Wednesday, July 29, 2020

Wisata Malam di Yogyakarta, Sambil Minum Wedang Jahe Hanget

 
Wisata malam dapat menghilang stres, begitu kata teman. Ternyata benar adanya. Apalagi sambil menyeruput hangatnya wedang jahe yang kalau di Yogya disebut wedang ronde. Minuman menyegarkan ini banyak dijual di jalan-jalan Kota Yogya, khususnya di area-area wisata, seperti contohnya di jalan Malioboro.

Wedang Jahe di Yogya disebut Wedang Ronde
Wedang jahe di Yogya disebut wedang ronde
Sambil mendengarkan lagu Katon: "Yogyakarta" yang dinyanyikan musisi jalanan. Suara drumnya itu loh..khas banget kan.

"Pulang ke kota mu..
Ada setangkup haru dalam rindu..
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna.. Terhanyut aku akan nostalgi..
Saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama..
Suasana Yogya..."

Itulah Yogya yang sering membuat kita kangen selalu sana, menikmati suasana Yogya.

Tak berasa wedang jahe sudah mulai habis membuat tenggorokan dan perut jadi hangat. Itulah salah satu manfaat dari minum wedang jahe, minuman tradisional yang nikmat dan sangat melegenda.

Banyak sekali informasi kesehatan yang dapat nudah ditemui mengenai kandungan yang ada di dalam jahe merah bisa meningkatkan imunitas dan mengandung anti oksidan. Di dalam Jahe juga terdapat bahan antiinflamasi.

Wedang jahe merupakan minuman khas masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sangat mudah mendapatkan minuman sehat menyegarkan ini, terutama dijalan-jalan seputaran kota Yogyakarta.

Sebenarnya apa sih bahan utama wedang jahe ini? Bahan utama air wedang jahe yang terbuat dari jahe apalagi dari jahe merah yang dalam bahasa latinnya disebut Zingiber officinale var. Rubrum) benar-benar menyehatkan.

Cara Membuat Wedang Jahe

Sebenarnya beragam cara membuat wedang jahe ini. Bahkan nama minuman ini pun di berbagai wilayah di Indonesia berbeda-veda. Ada yang menyebutnya bandrek, ada yang menyebut sekuteng, ada juga air jahe, tapi yang paling populer wedang jahe.

Apa saja bahan membuat minuman ini? Siapkan bahan-bahan sebagai berikut:

1. Air sebanyak 1000ml .
2. 5 cm jahe ukuran sedang jangan terlalu tua dan jangan terlalu muda.
3. gula nira atau gula aren 2 buah yang berukuran 1 buahnya sekitar 1 ons.
4. 10 butir cengkeh
5. 5 batang serai yang digeprek. (opsional)
6. Garam sesuai selera ( sedikit saja agar ada rasa gurih kalau bertemu gula aren).
7. Susu kental manis (opsional).

Siapkan wajan ukuran sedang, kemudian masukkan air yang sudah disiapkan dan masak di atas kompor. Sambil menunggu air mendidih siapkan bahan lain.

Bakar jahe sebelum dikupas kulitnya, agar muncul aroma yang khas dari jahe. Kemudian kupas kulitnya dan dipotong kecil-kecil agar sari jahe dapat bercampur sempurna ke air. Masukkan potongan-potongan jahe ke air yang mulai panas.

Mulai masukkan gula aren ke air bersama garam, kemudian masukkan juga cengkeh agar aroma wedang harum dan berasa khas. Cengkeh juga sama dengan jahe yang dapat meningkan rasa segar dan hangat pada tubuh. Ada yang suka agak pedas dan agar badan berkeringat minumnya dengan ditambah sedikit lada, tetapi bagi yang tidak kuat pedas sebaiknya jangan digunakan.

Terakhir gebrek serai dan masukkan ke air wedang yang mulai mendidih. Ini opsional kalau tidak pakai juga tidak apa-apa. Jika sudah dimasukkan silahkan aduk-aduk dulu agar gula aren larut dan air jadi berwarna gula aren. Selain itu juga sari jahe dapat keluar bercampur air. Setelah mendidih dan bahan terlihat larut dengan sempurna.

Cara Penyajian


Siap gelas dan saringan kecil, kemudian masukkan air wedang jahe ke gelas melalui saringan. Agar lebih mantap masukkan susu kental manis secukupnya, selain itu bisa juga ditambah potongan-potongan roti tawar, atau tambahan bahan lainnya sesuai selera anda. Saran agar lebih terasa mantap, minumlah wedang jahe ini dimalam hari agar tubuh esok harinya lebih segar bugar.

