Saturday, October 10, 2020

Misteri Relief Kapal Jung Jawa di Candi Borobudur

Ini adalah relief Kapal Jung di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-7. Kapal ini merupakan kapal yang banyak digunakan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Medang, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit dan juga pada masa Kerajaan Demak. Kapal ini bahkan telah digunakan sejak ribuan tahun sebelum masehi.

Relief Candi Borobudur dengan visualisasi pelabuhan kapal jung masa lalu dengan kondisi pelabuhan permanen yang sudah terorganisir. Terlihat pelabuhan juga memiliki taman dan petugas pelabuhan.


Apakah ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa wilayah Indonesia begitu luas dengan perairan dan pulau-pulau?

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan besar di pulau Sumatera pada masa lalu. Asal muasal kerajaan ini dari Dinasti Syailendra yang tersebar di Sumatera dan Jawa melahirkan dua kerajaan besar, yaitu di Sumatera yang berpusat di Palembang membangun Kerajaan Sriwijaya melalui salah satu dinasti yaitu Balaputradewa. Di Jawa Tengah yang berpusat di Magelang dibangun Kerajaan Mataram Kuno dan Jawa Timur dibangun Kerajaan Medang.

Kerajaan Majapahit

Sebelum Indonesia berdiri penyatuan pulau-pulau dalam batas imajiner yang membentang dari barat di Aceh sampai dengan Papua di timur sudah terbentuk sejak lama. Sejak Sriwijaya dan juga sejak Majapahit. Pada masa Kejayaan Majapahit di Zaman Raja Hayam Wuruk yang bergelar  Rajasanegara (1350-1389).  Di padu dengan patih yang terkenal gagah perkasa Patih Gajah Mada yang bergelar Mahapatih Amangkubhumi Majapahit telah menyatukan gagasan persatuan yang dibingkai dalam kata “Nusantara”.


Untuk menelaah sejarah Majapahit banyak para ahli menggunakan  tafsir sejarah dari  Kitab Nagarakretagama  yang biasa disebut juga sebagai Kitab Kakawin Desawarnana (Deśawarṇana) yang menjadi rujukan dan  referensi  penting. Selain itu juga menelaah dari isi Kitab Pararaton yang berisi Sumpah Palapa oleh Gajah Mada yang fenomenal.

Kata Nusantara tetap ada dalam pemahaman para Raja-Raja dan para Penata Pemerintahan pada masa lalu. Berganti zaman dan berganti kerajaan di tanah ini, kata nusantara tetap ada, dan di uter hidup sampai sekarang. Penyatuan pertama dimasa Kerajaan Sriwijaya dan kemudian dilanjutkan dengan masa Majapahit yang diperkuat gagasannya oleh Patih Gajah Mada.

Untuk memperkuat cita-cita Gajah Mada itu, maka kerajaan Majapahit banyak membangun kapal-kapal untuk kekuatan maritime di laut. Kapal Jung adalah kapal yang banyak digunakan sebagai kapal perang dan juga sebagai kapal angkut.

Kapal Majapahit ini menguasai jalur rempah-rempah vital antara Maluku, Jawa dan Malaka. Saat itu kota pelabuhan Malaka bisa dibilang kota Jawa. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang pelayaran juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ketujuh.


Kerajaan Mataram Kuno dan Medang

Pada tahap selanjutnya, dari keturunan Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Medang, inilah cikal bakal kerajaan lain yang muncul kemudian di Nusantara dan di Asia Tenggara di kemudian hari.

Mengapa dinasti Syailendra benar-benar menyebar dan keturunannya menjadi tokoh di kerajaan lain yang muncul belakangan? Termasuk menyebar ke kerajaan dinasti di Malaya, Indo Cina, Champa. Juga menyebar ke Kerajaan di Kamboja dan India.

Simbol penting lainnya dari dinasti Syailendra juga ada di Nalada, India. Keluarga Sailendra membangun sebuah prasasti yang merupakan petunjuk penting saat ini, prasasti Nalada.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak simbol-simbol pada relief salah satu ikon penting Dinasti Syailendra yang keturunannya dibangun, yaitu Samaratungga yang merupakan istri Dewi Tara yang berasal dari Sumatera.

