Tuesday, September 1, 2020

History of Vredeburg Fort in Yogyakarta

 
The tourist city of Yogyakarta is a source of inspiration for many things, apart from culture, art and history. The history of the city of Yogyakarta is very thick with the existence of the Yogyakarta Mataram Sultanate, the Dutch existence in the past, and the history of the archipelago kingdoms that once existed in this City of Education.

Benteng Vredeberg Yogyakarta
Yogyakarta Vredeburg Fortress Building Gate which is now the Education Museum

One of the relics of the past in Yogyakarta is the Vredeburg fortress, which is located on Jalan Margo Mulyo No. 6 Yogyakarta City which now functions has turned into an education museum. This location is directly opposite to Gedung Agung and the Sultan's Palace.

Tiket masuk Benteng Vredeberg Yogyakarta
The entrance ticket to Yogyakarta Vredenburg Fort is only Rp. 3,000, - only.

In addition, Vredeburg fort is also close to other historical buildings such as the BNI 1946 building, the Post office building, the Bank Indonesia building and the Societeit Militaire. It is strategically located at the zero kilometer point of the city center of Yogyakarta.

Benteng Vredeburg Yogyakarta
Inside of Yogyakarta Vredeburg Fortress

The Vredeburg building was not originally named Vredeburg as it is today. The fort was built by Sri Sultan Hamangku Buwono I in 1760 at the request of the Dutch who at that time was at the time of the Governor General of the North Coast of Java named Nicolaas Harting.

Benteng Vredeberd
Fort Vredeburg on the inside with antique buildings.

The initial aim of Sri Sultan Hamengkubuwono I's intention was to maintain the security of the palace palace and the city of Yogyakarta, but it turned out that the Dutch took this opportunity to become a place to facilitate Dutch control over Yogya City.

Benteng Vredeberg Yogyakarta
There are many remains in Vredeburg Fort Yogyakarta.

The initial construction of the Vredeburg building was only made of concrete walls made of earth with coconut wood pillars in a square shape, added with each corner of the building in the form of a bastion or guard station.

Vredeburg Fortress Museum
Statue of the Fighters of the Republic of Indonesia

Then in 1767 during the Governor General H.W. van Ossenberg began making building changes to be more permanent on the budget of the VOC. The construction was under the supervision of a Dutch engineer, Ir. Frans Haak.

The process of building this fort took a very long time, which is almost 20 years, so it was only completed in 1787. In that year it was also inaugurated and was given the name 'Rustenberg' which means a resting place. In the past, many high-ranking Dutch East Indies, either in the city of Yogya or from Batavia and from the Netherlands, when visiting Yogya always used Fort Rustenburg as a resting place.

In 1867 there was a big earthquake in Yogyakarta which damaged many buildings in the City of Yogya and its surroundings, including part of the Rustenberg fort that was damaged. After the damage to the building was repaired, the name of this fort was changed to Fort Vredeburg which means peace.

Sudirman, Vredeburg Fortress
Statue of General Sudirman in Vredeburg Fortress which was made after the Indonesian Independence period.
Now Fort Vredeburg has functioned as an educational museum managed by the Yogyakarta Provincial Government of the Yogyakarta Provincial Government of the Fort Vredeburg Museum. This museum conveys a variety of information, such as history, culture, art and various other educational elements for the younger generation and is also a fun recreation area especially for children. Various presentations in this museum are in an educational and entertainment format.

Referensi : - vredeburg.id
                 - wikipedia.org
                 - Etc.

Tag. :  Vredenberg, Yogya City, Yogyakarta, Musium Benteng Vredenberg, Musium, Benteng Vredenberg 

Wednesday, August 5, 2020

Sejarah Musium Benteng Vredenburg di Yogyakarta

 
Kota wisata Yogyakarta adalah sumber inspirasi banyak hal, selain budaya, seni dan sejarah. Sejarah kota Yogyakarta sangat kental dengan eksistensi Kesultanan Mataram Yogyakarta, keberadaan Belanda pada masa lalu, dan sejarah kerajaan nusantara yang pernah ada di Kota Pendidikan ini.

Benteng Vredenberg Yogyakarta
Gerbang Bangunan Benteng Vredenburg Yogyakarta yang sekarang menjadi Musium Edukasi

Salah satu peninggalan masa lalu di Yogyakarta adalah benteng Vredenburg yang ada di jalan Margo Mulyo No. 6 Kota Yogyakarta yang sekarang fungsinya sudah berubah menjadi musium edukasi. Lokasi ini berhadapan langsung dengan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta.

Tiket masuk Benteng Vredenberg Yogyakarta
Tiket masuk Benteng Vredenburg Yogyakarta hanya Rp. 3.000,- saja.

Selain itu benteng Vredenburg juga berdekatan dengan bangunan bersejarah lainnya seperti gedung BNI 1946,  gedung kantor Pos, gedung Bank Indonesia dan Societeit Militaire. Letaknya ini sangat strategis dan berada di titik nol kilometer pusat Kota Yogyakarta.

Benteng Vredenburg Yogyakarta
Bagian dalam Benteng Vredenburg Yogyakarta

Bangunan Vredenburg, pada awalnya belum bernama Vredenburg seperti sekarang ini. Benteng tersebut di bangun oleh Sri Sultan Hamangku Buwono I pada tahun 1760 atas permintaan Belanda yang pada waktu itu dimasa Gubernur Jenderal Pantai Utara Jawa yang bernama Nicolaas Harting.

Benteng Vredenberd
Benteng Vredenburg di bagian dalam dengan bangunan yang antik.

Tujuan awalnya dari maksud Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah untuk menjaga keamanan istana keraton dan Kota Yogyakarta, tetapi ternyata dimanfaatkan kesempatan ini oleh Belanda dengan menjadi tempat untuk memudahkan kontrol Belanda atas Kota Yogya.

Benteng Vredenberg Yogyakarta
Banyak peninggalan di dalam Benteng Vredenburg Yogyakarta.

Kontruksi permulaan bangunan Vredenburg hanya terbuat dari dinding beton berbahan tanah dengan tiang-tiang kayu kelapa dengan bentuk masih bujur sangkar, ditambah dengan masing-masing sudut dari bangunan itu berupa bastion atau tempat penjagaan.

Patung Pejuang RI

Kemudian pada tahun 1767 di masa Gubernur Jenderal H.W. van Ossenberg mulai melakukan perubahan bangunan menjadi lebih permanen dengan anggaran dari VOC. Pembangunannya dibawah pengawas seorang insinyur Belanda, Ir. Frans Haak.

Proses pembangunan benteng ini sangat memakan waktu lama, yaitu hampir 20 tahun, sehingga baru selesai pada tahun 1787. Di tahun itu juga diresmikan dan baru diberi nama 'Rustenberg' yang artinya tempat peristirahatan. Pada masa lalu banyak pentinggi Hindia Belanda baik yang di Kota Yogya atau dari Batavia dan dari Nederland, jika berkunjung ke Yogya selalu menjadikan Benteng Rustenburg sebagai tempat peristirahatan.