Tag. wedangjahe, wisata Yogya, Yogya, Yogya Malam

Thursday, September 19, 2019

Yogya Festival Street Ferformance pada 22-23 September 2019

 
Siap-siap ikutan yuk Yogya Festival Street Ferformance 2019. Kereeen!


Jogja International Street Performance is back! Event tahunan dimana kamu bisa nonton berbagai pertunjukan seni dan musik dari negeri sendiri, Indonesia dan juga dari negara lain seperti  Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang dan Taipei.

Pertunjukan ini akan dilaksanakan di jalan Malioboro yang fenomenal itu Guys! Bukan hanya seniman dari negeri kita saja, tetapi juga akan banyak diikuti oleh seniman dari berbagai negara. Even ini diselenggarakan untuk mengapresiasi para seniman dunia!

Tuesday, September 17, 2019

Batik Yogyakarta dalam Bingkai Filosofis Budaya Jawa

 
Batik Yogyakarta merupakan salah satu ikon dari Kota Yogyakarta. Sayang rasanya kalau ke Yogya tetapi tidak beli batik.  Apalagi keluarga dan teman di rumah mau oleh-oleh.  Oleh-oleh batik Yogya tepat rasanya. Selain untuk oleh-oleh batik juga untuk keperluan sendiri, karena sekarang batik banyak digunakan untuk pakaian kerja, bukan sekedar untuk pesta saja. Kain batik telah menjadi salah satu cirri dari komunitas dan daerah yang penting.  Identitas tradisional ini telah lama ada.

Batik, Batik Yogya
Seorang Pengrajin Batik yang sedang menulis batik secara tradisional
Dalam budaya Jawa istilah batik berasal  dari suku kata tik. Kata tik merujuk pada titik-titik yang pada saat proses pembuatan batik tradisional dengan tangan yang halus, lembut, dan detil.  Kata menitikkan ini juga tentu sebuah kerja yang harus menggunakan sebuah alat yang bisa menitikkan. Alat itu disebut canting yang dibagian dalamnya ada bahan tinta  pewarna. Setelah bahan tersebut habis maka canting dicelupkan lagi ke sebuah sejenis mangkuk yang berisi pewarna batik yang terus dipanaskan dengan kompor kecil.
Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogyakarta di jalan Malioboro
Membatik memerlukan sebuah ketekunan dan kesabaran untuk memberikan corak pada seluruh permukaan kain. Membatik bukan hanya sekedar seni tetapi juga sebuah pengungkapan perasaan dari rasa para seniman pembatik. Semua goresan dan titik-titik atau pewarnaan itu sangat terpengaruh oleh sebuah “rasa” yang dari Si Pembatik.

Batik, Batik Yogya
Monumen Batik Yogya berada ditengah alun-alun jalan Malioboro
Pembatik biasanya duduk di sebuah bangku pendek atau yang disebut “dingklik” dan duduk sangat lama untuk menyelesaikan sebuah produksi seni batik purna rupa.

Keistimewaan membatik adalah banyak para ibu yang berusia yang sudah cukup tua tetapi sangat produktif untuk menghasilkan seni batik.

Kota Yogyakarta adalah satu satu dari pusat kebudayaan batik  Jawa. Sebenarnya ada banyak kota di Jawa yang memiliki corak dan warna sendiri dari batiknya, tetapi bisa dikatakan Yogyakarta adalah pusat perdagangan batik Yogyakarta. Faktor utama yang memudahkan masyarakat Yogya menjual batiknya adalah karena Yogyakarta termasuk destinasi wisata yang sangat  menarik.

Batik, Batik Yogya
Tempat penjualan batik Yogya di Malioboro
Batik Yogyakarta walau memiliki kekhasan tetapi juga cukup  memiliki variasi yang sangat meragam.  Kalau kita datang ke berbagai pusat penjualan batik maka akan terasa banyaknya variasi itu. Hal ini menunjukkan dinamika yang ada di kota Gudeg ini, tetapi dinamika itu tetap masih memiliki ciri dan kekhasan yang cukup menonjol, yaitu: penggunaan warga hitam, putih dan coklat yang dominan, tetapi kadang-kadang juga ada campuran sedikit biru tua.  Ciri lain yang menonjol adalah penggunaan relief dari bentuk-bentuk tumbuhan.