Ikon tersebut masih ada dan merupakan salah satu keajaiban dunia yaitu Borobudur. Adakah makna dan makna dari relief yang diukir di atas bebatuan Candi Borobudur yang berjumlah jutaan keping batu tersebut?

Dinasti Syailendra yang benar-benar luas wilayahnya, terbentang hingga ke wilayah nusantara, hingga ke wilayah Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Sri Lanka dan India. Bisa dibayangkan sejauh mana kekuatan Sailendra Wangsa yang melahirkan Kerajaan Sriwijaya di Swarnadwipa (Sumatera) serta Kerajaan Mataram dan Medang Kuno di Jawa.

Besarnya pengaruh dan kekuatan dinasti Syailendra menggambarkan kebesaran kerajaan pada masanya. Dijelaskan kekuatan armada kapal yang pelayarannya biasa ke China, Afrika, Rusia dan Amerika. Jika kita melihat besarnya kekuatannya, maka tidak heran bila candi borobudur dengan arsitektur yang kompleks dibangun dan dapat kita saksikan hingga sekarang.

Kerajaan Demak

Setelah kekuatan Majapahit mampu diruntuhkan Kesultanan Demak. Raden Fatah segera melakukan penataan pemerintahan yang lebih baik dan membangun kekuatan militer yang berbasis maritim yang kuat dan disegani. Upaya itu diteruskan oleh Pati Unus. Praktis kekuatan Demak menjadi kekuatan militer dengan kekuatan maritim yang terkenal.
 
Kekuatan armada maritim Demak ini menjadi dayatarik bagi tempat lain untuk menjalin kerjasama. Salah satunya adalah kerjasama dengan Kerajaan Malaka di utara barat Sumatra. Kerjasama ini terbukti bermanfaat saat terjadi serangan armada Portugis ke Malaka.
 
Kesultanan Demak telah mempersiapkan kapal canggih dan besar seperti kapal induk saat ini, yaitu kapal super besar Jung Jawa untuk mengangkut pasukan yang besar pada tahun 1513.  Kekuatan armada ini sebanyak 35 kapal jung besar yang masing-masing  mampu menampung beban 500 ton.
 
Penggambaran kapal Jung Jawa dapat dibaca dari surat Fernao Peres de Andrade yang menjadi Komandan Armada Portugis di Malaka. Surat tersebut ditulis ditahun 1513 kepada Afonso de Albuquerque.
 
Isi surat  Fernao Peres de Andrade sebagai berikut ini:
“Kapal Jung adalah suatu yang menakjubkan. Kapal Anunciada yang dekat dengannya sama sekali tak terlihat sebagai kapal karena ukurannya amat kecil jika dibandingkan dengan Jung itu. Kami menyerangnya dengan meriam besar, tetapi tembakan tersebut tak dapat melubanginya di bawah garis air, dan tembakan espera juga tidak dapat tembus; pada jung itu terdapat tiga susunan, semuanya lebih tebal daripada satu cruzado. Kapal Jung itu pasti begitu besar dan dahsyat, dan untuk membangun kapal itu perlu tiga tahun.”

Kapal Anunciada seperti dalam penjelasan dalam surat Fernao Peres de Andrade adalah kapal terbesar yang dimiliki oleh Portugis.  Kemudian ada istilah espera yang maksudnya berupa meriam yang paling canggih yang dimiliki oleh Armada Portugis di Malaka. Ukuran satu cruzado maksudnya adalah ukuran dari uang koin Portugis yang berdiameter 3,8 cm.

Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M atau abad ke-7. Borobudur dibangun oleh penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Kuil ini dibangun pada puncak dinasti dinasti. Pendiri Candi Borobudur, Raja Samaratungga yang berasal dari Dinasti atau Dinasti.

Dinding-dinding Candi Borobudur dengan batu yang berrelief.