Pada tahun 1867 terjadi gempa besar di Yogyakarta yang banyak merusak bangunan-bangunan di Kota Yogya dan sekitarnya, termasuk juga sebagian bangunan benteng Rustenberg yang rusak. Setelah kerusakan bangunan diperbaiki nama benteng ini diubah menjadi Benteng Vredenburg yang artinya perdamaian.

Pada tahun 1799 perusahaan VOC bangkrut, sehingga semua penguasaan aset VOC jatuh ke Pemerintah Kerajaan Belanda dibawah Gubernur Herman Willem Daendels, tetapi status tanah secara yuridis formal tetap milik kasultanan.

Kemudian pada tahun 1811 Pemerintah Inggris berkuasa di Nusantara sehingga status Benteng Vredenburg jatuh ke tangan pemerintah Inggris melalui Wakil Gubernur untuk Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles.

Pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Indonesia, status Benteng Vredenburg diambil alih Nippon berada dibawah pengawasan Kooti Zium Kyoku Tjokan (Gubernur Jepang) yang pada saat itu berkantor di Gedung Gedung Agung yang mereka  ubah namanya menjadi Tjokan Kantai. Benteng Vredenburg adalah tempat bagi para kompetai Nippon.

Patung Jenderal Sudirman di Benteng Vredenburg yang dibuat setelah masa Kemerdekaan RI.

Sekarang Benteng Vredenburg telah difungsikan sebagai musium edukasi yang dikelola oleh Unit Musium Benteng Vredenburg Pemda Provinsi Yogyakarta. Musium ini menyampaikan berbagai informasi, seperti sejarah, budaya, seni dan berbagai unsur pendidikan lainnya untuk generasi muda dan juga menjadi area rekreasi yang menyenangkan khususnya untuk anak-anak. Berbagai sajian dalam musium ini dalam format yang edukatif dan entertainment.

Tag. : Yogya, Yogyakarta, Musium, Musium Benteng Vredenberg, Benteng Vredenberg, Vredenberg

Sunday, August 2, 2020

Melihat Peradapan Transportasi Melalui Musium Angkut di Kota Wisata Batu

Ingin wisata sambil belajar tentang perkembangan transportasi di dunia. Apalagi wisata dilakukan bersama keluarga, khususnya anak-anak. Anak-anak biasanya senang melihat hal baru dan tanpa sadar mereka sudah belajar, karena pada hakekatnya proses belajar mengajar tidak hanya melulu melalui sekolah, tetapi bisa dengan beragam cara, misalnya dengan wisata edukasi seperti di musium.

sedan Chevrolet, Bel Air
Replika mobil sedan Chevrolet, Bel Air yang ada di Musim Angkut

Wisata yang bisa memenuhi hasrat tersebut salah satunya ada di Kota Wisata Batu yang berada di Jawa Timur. Destinasi yang cukup favorit disana adalah Musium Angkut yang ada di Kota Baru. Untuk ke musium ini ada di jalan Terusan Sultan Agung no.2, Ngaklik, Kota Batu, Jawa Timur. Pemilik destinasi ini adalah Jatim Park Group, yang juga mengelola Jatim Park 1 dan Jatim Park 2.

 Musium Angkut di Kota Batu
Gerbang Musium Angkut di Kota Batu
Ingat Musium Angkut ada di Kota Wisata Batu bukan di Kota Malang, secara administratif berbeda. Memang dekat dan kedua kota ini bersebelahan, tetapi  masalahnya kalau kita nyasar jadi tambah besar biayanya. Soalnya banyak yang salah kaprah tentang posisi destinasi Musium Angkut.

Bisa dibilang wisata Jawa Timur sedang naik daun. Selain Kota Batu ada Kabupaten Jember dengan Jember Festival Carnaval yang sangat terkenal, dan Kabupaten Banyuwangi dengan destinasi Api Biru Ijen yang cukup viral. Tiga daerah ini sedang meningkatkan fasilitas wisata yang menarik minat turis lokal dan manca negara.

Mobil klasik di Musium Angkut
Mobil klasik di Musium Angkut

Untuk mencapai Musium Angkut yang luasnya 3,8 ha ini dari kota apel, Malang, bisa dengan angkutan umum atau bisa dengan angkutan on line. Jika ingin menggunakan angkutan umum.bisa menggunakan angkot ADL sampai terminal Landungsari. Dari sini dilanjutkan lagi naik angkot warna pink ke Terminal Batu, baru naik angkot sekali lagi menuju Musium Angkut di jalan Terusan Sultan Agung.

mobil antik koleksi Musium Angkut, Kota Batu
Mobil-mobil antik koleksi Musium Angkut Kota Batu

Bagi yang naik kereta dari tempat lain diluar Malang, misalnya berangkat menggunakan kereta dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta atau wilayah stasiun lainnya, bisa berhenti di stasiun Malang dan dilanjut naik angkot ADL ke terminal Landungsari, terus naik angkot pink ke Terminal Batu. Dari sini naik angkot sekali lagi yang kearah Musium Angkut.

Areal Musium Angkut ini sangat luas yang dibagi dalam 10 Zone, masinng-masing zone ada cerita dan temanya sendiri. Oleh karena itu untuk mengekplor Musim Angkut harus datang dari pagi karena tidak cukup kalau sekedar satu dua jam saja. Rugi sekali kalau tidak dapat menikmati seluruhnya.

Mobil Lincoln Mark IV
Mobil Lincoln Mark IV, koleksi Musium Angkut

Ada beberapa tema yang menggambarkan perkembangan teknologi transportasi dan peradapan transportasi dari sejak tahun 80-an sampai dengan sekarang dan juga alat transportasi pada masa yang akan datang.

Tema tersebut yaitu tema era transportasi 80-an, trasportasi pesawat, mobil modern, transportasi di Inggris (British), trasnportasi kawasan pecinaan, kawasan gangster, kawasan Las Vegas dan transportasi kereta klasik. Masing-masing tema memberikan atmosphir dan nuansa yang berbeda.

mobil antik
Salah satu koleksi mobil antik di Musium Angkut Kota Batu

Di Musium Angkut ini juga kita dibawa dalam suasana transportasi masa lalu, ketika banyak alat transportasi baru mulai ditemukan dan digunakan. Seperti adanya rel kereta, kereta uap, kereta disel dan juga ada yang modern seperti yang kita lihat pada masa sekarang ini yaitu kereta listrik. View yang akan ditampilkan tidak hanya berupa pameran barang kuno alat akut saja, tetapi suasana yang dibikin benar-benar mirip dengan kondisi masa masa-masa awal adanya alat transportasi tersebut.

Demikian juga dengan adanya kapal atau perahu yang merupakan alat transportasi air.  Sejak awal penggunaan kapal sebagai alat transportasi. Seperti kapal atau perahu yang menggunakan layar atau perahu yang masih didayung, contohnya ada reflika dari perahu jung dari China yang digunakan banyak dinasti atau kerajaan China untuk menuju Nusantara.

