1870 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan untuk aktifitas Lembaga Peradilan ((Raad van Justitie)), sekaligus juga sebagai tempat berkantornya Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). 

Tumpukan keramik bersejarah dalam etalase di Musium Seni Rupa dan Keramik

Pada masa Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942,  gedung museum itu digunakan sebagai markas pasukan militer Nippon, kemudian pada masa setelah tahun 1949 gedung ini dimanfaatkan oleh TNI sebagai asrama para prajurit TNI.

Baru pada tahun 1968, asset bangunan bersejarah ini dipindahtangankan ke Pemda DKI Jakarta, yang kemudian digunakan sebagai pusat pengelolaan museum di Jakarta, dengan nomenklatur Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta yang tahap berikutnya nomenklaturnya menjadi UPK Kota Tua DKI Jakarta.

Bangunan tua itu ternyata juga banyak mencatat sejarah nusantara khususnya mengenai seni rupa dan keramik. Banyak koleksi-koleksi tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Ada koleksi pada zaman Belanda, ada juga mengenai kondisi rumah masyarakat Betawi pada masa lalu, ada juga keramik-keramik Tiongkok, ada harta karun kapal yang karam dan masih banyak lagi yang cukup menarik untuk dicermati.

Selain itu ada juga deretan photo dan video yang bisa kita lihat dan tonton mengenai sejarah perkembangan seni rupa dan keramik yang ada di Nusantara. Pada museum banyak juga keliping-kliping koran dan majalah yang sudah lama mengenai Seni Rupa Indonesia.

Khusus mengenai koleksi keramiknya ternyata sangat luar biasa, keramik tua dari sejak zaman era Kerajaan Majapahit abad ke-14 juga ada. Bagi para seniman keramik ini bisa menjadi inspirasi penting mengenai identitas keramik nusantara yang sudah ada sejak zaman dulu. Selama ini kita menganggap bahwa keramik selalu dari Tiongkok, tetapi dari sini bisa kita buktikan bahwa keramik nusantara  juga sangat banyak dengan seni dan teknik pembuatan yang sudah tinggi.

Keramik di Nusantara bahkan sudah dikenal sejak zaman Neolithikum yang berada diantara rentang waktu  2500 SM sampai dengan  1000 SM.  Ilmu dan cara olah kerajinan keramik diperkirakan berasal dari kreatifitas di Nusantara sendiri dan  juga dari pengaruh dari para imigran Asia Tenggara. Perkembangan budayanya parallel dengan berkembangnya pengetahuan tentang pertanain, perkebunan,  peternakan dan bahari.

Temuan seperti pecahan-pecahan periuk belanga di Bukit Kulit Kerang  di Sumatra sangat penting sebagai petunjuk sejarah awal keramik di Nusantara. Di pulau Jawa tepatnya diantara Yogyakarta dan Pacitan ditemukan juga pecahan keramik yang berupa tembikar yang sudah lebih modern karena tembikar tersebut sudah dihias dengan profile anyaman atau tenunan.

Inilah bukti bahwa peradapan keramik di Nusantara juga adalah hasil murni dari kebudayaan asli yang ada dilokal kita, tetapi pengaruh dari cara pembuatan dan variasi dari keramik itulah yang akan banyak juga dari luar.

Kemampun pembuatan keramik ini berkembang terus sampai para pengembangan seni rupa seperti patung dan candi. Kita dapat membuktikan keberadaan candi-candi di Nusantara yang cukup banyak dan dengan arsitektur yang purna rupa dan sangat luar biasa, contohnya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut dan banyak lagi.

Inilah pentingnya keberadaan Musium Seni Rupa dan Keramik sebagai pencatat bukti dan koleksi-koleksi penting yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi.


Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Saturday, September 21, 2019

Alun-Alun Bunder dan Tugu Kota Malang yang Instagramable

Hampir setiap kota wisata memiliki tempat terbuka hijau popular untuk sekedar nongkrong dan menikmati suasana kota, demikain juga dengan Kota Malang. Kota terbesar kedua setelah Surabaya di Jawa Timur ini memiliki hawa sejuk. Salah satu ikon dari Kota Malang adalah Alun-Alun Tugu Kota Malang.   Destinasi yang terletak di pusat kota ini sangat indah, menawan dan instagramable.