Kemungkinan candi ini dibangun sekitar 824 M dan selesai sekitar tahun 900 M pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang merupakan putri Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut cerita turun-temurun bernama Gunadharma.

Candi Borobudur berada di sekitar 40 km dari barat laut Yogyakarta dan dari 86 km  barat Surakarta. Posisi Candri Borobudur juga terletak di daerah tinggi antara dua gunung berapi kembar, Sundoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, dan dua sungai, Progo dan Elo. Tanah tempat candi ini terkenal sebagai tanah yang subur dan menjadi lokasi yang sangat baik  untuk kawasan pertanian yang menjadi sumber penghasilan penduduk pada masa itu.

Stupa-stupa Candi Borobudur dengan arsitektur yang sangat rumit.

Selama pemugaran pada awal abad ke-20, ditemukan bahwa tiga candi Budha di wilayah tersebut, Borobudur, Pawon dan Mendut, diposisikan di sepanjang garis lurus. Hubungan ritual antara ketiga candi itu pasti ada, meski proses ritual pastinya belum diketahui.

Kata Borobudur sendiri didasarkan pada bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang memberi nama pada Candi Borobudur ini. Hanya satu dokumen tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di dalam kitab tersebut tertulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi umat Buddha.

Arti nama Borobudur adalah "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "batu bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (bukit atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Oleh karena itu sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini dahulu kala digunakan sebagai tempat pemujaan umat Budha.

Kuil ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung berapi, sebagian besar bangunan Borobudur tertutup tanah vulkanik. Selain itu, bangunan tersebut juga ditumbuhi berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai dilupakan pada saat Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.

Pada tahun 1814 ketika Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar tentang penemuan benda purbakala di desa Bumisegoro berukuran raksasa di Magelang. Karena minat yang besar terhadap sejarah Jawa, Raffles segera memerintahkan HC Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuannya yang merupakan bukit yang ditumbuhi semak belukar.

Cornelius dibantu oleh sekitar 200 orang pria menebang pohon dan membuang semak yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena menganggap bangunan tersebut sudah rapuh dan bisa runtuh, maka laporan penemuan Raffles Cornelius tersebut menyertakan beberapa gambar. Sejak penemuan itu, Raffles juga dihormati sebagai orang yang memulai pemugaran Borobudur dan perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi telah digali. Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956 pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk memeriksa kerusakan Borobudur. Kemudian pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO.

Namun pemugaran ini baru benar-benar dimulai pada 10 Agustus 1973. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia atau Warisan Dunia oleh UNESCO.

Para turis di Borobudur

Kapal Jung Jawa

Kapal jung digunakan terutama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, mencapai Ghana atau bahkan Brasil di zaman kuno. Bobot beban dalam kisaran 85-700 ton. Bobot ini mampu mencukupi kebutuhan logistik untuk perjalanan jauh bahkan hingga Madagascar dan Ghana di Afrika.

Konstruksi perahu Nusantara sangat unik. Lambung perahu dibentuk untuk menempelkan papan-papan tersebut ke lambung kapal. Kemudian dipasang pada pasak kayu tanpa menggunakan kusen, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal runcing. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi yang disebut dayung, serta layar persegi panjang (layar tanja) atau layar lateen dengan sekat bambu.

Dalam bukunya Denys Lombard,  Nusajawa: Jaringan Asia yang diterbitkan tahun 2004 menyebut istilah "jung" berasal dari Asia Tenggara. Lombard juga menyebut “jung” sebagai kapal raksasa. Para Penjelajah Eropa menyebut wilayah perairan yang digunakan kapal Jung/Jong sebagai perairan “kun-kun” atau disebut sebagai Laut Selatan. Penyebutan Laut Selatan juga digunakan oleh para penulis dari Tiongkok.

Dalam catatan Tome Pires seorang penjelajah Portugis lainnya penggunaan kapal jung sebagai kapal armada pasukan laut Pati Unus yang tidak lain adalah seorang raja kerajaan Demak yang kedua. Tome Pires mencatat kapal Pati Unus memiliki kemampuan untuk menampung sekitar seribu penumpang.