Selain menikmati suasana dan bisa mengetahui peradapan transportasi, kita juga bisa naik kereta mini, merasakan berada dikeberangkatan pesawat, naik perahu sambil menyusuri sungai buatan yang keren dan hijau, mencoba naik andong atau kereta kuda, merasakan berada di dermaga kapal penumpang, dan juga merasakan sensasi naik kapal laut dan merasakan suasana jual beli di atas kapal. Bagi anak yang ingin jadi pilot di sini juga ada simulator untuk mengendalikan pesawat.

Di dalam Musium Angkut juga ada danau buatan yang berisi perahu-perahu yang berjualan di atas air, mirip seperti yang ada di Floating Market Lembang yang ada di Jawa Barat, hanya saja disini area airnya lebih kecil karena berupa danau buatan. Nama area air ini disebut Pasar Apung Nusantara.

Jangan lupa untuk melalui Zone 7 yang ada British Area-nya karena kita akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda. Kita seolah masuk dalam dunia lain di Inggris dengan kondisi jalan, berbagai bangunan dan moda transportasi yang ada disana, plus bisa photo di replika Istana Buckingham. Bagi yang suka selfie rugi kalau sampai kelewatan area ini.

Sambil berwisata edukasi, bisa sekalian mencoba beberapa kuliner khas di sebuah replika kapal Cheng Ho yang didalamnya dijadikan restoran. Di sini kita bisa menikmati hidangan sambil melihat suasana dalam kapal Cheng Ho seorang laksamana yang cukup legendaris dari negeri China itu. 

Hal yang menarik lainnya disana juga ada area Holiwood dengan berbagai mobil klasik, kemudian ada suasana mirip di Las Vegas, juga ada replikasi Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Sebenarnya banyak hal bisa diceritakan mengenai Musium Angkut tapi nanti kalau dicerietakan semua nanti sudah tidak seru lagi, silahkan explore sendiri dan nikmati suasana yang ada disana.

Peta Musium Angkut. Sumber: http://jtp.id/museumangkut

Tag. : Jatim, jawa timur, Kota Batu, Kota Batu Malang, Kota Wisata Batu, Malang, Musium, MusiumAngkut, Pariwisata Jawa Timur, wisata musium, mobil klasik, mobil antik, Teknologi Transportasi

Thursday, November 7, 2019

Musium Angkut Kota Batu, Malang Untuk yang Hobi Photo Mobil Klasik

Hobi photo otomotif atau kendaraan antik? Datanglah ke Musium Angkut di Kota Batu, Malang. Museum yang dikelola oleh Jatim Park Group ini agak berbeda dengan musium konvensional lainnya. Museum Angkut atau juga disebut Musium Transportasi boleh dibilang tempat wisata modern yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur, sekitar 20 km dari Kota Malang. Lokasi destiansi wisata ini sangat strategis dan tidak jauh dari pusat Kota Batu.

Musium Angkut Kota Batu, Malang
Salah satu koleksi di Musium Angkut Kota Batu, Malang.

Musium yang dibuka sejak 9 Maret 2014 ini cukup luas, kawasan komplek musium ini  seluas 3,8 hektar yang tepat dibawah lereng Gunung Panderman. Ada banyak sekali koleksi jenis angkutan tradisional hingga modern. Menurut petugas disana sekitar ada 300 macam koleksi dari berbagai alat angkut. Dari mobil, motor, angkutan tradisional sampai dengan pesawat terbang!


Musium Angkut di Kota Batu Malang. Koleksi mobil tua yang unik.

Jadi sangat menarik dan menantang bagi yang suka dengan hal-hal yang berbeda, atau juga yang suka otomotif.  Ada mobil-mobil Eropa pada masa awal industrialisasi Eropa sampai dengan perkembangan transportasi era zaman now.

Berkunjung ke Musium Angkut ini juga tidak hanya kendaraan yang modern saja. Banyak juga transportasi tradisional yang pernah digunakan pada masa lalu seperti andong, gerobak sapi, kereta kuda, beca, sepeda onthel dan sebagainya. Bahkan angkutan seperti kereta dan kapal laut juga ada. Jenis-jenis kendaraannya juga tidak hanya yang ada di Indonesia, angkutan yang digunakan di negara-negara lain yang mungkin tidak pernah kita lihat juga dipamerkan disini.

Koleksi Musium Angkut Kota Batu Malang, sebuah andong yang di tarik oleh sapi.


Selain menampilkan koleksi-koleksinya yang banyak macamnya. Penampilan ruangan dan view galeri musium ini juga sangat menarik. Contoh sebuah ruangan dengan tema : Gangster Town sangat menarik pengunjung, karena membuat sebuah kota di Amerika pada masa lalu dalam ruangan musium. Spot ini sangat menarik dan menjadi incaran para photografer untuk mengabadikannya.

Kendaraan dinas koleksi Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno juga ada di Museum Angkut. Kesempatan emas untuk Anda-foto disebelah mobil bersejarah ini. Mobil mewah ini masih dalam kondisi prima dan bisa jalan.  Mobil RI ini bisa kamu temukan di Main Hall Museum Angkut.

Ada juga ruangan lain yang di design mirip seperti  jalan-jalan Kota Tua Jakarta dikombinasikan dengan Tempo Doeloe China Town, membuat suasana yang benar-benar mirip. Venue ditambahkan dengan koleksi-koleksi kendaraan yang sezaman dengan masa Batavia. Kendaraan transportasi vintage dan ornamen lentera yang unik membuat Anda terbenam dalam suasana di China Town dan Kota Tua Jakarta.


Musium yang sangat unik ini jelas berasal dari pemikiran yang inovatif dan out of the box, karena Musium
Angkut telah merubah mindset orang terhadap musium yang banyak dijejali oleh barang tua bersejarah. Beberapa koleksi-koleksi Musium Angkut adalah peralatan modern yang menjadi barometer perkembangan teknologi kedepan. Keunikan musium ini sangat terkenal dan mengangkat pariwisata Kota Batu sebagai pusat wisata di Jawa Timur.

Banyak wisatawan yang merekomendasikan musium ini untuk teman-temannya. Walau pun sudah pernah datang ke sini, pada saat datang ke sini lagi akan selalu ditemukan hal baru yang unik dan baru. Inilah rahasia Musium Angkut yang selalu dibanjiri pengunjung dari berbagai daerah domestik dan juga mancanegara.

Di saat-saat tertentu ada pertunjukan live yang ditampilkan di Museum Angkut, seperti;
- Welcome to Gangster Town, biasanya pertunjukan ini pada jam 14.00 - 14.30;
- Super Hero Custome pada jam 15.00 - 16.30;
- Theee Elements Show pada pukul 19.45;
- Musium Angkut and Movies Star Studio Parade yang digelar pada hari weekend dan liburan pada 17.00.