Alun-Alun Tugu Kota Malang menjadi tempat selfie yang manarik
Kota Malang berada diantara Kota Batu dan Kabupaten Malang yang disebut dengan Malang Raya. Ketiga wilayah ini berada pada ketinggian yang menciptakan iklim sejuk.  Kerajaan Kanjuruhan pada masa lalu berpusat di Kota Malang dan menjadikan Malang menjadi tempat tinggal yang nyaman. Pemda Kota Malang setaip tahunnya mengadakan even wisata yang cukup terkenal, yaitu Festival Malang Tempo Doeloe.

Bangunan tugu, penataan taman-taman dan kolom teratai adalah unggulan yang  selalu menjadi daya tarik wisataawan.  Hampir semua wisatawan mancanegara yang memiliki tujuan utamanya di Gunung Bromo melalui Kota Malang selalu menjadikan tempat ini sebagai tempat nongrong sambil melakukan aksi-aksi photo selfie.
Alun-Alun Tugu Kota Malang yang instagramable di malam hari
Kota yang memiliki ikon Apel Malang telah menjadi destinasi yang ramai terutama sejak 5 tahun terakhir. Selain terletak diwilayah rata-rata yang tinggi dari permukaan laut dan memiliki iklim yang sejuk. Kota Malang juga mulai berbenar dan banyak menciptakan destinasi-destinasi baru.  Keberaadaan Kota Batu yang dekat dengan Kota Malang juga ikut meningkatkan wisata Kota Malang.

Saat malam hari para wisatawan yang pada umumnya menginap di Kota Malang akan selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan dan melihat-lihat Alun-Alun Tugu Kota Malang yang berdekatan dengan gedung kantor Pemda Kota Malang. Tentunya lebih asyik lagi sambil mencari kuliner khas Kota Malang untuk makan malam dan juga berbelanja pada mall atau pasar terdekat.
Pada masa kolonial Belanda, Kota Malang termasuk kota yang ditempati oleh para birokrat Belanda. Mereka senang dengan hawa sejuk yang ada di kota ini.  Pada tahun 1920 Alun-Alun Tugu ini dibangun oleh Thomas Karsten untuk memberikan penghargaan kepada Jaan Pieterzoen Coen, sehingga tugu itu awalnya bernama Tugu Jaan Pieterzoen Coen. Pada masa kemudian sayangnya tugu itu banyak mengalami kerusakan.

Taman di Alun-Alun Bundar menjadi tempat yang asik untuk nongkrong.
Setelah masa kemerdekaan tahun 1952, Pemerintah membangun kembali tugu itu dengan bentuk sudah seperti sekarang ini. Lokasinya tepat berada di depan Pemda Kota Malang.  Alun-Alun Bundar ini kemudian diresmikan Pemerintah pada tanggal 20 Mei 1953. 

Alun-alun yang dibangun dengan taman yang cantik ini diberi nama Alun-Alun Bundar, karena memang alun-alun ini berupa taman dan kolom bundar yang ditengahnya ada sebuah tugu yang tingginya sekitar 10 meter.  Bentuk tugu seperti tiang yang meruncing keatasnya dan diberi profile pada pinggiran tugu yang sangat artistic.
Bunga teratai Alun-Alun Tugu Malang pada malam hari bermekaran

Diluar dari tugu adalah pagar yang indah dan dikelilingi oleh trotoar yang cukup lebar. Taman dengan rumput yang hijau sekarang ini sudah tidak boleh diijak lagi karena taman kota ini harus terawat, sehingga pengunjung hanya boleh melalui trotoar dan semen saja.

Sebenarnya didalam kolom itu selain bunga teratai, banyak juga ikan-ikan hais warna-warni yang akan terlihat kalau kita datang pada siang hari.  Pemandangan ikan-ikan hias itu sebagai pengganti dari bunga-bunga teratai yang menguncup pada siang hari.
Kantor Pemda n Tugu Malang menjadi kombinasi yang artistik
Alun-Alun Bundar ini akan semakin cantik pada waktu malam, lampu-lampu taman,  air kolom, teratai-teratai yang berbunga dan tugu yang berada ditengah  itu akan memberikan warna yang manarik dan instagramable.  Waktu malam merupakan waktu yang paling cocok untuk mengambil photo di tempat ini.