Batik Yogyakarta juga termasuk batik yang pengerjaannya masih tradisional tulis tangan dengan alat canting. Para pemburu batik justru masih mencari batik yang pengerjaannya dengan cara yang tradisional. Selain terlihat lebih original sebagai sebuah seni membatik, batik asli tulis tangan juga terlihat otentik dan berkelas.
Batik, Batik Yogya
Pasar Bringharjo yang menjadi pusat penjualan batik Yogya

Hal yang dicari para pencari batik dari batik Yogya juga adalah harganya yang relative lebih murah dibandingkan dengan batik dari kota lain di Jawa.  Pasar-pasar di Kota Yogya  baik pasar tradisional maupun pasar modern berupa mall tidak ada yang sepi dari perdagangan batik.  Batik bagi m asyarakat Yogyakarta tidak sekedar ikon tetapi sebuah semangat untuk meningkatkan  perekonomian dan taraf hidup.
Secara umum motif dan gaya dari batik Yogya terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:

Motif Kawung

Motif kawung termsuk motif yang umum pada batik Yogya, Mitif berbentuk bulatan-bulatan yang konsisten seperti  buah-buah  Kawung.  Buah kawung  adalah buah sejenis buah kelapa yang biasanya digunakan  untuk membuat bahan kolang kaling.  Motif kawung biasanya berupa kain panjang yang banyak digunakan untuk selendang atau kerudung.

Motif Parang

Motif parang ada dua macam yaitu motif parang rusak dan parang barong.  Parang rusak maksudnya perlawanan manusia dengan  cara mengendalikan kejahatan, sehingga kejahatan bisa berubah menjadi bentuk kemuliaan dan juga kebijaksanaan.

Untuk motif parang barong yang memiliki arti agar seorang pemimpin menjaga hatinya dan menjadi penguasa yang jujur, adil dan bijaksana. Seorang pemimpin harus welas asih dan penuh tanggungjawab terhadap rakyatnya.

Motif Batik Tambal

Motif batik tambal terkait dengan kepercayaan akan kekuatan magis batik. Kata tambal artinya menyembuhkan  dan atau memperbaiki (recovery).  Dalam budaya Jawa ada kepercayaan  dan harapan orang yang menggunakan batik tambal akan sembuh penyakitnya.  Tentu ini kaitannya dengan filosofis untuk menjaga semangat dan harapan untuk sembuh dan  tetap hidup optimis.

Motif Truntum

Motif batik truntum maksudnya adalah sejenis batik kasik  yang tergolong langka yang sampai sekarang masih terus dilestarikan.  Motif batik truntum biasa digunakan dalam acara-acara  pernikahan.  Batik motif truntum melambangkan harapan agar cinta dan kasih sayang  kedua  mempelai  yang sedang menikah dapat terjaga dan terus berbahagia bersama.

Sebenarnya ada banyak lagi jenis motif lainnya seperti  motif parang rusak gendreh, parang rusak klitik, semen gede swat gurda, semen gede swat lar, udan liris, rujak sente, dan parang-parangan.  Ada beberapa motif yang secara aturan tidak boleh digunakan untuk umum tetapi bersifat khusus dan spesial digunakan oleh Sultan dan keluarga keraton Yogyakarta. Tetapi untuk saat ini aturan itu sudah semakin luwes dan hanya dilingkungan Keraton Yogya saja dan tidak diberlakukan untuk masyarakat umum.

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdvanture.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Key. : Batik, Batik Yogya, batik yogyakarta, yogyakarta

Friday, March 23, 2012

Menelusuri Jalan Malioboro di Yogyakarta yang Unik

 
Jalan Malioboro terletak di jantung Daerah Istimwewa Yogyakarta. Jalan tersebut berada antara jalan Jenderal Ahmad Yani dan jalan Abu Bakar Ali. Dijalan ini ada Kantor DPRD Di Yogyakarta.

Jalan Malioboro merupakan salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta. Ujung timur jalan ini berada di perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Jalan Malioboro memiliki sentuhan budaya, seni, dan karakter masyarakat Jawa Yogyakarta yang kental. Mulai dari adanya andong, becak, lapak-lapak masyarakat berjualan, pengamen dan sebagainya yang justru menjadi ciri yang khas dari Yogyakarta.

Malioboro sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.

Pada awalnya jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut.