Sebenarnya masih banyak lagi bermacam-macam hiburan yang digelar di dalam Musium Angkut untuk menghibur para pengunjung yang datang. Penasaran silahkan datang dan kunjungi Musium Angkut Kota Batu, Malang.

Musium Angkut Sangat Inovatif

Anda ingin sekali mencoba menerbangkan sebuah pesawat, serasa sebagai pilot?  Pada Museum Angkut ini cari saja Wahana Runway27 Zone, ada banyak pesawat dari pesawat tempur, pesawat pelatihan dan juga pesawat kepresidenan. Selain itu Anda juga diberi kesempatan untuk mengemudikan pesawat. Menarik bukan?


Tag. : Musium, Musium Angkut, Musium Angkut Kota Batu, Musium Angkut di Malang, Musium transposrtasi, wisata musium, koleksi otomotif, mobil klasik, sedan klasik, kendaraan klasik, koleksi kendaraan antik, kota batu, Wisata Kota Batu Malang

Friday, September 27, 2019

Candi Prambanan, Sejarah Proses Pemugaran yang Panjang


Salah satu candi terbesar di Indonesia adalah Candi Prambanan selain Candi Borobudur.  Komplek Candi Hindu Perambanan atau disebut  juga sebagai Candi Roro Jonggrang  di bangun pada tahun 850 Masehi  oleh Raja Balitung Maha Sambu dari Wangsa Sanjaya.  Nama asli Candi Prambanan adalah Candi  Siwagrha, berdasarkan Prasasti Siwagrha. Pembangunan Candi Prambanan ini setelah seabad pembangunan Candi Borobudur oleh Samaratungga, Raja Mataram Kuno.

Sejatinya belum dapat dipastikan kapan pembangunan Candi Prambanann dilakukan bisa jadi pembangunan yang dilakukan lebih tua dari 850 Masehi. Perkiraan ini berdasarkan adanya Prasasti Siwagrha yang  tersimpan di Musium Nasional di Jakarta. Di dalam Prasasti Siwagrha ada tulisan angka tahun 778 Saka atau  856 Masehi yang diklaim para sejarawan sebagai tahun penulisannya. Pembuatan prasasti tersebut atas perintah Rakai Pikatan, salah satu Raja Medang Mataram.

Candi Prambanan
Puncak Candi Siwa di Komplek Candi Prambanan
Rakai Pikatan dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku  yang menjadi raja ke-6 dari Kerajaan Medang periode Jawa Tengah. Raja ini bertahta dari tahun  840 masehi  sampai tahun 856 masehi. 
Demikian panjangnya masa pembangunan Candi Prambanan sehingga pembangunan itu diteruskan oleh anak Rakai Pikatan yang kemudian menjadi raja selanjutnya dari Medang Mataram, yaiut Balitung Maha Sambu yang menjadi raja ke-7 dari Kerajaan Medang dan sekaligus raja ke-2 dari Kerajaan gabungan Medang Mataram.

Candi Prambanan
Seorang turis sedang turun dari Candi Siwa di Komplek Candi Prambanan

Rakai Pikatan memperistri seorang Ratu dari kerajaan yang  Mataram Kuni yang bernama Pramodhawardhani yang saat itu sebagai putri Mahkota karena tidak mempunyai seudara lelaki kandung keturunan dari  Raja Mataram Kuno, Samaratungga dari dinasti Syailendra.  Wangsa Sailandra inilah yang membangun Candi Borobudur.

Posisi kompleks candi ini terletak di tengah-tengah antara  DI  Yogyakarta  dan Jawa Tengah, yaitu antara Kabupaten Sleman,  Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Provinsi  Jawa Tengah.  Letak Candi Prambanan berada di dua kecamatan dengan nama yang sama yaitu Kecamatan Prambanan  Provinsi Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan yang  masuk nomenklatur Jawa Tengah.

Candi Prambanan
Area spot photo  terbaik untuk mendapatkan gambar keseluruhan Candi Prambanan

Secara administrasi Komplek Prambanan berada di dua desa  yaitu;  Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman dan Desa Tiogo, Kecamatan Prambanan, Kabupten Klaten.  Komplek Candi Prambanan berjarak sekitar 17 Km dari Kota Yogyakarta yang berada di timur, dan  berjarak 120 km ke arah Kota Semarang yang berada di selatan.

Candi Prambanan
Gerbang Candi Siwa
Di salah satu komplek Candi Prambanan ada Candi yang paling besar yaitu Candi Siwa, kemudian ada candi yang berdiri disekitarnya yang lebih kecil dari Candi Siwa, yaitu  Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Wahana, Candi Apit, Candi Kelir dan Candi Patok. Masing-masing candi tentu ada riwayat etimologis dan filosopisnya. Semua candi yang ditengah dilingkari oleh Candi Perwara yang mengelilingi seluruh penjuru mata angin. Sayangnya sampai saat ini baru 2 buah saja yang selesai dipugar dari sejumlah 224 candi.

Bahan utama pembuatan Candi Prambanan adalah batu andesit untuk bagian luar, atas dan dinding. Batu andesit didapatkan dari gunung atau perbukitan. Batu andesit berwarna hitam dan sangat keras, kuat dan tahan terhadap perubahan iklim. Batu andesit juga digunakan di Candi Borobudur.

Sedangkan untuk fondasi dan struktur tulang utama menggunakan batu putih. Proses  penyatuan struktur candi dengan menggunakan kunci-kunci dari batu itu sendiri yang saling mengait. Proses penyatuan sama sekali tidak menggunakan sejenis semen atau tanah, semua ikan atas kekuatan interlock.

Candi Prambanan di Bangun dengan Teknologi Tinggi

Candi Prambanan
Candi Prambanan memiliki konstruksi yang detail dan sulit. Petunjuk penggunaan teknologi yang sudah tinggi.

Melihat dari konstruksi dan arsitekturnya candi yang terindah di Asia Tenggara itu demikian rumit dan canggih.  Jelas pembangunan Candi Prambanan dilakukan oleh orang-orang yang sangat ahli pada masa itu. Kecil kemungkinan hanya dilakukan oleh rakyat biasa.

Candi Prambanan
Relief pada dinding-dinding candi yang rumit seakan dicetak dengan teknologi 3D

Dilihat dari presisi bentuk-bentuk bangunan yang tepat, hitungan matematis arsitektur, relief yang detail dan berdasarkan kisah-kisah sejarah, dan banyaknya jumlah candi-candi yang mengitari candi utamanya, yaitu Candi Siwa. Bisa diperkirakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pengembangan konstruksi candi saat itu sudah memiliki teknologi yang mumpuni. Ini bukti bahwa budaya kita pada masa lalu sudah sangat tinggi.

Hal yang belum dapat dijelaskan juga mengenai bagaimana para pembuat candi menyusun batu-batu itu sehingga terkait dan interlock antar satu dan lainnya, seperti menyusun sebuah puzzle yang sulit. Ini bahkan lebih sulit dari puzzle karena melibatkan jumlah batu yang sangat banyak. Satu lagi pertanyaan kita mengenai bagaimana memindahkan batu-batu berat pada posisi-posisi tinggi dipuncak-puncak candi.