Penulis lain yang masih semasa dengan Denys Lombard , yaitu Pierre-Yves Manguin juga pernah menulis khusus tentang "jung".  Menurut Manguin, kapal-kapa raksasa dari Jawa itu diproduksi dari galangan-galangan kapal yang dekat dengan kawasan hutan jati di Cirebon, Jepara, dan Tuban. 

Catatan lainnya mengenai kapal jung juga ada dari catatan Ptolemy yang jauh lebih tua. Dalam tulisan yang diperkirakan pada tahun 100 Masehi. Catatan itu berjudul:  “Periplus Marae Erythraensis (catatan laut bagian terluar)”.  Catatan dari Tiongkok berasal dari Wan Chen yang member judul tulisannya itu “Hal-Hal Aneh dari Selatan”.  Wan Chen mendiskripsikan kapal jung mampu membawa 700 orang penumpang, berikut dengan muatan kargo sampai dengan 10.000 kargo (250-1000 ton), panjangnya sampai 50 meter dan tingginya 4 hingga 7 meter. Wan Chen dalam tulisannya memastikan bahwa kapal itu bukan dari Tiongkok tetapi berasal dari “Kun-lun” (selatan).  

Dalam catatan hikayat dari Raja-raja Pasai menyebutkan, Kerajaan Majapahit menggunakan "jung" secara masif untuk kekuatan armada maritime. Mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar "jung" Majapahit mencapai 400 kapal, disertai jenis Malangbang dan Kelulus yang tak terhitung banyaknya.

Gaspar Correia, penulis sejarah abad 16 dari Portugis mencatat tentang pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa Majapahit yang terjadi di Selat Malaka. Pramoedya menyebut, nama kapten terkenal Portugis itu berdasarkan penamaan orang Jawa pesisir yakni "Kongso Dalbi". Catatan Gaspar itu menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa ditembus dari empat lapis papan kapal itu. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

Pelaut dari Portugis Alfonso Albuquerque sendiri juga memiliki catatan terkait kapal jung dari Jawa ini. Alfonso Albuquerque menggambarkan kapal jung memiliki empat tiang layar dan memilikii bobot sampai dengan 600 ton.  Kapal terbesar dalam catatannya dimiliki oleh Kerajaan Demak yang bobotnya mencapai 1.000 ton.

Penulis Portugis lain Fernao Pires de Andrade merangkum catatan dari Tome Pires, menjelaskan pembuatan kapal jung itu membutuhkan waktu sampai tiga tahun. Bahkan penjelajah Albuquerque juga ikut mempekerjakan 60 tukang kayu dari Jawa untuk merancang kapal. Para ahli kapal dari Jawa itu sebelumnya adalah bekerja di Malaka.

Penulis dan juga seorang pedagang Italia, Giovanni da Empoli, mendiskripsikan kapal jung dalam surat-suratnya bahwa kapal jung tidak berbeda dengan sebuah  benteng, karena memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri.

Relief Kapal Jung Jawa di Candi Borobudur

Terdapat 10 relief kapal yang lebih muda di sisi utara Candi Borobudur yang bernama asli Kamulan Bhumisambhara menurut prasasti Kahulunan yang berumur 842 tahun. Dari relief tersebut terdapat 6 kapal yang terlihat sebagai kapal besar, sedangkan 4 relief lainnya terlihat sebagai kapal kecil dan menengah. Inilah sinyal bahari bangsa yang membuat Candi Borobudur ini.


Kapal Jung Jawa yang sedang berlayar

Kapal kecil dan layar besar tergambar jelas dalam relief. Terdapat relief yang menggambarkan dua kapal layar dan satu kapal kecil dengan satu layar. Kapal sister adalah kapal dengan ciri khas orang Austronesia di Asia Tenggara.

Relief Candi Borobudur, kapal jung yang sedang berlayar di samudra dengan visualisasi berupa lautan berombak ombak besar dan adanya awan di langit.