Orang-orang Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu. Sekarang pasar ini sangat ramai dan mewarnai Jalan Malioboro sebagai pusat belanja yang terkenal murah dan banyak ragamnya. Mulai dari pakaian batik, pernak pernik, sepatu, tas kulit, barang kerajinan dan seni.

Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Banyak sekali yang dapat dilihat disini. Ada miniatur sepeda, becak, kapal vinisi, patung-patung prajurit keraton dan sebagainya. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri.

Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selesai jalan-jalan sambil berbelanja, jika lapar kita bisa memilih berbagai menu di lapak-lapak lesehan yang tersedia. Selain beragam rasa harganya juga tergolong ekonomi. Untuk pulau kita bisa memilih becak atau andong.

Datang ke Yogya belum dianggap datang kalau belum ke Jalan Malioboro begitu kata orang Yogya, mungkin kalimat ini ada benarnya kalau kita sudah kesana bisa merasakan keunikan Yogyakarta, yang pasti nama jalan ini sudah hampir sama dengan kota Jogja itu sendiri. Konon, ada yang bilang Jalan Malioboro yang terletak 800 meter di utara Kraton Yogyakarta ini, dulunya dipenuhi karangan bunga setiap kali kraton melaksanakan perayaan.

Ingin merasakan keunikannya datanglah ke Yogyakarta, banyak hal yang sulit untuk diceritakan tetapi bisa dirasakan.


Photografer : Jea

Saturday, November 19, 2011

Andong Transportasi Wisata Kota Yogyakarta yang Menarik Wisatawan

 
Andong kendaraan yang ditarik kuda ini adalah salah satu transportasi tradisional yang dipertahankan di Yogyakarta untuk memberikan ciri khas wisata Yogyakarta sebagai kota budaya yang kuat mempertahankan tradisi.  Moda transportasi boleh modern tetapi budaya dan tradisi lama masih tetap dipertahankan di Yogyakarta. Sehingga wajarlah jika Yogyakarta disebut juga sebagai kota budaya.
Andong beroda empat di jalan Malioboro, Yogyakarta
Hal lain yang penting juga andong tidak menimbulkan polusi  asap karbon dan juga tidak memerlukan bahan bakar bensin. Mungkin dulu andong dianggap tidak manusiawi  karena memperdayai  hewan seperti kuda tetapi pada kenyataanya moderenisasi transportasi telah merubah alam lebih tidak manusiawi.
Kuda andong yang matanya tertutup agar mengikuti arah sesuai isyarat tali kusir
Ada banyak macam-macam istilah selain andong, seperti bendi, sado atau sebutan kereta kuda  semua istailah itu merujuk pada transportasi yang beroda dan ditarik oleh kuda.  Di bagian depan sang  kusir dengan memegang  dua tali kendali kuda berada didepan dan mengarahkan andong dengan mengarahkan arah gerak kuda.

Mata kuda tertutup dan hanya tahu arah berdasarkan isyarat dari sang kusir yang menarik-narik tali  yang ada dikiri atau kekanan untuk  mengarahkan kuda.  Jika tali kanan yang ditarik maka kepala kuda akan kearah kanan dan kuda akan mengarahkan jalannnya kearah kanan, tetapi jika tali kiri yang ditarik arah kepala kuda akan ke kiri dan kuda akan bergerak ke arah kiri. 

Andong di pusat wisata kota Yogyakarta
Seorang kusir juga memegang pecut kecil sekedar untuk menggertak kuda agar berlari.  Jika andong ingin dihentikan maka kedua tali kiri dan kanan akan ditarik sehingga kepala kuda akan tertarik kebelakang juga  sambil  kepala kuda menyunga ke atas, isyarat ini  dipahami kuda untuk menghentikan langkahnya.
Secara umum andong ini ada yang beroda dua ada juga yang beroda empat.  Andong yang beroda empat memiliki roda yang lebih besar dibelakang dan  roda yang lebih kecil didepan. Andong jenis ini  berpenumpang lebih banyak karena sasis andong leboh panjang, dan penumpangnya menghadap kesamping  tetapi andong yang beroda dua penumpangnya menghadap kedepan. 

Masyarakat Yogya biasa menyebut andong berroda dua dengan sebutan delman. Sedangkan yang beroda empat lebih disebut kereta atau kereto kencono. Naik andong beroda empat atau dua ini pada masa lalunya sangat menentukan status seseorang. Biasanya kalangan bangsawan dan keluarga keraton pada masa  lalunya menggunakan kerato kencono  yang beroda empat.