Sebagai gambaran  arca Agastya atau yang disebut juga Syiwa Mahaguru adalah batu tunggal yang tingginya 5 meter. Bagaimana menempatkan batu besar ini pada puncaknya pada masa lalu?  Sedangkan pada masa pemugaran saja harus menggunakan alat berat sejenis eskapator untuk mengangkatnya. Ini tentu dilakukan bukan oleh rakyat biasa tetapi para ahli bangunan yang sudah canggih pada masa itu.


Candi Prambanan Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Candi Prambanan masuk sebagai  Situs Warisan Dunia UNESCO dan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.  Arsitektur bangunan candi Prambanan yang luar biasa sulit dan artistic menunjukkan kemajuan ilmu arsitek pada masa itu.  Candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter  yang menjadi sentral dari candi-candi lainnya yang berada di sekitarnya.  Candi termegah di Asia Tenggara menjadi  daya tarik wisatawan  dari manca Negara.

Candi Prambanan
Gerbang keluar komplek Prambanan dphoto dari taman hijau

Penemuan Awal Candi Prambanan

Penemuan dan mulai dipugarnya memang tidak terlepas dari peran bangsa Belanda  dan Inggris yang pada waktu masa itu menjadi penguasa di Nusantara. Awal  penemuannya pada tahun 1733  oleh CA. Lons seorang pegawai VOC Belanda saat menjalankan tugas dari Gubernur Coyet untuk menjadi asisten dalam perjalanan dari Semarang ke Kartasura untuk melakukan pertemuan di Keraton Mataram.

Kondisi awal penemuan candi masih sulit untuk melihat secara jelas karena banyak tertutup oleh tanah, abu gunung, pasir dan semak-semak belukar yang sangat lebat.  Tetapi posisi batuan-batuan yang terlihat berbentuk dan sistematis menunjukkan bahwa itu adalah sebuah bangunan candi.

Penemuan ini sangat menarik perhatian dunai dan jadi perhatian banyak pihak setelah Inggris Raya menguasai beberapa wilayah Jawa yang dipercayakan oleh Ratu Inggris ke Thomas Stamford Raffles  sebagai  Gubernur Jenderal Inggris untuk Pulau Jawa pada tahun 1811.

Informasi mengenai  penemuan runtuhan candi Prambanan  membuat  Thomas Stamford Raffles  penasaran dan ingin mendapatkan informasi mengenai keberadaan penemuan candi-candi yang sangat bersejarah itu.  Raffles  mengirimkan surveyor yang bernama Colin Mackenzie untuk melihat komplek penemuan candi secara langsung. Serta Raffles juga meminta untuk segera melakukan berbagai tahapan penelitian dan eskavasi.

Banyak Batu-Batu Candi Prambanan yang Hilang

Sayangnya masa Inggris tidak lama dan kembali ke Hindia Belanda, sehingga berpuluh-puluh tahun belum ada  penyelidikan dan eskapasi, tepatnya bahkan sampai tahun 1864. Apalagi sampai pada tahap restorasi candi. Pada masa penjajahan Belanda ini juga terjadi praktek penjarahan batu candi, ukiran. relief dan araca-arca.

Batu-batu asli runtuhan candi itu juga diletakkan sembarangan bahkan yang paling parah pada masa  Isaäc Groneman yang meletakkan batu-batu itu secara sembarangan di Kali Opak yang berada di wilayah selatan dari reruntuhan candi.

Pada masa  ini banyak sekali arca-arca yang hilang diambil oleh bangsa Belanda untuk dibawa ke Nederland atau hanya sekedar hiasan untuk dipajang ditaman. Warga-warga sekitar juga ada yang menjadikan batu candi ini sebagai fondasi rumah atau keperluan lainnya.

Permulaan Ekskavasi dan Pemugaran Candi  Prambanan

Saat kondisi runtuhan batu candi semakin memprihatinkan N.W. Hoepermans melaporkan beberapa kejadian terkait hilang dan semakin berkurangnya batu-batu di komplek candi Prambanan. Bahkan ada temuan penggunaan batu-batu itu untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan ekskavasi. Laporan ini disambut oleh Gubernur Jendral di Batavia untuk membentuk nomenklatur jawatan arkeologi.

Akhirnya pada tahun 1918 jawatan yangt bernama Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) dibentuk yang operasionalnya di percayakan kepada  P.J. Perquin. Barulah pemugaran dalam usaha untuk mengembalikan ujudnya kembali seperti semula baru mulai dilakukan, tetapi belum menggunakan metode yang sistematis pada umumnya pemugaran dilakukan.

Candi Prambanan
Runtuhan candi Prambanan yang belum sempat di pugar

Pemugaran yang serius dan sistematis dimulai pada tahun 1926 oleh De Haan. Sayang tahun 1930 De Han meninggal sehingga pemugaran sempat terhenti sejenak yang kemudian dilanjutkan oleh Ir. V.R. van Romondt   pada tahun 1931 sampai dengan 1942.

Candi Prambanan
Pemugaran sebagian Komplek Candi Prambanan masih belum selesai

Setelah Jepang masuk dan berkuasa di Tanah Air, kondisi pemugaran berubah total. Untungnya Nippon masih mendukung pemugaran tersebut yang dilakukan oleh kalangan putra Indonesia sendiri. Sampai akhirnya pada tahun 1945 Jepang keluar.

Pemerintah Hindia Belanda melalui Dinas Kebudayaan Hindia-Belanda meneruskan proses pemugaran sampai tahun 1949.  Pada tahun 1950 proses  pemugaran kembali dilakukan oleh bangsa kita sendiri yang dilakukan secara bertahap sampai sekarang ini.  Saat ini Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta melakukan pemugaran Candi Perwara di kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta.

Kemampaun para ahli arkeolog Indonesia dalam proses pemugaran candi sudah diakui dunia, sebagai buktinya dalam proses pemugaran Angkor Wat di Kamboja dipercaya untuk ikut dalam  proses pemugaran tersebut. Teknik pemugaran manual yang biasa digunakan oleh ahli di Indonesia juga dianggap cukup aman dan tidak merusak situs bersejarah.

Candi Prambanan
Wisatawan Candi Prambanan tidak tergangu dengan proses pemugaran yang terus berjalan


Perluasan Area Cagar Sejarah Candi Prambanan

Pada masa Presiden Soeharto keluar kebijakan untuk memperluas area cagar sejarah agar kondisi situs dapat lebih terjaga dan menjadikan komplek Prambanan sebagai destinasi wisata yang menarik dan rapi. Pelaksanaan perluasan dimulai tahun 1990 dengan memindahkan pemukiman, pasar dan kawasan persawahan ke tempat lain.  Sehingga luas komplek Candi Prambanan menjadi  39,8 ha. 