Pada salah satu relief terdapat kapal di bagian depan kapal, lunasnya menajam ke depan dan naik. Bagian depan runcing dengan tambahan logam atau besi yang keras dan kuat. Inilah ciri khas kapal Sriwijaya. Ketajaman bagian depan digunakan untuk menanduk kapal musuh.

Relief Candi Borobudur, Kapal nelayan yang sedang mencari ikan di lautan

Seorang angkatan laut Inggris, Philip Beale melakukan penelitian tentang kehidupan laut di Borobudur. Ia takjub dengan detail relief batu andesit Candi Borobudur yang menggambarkan arsitektur kapal yang rumit. Ia meyakini bahwa patung itu berdasarkan arsitektur kapal yang sebenarnya ada saat itu.

Relief Candi Borobudur. Para petugas kapal yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu (mungkin makanan) untuk para penumpang.

Apakah ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa wilayah Indonesia begitu luas dengan perairan dan pulau-pulau? kunci jawabannya ada pada pahatan batu berupa relief di Candi Borobudur yang membuktikan bahwa kehidupan bahari memang sudah menjadi budaya pada masa lalu, yang tertatah begitu indah di Candi Borobudur.

Tentunya perlu penelitian yang mendalam tentang sejarah Nusantara, budaya maritime pada masa lalu di Nusantara dan kaitannya dengan Indonesia pada masa kini, sehingga semangat dan jiwa bahari itu bisa terus ada sampai generasi masa kini.

The Indonesia Team Writter

Sumber Referensi :

- indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/jong-sang-gargantua-dari-laut-jawa
- theindonesiaadventure.com/2020/09/catatan-sejarah-penjelajah-eropa-dan.html
- id.wikipedia.org/wiki/Pati_Unus
- Manguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11: 266–276 – via JSTOR. - www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/info/berita-khusus/Pages/Jung-Jawa-yang-Terlupakan.aspx.

Tag : Borobudur, Candi Borobudur, wisata candi, wisata jateng, wisata yogya,  mataram kuno, medang, relief candi Borobudur, sriwijaya, majapahit, medang, kapal jung, nusantara, jung jawa, Relief Kapal Bodobudur

Sunday, November 20, 2011

Patung Laksamana Cheng Ho di depan Klenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang

Ada yang manarik di  Semarang yaitu sebuah klenteng Agung Sam Poo Kong yang di depannya ada patung Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Waktu masih kecil Cheng Ho bernama Ma San Bao.

Laksamana Cheng Ho adalah seorang prajurit dari Kekaisaran China yang sering pemimpin pelayaran ke berbagai benua untuk menyampaikan misi perdagangan dan perdamaian. Walaupun seorang pembesar Kekaisaran China tetapi Cheng Ho  beragama Islam.

Klenteng ini sudah memiliki sejarah yang panjang yaitu sejak pelayaran Laksamana Cheng Ho mendarat di sebuah lokasi yang bernama Simongan (sekarang ini bernama Semarang) karena ada rekannya yang bernama Wang Jing Hong yang merupakan seorang juru mudi mengalami sakit keras.  Karena keterbatasan obat dan membutuhkan pertolongan dan pengobatan.

Awalnya klenteng ini hanyalah sebuah gua batu tetapi kemudian di bangun sebuah klenteng bersama dengan masyarakat setempat.  Wang bersma anak buahnya juga menggarap lahan dan membangun rumah. Akhirnya Wang dan anak buahnya menetap dan menyatu dengan warga lokal.

Pada umur 87 tahun Wang sakit dan wafat, makamnya diberi nama Makam Kyai Juru Mudi. Gua batu pernah mengalami longsor. Kemudian oleh masyarakat dibangunkan lagi gua buatan di sebelah lokasi gua yang  longsor itu untuk menghormati Wang Sang Juru Mudi kapal Laksamana Cheng Ho.

Klenteng  Agung Sam Poo Kong selain tempat beribadah, juga menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi dan menjadi tempat aksi photo wisatawan.





Photografer : Agustia Sari

Translate