Andong sedang menunggu penumpang
Kuda-kuda yang digunakan untuk menarik kereta kuda pada umumnya adalah kuda-kuda dewasa yang gagah.  Seekor kuda yang besar dan kuat akan menarik andong dengan ringan dan cepat. Kuda=-kuda seperti ini biasanya menarik andong yang beroda empat dan berpenumpang lebih banyak.

Seorang kusir yang menarik andong di jalan-jalan Malioboro karena untuk memikat wisatawan pada umumnya menggunakan baju adat Jawa.  Tentu hal ini akan menarik wisatawan untuk naik andong dan berselfie bersama kusir sambil menikmati perjalanan andong yang bersuara kaki kuda.
Andong dilihat dari depan
Pada masa lalunya keberadaan andong  sangat melekat dengan fasilitas transportasi para raja-raja Mataram.  Para  Raja Yogya banyak memiliki koleksi-koleksi andong yang dibentuk secara khusus dan indah, seperti  kereto kencono.  Kereta kencono  milik kraton biasanya malah ditarik oleh lebih dari satu kuda yang besar dan gagah.  Posisi tempat duduk penumpang menghadap kedepan.  Kraton Jogjakarta juga memiliki koleksi  kereta kerajaan yang disimpan di Museum Roto Jogja.

Kereta kuda milik keraton terbuat dari bahan utama dari andong adalah kayu dan besi. Jenis kayu yang digunakan biasanya kayu jati atau waru karena kayu tersebut memiliki kualitas yang baik dengan serat kayu yang halus.  Kualitas ukuran dan finisingnya juga menentukan keindahan sebuah andong. Proses pembuatan andong dilakukan secara tradisional dan manual. Andong juga ada yang dibaut dari bahan besi atau kuningan. Andong seperti ini biasanya sangat special dan dipergunakan oleh para raja-raja.

Pusat andong di Yogyakarta adalah di jalan Malioboro, ada banyak andong baik yang sedang menunggu penumpang atau sedang jalan mengantarkan penumpang ke tempat yang mereka tuju. Sebagian besar penumpang adalah wisatawan yang datang untuk menikmati wisata kota Yogyakarta.

Hal unik lainnya dengan andong di Yogyakarta dapat dipesan secara on line dengan aplikasi, yang bertujuan meningkatkan gairah pariwisata Yogyakarta.  Andong on line ini sementara hanya tersedia disekitar jalan Malioboro yang merupakan pusat destinasi wisata Kota Yogyakarta.

Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Thursday, November 17, 2011

Asiknya Jalan-jalan di Malioboro Yogyakarta

 
Ketertarikan jalan Malioboro bisa dibilang mempunyai magnit yang kuat. Terbukti jika ke Yogya ritual jalan-jalan sore atau malam di Malioboro tetap tidak pernah bosan dan selalu ada saja hal baru disini.

Semaraknya Malioboro  tidak pernah ada matinya. Siang atau malam tetap ramai. Keramaian ini  karena banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan sepanjang jalan Malioboro. Barang dagangan yang dipasarkan umumnya adalah barang-barang khas Jogja, seperti berbagai souvenir, oleh-oleh, batik, barang seni, dan berbagai macam kerajinan yang menarik bagi para wisatawan.

Seniman Yogya di Malioboro

Berbagai ragam barang kerajinan yang dijual pedagang seperti  ayaman rotan, kulit, batik, perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit, hiasan rotan, wayang kulit, gantungan kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon batik yang merupakan topi khas Jawa.  Berbagai kaos yang bertulisan kalimat-kalimat lucu dan menarik atau memberi inspirasi dan masih banyak lagi barang dagangan  lainnya.

Seniman Yogya di Malioboro

Sebagian besar pedagang adalah pedagang pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang hanya menggelar plastik di lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup ramai saja antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pejalan kaki karena cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri.

Pedagang Sekuteng di Malioboro
Ujung jalan Malioboro yang satu terhubung dengan jalan Mangkubumi dan dibatasi oleh stasiun kereta api Tugu dan ujung satunya lagi terhubung dengan jalan A.Yani. Dalam areal kawasan Malioboro dan sekitarnya banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi misalnya Siti Inggil Keraton Jogjakarta, pasar Beringhardjo, benteng Vredeburg, Gedong Senisono, Museum Sono Budoyo dan lainnya.