Untuk menjadikan area Komplek Candi Prabanan lebih menarik dan enak untuk menjadi kawasan wisata maka dibuat jug a taman-taman hijau.  Sekaligus untuk memberikan kesempatan berusaha kepada penduduk sekitarnya dengan menjual souvenir Pemerintah juga membangun  pusat penjualan l souvenir dan lain-lain di dalam Komplek Prambanan dengan penataan yang terpisah dari lokasi cagar.

Spot Wisata Dalam Komplek Prambanan

Salah satu fasilitas yang menarik untuk keliling komplek candi yang luas kita bisa menggunakan mobil yang sudah dimodifikasi seperti kereta wisata.  Dengan kereta wisata ini kita dapat melihat area dan candi-candi yang letaknya sangat jauh dari gerbang masuk dan juga dari area utama candi. Harga tiket untuk naiknya hanya Rp. 10.000,-.

Untuk berkeliling kita juga bisa menggunakan sepeda yang sudah tersedia sepeda sewaan di dalam komplek dengan biaya sewa Rp. 20.000,-.  Kalau kita ingin mengambil spot photo untuk melihat candi-candi lain maka paling cocok menggunakan sepeda ini karena lebih praktis dan fleksibel, berbeda dengan menggunakan kereta wisata yang hanya memambil photo dari dalam kendaraan saja.

Bagi yang suka mendalami sejarah dan ingin tahu lebih jauh mengenai sejarah Candi Prambanan, didalam komplek ini juga ada Musium Candi Prambanan. Di dalamnya banyak koleksi-koleksi peninggalan Candi Prambanan dan juga  Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. 

Kalau anda ingin mendapatkan wisata budaya berupa tari dan teatrikal maka nonton Sendratari Ramayana didalam komplek ini sangat menarik.  Pementasan dimulai pada pukul 20.00 – 22.00 WIB yang digelar pada panggung terbuka Trimurti.

Photografer : Azzahra R.
TheIndonesiaAdventure.com Team Writter

Referensi :
- kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tag: Candi Prambanan, Sejarah Candi, Prambanan, wisata prambanan, pemugaran Candi Prambanan, pemugaran candi

Sunday, September 22, 2019

Musium Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua Jakarta Membuktikan Keramik Warisan Asli Nusantara

Jakarta sebagai pusat Pemerintah Republik Indonesia tentu banyak memiliki sejarah yang panjang. Keberadaan museum-musium di Jakarta menjadi bagian dari catatan sejarah Jakarta dan Indonesia pada umumnya.  Salah satu pusat museum di Jakarta adalah kawasan Kota Tua Jakarta yang dulunya disebut sebagai Batavia atau Batavieren yang maksudnya adalah sebuah nama leluhur bangsa Belanda.

Tembikar yang sudah dihias dengan tenunan
Ada banyak museum disini seperti  Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bahari, Museum Magic Art 3D. Semua museum tersebut dikelolan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua DKI Jakarta.

Sekarang ini museum-musium itu semakin memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dengan memundurkan jam tutup museum sejak 6 Juni 2019. Jam tutup sekarang menjadi jam 20.00 WIB.  Sedangkan jam buka tetap seperti biasa pada Jam 8.00 WIB.

Halaman depan gedung Musium Seni Rupa dan Keramik digunakan sebagai tempat berkumpul wisatawan

Kesempatan ini sangat penting karena justru keberadaan wisata Kota Tua selalu banyak dikunjungi pada saat malam dan sore hari. Selain tidak panas suasana juga akan lebih santai. Sehabis pulang kerja dan bisa mengajar keluarga jalan-jalan keliling Kota Tua.

Salah banyak museum yang ada di Jakarta, akan kita ulas salah satu museum yaitu Musium Seni Rupa dan Keramik (Museum of Fine Art and Ceramics )  yang berada disisi timur dari Musium Jakarta (Gedung Fatahillah) di  Kota Tua Jakarta.

Ruangan depan Musium Seni Rupda dan Keramik

Untuk mengakses alamatnya di Jl. Pos Kota, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, tetapi kalau Anda bingung untuk mengakses museum tersdebut diblok-blok Kota Tua Jakarta yang cukup luas caranya. bisa melalui jalan Kemukus atau jalan Ketumbar, bisa juga dari jalan Pintu Besar Utara kemudian melalui gang yang ramai menuju Gedung Fatahillah. Dari sini kita tinggal lihat disisi kiri jika kita menghadap Gedung Fatahillah, maka sudah terlihat gedung nan cantik dengan sentuhan Art Deco.

Bagian dalam Musium Seni Rupa dan Keramik

Gerbang utamanya terlihat banyak deretan tiang-tiang besar dan megah sebanyak delapan baris seperti style bangunan Parthenon di Yunani. Dari sinilah kita masuk melalui gerbang utama museum untuk membeli tiket dan mulai melihat-lihat koleksinya. Harga tikernya sangat murah hanya Rp. 5000,- saja.

Bangunan museum ini didirikan pada tahun  1870 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan untuk aktifitas Lembaga Peradilan ((Raad van Justitie)), sekaligus juga sebagai tempat berkantornya Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). 

Tumpukan keramik bersejarah dalam etalase di Musium Seni Rupa dan Keramik

Pada masa Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942,  gedung museum itu digunakan sebagai markas pasukan militer Nippon, kemudian pada masa setelah tahun 1949 gedung ini dimanfaatkan oleh TNI sebagai asrama para prajurit TNI.

Baru pada tahun 1968, asset bangunan bersejarah ini dipindahtangankan ke Pemda DKI Jakarta, yang kemudian digunakan sebagai pusat pengelolaan museum di Jakarta, dengan nomenklatur Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta yang tahap berikutnya nomenklaturnya menjadi UPK Kota Tua DKI Jakarta.

Bangunan tua itu ternyata juga banyak mencatat sejarah nusantara khususnya mengenai seni rupa dan keramik. Banyak koleksi-koleksi tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Ada koleksi pada zaman Belanda, ada juga mengenai kondisi rumah masyarakat Betawi pada masa lalu, ada juga keramik-keramik Tiongkok, ada harta karun kapal yang karam dan masih banyak lagi yang cukup menarik untuk dicermati.

Selain itu ada juga deretan photo dan video yang bisa kita lihat dan tonton mengenai sejarah perkembangan seni rupa dan keramik yang ada di Nusantara. Pada museum banyak juga keliping-kliping koran dan majalah yang sudah lama mengenai Seni Rupa Indonesia.

Khusus mengenai koleksi keramiknya ternyata sangat luar biasa, keramik tua dari sejak zaman era Kerajaan Majapahit abad ke-14 juga ada. Bagi para seniman keramik ini bisa menjadi inspirasi penting mengenai identitas keramik nusantara yang sudah ada sejak zaman dulu. Selama ini kita menganggap bahwa keramik selalu dari Tiongkok, tetapi dari sini bisa kita buktikan bahwa keramik nusantara  juga sangat banyak dengan seni dan teknik pembuatan yang sudah tinggi.