Alun-Alun Bundar dan Tugu ini sudah menjadi ikon kota Malang yang terkenal. Kalau kita membeli kaos dan tsert oleh-oleh Malang maka banyak kita lihat gambar-gambar pakaian oleh-oleh itu  berupa  Tugu Malang dan Alun-Alun Bundar .  Selain itu buah apel juga menjadi gambar yang banyak menghiasi kaos-kaos tersebut.

Oh iya kalau ingin berkeliling kota Malang dengan bus wisata yang khusus disediakan oleh Pemda Kota Malang bisa datang ke Alun-Alun Bundar ini pada malam Minggu.  Dengan berkeliling menggunakan bus wisata ini kita bisa melihat-lihat berbagai hal menarik di pusat Kota Malang, salah satunya adalah Musium Malang Tempo Doeloe, pasar bunga, dan pasar burung Splendid.

Sejarah Kota Malang

Balai Kota Malang di dekat Alun-Alun Tugu Malang
Sama halnya dengan kota-kota di Jawa, Kota Malang termasuk memiliki sejarah panjang tentang perkembangan Hindu, Buddha dan Islam. Menurut para ahli sejarah dimulainya penduduk berkumpul dan membuat penghidupan, bertumbuh dan berkembang di Malang pada saat berdirinya sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8 setelah masehi.

Wilayah Malang adalah wilayah yang nyaman untuk dihidupi dan memiliki tanah yang subur. Para penduduk yang datang ke Malang banyak membuka lahan dan memulai penghidupan baru. Pusat Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan berada di wilayah Merjosari, Dinoyo,  Ketawanggede dan Tlogomas. Wilayah tersebut yang penduduknya ramai dan juga menjadi pusat perdagangan dari hasil bumi wilayah sekitarnya.

Kerajaan Kanjuruhan beragama Hindu, dan menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan ini para rajanya masih berdekatan dan bertalian darah dengan kerajaan Mataram Kuno.  Prasasti terkenal yang menjelaskan tentang eksistensi dari Kerajaan Kanjuruhan adalah Prasasti Dinoyo. Salah satu Raja Kanjuruan yaitu Gajayana.

Pada masa kerajaan didirikan Candi Wurung yang berada di berada di Desa Menoreh, Kecamatan Slaman, Kabupaten Magelangdan. Selain Candi Warung, Kerajaan Kanjuruhan juga membangun Candi Badut yang berada di Tidar, sisi bagian barat kota Malang. Atau pada masa sekarang di dusun Karang Besuki, Kec. Dau, Kabupaten Malang.

Setelah kerajaan Kanjuruan meredup dan jatuh,  kekuasaan wilayah Malang berada di tangan raja-raja Singasari yang mulai menguat pada tahun 1000 M.  Tidak lama berada di bawah Singasari, wilayah ini diambil alih oleh Kerajaan Majapahit dalam waktu yang sangat lama.

Tugu Malang berada di sekitar Kantor Pemda Malang

Kondisi politik yang tidak stabil Patih Gajah Mada dari Majapahit berpindah kesini setelah pusat kerajaan Majapahit berpindahtangan ke Kerajaan Demak pada masa pemerintahan Girindrawarddhana. Dengan sisa-sisa pengikutnya sempat mendirikan pemerintahan transisi tetapi tidak lama jatuh ketangan Kesultanan Mataram yang berpusat di Yogyakarta pada tahun 1614.

Pada tahun 1716 M, wilayah Malang dikuasai oleh VOC dan mendirikan benteng yang saat ini berada di Rumah Sakit Celaket (RS Sakit Saiful Anwar). Setelah VOC berubah menjadi Hindia Belanda  pada 1914, Pemerintah Hindia Belanda banyak melakukan penataan kota di Malang dan banyak membangun gedung-gedung yang sampai sekarang masih bisa kita lihat sampai saat sekarang.

Photografer Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Tag. :  Malang, Tugu Kota Malang, Alun-Alun Bundar Malang, Kota Malang, Wisata Malang

Translate