Saat ini Malioboro bisa dikatakan sebagai jantung keramaian kota Jogja, karena banyaknya pedagang dan pengunjung yang berlalu lalang. Kawasan yang sangat ramai baik di dua sisi jalan yang berkoridor maupun pada jalan kendaraan walau satu arah dari jalan Mangkubumi akan tetapi berbagai jenis kendaraan melaju dan memenuhi di jalan tersebut dan tidak heran kalau terjadi kemacetan. Dari kendaraan tradisional seperti becak, dokar/andong/delman, sepeda, gerobak maupun kendaraan bermesin seperti mobil, taxi, bis kota, angkutan umum, sepeda motor dan lainnya.

Barang kerajinan yang dijajakan di Malioboro
Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ini didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya.

Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan dan rumah makan yang ada sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di kota-kota besar lainnya, yang disemarakan dengan nama-merk besar dan ada juga nama-nama lokal. Barang yang diperdagangkan dari barang import maupun lokal, dari kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang elektronika, mebel dan lain sebagainya. Juga menyediakan aneka kerajinan, misal batik, wayang, ayaman, tas dan lain sebagainya. Terdapat pula tempat penukaran mata uang asing, bank, hotel bintang lima hingga tipe melati.

Kereta Kuda di Jalan Malioboro
Namun jangan ketinggalan untuk menelusuri jalan Malioboro yang sudah sangat terkenal tersebut. Bisa dengan berjalan kaki dari ujung ke ujung pada dua sisi jalan, atau dengan ‘dokar’ [delman/andong] dan becak khas Jogja. Di siang hari kawasan Malioboro sangat ramai pengunjung baik warga maupun wisatawan, terlebih lagi bila musim liburan sekolah tiba atau ada hari libur nasional yang cukup panjang.

Sebenarnya jalan Malioboro dari ujung ke ujung hanya berjarak lebih dari satu kilometer saja, dan pada dua sisinya banyak sekali toko, kantor, rumah makan dan mall serta pusat perbelanjaan, menariknya lagi banyak sekali pedagang kaki lima yang berjajar dibawah koridor jalan yang memayungi dari terik panas matahari maupun hujan.

Para turis asik menyaksikan atraksi di Malioboro
Keramian ini dimulai sejak pagi hingga sembilan malam saat pusat perbelanjaan pada tutup, namun denyut kehidupan kawasan Malioboro tidak pernah berhenti karena sudah siap warung-warung lesehan menggelar dagangannya.

Untuk bermalam di sekitar Malioboro juga mudah didapat penginapan dari tipe melati hingga hotel bintang lima. Para wisatawan tidak akan kuatir untuk dapat menikmati pula hari-hari liburannya di kota Jogja hingga larut malam sekalipun. Mereka dapat menikmati hidangan-hidangan di warung lesehan di sepanjang jalan Malioboro, makanan yang disediakan dan ditawarkan dari jenis makanan khas Jogja yaitu nasi gudeg dan ayam goreng dan juga makanan Padang, ChinesseFood dan lain sebagainya. Saat menikmati hidangan yang disajikan akan dihibur oleh musik dari pedagang dan pengamen jalanan yang cukup banyak dari yang hanya sekedar bawa gitar adapula yang membawa peralatan musik lengkap.

Jalan-jalan naik beca di Malioboro
Ada sebuah perhatian khusus bagi wisatawan yang hendak menikmati warung lesehan yaitu menanyakan dulu harga makanan yang hendak dipesan sebelum ada sebuah tagihan yang kurang berkenan dihati, sampai-sampai hal ini menjadi perhatian khusus dari pemerintah daerah yaitu dengan menggantung papan di kawasan Malioboro dengan tulisan “Mintalah daftar harga sebelum anda memesan”.

Carilah warung makan yang dianggap wajar dalam memberi harga dari sebuah hidangan makan dan minuman yang disajikan, memang perbuatan menaikan tarif yang tidak wajar ini sangat menurunkan citra warung lesehan yang ada di kawasan Malioboro. Sangat disayangkan kalau para wisatawan berkunjung ke Jogjakarta dan sekitarnya serta khususnya kawasan Malioboro ini hanya satu hari berkunjung. Inilah menyebabkan banyak wisatawan domestik maupun asing menghabiskan semua waktu liburnya yang cukup panjang hanya untuk kunjungan wisata ke Jogja dan sekitarnya.

Photografer : Zahra R.

Translate