Keramik di Nusantara bahkan sudah dikenal sejak zaman Neolithikum yang berada diantara rentang waktu  2500 SM sampai dengan  1000 SM.  Ilmu dan cara olah kerajinan keramik diperkirakan berasal dari kreatifitas di Nusantara sendiri dan  juga dari pengaruh dari para imigran Asia Tenggara. Perkembangan budayanya parallel dengan berkembangnya pengetahuan tentang pertanain, perkebunan,  peternakan dan bahari.

Temuan seperti pecahan-pecahan periuk belanga di Bukit Kulit Kerang  di Sumatra sangat penting sebagai petunjuk sejarah awal keramik di Nusantara. Di pulau Jawa tepatnya diantara Yogyakarta dan Pacitan ditemukan juga pecahan keramik yang berupa tembikar yang sudah lebih modern karena tembikar tersebut sudah dihias dengan profile anyaman atau tenunan.

Inilah bukti bahwa peradapan keramik di Nusantara juga adalah hasil murni dari kebudayaan asli yang ada dilokal kita, tetapi pengaruh dari cara pembuatan dan variasi dari keramik itulah yang akan banyak juga dari luar.

Kemampun pembuatan keramik ini berkembang terus sampai para pengembangan seni rupa seperti patung dan candi. Kita dapat membuktikan keberadaan candi-candi di Nusantara yang cukup banyak dan dengan arsitektur yang purna rupa dan sangat luar biasa, contohnya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut dan banyak lagi.

Inilah pentingnya keberadaan Musium Seni Rupa dan Keramik sebagai pencatat bukti dan koleksi-koleksi penting yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi.


Photografer : Azzahra R.

TheIndonesiaAdventure.com Team Writter
#TheIndonesiaAdventure

Sunday, August 4, 2019

Lihat Satwa di Batu Secret Zoo, Jatim Park 2, Malang, Jawa Timur

Diorama Badak dan Orang Utan 

Kalau sudah ada di Malang sekalian kunjungi Kota Batu, karena Kota Batu terkenal dengan banyaknya  objek wisata yang menarik. Salah satu objek wisata yang kami kunjungi adalah Jatim Park 2 yang berada dekat dengan tiga gunung Panderman, Gunung Arjuna dan juga Gunung Welirang. Sehingga destinasi ini sejuk dan udaranya segar.

Jatim Park 2 beralamat di Jalan Oro-Oro Ombo, Kota Batu. Jauhnya dari Kota Malang sekitar 20 km, sedangkan kalau dari Kota Surabaya jauhnya sekitar 100 km.

Ada banyak wahana disini, salah satu wahananya adalah Batu Secret Zoo.  Tarif masuk Jatim Park 2 seharga Rp. 120.000,- untuk hari Sabtu/Minggu dan seharga Rp. 91.000,- untuk hari Senin sampai Kamis. Perbedaan ini karena pada hari-hari weekend jumlah pengunjung jauh lebih banyak.

Diorama Kijang di alam liar
Pada saat pertama kita memasuki lokasi wisata Jatim Park 2. Kita akan tertarik dengan pemandangan dua patung gajah raksasa yang seakan menjadi penjga dari sebuah gedung bangunan megah yang mirip Parthenon yang ada di Yunani dengan tiang-tiang beton besar nan tinggi=tinggi.  Dua icon patung gajah dan gedung Parthenon ini seakan mengucapkan selamat datang bagi para pengunjung Jatim Park 2.

Sebenarnya gedung megah tersebut adalah gerbang menuju Musium Satwa Jatim Park 2 yang sangat terkenal itu, karena beragam satwa dan berbagai diorama satwa langka yang sudah tidak dapat ditemui lagi di dunia dan juga satwa-satwa langka yang masih ada dari berbagai penjuru dunia.

Diorama banteng liar
Oh ya untuk ke Musium Satwa ini kita tidak perlu terburu-buru dari pagi karena jam bukanya agak siang yaitu antara jam 10.00 WIB dan jam tutup pada jam 18.00.

Ketiga kita masuk dari gerbang depan bangunan Parthenon itu, pada bagian pertama kita sudah disuguhi oleh pemandangan reflika era zaman dinosaurus, tetapi kali ini yang disajikan adalah Stegosaurus yang tekenal ganas ini mirip sekali dengan kadal raksasa yang mempunyai punggung berpunuk-punuk tajam. Kalau onta punuknya lembuh karena dari daging, tetapi Stegosaurus punuk tajamnya adalah bagian dari kerangka yang tajam untuk menyerang lawannya. Daiorama Stegosaurus ini berbentuk bulat dan memenuhi ruangan yang menjadi areal selfie bagi para pengunjung.

Diorama Harimau di Jatim Park 2
Begitu kita masuk lagi kebagian dalam kita akan terkagum dengan berbagai diorama hewan yang begitu mirip dan terlihat seperti hidup dalam lingkungan yang dibuat secara mirip berada dihutan, disafana, atau digurun dengan perbukitannya.

Ingat jangan sampai lupa bawa kamera, karena diaorama-diorama yang banyak dan macam-macam itu sangat bagus untuk diphoto. Dijamin hasil photonya seakan memphoto biantang hidup betulan, walaupun hanya sebuah reflika binatang. Bulu-bulu dan matanya terlihat sekali seperti betulan.

Diorama 3 Stegosaurus yang mirip kadal raksasa
Tidak perlu dijelaskan semuanya dech, lebih baik datang sendiri dan rasakan sensasi melamun didepan diorama-diarama itu seakan kita sedang teleportasi ke benua Afrika di hutan liar pada masa lalu yang sulit untuk kita temui.
Photografer : Zahra R.

#TheIndonesiaAdventure
The Indonesia Adventure Team Writter

Sunday, July 28, 2019

Lihat Kerangka Dinasourus di Musium Geologi Bandung

Bagi Anda yang suka melihat hal-hal yang sifatnya sejarah masa lalu, biasanya suka datang ke museum. Melihat gambar, sketsa, dokumen atau apa saja berupa bukti fisik masa lalu sangat menggetarkan, karena akan membayangkan masa lalu itu seperti apa? Masuk ke sebuah musium seakan masuk ke lorong waktu masa lampau.

Model Kerangka Dinasaurus dari dekat
Salah satu museum yang kami rekomendasikan adalah Musium Geologi Bandung yang terletak di jalan Diponegoro No. 57 dekat lapangan Gasibu dan hampir berhadapan dengan Gedung Sate di Bandung.

Jadi kalau melakukan city tour ke Gedung Sate sekalian saja mengunjungi Museum Geologi Bandung dijamin sangat puas. Sebab konten sejarah yang disajikannya sungguh luar biasa. Anda bisa menemukan dinosaurus dan saudara-saudaranya disitu.

Musium Geologi Bandung sudah sangat tua. Didirikannya saja pada tanggal 16 Mei 1928. Yah betul masih zaman kolonial Belanda.  Gedungnya sudah banyak perubahan dari sejak pendiriannya, karena hampir sering dilakukan renovasi. Salah satu renovasi gedung museum ini adalah melalui dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency).

Musium merupakan sarana penting untuk mengingatkan momen sejarah, oleh karena itu ini berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Kesemuanya itu dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.

Model Kerangka Dinasaurus
Sejarah musium geologi Bandung ini bermula sejak penjajahan Belanda beradaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penelitian geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa.

Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri.

Apa keunikan Musium Geologi Bandung ini? Hal yang sangat menarik disini yaitu adanya kerangka dinosourus yang yang lumayan besar.

Kerangka dinasaurus itu hanya reflika tetapi dibuat dengan sangat detil dan nyarisi menyerupai aslinya.  Seandainya karangka itu sudah berisi daging dan hidup betapa seramnya.

Musium ini juga banyak menampilkan berbagai jenis batuan, sejarah manusia seperti penemuan manusia purba di Trinil yang berasal dari Jawa Tengah. Berbagai binatang dan tumbuhan yang sudah membatu, semua sangat menarik terutama bagi yang membidang masalah.

Model Kerangka Gajah Purba
Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Oleh karena itu musium ini dianggap sangat penting bagi mereka. Disini banyak dokumen dimana lokasi kekayaan mineral nusantara.

Melalui penguasaan ilmu geologi nusantara ini mereka akan mendapatkan sumber daya yang melimpah, untuk mendorong perkembangan industri di Negeri Belanda.  Maka, pada tahun 1850, dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral.

Penelitian geologi di nusantara yang mendapatkan contoh-contoh penting batuan, mineral, fosil, laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.

Model Kerangka Mammoth
Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.

Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.

Gedung Utama Musium Geologi Bandung
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang tenaganya diambil dari PDTG.

Sekarang pengelolaan  Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG), berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 - 2005), Pusat Survei Geologi (sejak akhir tahun 2005 hingga sekarang).

Banyak juga pengunjung  manca negara
Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, serta Geologi dan Kehidupan Manusia. Sedangkan untuk koleksi dokumentasi, tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai. Diharapkan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi akan dapat lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri.

Sejak tahun 2002 Museum Geologi yang statusnya merupakan Seksi Museum Geologi, telah dinaikkan menjadi UPT Museum Geologi. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, dibentuklah 2 seksi dan 1 SubBag yaitu Seksi Peragaan, Seksi Dokumentasi, dan SubBag Tatausaha. Guna lebih mengoptimalkan perananya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatan survei penelitian untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

Replika Tengkorak Home Erektus
Lantai satu terbagi menjadi 3 ruang utama : Ruang orientasi di bagian tengah, Ruang Sayap Barat dan Ruang Sayap Timur. Ruang Orientasi berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian.

Ruang lain yaitu Sayap Barat, dikenal sebagai Ruang Geologi Indonesia, yang terdiri dari beberapa bilik yang menyajikan informasi tentang; hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya; tatanan tektonik regional yang membentuk geologi Indonesia; diujudkan dalam bentuk maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif; keadaan geologi sumatera,Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya dan fosil fosil serta sejarah manusia menurut evolusi Darwin juga terdapat di sini.

Ujung ruang sayap barat adalah ruang kegunung apian, yang mempertunjukkan keadaan beberapa gunungapi aktif di Indonesia seperti : Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu. Selain panel-panel informasi ruangan ini dilengkapi dengan maket kompleks Gunungapi Bromo-Kelut-Semeru. Beberapa contoh batuan hasil kegiatan gunung api tertata dalam lemari kaca.

Ruang Sayap Timur Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan.

Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitiv pun belum ditemukan.

Beberapa miliar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, yang keberadaan terekam dalam bentuk fosil Reptilia bertulang-belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu) diperagakan dalam bentuk replika fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton.

Kehidupan awal di bumi yang dimulai sekitar 3 miliar tahun lalu selanjutnya berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Jejak evolusi mamalia yang hidup pada zaman Tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan Kuarter (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) di Indonesia terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang ditemukan pada lapisan tanah di beberapa tempat khususnya di Pulau Jawa.

Kumpulan fosil tengkorak manusia-purba yang ditemukan di Indonesia (Homo erectus P. VIII) dan di beberapa tempat lainnya di dunia terkoleksi dalam bentuk replikanya. Begitu pula dengan artefak yang dipergunkan, yang mencirikan perkembangan kebudayaan-purba dari waktu ke waktu. Penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran (Solo, Jawa Tengah), Trinil dan Mojokerto (Jawa Timur) yang sangat berarti dalam pengungkap sejarah dan evolusi manusia-purba diperagakan dalam bentuk panel dan maket.

Sejarah pembentukan Danau Bandung yang melegenda itu ditampilkan dalam bentuk panel di ujung ruangan. Fosil ular dan ikan yang ditemukan pada lapisan tanah bekas Danau Bandung serta artefak diperagakan dalam bentuk aslinya. Artefak yang terkumpul dari beberapa tempat di pinggiran Danau Bandung menunjukkan bahwa sekitar 6000 tahun lalu danau tersebut pernah dihuni oleh manusia prasejarah. Informasi lengkap tentang fosil dan sisa-sisa kehidupan masa lalu ditempatkan pada bilik tersendiri di Ruang Sejarah Kehidupan. Informasi yang disampaikan diantaranya adalah proses pembentukan fosil, termasuk batubara dan minyak bumi, selain keadaan lingkungan-purba.

Lantai dua terbagi menjadi 3 ruangan utama: ruang barat, ruang tengah dan ruang timur.  Ruang barat (dipakai oleh staf museum). Sementara ruang tengah dan ruang timur di lantai II yang digunakan untuk peragaan dikenal sebagai ruang geologi untuk kehidupan manusia.  Ruang Tengah Berisi maket pertambangan emas terbesar di dunia, yang terletak di Pegunungan Tengan Irian Jaya. Tambang terbuka Gransberg yang mempunyai cadangan sekitar 1,186 miliar ton; dengan kandungan tembaga 1,02%, emas 1,19 gram/ton dan perak 3 gram/ton.

Gabungan beberapa tambang terbuka dan tambang bawahtanah aktif di sekitarnya memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 miliar ton. Bekas Tambang Ertsberg (Gunung Bijih) di sebelah tenggara Grasberg yang ditutup pada tahun 1988 merupakan situs geologi dan tambang yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan menjadi objek geowisata yang menarik. Beberapa contoh batuan asal Irian Jaya (Papua) tertata dan terpamer dalam lemari kaca di sekitar maket. Miniatur menara pemboran minyak dan gas bumi juga diperagakan di sini.

Demikian beragam dan banyaknya konten yang dipamerkan dalam Musium Geologi Bandung ini semoga tetap terawat agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber ilmu pengetahuan geologi khususnya untuk alam nusantara yang sangat kaya.

Photografer : Azzahra R.

Translate